Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Uang


__ADS_3

"Setir mobil" perintah putra mahkota yang tidak terpikirkan oleh Zili untuk melaksanakannya " kenapa...? " tanya laki-laki itu lagi ketika melihat Zili tidak juga bergerak dari posisinya yang saat itu berada dikursi pengemudi. "cepat hidupkan mobilnya" Perintah putra mahkota dengan geramnya mengejutkan Zili, Gadis itu terlihat sangat ingin menangis karena tidak tahu cara mengendarai mobil. " bisa nyetir mobil, tidak?" tanya putra mahkota lagi, laki-laki itu mulai menghadapkan diri kearah Zili yang terlihat menggelengkan kepala berkali-kali. " kenapa diam saja kalau tidak bisa Menyetir..?" tanya putra mahkota lagi dan lagi tampak sudah tidak memiliki kesabaran "panggil aku Shisou agar aku bisa mengajari mu cara menyalakan mobil" Lanjut laki-laki tersebut dengan senyuman nakal menyungging dibibir.


"Shi...shi.."


"Yang jelas" ucap putra mahkota dengan nada sedikit keras.


"Shisou..." teriak Zili mengejutkan laki-laki itu hingga ia tersenyum geli.


Jendela terbuka,


Cahaya matahari pagi mulai masuk dengan kecepatan tinggi menerangi sebagian ruangan yang telah dimatikan seluruh lampu penerangannya.


Angin yang menyejukkan juga ikut masuk, menggerakan helaian rambut panjang yang terlihat basah karena baru saja selesai membersihkan diri setelah semalaman penuh membersihkan rumah dan belum sedikitpun memejamkan mata.


Shisou....


Panggil Zili dalam hati, melipat kedua tangan dan menyandarkannya disisi jendela bagian bawah lalu mengeluarkan sebagian tubuhnya, memandang suasana Kota dari lantai tiga.


Shisou...


Lanjutnya mengingat semua kenangan bersama dengan laki-laki yang dia cinta.


Mulai tersenyum lembut, kadang juga matanya terlihat berkaca-kaca.


“Zili...” suara putra mahkota yang tampak sedang terlelap diatas Sofa membuat gadis itu sontak menoleh kepala kebelakang, memandang posisi laki-laki yang menyebut namanya berada.


Menghela nafas berat “maaf” ucap gadis itu karena merasa tidak akan pernah bisa membalas cintanya.


Memandang kembali kearah jalanan kota, melihat jembatan penyebrangan yang tampak mulai ramai dengan para pejalan kaki yang berlalu lalang menuju tempat tujuan mereka masing-masing.


Mengangkat satu tangan,menyandarkan Siku, lalu meletakan dagu diatas telapak tangan yang terbuka. “apa yang sedang kau lakukan, Shisou...?”tanya gadis itu kepada Putra mahkota yang saat itu berada didalam pikirannya. “bagaimana kabarmu...?” lanjutnya lagi masih memikirkan laki-laki yang ia cinta.


Sayup-sayup angin terus menerpanya,


Tak terasa perutnya mulai terasa lapar.


Memandang kebawah,


AHHH..


Lapar sekali,


Dia melihat sebuah Warung Lontong tempat biasa ia sarapan pagi sebelum pergi kesekolah.


Tersenyum senang karena warung tersebut masih ada setelah lebih dari enam bulan lamanya tidak pernah ia kunjungi kembali.


Berbalik arah,


Memandaang tubuh putra mahkota yang masih terbaring dan mulai mendekatinya.

__ADS_1


“Tuan...” panggil Zili tetapi laki-laki tersebut tidak bergeming “tuan” panggilnya sedikit keras, tetapi tetap saja laki-laki tersebut tidak juga bergeming.


Menghela nafas.


Ajak tidak ya.. ?


Tanyanya pada dirinya sendiri.


“Tuaaann..” mulai menggoyangkan tubuh putra mahkota.


Haaaa...


Tubuhnya panas,


Mungkinkah dia demam..?


Gumamnya dalam hati mulai meraih earphone laki-laki tersebut untuk membangunkannya.


Menyentuh benda yang berada diatas kepala putra mahkota, juga menutupi kedua telinga laki-laki tersebut dan mulai mengangkatnya.


Mata Zili sontak membelalak besar ketika memandang mata marah serta tajam menusuk jantung milik putra mahkota.


Tangan gadis itu tersentuh.


Baaaaaaakkk..


Dengan kecepatan tinggi putra mahkota datang menghampiri tubuh Zili yang tadinya ia hempaskan menabrak dinding.


Baaaaaakkkkk..


Kreetekkk kreeeetekk....


Suara dinding yang retak hingga mengeluarkan pecahan semen jatuh keatas lantai, terdengar begitu mengerikan setelah putra mahkota menghantamkan kepalan tangannya disisi kanan kepala gadis yang saat itu tampak sedang menggigil kedinginan hingga ingin sekali muntah karena perutnya teramat Mual disebabkan perasaan takut yang menyiksa ketika melihat wajah mengerikan laki-laki dihadapannya “kalau bukan teman Zili...” tertegun mendengar Suara marah putra mahkota sembari menantap matanya karena takut untuk beralih “ saat ini pasti, sudah kupatahkan tanganmu yang berani menyentuh suaranya “ lanjut laki-laki tersebut begitu emosi hingga matanya merah berapi-api.


Berdiri menggigil memandang punggung putra mahkota yang telah berbalik, perlahan-lahan kakinya mulai menekuk hingga membuat Gadis itu turun kebawah lalu duduk memeluk tubuhnya yang menggigil saking takutnya ia jika nyawanya hari itu melayang sebelum ia membuka topeng dan bertemu laki-laki yang ia cinta.


Menahan rasa takut dan juga merasakan gigilan tubuh yang menguat “panggil pekerja perbaikan bangunan” perintah putra mahkota yang mengetahui bahwa dinding ruangan tempat Wanita miliknya Tinggal selama ini, retak, membelah hingga sampai kelangit-langit atapnya.


Tidak ingin merasakan kemarahan putra mahkota untuk kedua kali dihari yang sama, dengan menguatkan Diri, Zili mulai melangkah kaki kepintu keluar, mengunjungi Apartemen pemilik gedung untuk memintanya memanggil beberapa pekerja perbaikan bangunan, meninggal putra mahkota yang saat itu tampak membaringkan tubuh kembali sembari memakai earphone yang tadinya ia lepaskan.


*******


“3000 neceri...”


“Berapa....?”


Sungguh sangat terkejut ketika mendengar harga perbaikan Dinding dari mulut salah satu warga Klan Lu yang telah menyelesaikan pekerjaannya memperbaiki Dinding ruangan Apartemen.


“Bukanlah hal yang mudah memperbaiki Dinding yang retak hingga kembali seperti semula” jelas laki-laki tersebut meyakinkan Zili karena melihat gadis tersebut tampak begitu terkejut dengan harga perbaikan yang menurutnya sangat mahal.

__ADS_1


Mulai menghitung uang yang tersisa, sesekali melirik kearah putra mahkota yang terlihat sedang duduk santai sembari membaca buku dan masih mengenakan earphone miliknya dengan menyila kaki naik keatas sofa tempat dimana laki-laki tersebut duduk saat itu.


Menghela nafas berat “tidak bisa kurang lagi ya...?” pinta Zili tampak memelas.


Terlihat menolak “Nona....


“Baiklah baiklah” ucap Zili lemah lalu memberikan beberapa tumpuk uang lembaran 100 neceri yang diikat menggunakan Tali karet ketangan laki-laki didepannya “hitunglah ini..” ucapnya lalu terduduk lemah diatas sandaran tangan sofa yang berada dibelakangnya, memandang sisa uang yang mungkin hanya ada belasan lembar 100 neceri saja.


“Sudah..” mengambil barang-barang perbaikannya “terima kasih” ucap laki-laki yang telah memperbaiki Ruangan tersebut lalu berlalu pergi menuju pintu keluar, meninggalkan Zili dengan rasa sedih karena hanya memiliki sedikit uang untuk bertahan hingga sebulan lamanya dengan membiayai hidup laki-laki penyebab ia harus mengeluarkan bagitu banyak uang dalam jangka waktu beberapa hari saja.


Perut yang tadi kehilangan rasa lapar, kini telah kembali lagi merasakannya.


Mulai berjalan melangkah kaki keluar, perasaannya sungguh berat karena tidak tega melihat putra mahkota yang sedari tadi belum juga mengisi perutnya padahal jarum jam telah menunjukan angka 11 waktu NC bagian barat.


Berbalik arah, mendekati putra mahkota yang mungkin masih marah karena tindakan cerobohnya “tuan, mau ikut bersamaku kewarung Lontong tempat Zili biasanya sarapan pagi, tidak...?” tanya Zili ketika telah berdiri dihadapan putra mahkota.


Laki-laki yang bermata tajam tersebut mulai menengadah kepala, masih memandang gadis itu dengan tatapan tajam menakutinya “dari mana kau tahu warung yang kau ucapkan tadi tempat Zili biasanya sarapan..?” tanya laki-laki tersebut menegunkan Zili yang sontak berpikir keras menemukan jawabannya.


Menghela nafas berat “aku tahu karena Zili pernah menceritakan masa lalunya kepadaku...” jawab gadis itu semakin membuat mata putra mahkota memandang tajam kearahnya.


Gadis itu mulai membuang wajah “Awas saja jika aku tahu kau membohongiku” ancam laki-laki tersebut lalu berdiri meraih jaket yang telah ia lepaskan ketika mandi tadi, lalu memakai jaket tersebut kembali, menutupi kemeja extra limited edition yang belum ia ganti juga padahal telah sehari yang lalu ia kenakan.


“Ahh aku membutuhkan uang untuk membeli pakaian ...” ucap laki-laki tersebut sontak membuat Zili tersenyum getir.


Geram tetapi tertahankan “uangku sudah tidak banyak lagi..” jawab gadis itu mulai mengikuti langkah putra mahkota yang telah memasukan kedua tangan kedalam kantung jaket dan meletakan Earphone keleher belakang.


“Hmm baiklah,” Ucap putra mahkota “berikan semua sisa uang milikmu...” permintaannya sontak mengejutkan Zili hingga langkah kakinya terhenti.


“Kenapa aku harus memberikan semua uangku kepada laki-laki keterlaluan sepertimu. ?” bentak Zili sudah tak tahan lagi dengan sikap keterlaluan laki-laki yang telah menoleh kepala kebelakang, mengejutkan Zili yang tiba-tiba merasakan hawa menegangkan Disekitarnya.


“Aku akan menghasilkan 10 kali lipat dari semua uang yang kau miliki” jawab laki-laki tersebut membuat Zili ragu-ragu mempercayainya.


Mau ragu ataupun tidak..!


Tetap saja semua uangku juga akan jatuh ketangannya.


Gumam zili lalu mengambil belasan lembaran uang dari kantung celananya.


Haaa...


“1450 neceri ya...?” ucap putra mahkota yang telah menarik semua uang dari tangan Zili. “Ini saja sudah cukup untukmu” lanjutnya lagi sembari memberikan lembaran 50 neceri ketangan Zili.


Haaaa...


Uangku...


Tubuh gadis itu mulai melemah, memandang uangnya yang telah masuk kedalam kantung celana putra mahkota.


‘” cepatlah...” ucap laki-laki tersebut dari balik pintu “lama sekali kau berjalan” lanjutnya lagi membuat Zili terpaksa melangkah kaki mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2