
Hari itu ia tidak datang menghadiri rapat,
Sebagian orang yang menunggu kedatangannya bahkan hampir meledak marah karena sikap gadis tersebut yang mereka anggap semakin hari semakin sombong dan semena-mena.
Rapat yang ditunda kembali diadakan, Semua yang menunggu kedatangan gadis itu bahkan mulai emosi karena kedatangannya yang lambat.
Pintu terbuka,
Bakkkk...
Saking geramnya Putri Istana sampai menggebrak meja dan di saksikan para pejabat Militer berpangkat paling tinggi yang melayani Raja Negara dan Para Pejabat Militer yang akan melayani Putra Mahkota di masa depan nanti.
“Memalukan sekali kau Zili, bagaimana mungkin kau bisa datang terlambat di rapat penting Negara?”
Putri Istana tidak tahan lagi, jejeran Putri Klan Negara yang duduk di meja panjang ruangan tersebut juga tampak memandang hina ke arah Zili yang terlihat terengah-engah karena terpaksa berlari cepat masuk ke dalam ruang rapat di Istana Negara NC.
Mengabaikan kemarahan Putri Istana, sungguh, gadis itu sangat berani masuk tanpa sedikitpun merasa bersalah, ia mulai berjalan mendekati Raja Negara serta Raja Bayangan yang berada di ujung meja lalu membungkuk di samping mereka, memberi salam hormat untuk kemudian mulai duduk di kursi yang telah disediakan untuknya.
“Bagaimana mungkin kau begitu santai duduk tanpa menjawab pertanyaan seorang Putri Istana Negara ini?” Pangeran Xu Yuhan tampak gerah, ia sepertinya sangat tidak menyukai sikap Zili yang mengabaikan pertanyaan keponakannya.
“Seorang Pimpinan Militer yang memiliki begitu banyak pekerjaan di saat-saat kekacauan negara sedang terjadi datang terlambat mengikuti rapat, bukankah itu adalah hal yang wajar?” Balas Zili mengejutkan semua orang di sana termasuk para pengendali kerajaan yang tidak menyangka bahwa sifat gadis tersebut semakin hari semakin mirip dengan suaminya, Dingin dan tak berperasaan.
“Zili!” Bentak Putri ketelitian marah dengan sikap angkuh Sepupunya.
“Begitukah cara anda memperlakukan Putri Mahkota yang bahkan kini telah menjabat sebagai Pimpinan Tentara Militer Negara ini?” Sindir Zili semakin mengejutkan semua orang di sana.
“ Sudah.. sudah, berhentilah bertengkar!” Penasihat Raja mulai membuka suara, “Karena Zili sudah datang, maka kita mulai saja rapat hari ini.” Lanjut laki-laki tersebut lagi mencairkan suasana dan memutuskan perseteruan.
“Katakan!” Perintah Raja Negara kepada Zili secara langsung karena waktu mereka begitu berharga hanya sekedar untuk membuka rapat sekalipun.
Zili memandang wajah Raja Negara yang tampak pucat, tubuhnya kurus bahkan matanya sayu begitu menyedihkan.
__ADS_1
Hati gadis itu piluh, terlebih lagi dia tidak mendapatkan sedikitpun petunjuk dari Tuannya, sang pemilik Apartemen.
Gadis itu sesungguhnya adalah harapan satu-satunya dari Para pengendali kerajaan, tetapi yang diharapkan malah menjadi gadis bodoh yang juga selalu berharap bantuan dari Putra Mahkota dan pemilik apartemen selama ini, Pikirnya.
Tubuhnya gemetaran, wajah Zili mulai pucat. Kesombongan yang terpaksa ia lakukan agar tidak jatuh terinjak-injak kaki para bangsawan sombong negara NC, perlahan-lahan sirna. “Serang saja.”
Semua mata membelalak marah,
Zili tahu hanya itulah yang ia akan terima, tapi dia juga memahami sesuatu yang tidak mungkin mampu dipahami oleh orang-orang di sana. “ Serang saja, kenapa harus repot-repot pakai rencana?” Lanjut gadis itu lagi karena hanya itulah kemampuannya.
Saat itu dia berpikir, bukankah saat ini dia tidak sendirian?, Meskipun jauh, dia masih memiliki Putra Mahkota yang sedang menyamar bersamanya.
Sungguh, dia mengingat tiap kalimat yang di Ucapkan laki-laki itu di perkebunan buah Tin desa Ou. TIDAK, SAAT INI AKU SEDANG BERJUANG BERSAMAMU. Kalimat itu, terus menerus terngiang di kepala Zili.
Braaaakkkkk...
Raja Negara geram ia bahkan sampai menggebrak meja dan menutup wajah dengan kedua tangan saking pasrahnya laki-laki dewasa tersebut karena harapan terakhir telah pupus.
Pasrah, Zili hanya bisa diam karena sangat yakin bahwa semua orang tidak akan mungkin mau mengikuti rencananya.
“Ahhh..” Teriak marah Putri Istana hingga ia berdiri dan melempar Zili dengan buku. “Berani-beraninya kau mempermainkan ayahku.” Maki gadis itu mulai menangis karena merindukan ibunya. “ Dasar manusia tidak berguna, menyingkirlah kau dari sini, brengsek.” Lanjut maki gadis itu bersamaan dengan buku melayang yang telah berhasil di tangkap Pangeran Istana.
“Tenanglah Yu’A, “ Pangeran Xu mencoba menenangkan kemarahan Keponakannya.
Suasana begitu kacau, tetapi semua pengendali kerajaan tetap diam. Mereka mungkin sedang berpikir. “Baiklah, kalau itu rencana Pimpinan Militer maka kita setujui saja”
“Paman!” Panggil Putri Istana terkejut, begitu pula dengan semua orang yang menghadiri rapat.
“Kakak, bagaimana mungkin rencana konyol itu..
“Tapi, bisakah kau sebutkan alasanmu menyerang begitu saja tanpa persiapan?” Raja Bayangan tidak mempedulikan ucapan adiknya, Pangeran Xu, ia bahkan sampai menyelanya dan lebih tertarik untuk mendengar alasan Zili.
__ADS_1
“Kalau tidak segera berangkat, kapal induk akan segera pindah, kita tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan persiapan, dan lagi..” Zili melepaskan pergelangan tangannya dari tangan Pangeran Istana. “ Aku sungguh tidak sedang berjuang sendirian, percaya atau tidak percaya, seseorang telah membantu mempermudahkan jalanku menemukan Putra Mahkota selama ini.” Lanjut gadis tersebut menjelaskan.
“Omong kosong, konyol, tidak dapat dipercaya..”
“Diamlah Yu’A, kau berisik sekali.” Pangeran Istana mulai membuka suara, sepertinya ia merasa sangat terganggu dengan sikap saudaranya.
“Shin’A kau bahkan..” Geram, gadis yang telah berdiri mulai melangkahkan kaki, dia keluar dengan langkah kesal yang tak terkira tanpa melanjutkan ucapannya.
“Yu’A, “ diikuti Pangeran Xu dan meninggalkan rapat hari itu tanpa mempedulikan para pengendali kerajaan yang tetap membiarkan gadis tersebut pergi.
“Kapan?”
“Lebih cepat lebih baik,” Jawab Zili atas pertanyaan Raja Bayangan.
“Berapa banyak kapal dan prajurit yang kau butuhkan?” Pertanyaan yang memperpiluh hati gadis tersebut. Ia memang datang tanpa rencana, meskipun demikian, ia telah banyak belajar dan mencari tahu beberapa hari ini tentang keadaan wilayah musuh.
“Aku akan pergi membawa 50 kapal perang dengan 500 Tentara militer termasuk para pejabat tinggi yang terpilih, Tetapi Yang mulia, Bisakah kau membiarkan aku memerintah seluruh tentara militer tanpa meminta izin darimu terlebih dahulu?”
Perkataan Zili disadari oleh para pengendali kerajaan, Raja Bayangan tersenyum senang, tetapi sepertinya tidak dengan para peserta rapat lainnya yang mulai membenci Zili kembali karena mereka anggap gadis itu bodoh namun sangat beruntung karena selalu mendapatkan pembelaan dari Keluarga kerajaan.
Tatapan tidak menyukai begitu banyak mengintainya. Tapi dia telah terbiasa, terbiasa karena dari dulu pandangan tersebut tidak pernah lepas darinya meskipun saat ini ia telah menjadi Penjabat dengan pangkat tertinggi sekalipun.
Saat berada di bawah ia dipandang hina, berada di atas sekalipun ia tetap dipandang hina.
Mungkin karena penghinaan telah mendarah daging maka dari itu, gadis itu telah siap menerima kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
“Lakukan saja, Bukankah kau adalah Pimpinan Tentara Militer Tertinggi di Negara ini?, maka dari itu..”
“Lakukan saja apa yang kau inginkan bahkan memecat dan menghukum mati siapapun yang melanggar dan menolak perintahmu.” Raja Negara melanjutkan kalimat Raja Bayangan, Sungguh, semua peserta rapat terperanjat kaget hingga tidak seorangpun yang berani berucap satu katapun saat ini.
Satu persatu pengendali kerajaan berdiri lalu meninggalkan ruang rapat, membiarkan Zili melakukan tugasnya tanpa meninggalkan satu pesan sekalipun.
__ADS_1
Semua tampak membenci gadis tersebut, tetapi sayang, mereka tidak memiliki pilihan lain selain mematuhi perintahnya.