
Gemericik air sungai jatuh deras menuruni lembah menyatu dengan aliran air lainnya yang tergenang tenang di satu bagian Daerah paling luas.
Percikan air kadang muncul ketika seekor ikan besar tiba tiba meloncat menangkap mangsa kecil yang terbang diatas Sungai tersebut.
Suasana hutan ditambah dengan suara aliran sungai menambah kesejukan setiap manusia yang berada disekitarnya. Belum lagi angin sepoi sepoi menggoyang kan berbagai tumbuhan dan pepohonan yang ada disana.
Zili keluar dari balik pohon saat telah mengganti pakaian. Perasaannya cukup malu mengenakan pakaian renang surf suit yang memperlihatkan bagian dari pahanya secara terang terangan.
Dengan terpaksa ia menuruti perintah gurunya yang telah memberikan pakaian tersebut ketika mereka masih berada dirumah.
“Shisou, aku mau pakai baju biasa saja, baju ini terlalu terbuka” keluh gadis pemalu itu tidak dapat menerima Perintah yang diberikan oleh Gurunya. Dia tetap berdiri disamping pohon besar tempat ia berganti baju tadinya sembari memandang keseberang sungai dibawah Sebuah pohon Besar dengan rimbunan daun lebat tempat dimana gurunya sedang duduk bersandar diatas batang pohon besar yang menjalar masuk kedalam tanah.
“Kau ini kan istriku, jadi wajar saja memakai baju seperti itu, dan lagi tidak ada orang disini hanya aku dengan mu saja. Pakaian biasa akan mempersulitku melatihmu nanti.” Dengan menghela nafas pasrah ZiLi berjalan menghampiri gurunya melewati sebuah batang pohon besar diatas sungai yang menjadi jembatan penghubung menuju keseberang tempat dimana posisi Gurunya berada.
Sayup sayup angin berhembus, rambut berponi putra mahkota menyingkir dari dahinya. Sekilas Zili melihat seluruh wajah putra mahkota kerajaan dinegaranya, langkah kakinya sontak terhenti, ia melihat gurunya sedang duduk menunggu Gadis malang itu masih sembari membaca buku seolah olah ia masih sangat haus akan pengetahuan. Wajah tampan dengan dagu runcing serta mata yang sesekali berkedip kedip mendebarkan hati gadis dengan gulungan rambut di belakangnya.
“Emm” gadis malang itu menggelengkan kepala berkali kali karena tidak ingin terpesona dengan ketampanan putra mahkota, dia merasa sekilas putra mahkota sedikit mirip dengan Ratu negara tapi kebanyakan wajah nya hampir mirip dengan raja bayangan Xu idris. Gadis itu menghela nafas berkali kali menenang kan detak jantungnya yang tiba tiba berdegup kencang memandang suaminya. Perasaan takut kembali muncul didalam benaknya. Takut jika dia mulai menyukai putra mahkota yang akan berakhir semakin menderita. Di dalam hidupnya telah membuat sebuah janji untuk dirinya sendiri, tidak ingin mencintai siapapun yang akan memberikan kekecewaan mendalam untuk dirinya sendiri. Rasa tidak pantas mendapatkan kebahagaiaan telah tertancap kuat didalam lubuk hatinya.
“Lama sekali sih” putra mahkota berdiri menatap tajam kearah Zili yang masih sedang menenangkan hatinya. Suara laki laki remaja itu membangunkan gadis malang yang selalu menerima rasa sakit dari ketegangannya. Dengan segera dia berjalan cepat menuju gurunya. Suara gemerisik daun daunan kering terdengar ditelinga gadis malang disore hari yang penuh dengan udara sejuk.
Setelah gadis itu merasa lebih baik, Xu’i telah berjanji kepada nya untuk membantu gadis itu belajar berenang. Mereka meninggalkan Yatto dan si kembar serta Perempuan berambut pirang dirumah. Tampaknya sore itu Xu’i hanya ingin mengajar Zili secara pribadi dan tidak ingin siapapun mengganggu mereka.
Dia menolak keras ketika yatto dengan sendirinya ingin mengajar Zili, laki laki remaja itu merasa bahwa Zili adalah muridnya dan tidak ingin mengganti siapapun dalam melatih gadis malang yang dengan pasrah hanya menyetujui perintah dari Putra mahkota.
“Masuk”perintah Putra mahkota kepada muridnya yang telah mendekat dengannya dan telah berjalan dipinggir sungai yang airnya tergenang tenang.
“Shisou, aku takut”
“Dikit dikit takut..kapan beraninya kalau gitu”
“Tapi aku belum pernah masuk kedalam sungai”
“Ya makanya masuk sekarang”
“Shisou” mata Xu’i menatap tajam ke mata Zili yang sedang merasakan takut, memaksa gadis malang itu untuk masuk kedalam sungai.
Dingin menyelimuti kaki Zili yang telah melangkah Masuk kedalam sungai. Air yang jatuh dari lembah ditengah tengah hutan terasa seperti air es bahkan kedinginan air tersebut sampai menyebar hingga ketubuh gadis malang yang belum pernah mandi disungai sebelumnya.
“Shisou dingin”
“Apanya yang dingin,, baru begini saja sudah kedinginan” kilah Xu’i, ia mengikuti langkah Gadis malang itu masuk kedalam Air. “Cepat” ia menarik pergelangan tangan Gadis itu, membawanya masuk hampir kepertengahan sungai yang cukup dalam.
Zili telah masuk kedalam sungai yang tingginya telah memenuhi bahu gadis itu. Dia tersenyum tipis sedih sembari menutup mata sejenak.
“Kalau tinggi sih enak” gumamnya dalam hati ketika melihat tinggi air hanya memenuhi sebagian tubuh Xu’i yang tinggi.
“Tenggelamkan kepalamu”perintah putra mahkota sembari memegang atas kepala gadis malang itu mendorongnya kebawah masuk kedalam Sungai.
“Haaaahup” tanpa persiapan Zili terpaksa memasukan seluruh kepalanya. Dingin tidak lagi menjadi acuan untuknya bertahan, rasa takut akan menolak perintah putra mahkota lah yang membuatnya terpaksa menahan semua keinginannya untuk tidak membenam kan tubuh didalam sungai. “uhuk uhuk uhukk” air masuk kedalam hidung gadis malang itu. Mata dan hidungnya memerah setelah berhasil keluar dari dalam sungai.
“25 detik, kau bodoh sekali, masa’ baru sebentar sudah keluar” hitung Xu’i secara langsung dari dalam hati mengingat betapa cerdasnya laki laki remaja tersebut tanpa menggunakan stopwatch.
“Shisou”
“Masuk” Xu’i mendorong masuk lagi kepala Zili.
__ADS_1
“Haaah.. haaah”
“Kenapa malah jadi 20 detik”
“Gila dia ya, dia mau ngajarin orang atau mau bunuh orang sih” gumam Zili dalam hati sembari mengusap wajahnya berkali kali dengan kedua telapak tangan.
“Masuk” lagi Xu’i mendorong kepala Zili masuk kedalam air dengan terpaksa gadis malang itu menuruti perintah gurunya.
“Masuk”
“Masuk”
“Lagi”
“Lagi”
“Masuk lagi..........”
“60 detik, bahkan sudah sampai 26 kali masuk kedalam air, kau hanya bisa bertahan selama 60 detik, payah sekali kau ini sih” maki laki laki remaja itu yang didengarkan baik baik oleh gadis malang yang sedang menahan gigilan ditubuhnya, menundukan kepala sembari menggenggam salah satu lengan tangannya dengan tangan yang lain. Sesekali ia tersentak kaget mendengar makian Gurunya yang terlihat sudah tidak sabar lagi melatih gadis itu.
“Masuk” perintahnya lagi dengan terpaksa zili menuruti.
“Lagi”
“Lagi”
“Masuk lagi”
“1 menit 13 detik, lagi”
“ Kok malah berkurang hitungannya, masuk lagi”
“Lagi”
Sore telah berlalu berganti dengan petang meninggalkan matahari yang tetap selalu berada diposisinya. Lemah, lemas, dingin, pusing, serta sakit di bagian kaki akibat keseringan berdiri dan berjongkok masuk kedalam Sungai itulah yang saat ini dirasakan gadis yang sedang berganti pakaian dibalik pohon besar disebrang Putra mahkota yang tidak memperdulikan pakaian basahnya karena tidak membawa pakaian ganti.
Xu’i terlihat sudah sangat biasa dengan suasana hutan. Bahkan tubuhnya sendiri pun tidak tampak kedinginan. Dengan santai ia tetap membaca buku Dengan tulisan bahasa yunani di cover bukunya. Tidak seperti kebanyakan orang, meskipun telah diakui kecerdasannya, Xu’i tidak pernah seharipun melepas buku dari tangannya.
“kretek.. tek..kretek..kretek..Gruduk .. gruduk.. duam” tetesan hujan Diiringi suara gemuruh mengaget kan Zili yang telah mengganti pakaiannya.
Rasa dingin semakin menyelimuti gadis malang tersebut hingga kakinya yang gemetar pun tidak sanggup lagi untuk berdiri.. matanya semakin memerah dengan wajah pucat yang kembali datang setelah baru beberapa jam yang lalu menghilangkan.
Dia berjongkok merapatkan kedua kaki dan memeluk tubuh nya dengan kedua tangan. Dingin yang menusuk hingga ketulang kini hadir kembali, bibir nya pucat tubuh nya kian menggigil tanpa henti hentinya. Kepala terasa sakit ketika menerima beberapa tetesan hujan deras dari atas langit. Tetesan hujan terasa sangat tajam menusuk kepala saat itu.
“Jangan sakit lagi” Zili mendongak kan wajah keatas mendengar suara seseorang dekat dengannya.
“Kapan!” lagi, dia bertanya tanya didalam hati karena tidak menyadari kemunculan putra mahkota didekatnya. Kehadiran laki laki itu seperti angin yang tidak mungkin mudah begitu saja disadari dengan orang biasa seperti gadis malang itu.
Rambut laki laki remaja itu basah bahkan poninya sampai menutupi alis mata, tetesan air jatuh dari rambut basahnya, dingin hampir tidak lagi dirasakan gadis malang itu, dia terlihat sangat terpesona dengan wajah tampan putra mahkota yang terkena tetesan derasnya hujan. Jantungnya berdegup kencang tanpa sadar hujan telah mengurai kan rambut panjang jatuh kepunggungnya yang tadinya ia gulung tanpa ikatan pita.
Mata merah memandang mata merah. Xu’i tersenyum lucu memandang Gadis malang itu, seolah olah ia mengetahui apa yang ada dipikirannya.
“Sudah kubilang jangan menyukaiku” ungkapnya menyadarkan Zili,.
“Aahh benar.. kenapa aku bodoh sekali” gumam gadis malang itu dalam hati merasa sangat malu karena telah terpesona dengan wajah tampan putra mahkota.
__ADS_1
“ayo” xu’i mengetahui dengan pasti bahwa saat ini muridnya masih sangat lemah. Dengan berjongkok ia mempersilahkan zili untuk naik keatas punggungnya.
“Kalau gini gimana aku bisa tidak jatuh cinta” gumam gadis malang itu lagi sembari naik keatas punggung laki laki remaja yang mungkin telah masuk kedalam hatinya. Perasaan takut kian menyelimuti gadis itu, rasa takut dekat dengan putra mahkota telah berubah menjadi rasa takut untuk mencintai laki laki tersebut.
Derasnya hujan mengguyur kedua pasangan remaja digelapnya malam. Langkah kaki Xu’i terus berjalan membawa Zili yang membenam kan wajah dibahunya. Gadis malang yang sudah terbiasa ketakutan, lagi harus takut karena berada ditengah tengah hutan yang rimbun lagi gelap tanpa ada sedikit pun cahaya kecuali kilat yang sesekali muncul dari atas langit.
Dia merasa aneh karena Gurunya tampak tidak memiliki sedikitpun rasa khawatir. Dia juga merasa bingung bagaimana mungkin Putra mahkota masih sanggup berjalan dan menemukan Jalan setapak menuju rumah di gelapnya malam.
Kekaguman terhadap laki laki yang menggendongnya telah masuk kedalam hati Zili, dia menganggap dirinya sangat beruntung bisa menjadi murid dari remaja hebat tersebut.
Tangan gadis itu masih melingkar dileher Xu’i. Xu’i tampak tidak risih dengan keberadaan Zili dipunggungnya.
Hujan mulai mereda, suara berbagai jenis katak terdengar berisik menusuk telinga bahkan terkadang suara itu sangat dekat dengan mereka. Ditambah lagi dengan suara teriakan burung ruak ruak menambah kebisingan tengah hutan malam itu.
Cahaya lampu mulai terlihat. Zili tersenyum Senang, ia akhirnya dapat melihat rumah besar bertingkat dibalik pagar rumah. Dipandangnya beberapa pelayan telah Menunggu kepulangan mereka sembari membawa payung.
Dengan segera mereka berhamburan berlarian datang menghampiri mereka.
“Biar aku saja.. siapapun dilarang menyentuh wanita milikku” Tatap tajam Xu’i kepada seorang pelayan yang mencoba menawarkan diri menggantikan putra mahkota membawa Gadis malang yang tersenyum kecut mendengar ucapannya.
Didalam hati gadis malang itu merasa cukup senang, meskipun tidak mungkin baginya untuk dicintai. Hanya saja, cukup dianggap wanitanya telah memerahkan pipi diwajah gadis remaja itu.
Entah mengapa, dia kembali teringat dengan Shin’A yang sangat dibencinya. Saat itu didalam pikiran Zili, ia merasa sedikit lega kalau saja Shin’A kembali, dia sangat yakin kehidupan sekolahnya tidak akan lagi merasa terganggu dengan kehadirannya.
Xu’i terus berjalan hingga sampai kedalam ruang tamu. Tatapan khawatir sikembar jo dan ji terlihat jelas. Sekilas Zili memandang kearah Gadis berambut pirang. Jantung gadis malang itu sontak terkejut karena ia dipandang dengan tatapan kebencian.
Lagi, dia merasakan hal yang sama untuk kesekian kalinya, ingatannya kembali muncul saat ia pertama kali ditatap penuh kebencian oleh Co Seyin, kekasih hati pangeran istana Shin’A yang mengira zili telah mengambil laki laki miliknya.
Gadis malang itu menelan ludah menolehkan wajah ketempat lain untuk menghindari tatapan perempuan berambut pirang yang menempel dekat dengan Shin jo.
“Melamun saja” suara Xu’i mengagetkan Zili. Dia melihat putra mahkota sedang mengusap kepala gadis itu dengan handuk ditangannya berkali kali. Degup jantungnya tidak lagi terkendali. Dia yang tidak pernah mendapatkan perhatian sebelumnya merasa perilaku Xu’i malah membuatnya semakin jatuh hati.
Ingin sekali ia menghindar tapi tidak cukup berani untuk menentang.
“Sejak kapan kau jadi perhatian” shin jo mulai membuka suara melihat sikap aneh Xu’i terhadap Zili.
“Bukan urusanmu” laki laki remaja itu tampak tidak senang dengan pertanyaan sahabatnya. “cepat sana masuk kamar, mandi lalu segera tidur.. besok aku akan melatihmu kembali.. ingat jangan sakit” perintah Xu’i lagi sembari mengalungkan handuk keleher Zili. Meninggalkan mereka menuju kamarnya untuk Istirahat.
“Buku ku?” tanya Shin ji karena buku kesayanganya telah dipinjam putra mahkota dan tidak tampak dibawanya kembali.
“Kutinggalkan disungai. Ambil saja sana sendiri”
“Selalu saja, padahal buku kesayangan” keluh Shin ji kesal sembari menatap punggung Xu’i yang masih berjalan dengan santainya menuju kamar
“Kakek yatto...”
“Diruang bawah tanah “ belum sempat Zili bertanya, Shin ji seperti telah mengetahuinya.
Gadis malang itu lalu berjalan menuju kamarnya, dia tersenyum lembut merasa senang karena bisa berada ditengah tengah orang luar biasa dinegaranya. Bukan hanya putra mahkota, shin ji dan shin jo menurutnya memiliki sedikit aura yang sama. Aura penuh dengan Kecerdasan bukan hanya pengetahuan Ilmu umum bahkan batin pun mungkin mereka kuasai.
“Apa kalian tidak khawatir dengan sikap putra mahkota yang baik kepada gadis itu?” Perempuan berambut pirang terlihat sangat iri dengan kebaikan Xu’i terhadap Zili.
“Tidak usah suka ikut campur urusannya jika kau tidak ingin dalam bahaya” Shin ji tersenyum sinis merasa Jijik dengan gadis yang berada disebelah Saudara kembarnya. Lalu bergegas pergi menuju kamar mengistirahatkan diri yang sedang kesal karena telah kehilangan buku kesayangan salah satu hadiah ulang tahun dari ayahnya
“Lebih baik kau diam saja, bahkan aku pun tidak akan sanggup melindungimu jika Xu’i sudah marah” Shin jo melepaskan tangan Perempuan tersebut lalu bergeser kesofa yang lain dan menghempaskan diri diatasnya sembari membuka game kesayangannya.
__ADS_1