Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
pasrah kehilangan


__ADS_3

Malam yang panjang tak sedikitpun memiliki ruang hanya untuk beristirahat sejenak.


Telah habis roti dan biskuit diseluruh pelosok Willayah timur laut, beberapa siswa mulai diam-diam membawa texchi mereka kewilayah lain yang lebih dekat dengan wilayah desa mereka seperti wilayah timur dan wilayah utara untuk membeli Makanan tersebut disana.


Miris,


Sungguh uang sebanyak 20juta neceri bahkan masih belum cukup untuk memberikan Makanan layak dan obat-obatan bagi seluruh warga desa asli wilayah timur laut.


Memegang kepalanya yang pusing karena sudah dua hari belum memejamkan mata ditambah rasa bingung karena kekurangan uang untuk membeli makanan bagi penduduk desa yang mungkin hanya kebagian sebungkus roti saja untuk satu keluarga dan bahkan air bersih yang layakpun belum mereka terima, Zili perlahan-lahan mulai melangkah kaki menuruni texchi milik seorang siswa.


Cahaya matahari telah menyinari Bagian bumi di benua Asia.


Karena memang letak negara NC sendiri berada dibenua Asia bagian tenggara.


Buku yang tadinya ia gulung dan diletakan dikantung celana mulai diraihnya kembali, buku satu-satunya yang terus ia bawa semalaman setelah meletakan buku-buku lain didalam ruangan miliknya.


Tidak ada lagi sisa uang sedikitpun didalam kantung celana dan penjaga kantin sekolah sekalipun mungkin saat ini sedang sibuk membagi makanan untuk teman-teman mereka.


Kantin Sekolah yang ternyata hanya memiliki sedikit bahan makanan karenanya, banyak siswa-siswi sekolah teknologi terpaksa saling berbagi makanan demi bertahan hidup Disekolah.


Mulai membaca buku dan berjalan mendekati gerbang asrama yang tampak sepi karena para penghuninya sedang sibuk dilorong bawah tanah, zili mulai menghentikan langkah kaki ketika melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berdiri menunggunya penuh dengan amarah.


Gemetaran,


Wajahnya yang pucat semakin bertambah pucat karena untuk pertama kalinya gadis itu telah berbuat kesalahan besar.


Paaaaaak...


Rasa sakit tamparan pipi semakin menambah kenyerian didalam hati Zili yang tetap berdiri meneguhkan hati menghadap ayahnya.


“Kemana semua uangmu kau habiskan?” bentak ayahnya marah yang tentu saja mengetahui bahwa Zili telah menghabiskan seluruh uangnya karena dia adalah mentri keuangan negara.


“Hilang...”


Jawab Zili terus meneguhkan hati “tadinya aku ingin mengetahui bagaimana rasanya memegang....


Paaaaaakkk


“Kau bertemu ibumu, iya kan?” bentak ayahnya semakin marah karena mengetahui kebohongan putrinya.


“Aku tidak pernah bertemu dengannya ayah” jawab Zili lemah, karena memang dia tidak lagi memiliki banyak tenaga. “sungguh, uangku sudah hilang”


“Zili....”

__ADS_1


“mau bagaimana lagi, memang uangnya sudah tidak ada lag....


Mulai memejamkan mata untuk tamparan yang ketiga kalinya, nafas Zili bahkan sudah mulai tidak beraturan karena rasa mual didalam perut tiba-tiba muncul seketika.


“Kau boleh memarahinya” suara yang sangat dikenal Zili, membuatnya membuka kembali mata yang tadinya terpejam “tapi sedikitpun tidak berhak memukulnya,” zili mulai menoleh kepala kearah sumber suara disampingnya “harus kau tahu paman, akulah satu-satunya orang yang berhak memukul istriku” lanjut suara yang tak lain adalah milik putra mahkota.


“Xu’i....”


Tampak enggan mencari keributan karena memang hatinya sangat panas melihat putrinya, mentri keuangan mulai menghempaskan tangan putra mahkota dan berbalik tubuh, melangkah dengan penuh kekesalan menuju mobilnya yang masih terparkir didepan gerbang asrama putri.


Tak berani berbicara,


Bahkan ketika mobil ayahnya berlalu pergipun Zili tampak menunduk Diam,


Perasaan hati semakin tak tentu arah. Mengingat bahwa ia telah mencintai laki-laki lain membuat Zili tak sedikitpun memiliki keberanian untuk mengangkat kepala.


Terus menunduk.


“kenapa kau melepaskan anting dan kalungmu..?” tanya putra mahkota lembut.


Hati gadis itu sungguh semakin dibuat menderita karena perilaku putra mahkota yang begitu baik menurutnya.


“Shisou...”


“Hmm”


Seolah-olah mengabaikan kalimat Zili “kenapa kau melepaskan anting dan kalungmu?”putra mahkota menanyakan kembali pertanyaannya, membuat Zili terduduk lemas dan jatuh tidak berdaya.


Menangis sesunggukan menutup wajah dengan kedua tangan, serta menopang tubuh dengan lipatan kaki belakang “Shisou, aku ini adalah wanita murahan” ucap gadis itu lagi “kau boleh memukulku seperti ayahku tadi, kau juga boleh meninggalkanku,” ucapnya mulai membuka tangan diwajahnya “kau berhak membenciku” lanjut gadis itu lagi.


“Hmmm”.


Sungguh, putra mahkota memang sengaja mengabaikan perkataan Zili “aku tidak peduli, yang terpenting sekarang kau adalah istriku” putra mahkota mulai berjongkok dihadapan gadis itu.


“Tapi aku mencintai laki-laki lain” ucap Zili sedikit keras sembari memandang sayu mata putra mahkota yang membalas tatapannya dengan lembut.


“Aku tidak peduli, yang penting kau juga mencintaiku”


Jawaban putra mahkota semakin memperparah perasaan gadis itu.


“Shisou, bagaimana kalau aku menjual jam tangan milikmu sebagai bukti bahwa aku ini memang wanita murahan?” Tampaknya Zili sudah tidak mempedulikan lagi perasaan hatinya yang mencintai putra mahkota dan memilih untuk membantu warga desa Co yang saat ini tengah menderita.


“Kau ingin menjual dengan harga berapa..?”

__ADS_1


“Shisou....”


Menundukan kepala merasa sangat bersalah, Zili yang memang sangat membutuhkan uang hari itu terpaksa menjual barang berharga pemberian putra mahkota “1 juta neceri” ucapnya menjatuhkan harga.


“Aku akan membelinya”


Suara seseorang sontak mengejutkan Zili, Pandangan Zili mulai tertuju kepada seorang laki-laki yang sedang berjalan dibelakang putra mahkota dan datang menghampirinya.


Terperanjat.


Tubuh Zili bahkan sampai gemetaran dan diketahui oleh putra mahkota yang langsung membantu gadis itu berdiri.


“Tu.. tu.. tuan Sa’i..”


Ucap zili gelagapan, melihat pengawal rahasia putra mahkota didepan matanya.


“Tentu saja itu aku,”


jawab laki-laki tersebut yang memang sudah mengerti tugasnya “orang yang mencintaimu tapi tidak pernah kau cintai” jawabnya penuh kebohongan.


“Aku juga mencintaimu” ucap Zili terang-terangan berdiri menunduk dengan bantuan putra mahkota.


“Tataplah dia” perintah putra mahkota melepaskan tangannya dari punggung belakang Zili “jika jantungmu berdetak kencang, itu artinya kau mencintainya tetapi jika tidak...” putra mahkota memandang Zili tampak penuh dengan rasa iba “.. artinya kau merindukanku ketika melihatnya dan sudah pasti kau hanya menganggap dia sebagai aku” lanjut laki-laki tersebut berusaha meyakinkan Zili.


“Be.. be..benarkah?”


“Tentu saja”


Jawab putra mahkota cepat membalas tatapan menyedihkan Zili yang tadinya mendongak menyamping kearahnya, dengan tatapan lembut.


Astaga yang mulia.


Gumam pengawal rahasia putra mahkota merasa tertekan karena harus bertatapan mata dengan wanita milik junjungannya.


Mulai saling bertatap mata sampai membuat putra mahkota menghela nafas berat, perlahan-lahan Zili mencoba merasakan detak jantungnya.


Terus memandang,


“Hiks...hiks...


Butiran air mata terus jatuh hingga membuatnya merasa lega “sungguh, aku benar-benar hanya mencintaimu shisou” ucapnya penuh rasa bersyukur hingga ingin duduk kembali namun tertahan oleh putra mahkota yang langsung memeluknya.


“Tentu saja, aku sangat memahami perasaanmu” ucap putra mahkota menenangkan wanita miliknya yang masih terus menangis didalam pelukannya, hal tersebut semakin membuat tidak nyaman pengawal rahasia putra mahkota yang langsung membalikan tubuh, mengalihkan pandangan matanya.

__ADS_1


__ADS_2