Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majesty 38


__ADS_3

Kelas sepi dipenuhi bangku bangku sekolah serta peralatan sekolah lainnya. Papan tulis hitam dengan beberapa kapur dibagian bawah.


Meja guru dihiasi dengan taplak bergaris kotak kotak serta sebuah vas diisi bunga buatan tangan Klan Lu diatasnya.


siang hari tepat pukul 12 siang waktu NC bagian barat. Semua murid sekolah dasar seperti biasa akan pulang kerumah masing masing.


Waktu piket kelas bergantian setelah pulang sekolah dilaksanakan. Meskipun masih duduk ditingkat kedua, peraturan dasar sekolah high raise adalah memberikan pendidikan kemandirian sejak dini kepada para murid Sekolah tersebut.


Zili memegang sapu. Ia berdiri didepan kelas sembari memasukan sampah kedalam tong disamping kelasnya.


Seharusnya, hari itu ia piket bersama dua teman sekelasnya yang lain. Namun seperti biasa, mereka sengaja meninggalkan pekerjaan itu kepada Zili.


Bahkan setelah zili melaporkannya kepada wali kelas, teman piketnya akan segera diganti namun tetap saja. Tidak ada perubahan, meskipun dengan orang yang berbeda, teman piket Zili yang lain juga akan meninggalkan pekerjaan itu untuk dilaksanakan zili sendirian.


Zili selalu berpikir mengapa semua orang berlaku berbeda kepadanya. Walaupun telah bertanya, namun dia tidak pernah mendapatkan jawaban dari mereka.


"Nina nina, kau lihat tadi"


"Iya, bukankah yang tadi putra mahkota"


"iya, aku juga merasa begitu. Aku pernah melihat pengawal tadi di tv. Keliatan sekali, itu pengawal kerajaan"


"Ayo kita lihat lagi, jarang jarang loh bisa melihat putra mahkota disekolah"


"Iya ayo kita lihat lagi"


Suara dua murid senior perempuan SD yang sedang berbincang bincang semakin meningkatkan rasa iri dalam hati Zili yang telah meletakan peralatan bersih bersih ditempat masing masing.


Keinginan memiliki teman semakin memuncak didalam hatinya. Hanya satu saja, ingin sekali ia memilikinya meski hanya sekedar untuk mengobrolpun tidak masalah.


Zili telah selesai mengemas peralatan sekolahnya. Dia bersiap siap untuk kembali kerumah. Terus berjalan lalu menutup pintu kelasnya.


Kakinya terhenti, seorang anak laki laki berdiri mendekatinya. Ia membawa sebuah buku tulis ditangan.


"Ketua kelas" gumam zili dalam hati sambil menunggu anak laki laki itu mendekat.


Anak laki laki dengan memasang wajah marah dan pakaian basah sontak mengejutkan Zili yang melihat aneh kearahnya.


"Ini"


dia melempar buku tulis kearah Zili namun tidak mengenai sedikitpun tubuh gadis kecil itu.


Zili merukuk mengambil buku tersebut namun tiba tiba kedua tangan Anak laki laki didepannya mendorong zili jatuh.


"Kenapa kau mendorong ku?" teriak zili marah.


"Besok besok jangan pinjam buku ku lagi, kau dengar"


Zili sontak merasa aneh, beberapa hari yang lalu memang dia sempat tidak masuk sekolah karena demam. Setelah kembali, ia meminjam catatan ketua kelas karena tidak ingin ketinggalan pelajaran.


Ketua kelas juga telah berbaik hati meminjamkan buku catatannya dan setelah mencatat semua mata pelajaran yang tertinggal, zili juga telah mengembalikan catatan milik ketua kelas hari itu.


"Memang kenapa? Aku kan hanya pinjam" tanya zili mulai menitihkan air mata.


"semua orang tidak menyukaimu. Bahkan aku hanya meminjamkan buku kepadamu, semua orang mulai menjahiliku. Kau paham tidak, kau itu pembawa sial bagi orang orang yang kau dekati"


"Memang aku salah apa? Hiks...."


"salah kau..!, cari tahu saja sendiri. Aku tidak butuh buku itu lagi. Karena buku itu sudah kau pegang, buku itu bukan milikku lagi. Makan itu untuk mu hiks.. mama....." anak laki laki berlari sambil menangis meninggalkan Zili yang telah melipat kaki dan memeluk lipatan kakinya sembari menyembunyikan wajah menangis tersedak sedak karena tidak mengetahui kesalahan yang telah diperbuat sehingga diperlakukan sedemikian kasarnya.


*****


Tetesan air mata jatuh diatas bantal empuk bersarung putih. Bau obat menyengat masuk kedalam hidung. Rasa pusing menyebar diseluruh kepala hingga rasa mual ikut hadir menyertainya.


Tubuh terasa sangat menyakitkan, dengan rasa dingin menyelimuti seluruh tubuh. Mata berat tidak kuasa untuk membukanya. Kaki dan tangan sangat sulit untuk digerakan.


Perih, nyeri luar biasa terasa disalah satu betis kaki. Bau obat semakin lama semakin menusuk hingga kerongga hidung.


Sayup sayup, terdengar suara pelan dari kejauhan.


"Berhenti"


"Kenapa?"


"Xu'i, sadar diri, kau tidak sanggup melindunginya, kalau bukan karena menikah dengan mu, putri paman lian tidak akan menderita seperti ini"


"Hm"laki laki itu tetap berjalan mendekati pintu salah satu ruangan VIP rumah sakit Go. Rumah sakit terbesar dari Klan Campuran yang telah dikuasai Klan Xu.


"Xu'i, berhenti kubilang" seorang remaja laki laki menghentikan langkah kaki Putra mahkota dengan menggenggam salah satu bahunya.


"Yuhan, ....."


"Bercerailah, aku yang akan menikahinya jadi tenang saja, dia tidak akan dipermalukan lagi didepan publik"


"Lalu, posisi putri mahkota kosong... setelah itu, semua orang seenaknya menikahkan aku dengan orang yang kau suka... "


"Benar, itu pilihan terbaik saat ini"


"Dengan sangat senang, aku akan menghancurkan wanita pilihan hatimu, membuangnya, mengabaikannya hingga dia menangis lagi dan lagi memohon kepadaku terus menerus untuk mengatakan cinta kepadanya bahkan hingga sampai memaksaku.. konyol, begitulah gambaran penderitaan wanita yang kau suka akan kubuat"


"Xu'i" bentak remaja laki laki yang berada dibelakang putra mahkota. dengan geram remaja tersebut kemudian mencoba melayangkan kepalan tangannya setelah berhasil membalikan tubuh putra mahkota.


"Hooooo" kepalan tangannya tak mampu bergerak setelah tertangkap oleh salah satu telapak tangan putra mahkota. "berani sekali menentang putra mahkota." Sebuah kepalan tangan mendarat dipipi remaja laki laki yang telah mengerang kesakitan karena mendapati luka di pipinya serta darah dikepitan kedua bibirnya.


"Xu'i, kau...."


"Ckckc.. yuhan, jangan suka ikut campur urusan rumah tangga orang" Xu'i mengembangkan senyum meremehkan dibibirnya. Sekilas ia melihat, remaja laki laki yang ia panggil yuhan tersebut membersihkan darah dibibirnya dengan salah satu ibu jarinya.


Putra mahkota melangkah pergi menuju pintu yang sedari tadi ingin ia masuki meninggalkan yuhan dalam keadaan kesal setengah mati dengan sikap sombong Keponakannya. Xu Xu'i, Anak tunggal dari kakak kandungnya, Xu idris.

__ADS_1


*******


"Kau membacanya?"


"Bukan sien, aku yakin sekali, aku sangat mengenal tulisannya"


"Hm.. lucu sekali, ingin menukar zili dengan yuanna, dia pikir dia siapa?"


"Tulisan tangan tidak berbobot seperti ini, mana mungkin sien yang teramat cerdas menulis kalimat bodoh"


"Jadi, kalau sudah tahu, untuk apalagi kau datang kemari" usir idris kesal dengan temannya yang tiba tiba datang mengganggu.


"Baiklah baiklah aku pergi"


Idris tersenyum lucu memandang panggung sang raja negara NC yang tiba tiba datang mengunjungi kantornya setelah dua hari Zili ditemukan.


Dia memandang geli kebodohan Shin, raja negara yang telah mengetahui kebenaran tetapi tetap ingin memastikan jika Hal itu menyangkut tentang istrinya.


Rasa cinta Shin kepada yuanna tidak pernah diragukan, setelah melalui banyaknya rintangan dan penderitaan akhirnya kedua sejoli yang saling mencintai tersebut bisa bersama.


Apalagi ditambah, kehadiran Co sien ya,sepupu Shin, putra dari pasangan yang telah berpisah antara kakak laki laki ibunya dengan ibu tiri Shin yang selalu menginginkan yuanna sebelum ia menjadi ratu negara NC. Semakin menambah rasa cinta Shin terhadap yuanna.


Co sien Ya, ia juga merupakan teman Lama raja bayangan Xu idris dimasa lalu, namun karena pengkhianatannya kepada idris, laki laki itu tidak lagi mempercayai Sien sebagai sahabatnya.


"Shin" yuanna berdiri dikoridor kantor, ia yang akan pergi menuju pintu ruangan kakaknya menghentikan langkah kaki setelah melihat suaminya keluar dari ruangan tersebut.


"Hm.. syukurlah" shin berjalan cepat menuju kearah istrinya. Dengan sigap memeluk orang yang sangat ia cinta. Merasa lega karena tidak lagi kehilangan Istrinya. Shin akhirnya melepaskan pelukannya. " syukurlah, syukurlah" gumamnya dalam hati. "Ayo pulang"


"Tapi aku ingin bicara dengan kakak"


"Ayo pulang" paksa shin.


"Selalu saja" geram yuanna dalam hati tidak mampu melawan Shin. Dengan terpaksa ia mengikuti langkah kaki Shin yang menarik tangannya pergi meninggalkan ruangan kakaknya.


"Haaah,, selalu saja mereka berdua..." ucap idris yang tidak sengaja melihat keberadaan adik dan temannya tersebut.


*******


Dua hari telah berlalu, zili masih terbaring diAtas kasur salah satu ruangan dirumah sakit GO. Nafasnya telah kembali normal.


Sebelumnya ia telah memakai tabung udara, dan saat ini, tabung tersebut telah dilepas. Kaki yang amat perih telah berkurang rasanya.


Bau obat masih menyengat didalam hidung namun Zili tampak sudah biasa. Rasa dingin kini tidak lagi menyelimuti. Mungkin ia telah sembuh dari demamnya.


Akan tetapi, pusing dikepala belum juga menghilang, ditambah dengan rasa mual yang terus terusan menyiksa perutnya.


Hampir dua hari dia tertidur setelah sadar sekali namun tidak kuat menahan diri untuk bangun kembali.


Ac ruangan tiba tiba mati. Suara geretan tirai terdengar ditelinga. Jendela kamar terbuka, cahaya matahari meluncur masuk dengan kecepatan tinggi mengenai wajah Zili.


Perlahan lahan, zili yang sudah sadar membuka mata. Sesaat ia menutup kembali karena cahaya matahari mengenai matanya.


Diulang lagi membuka mata.


Suara yang sangat familiar memberikan dorongan kuat zili untuk membuka matanya. Dengan penuh keinginan, zili memaksakan diri semampunya membuka mata.


Menahan perihnya cahaya masuk kedalam bola matanya. Salah satu tangan digerakannya menutupi dahi agar cahaya matahari tidak lagi mengganggu pandangannya.


"Shi...ehm" dia menahan perasaan terharu ingin sekali menangis. Ketika melihat orang yang sangat dirindukan berdiri di sebelah jendela kaca yang telah terbuka. "shisou" panggilnya mulai lantang. Dia bahagia bisa melihat wajah gurunya.


"Siapa?"


"Emm"


"Jangan berpura pura lupa?"


"Shisou, kau percaya padaku?"


Belum sempat Zili bangun duduk dari baringannya, putra mahkota yang tidak senang terlalu lama menyimpan rasa penasaran dengan cepat menanyai Zili tentang pelaku penculikan gadis itu.


Putra mahkota berjalan mendekat, ia lalu duduk dikursi pengunjung pasien sebelah Zili yang telah berusaha keras menggerakan tubuh duduk menghadap kearahnya.


"Sudah kubilang padamu sebelumnya, bukan! Aku adalah pelindungmu, sebagai pelindung, aku akan mempercayai semua perkataanmu".


"Shi.. shisou" zili terharu. Tidak kuat menahan tangis. Air matanya tumpah ruah " haaaaa... hikss.s... haaaa.... hiks hiks hiks" dia menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


Putra mahkota kebingungan, memandang aneh kearah murid cerobohnya yang masih menangis terisak isak. Berkali kali ia menghelakan nafas menunggu muridnya selesai menghabiskan tangisannya.


"Shisou"


"Sudah selesai?"


"Em" angguk zili.


"Siapa?"


"Dia, Shin'A"


"Hmm" putra mahkota tersenyum kecut " tidak dia? Tidak juga saudaranya, mereka berdua memang selalu saja hobi memaksa"


"Shisou, maksudny..."


"Hm... saudaranya memaksaku untuk mengatakan cinta kepadanya, sementara si penculikmu, selalu saja memaksaku mencintai putri neneknya. Konyok sekali bukan?"


"Shisou,, "


"Hmm kenapa?"


"Apa tidak sebaiknya kita bercerai saja, aku benar benar merasa tidak pantas un....."

__ADS_1


Putra mahkota berdiri, tatapannya berubah menjadi tajam. Dengan keras tangannya menggenggam kedua pipi zili. Mendongakkan gadis itu, memaksanya untuk menatap mata remaja laki laki yang tampak sangat marah.


"Kau... sadarlah posisimu!, kau hanyalah sebuah penghubung. Penghubungku untuk bertemu Bibiku. Tidak ada hak sedikitpun darimu meminta apapun dariku tanpa persetujuan. Kubilang padamu, aku hanya ingin menikah sekali. Kau juga sudah menyita banyak waktuku untuk menjadikanmu calon Ratu kuat dinegara ini. Jadi jangan menyia nyiakan seluruh waktuku dengan omong kosong konyol yang baru saja kau ucapkan"


dengan cepat, putra mahkota melepaskan genggaman tangan dipipi zili. Meninggalkan bekas merah dikedua pipinya. Terasa sakit namun sakit tersebut tidak disadari karena kuatnya perasaan takut menggerogoti jiwa Gadis itu. Hingga ia terpaksa harus memeluk tubuhnya yang tiba tiba kedinginan disebabkan guncangan ketakutan yang begitu hebat.


Kaki zili masih gemetaran, meskipun putra mahkota telah pergi meninggalkannya sendirian.rasa mual semakin meninggi. Rasa takut dekat dengan putra mahkota kembali menghantuinya. Mengingat hari hari pertama kali ia baru saja menikah dengan remaja laki laki yang dikagumi banyak orang tidak hanya dinegaranya saja namun dinegara orang juga.


"Waaaah... tajam sekali ucapan putra mahkota"


ZIli membalikan tubuhnya, mendengar suara orang yang tidak lagi asing ditelinga.


"Kau..."


"Hmm, teman"


"Iya, itu kau.. " rasa takut tiba tiba hilang, setelah zili melihat seseorang yang sangat lama ingin sekali ia temui.


Zili mencoba berdiri namun ia tidak kuasa, betis kakinya masih terasa sakit menyebabkan ia tidak mampu menghampiri remaja laki laki yang telah masuk kedalam ruangannya.


Dia berjalan mendekati zili. Duduk dikursi tempat putra mahkota duduk sebelumnya.


"Terima kasih"


"Tentu saja tidak begitu saja"


"Kau selalu saja perhitungan"


"Tentu saja, didunia ini, mana ada yang gratis"


"Haaa.. aku tidak memintamu untuk menyelamatkanku, kalau didunia ini seluruh kebaikan harus dibalas. Maka kejahatan akan merajalela..."


"Wah wah wah... apaaan sih maksudmu, menyebalkan sekali. Bilang saja kau tidak ingin balas budi"


"Hmm, tepat sekali"


"Waah putri mahkota benar benar tidak tahu diri"


"Lalu kau.. kau bermaksud menyelamatkanku agar aku balas budi padamu, bukannya kau itu kejam?"


"Loh kok jadi aku yang kejam?"


"Memanfaatkan perasaan orang dengan kewajiban membalas budi. Lalu merasa segan kepadamu, kemudian apapun permintaanmu meskipun itu kejahatan, harus dituruti karena perasaan hutang budi menyertai"


"Astaga, denger ya putri mahkota yang cantik jelita, kenapa pikiran mu bisa senegatif ini sih?"


"Aku dengar kok?"


"Dengar?"


"Hmm, kau berencana menikahiku, agar putra mahkota menikah dengan Putri Liyu'A kan?"


"Haaah"


"Aku bilang aku dengar percakapanmu dengan putra mahkota ntah kapan lah itu waktunya, kau suka dengan Putri liyu'A iyakan?"


"Darimana kau tahu? Kami bahkan tidak menyebut namanya?" wajah remaja laki laki itu mulai berubah serius.


"Baru saja putra mahkota bilang, saudara Shin'A selalu memaksa putra mahkota untuk bilang cinta kepadanya. Dipercakapan kalian waktu itu juga putra mahkota bilang begitu"


"Hmmmm... jadi kau...?"


"Tidak dengar ya yang dibilang putra mahkota padaku tadi.."


"Haaaah"


"Aku ini dibutuhkan... ingat.. di..bu..tuhkan olehnya sebagai penghubung agar dia bisa dekat dengan ratu yuanna, selama aku dibutuhkan, aku akan senang, aku terima apapun keputusan Putra mahkota. Paham tidak?"


"Dasar bodoh"


"Terserah deh.. itu urusanku" jawab Zili seenaknya. " bantu aku ambilkan bubur itu" ia menunjuk kesebuah meja yang diatasnya terdapat sebuah nampan berisi semangkok bubur dan segelas air putih.


"Iya iya, aku ambil.. " remaja laki laki itu dengan kesal membantu zili mengambilkan makanan yang diinginkannya.


*****


Putra mahkota berjalan cepat menelusuri koridor rumah sakit diiringi dengan Shin ji yang sedari tadi menunggunya didepan pintu ruangan Tempat Zili dirawat.


Suasana ramai para pasien serta pengunjung rumah sakit terdengar ricuh ketika melihat sang putra mahkota berada didepan mata mereka.


Namun sayang, meskipun tanpa penjagaan ketat, tidak seorangpun dari mereka yang berani mendekat kearah putra mahkota hanya untuk sekedar menyapa. Mengingat putra mahkota bukanlah orang yang begitu dengan mudah melepaskan siapapun orang yang berani menganggunya.


"Bagaimana anting antingnya, sudah kau temukan?" Putra mahkota mulai bertanya masih dengan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.


"Aaaah itu, sepertinya Shin'A memang sangat cerdik, membuang Alat pendengar jarak jauh dengan merusaknya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun"


"Tidak diragukan lagi, dia adalah Shin'A"


"Kau sudah menggantinya?"


"Hm.. sudah kupakaikan ditelinganya, mungkin Wanita bodoh itu belum menyadari anting antingnya pernah hilang ataupun diganti"


"Pfffft" shin ji menahan tawa.


"Kenapa?"


"Iya iya. Dia benar benar bodoh, sampai sekarangpun tidak mengetahui kau selalu mengawasinya"


"Kau berani bilang istriku bodoh?" Putra mahkota mulai kesal.

__ADS_1


"Iya iya.. maaf"


Shin ji tersenyum kecut memandang punggung Putra mahkota yang telah kembali bergerak setelah sebelumnya berhenti tiba tiba karena ucapan tidak sengajanya yang mengatakan zili bodoh.


__ADS_2