Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
mulai berusaha


__ADS_3

SEMUA JENIS SENI BELA DIRI MEMILIKI JURUS.


HIYAK...HIYAK.. HIIIIIIIYAAAKKKK.... JURUS TONGKAT BERPUTAR.


“Kakek, yang benar saja ..?”


Tampak enggan mengikuti gerakan laki-laki dilayar televisi, Zili yang telah berada disebuah ruangan kosong yang hanya terdapat sebuah televisi menggantung dinding serta tumpukan buku dilantai dan tikar bambu yang dilipat berkali-kali menoleh kearah laki-laki tua dibelakangnya yang tengah duduk melipat kedua kaki sedikit melebar serta meletakan kedua tangannya diatas kedua lutut kaki tersebut sembari memandang layar televisi dengan mata berbinar-binar.


“Kau bilang ingin menjadi kuat?”


“Tentu saja...”


Mulai membalikan tubuh memandang laki-laki tua yang kini telah berada dihadapannya, Zili yang sedang memegang tongkat sapu yang telah terlepas dari sapunya, duduk lemah dan merasa kuraang bersemangat “hanya saja, aku belum pernah melihat orang berlatih seni bela diri menggunakan sebuah jurus, bahkan putra mahkota sendiri.....”


“dia menggunakannya didalam hati” jawab cepat laki-laki tua masih dengan senangnya memandang layar televisi. “kalau keberatan urungkan saja niatmu.....”


“Baiklah ...,” jawab Zili cepat tanpa bersemangat. “kakek percayalah padaku” Zili berusaha meyakinkan laki-laki tua yang kini telah menolehkan pandangannya kegadis yang baru saja ia kenali beberapa jam yang lalu “aku pasti menguasai semua Jurus milik Guru putra mahkota”Lanjut gadis itu tersenyum lembut menyenangkan hati “yaa... meskipun kurasa mustahil jurus seperti itu berguna dizaman sekarang” ucapnya mulai lemah kembali lalu berbalik dan memutar tongkat sapu keatas kepala “jurus tongkat berputar, Hiiiyakkk” ucap Zili sembari mengikuti gerakan laki-laki didalam layar televisi.


********


Lapar,


Setelah berlatih keras mengikuti puluhan gerakan laki-laki tua dilayar televisi, Malam itu Zili tampak berbaring lemah melentangkan kedua tangan yang salah satunya memegang tongkat sapu menatap langit-langit atap ruangan.


Lapar sekali


Ucap gadis itu lemah,


Laki-laki tua yang tadinya keluar sejenak untuk beberapa saat, mulai memasuki ruangan kamarnya kembali sembari membawa satu buah kotak kardus yang berisi beberapa ekor ayam goreng didalamnya.“Makanlah...” laki-laki tua tersebut menyodorkan Makanan itu kearah zili yang kini telah bangkit dan duduk, menerima kotak tersebut dari tangan laki-laki tua dihadapannya.


“Ayo kita makan bersama...”


“Tidak perlu”


“Ayo kita makan bersama” ajak Zili lagi dengan wajah memelasnya.


“Kau ini benar-benar”


Laki-laki tua mulai duduk didepan Zili, dia menghela nafas berat, tampaknya didalam hati, ia sangat merindukan Cucunya Co Hai win, putri Klan Co yang sudah lama tidak datang berkunjung.

__ADS_1


“Makanlah yang banyak kakek” ucap Zili menyodorkan semua isi ayam goreng didalam kotak setelah mengambil satu potong paha ayam untuk dimakannya sendiri “perutku sangat kecil, aku sudah terbiasa makan sedikit” lanjut gadis tersebut menahan air mata lalu mulai menggigit daging ayam.


“Aku tidak sedang berselera....”


“Maka simpanlah untuk besok,” jawab Zili cepat sebelum laki-laki tua menyelesaikan ucapannya “aku tahu, kau pasti menjual ponselmu untuk membeli ayam ini, bukan?” lanjut gadis itu mulai menebak hingga air matanya mengalir dipipi dan jatuh diatas kaki yang dilipatnya.


“Jangan bersedih....”


Laki-laki tua mulai meraih satu ekor dada lalu menggigitnya “memiliki ponselpun tidak berguna jika tidak ada seorangpun yang akan menghubungiku” dia mencoba menenangkan gadis yang sedang menghapus air matanya.


“Lalu bagaimana pemerintahan menghubungimu jika kau tidak memiliki ponsel?” Tanya Zili cepat masih mencoba menghapus air mata yang terus menerus mengalir diluar kendalinya.


“Aku masih memiliki dua jam tangan”


Jawab laki-laki tersebut menenangkan gadis itu kembali, “tenang saja, aku masih bisa membuat jam tangan yang lainnya diperusahaan Co yang dikendalikan oleh Rein” jelas laki-laki tua tersebut menghentikan Zili dari tangisannya “cepatlah habiskan...”


Perintahnya kepada Zili “aku akan mengantarkanmu kembali keasrama putri” lanjutnya lagi yang langsung dianggukan oleh gadis itu.


*********


Tidak memakan banyak waktu untuk sampai keasrama putri sekolah teknologi karena memang jarak antara sekolah dan tempat tinggal ketua klan Co lumayan dekat, hanya beberapa Kilometer saja. Zili kini Telah berdiri didepan pintu gerbang tepat pukul 12 malam, dia memberi hormat dengan membungkukan tubuhnya dihadapan laki-laki tua yang sangat kagum melihat kepribadian Sopan gadis dihadapannya.


“Terima kasih kakek” ucap Zili semakin membuat kagum laki-laki yang awalnya tidak menyangka bahwa gadis tersebut merupakan gadis yang sangat baik dan juga sopan.


Lagi, laki-laki tua tersenyum senang memandang punggung Zili yang telah memasuki pintu gerbang dan menghilang ketika pintu mulai ditutup kembali.


“Maaf membebanimu” gumam laki-laki tua tersebut lalu melangkah menuju mobil tetapi tiba-tiba langkah nya berbelok menuju Bengkel yang berada dipertengahan Asrama putra dan asrama putri sekolah teknologi.


Setelah melangkah kaki memasuki gedung Asrama putri, Zili mulai berjalan menuju pintu Lift, matanya penuh deengan kesedihan, membayangkan penderitaan setiap siswi yang berada didalam Gedung tersebut.


Kepalanya mulai menoleh kearah samping, tanpa sengaja ia melihat seorang siswi sedang melangkah lemah menuruni anak tangga sembari memegangi perutnya.


Dengan langkah cepat ia datang menghampiri siswi tersebut.


“Yang mulia...”


Siswi tersebut terkejut, hingga ia berusaha berdiri tegak dan melepaskan tangan dari perutnya.


“Kau baik-baik saja..?”

__ADS_1


Tanya Zili penuh kekhawatiran.


“Tentu saja yang mulia” seolah-olah tidak terjadi masalah, siswi tersebut tersenyum memandang Zili. “selamat datang kembali yang mulia putri mahkota” dia mulai membungkuk.


“Aku punya permen didalam kamarku” Zili yang memang mengetahui masalah mereka mulai berperan seperti ia tidak mengetahui apa yang telah terjadi “aku tidak menyukai rasanya dan sangat ingin membuangnya” lanjut zili lagi menahan rasa sedih “maukah kau membantuku membuang permen-permen tersebut?” Pinta zili berpura-pura.


“Tentu saja yang mulia, dengan senang hati saya akan melakukannya” ucap gadis itu lalu melangkah mengikuti Zili menuju ke depan pintu lift yang ada disamping mereka.


Pintu lift terbuka,


Zili telah berada dilantai koridor ruangannya, meraih ID CARD dari dalam kantung lalu meletakannya ditempat pembuka kunci,


Pintu kamarnya terbuka,


Ia menarik tangan siswi dibelakangnya, membawa dia ikut masuk bersama.


“Yang mulia...”


“Sudah ikut saja” ucap Zili terus berjalan masuk menuju ruangan kamarnya.


“Yang mulia...”


Siswi tersebut menolak ikut masuk kedalam kamar Zili dengan menghentikan langkah kakinya.


“Baiklah...”


Zili memahami maksud siswi tersebut “tunggu sebentar” gadis itu mulai memasuki kamar, melangkah cepat, mengambil semua permen didalam gelas kaca diatas meja belajarnya lalu kembali memberikannya kepada siswi yang masih berdiri didepan kamarnya “tolong bantu aku membuangnya ya?” pinta Zili menegarkan hati padahal ia belum merasakan satupun Permen tersebut bahkan yang tadi pagi pun terpaksa ia buang karena telah dua kali terjatuh dan merasa malu untuk mengambilnya kembali dihadapan ketua Klan Co.


“Hmm...”


Angguk Siswi tersebut mulai melangkah kaki keluar pintu ruangan Zili, lalu menutupnya setelah beberapa saat ia berada diluar pintu.


Zili kembali kekamarnya, dengan bergegas ia mengambil ponsel pemberian pangeran istana.


Mulai menekan angka yang sangat diingatnya, Zili telah menghubungi seseorang.


panggilan diangkat “ Ayah....”


Panggil Zili yang ternyata sedang menghubungi nomor ponsel milik ayah gadis tersebut, Zin zilian, mentri keuangan negara.

__ADS_1


__ADS_2