
Perasaan gelisah,
Sedari tadi berjalan bolak-balik ditempat yang sama.
Perasaan tersebut muncul karena merasa bersalah dan sampai saat ini masih belum juga bisa berbicara.
Kamar yang tak terpakai telah diberikan kepadanya.
Kamar yang selalu ia tempat selama hidupnya kini ia gunakan kembali.
Memejamkan mata sejenak, lalu keluar ruangan.
Berdiri didepan pintu kamar, tampak beberapa orang pelayan sedang membersihkan ruangan. Seorang koki juga terlihat sedang menata piring-piring yang berisi makanan dan gelas-gelas serta beberapa minuman sehat didalam Teko dengan sangat Teliti dan hati-hati diatas meja.
Mewah sekali,
Pikirnya,
Bagaimana mungkin hanya seorang pekerja paruh waktu mampu membayar setiap orang yang ada diruangan tersebut..?
Lanjutnya lagi berpikir lalu menggelengkan kepala, membuang perasaan penasarannya kemudian melihat kearah Laki-laki yang tampak sedang duduk santai diatas sofa sembari membaca buku serta sesekali menghirup Teh Hijau dipagi hari yang cerah.
Telah terbuka pintu jendela, telah rapi Ruangan rumahnya, dan telah masuk seorang pelayan kedalam kamarnya ketika menyadari bahwa gadis itu telah keluar dari tempat tersebut.
kini ia mulai melangkah kaki mendekati laki-laki diatas sofa setelah semalaman penuh diam seribu bahasa dan tidak berucap sepatah katapun, hanya memberikan kunci kamar kemudian berlalu pergi meninggalkannya begitu saja masuk kedalam kamar ayahnya.
“Tuan..” panggil gadis itu duduk diatas sofa yang sama.
Terkejut,
Dahinya mengerut ketika panggilannya diabaikan begitu saja.
Laki-laki disampingnya menutup buku lalu beranjak pergi meninggalkan Zili menuju meja makan yang telah dipenuhi berbagai jenis makanan serta buah-buahan yang kadang juga telah terbuka dan terpotong kecil menjadi beberapa bagian diatas piring.
Mengikuti langkah laki-laki tersebut dan duduk disampingnya.
__ADS_1
Mengambil buah Jeruk yang telah terkupas dan terbelah diatas piring, gadis itu mulai menoleh kepala ketika tangan putra mahkota menghalangi tangannya mengambil makanan tersebut.
Saling memandang,
Mata marah putra mahkota terlihat jelas menatapnya.
Melepaskan genggaman tangan dari tangan Zili.
Gadis itu tersenyum senang karena laki-laki tersebut tidak sepenuhnya mengabaikannya.
Dengan sengaja mengambil Buah jeruk untuk menguji laki-laki disampingnya karena buah tersebut memang tidak cocok dikonsumsi sebelum makan, cara tersebut terbukti Mampu mengatasi kegelisahannya.
“Tuan..” panggil gadis itu lagi “maafkan aku..” pintanya masih menoleh kearah putra mahkota tetapi laki-laki tersebut tak bergeming sama sekali. Ia terlihat mengabaikannya begitu saja dengan memakan sandwich sembari membaca buku kembali.
Mengambil pilihan makanan yang sama dengan putra mahkota, Gadis itu mulai tersedak ketika laki-laki disampingnya berlalu pergi meninggalkannya lagi menuju Sofa sembari membawa sepiring sandwich bersamanya.
Geram,
Permintaan maaf nya diabaikan begitu saja, gadis itu berjalan cepat menuju putra mahkota “aku minta maaf aku minta maaf aku minta maaf..” teriaknya keras berdiri disamping putra mahkota, teriakannya sontak mengejutkan semua orang didalam ruangan tersebut hingga mereka bergegas pergi menuju kepintu keluar dan meninggalkan mereka.
Hanya diam,
Putra mahkota masih dengan santai membaca buku dan memakan sandwich “masih tidak mau bicara.” Geram, bahkan saat itu ia terlihat sedang menahan air mata “ya sudahlah aku pergi saja..” berjalan menuju pintu keluar lalu membuka pintu.
Baaaakkkk...
Bantingan pintu terdengar keras.
Kretteek...
Suara kuncian pintu terdengar hingga ketelinga.
Saling memandang,
Kesal sama kesal.
__ADS_1
Kelihatannya putra mahkota tidak begitu saja membiarkan Zili pergi, hingga ketika gadis tersebut membuka pintu, laki-laki tersebut menutupnya kembali dan menguncinya.
Mulai melangkah menuju Sofa kembali.
Baaakkk..
Sebuah lemparan sepatu mengenai punggung putra mahkota.
Kesal, hingga berbalik tubuh “jangan abaikan aku..” bentak Zili Keras “aku juga ingin marah padamu, ingin sekali marah..” ucap gadis itu mulai menitihkan air mata “tapi kalau aku marah lalu diam sepertimu, kemudian kau juga diam, terus akan diam, pada saat itu aku pasti akan ditinggalkan lagi hiks hiks..” ucapnya mengingat masa lalu “aku juga ingin sekali marah, tapi kemarahanku selalu diabaikan semua orang sampai aku sendiri merasa kesepian dan menyesalinya” lanjutnya lagi “jangan marah padaku..” pinta gadis itu terus menangis “aku minta maaf padamu, sungguh maafkan aku” pintanya sangat memohon.
Membuang wajah, tidak ingin melihat Gadis itu “jadi kau bilang aku tidak berhak marah sementara kau membela Shin’A terang-terangan dihadapanku” ucap kesal putra mahkota hingga mengepalkan tangannya erat. “aku hanya diam dan tidak berlaku kasar padamu kenapa kau malah ingin marah kepadaku..?” Lanjut laki-laki tersebut mulai berbalik arah, lalu melangkah kaki.
Baaakkkk
Lemparan sepatu mengenai punggung putra mahkota lagi “kalau kau tidak ingin memaafkanku lalu bagaimana denganku...” teriak Zili tetapi putra mahkota tetap melangkah kaki “hiks hiks..” mulai duduk terjatuh “berapa banyak orang yang menyakitiku hingga jika aku terus marah kepada mereka rasanya sangat sakit mengingat kemarahanku sendiri hiks hiks” lanjut gadis itu lagi menghentikan langkah putra mahkota “dari mereka yang mengunciku didalam kamar mandi hingga aku tidak bisa pulang kerumah dan kelaparan serta kedinginan lalu ketakutan didalam sana” tambahnya lagi membuat putra mahkota mulai berbalik “lalu mereka yang menyiramku dengan air hingga aku tidak lagi bisa pergi kekelasku, kemudian mereka yang mendorongku hingga aku terjatuh dan kakiku terluka” lanjut gadis itu mulai menghapus air mata, mengingat masa lalunya “bagaimana dengan orang yang sudah memukulku hingga pipiku berdarah, lalu membeturkan kepalaku hingga rasanya sangat sakit dan tak tertahankan “ mulai meneteskan air mata lagi “lalu bagaimana dengan ayahku yang selalu sibuk kerja, hingga aku terus diam dan marah, dia mengabaikanku begitu saja, lalu pergi kerja kembali dan selama berminggu-minggu tidak pulang kerumah,” berkali-kali menghapus air mata “haruskah aku membenci mereka semua sama halnya denganmu yang saat ini membenciku dan Shin’A..?” teriak gadis itu lagi menundukan kepala “aku bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk marah didalam hidupku, “ menangis terus menangis menitihkan air mata “lalu, kenapa aku juga tidak diberikan kesempatan untuk dimaafkan...
Haaaa...
“Maafkan aku..” putra mahkota mulai memeluk gadis itu, Zili mulai membalas pelukannya “aku sudah tidak marah lagi..” lanjut laki-laki tersebut menenangkan gadis yang tampak masih menangis memeluk lehernya.
“Jangan marah padaku lagi.. hiks..” pinta gadis itu teramat memohon “aku mohon jangan marah lagi, aku takut sekali kau akan meninggalkan aku..” lanjutnya lagi mengeratkan pelukannya “aku tidak ingin sendirian lagi..” tambahnya lagi menangis dipelukan putra mahkota.
“Baiklah..” jawab putra mahkota mengangkat tubuh Gadis itu hingga gadis tersebut mulai berhenti menangis “aku tidak akan meninggalkanmu, dan tidak akan marah lagi padamu” ucap putra mahkota meyakinkannya.
“Sungguh..?”
“Hmm tentu saja.” Jawab laki-laki tersebut membawa Zili duduk diatas sofa masih dengan memeluknya.
Menghapus air mata dibalik Tubuh putra mahkota “mungkinkah tuan Cemburu aku membela Shin’A..?” tanya gadis itu terang-terangan, pertanyaannya membuat kekesalan putra mahkota datang kembali, hingga ia melepaskan pelukannya “aku pernah merasakan seperti itu ketika melihat Putra mahkota membela ratu yuanna” ucapan gadis itu mulai menenangkan putra mahkota lagi hingga ia memeluk gadis itu kembali “ rasanya sangat sakit, ingin sekali marah tetapi aku tidak mungkin marah” tambah gadis itu mulai melepaskan pelukannya tetapi putra mahkota terus menahannya untuk tetap berada dipelukan laki-laki tersebut, menyadari perilaku putra mahkota, Zili memeluk kembali laki-laki tersebut “aku tidak mau marah karena marah menyakiti hatiku..”
“Benarkah..?”
“Hmm..” angguk Zili “hari itu aku memaafkan putra mahkota karena berani sekali membela wanita lain terang-terangan dihadapan Zili, padahal Zili adalah istrinya.” Lanjut gadis itu kesal mengingat masa lalu.
“Begitu ya..?” tanya putra mahkota mulai tersenyum lucu.
__ADS_1
“Tentu saja,” jawab cepat Zili “aku tidak ingin marah yang akan membuatku jauh dari putra mahkota, “ lanjut gadis itu lagi “aku tidak ingin jauh dari orang lain lagi” mulai menangis kembali “aku tidak ingin sendirian lagi” tambahnya lagi mengeratkan pelukannya.
“Kau tidak akan pernah sendirian lagi” Ucap putra mahkota mengeratkan pelukannya, membiarkan Zili tetap menangis didalam dekapan lembut Suaminya tersebut.