
“Ruuann!” Giginya terlihat menggertak. Pengusaha kebanggaan negara tampak sangat murka memandang seorang laki-laki
“Hm,” dengan santai Penasihat Pangeran Istana menarik tangan yang tadinya ia acungkan ke arah Ou Nura dan meletakannya di belakang kepala kemudian berjalan memasuki Lift. “Bukankah dia memiliki kemampuan mengingat cepat?, lalu kenapa aku harus bersusah payah menghitung untuk memasuki lorong 37 jika ada seorang pengingat cepat berada di sini?, Ahhh atau jangan-jangan, sebenarnya dia bergabung dengan regu zero hanya karena mengetahui bahwa Xu’i akan datang dan bergabung bersama kita sebentar lagi, begitu ya?” setelahnya, ia menurunkan tangan dan berdiri di samping pintu yang tertutup lalu menyandarkan punggung sembari melipat tangan, membalas tatapan murka Pengusaha Kebanggaan negara yang telah terpancing emosi di sana.
“Ah, itu, ma..mana mung...”
“Seorang Penasihat berkedudukan tinggi tidak seharusnya menunduh orang tanpa alasan yang berlogika, Hm,” giginya masih terlihat bergetar tetapi kini telah tertutup oleh mulut yang telah membungkam, meskipun demikian sepertinya emosi laki-laki tersebut belum mereda. Dia yang menyadari kegugupan Ou Nura dengan cepat menyela kalimat gadis itu karena ia tidak ingin gadis yang sangat ia sukai berada dalam masalah. “Bukankah kau melihatnya sendiri?, dia bergabung menggantikan Aura dan membantuku untuk mengatasi jebakan keahlian Klan Ou yang masih belum terlewati. Namun sepertinya kebaikan orang seperti kami tidak akan terlihat dimata kalian, para Klan Zin yang kudengar sangat licik hingga orang yang sama sekali tidak berbakat, mampu menikah dengan Putra Mahkota.” Sindirnya tajam sembari melirik dengan tatapan remeh ke arah Zili yang berada pada bagian depan sampingnya.
Tukk tukk tukk..
Ilmuwan berbakat mulai melangkah memasuki ruangan yang terbuka itu, ia bergerak dengan santai seperti orang yang telah terbiasa dengan pertengkaran antar pejabat tinggi begitupula dengan Putri Kelincahan yang terdengar menghela nafas berat, menyaksikan pembelaan keras Pengusaha kebanggaan negara untuk Ou Nura yang masih berdiri di luar ruangan bersama dengan Mantan Presiden Sekolah Teknologi yang terlihat tegang dengan situasi di tempat tersebut.
“Bukankah itu salah satu bakat?,” santai sekali Penasihat Pangeran Istana berbicara, “bahkan sangat berbakat karena tanpa meracuni ataupun melukai anggota keluarga kerajaan, Anggota Zin mampu menikahi Putra Mahkota, Wuuhh,” balas sindir Penasihat Pangeran Istana dengan senyuman nakal yang menghiasi bibir.
__ADS_1
Semakin terpancing emosi, Pengusaha berbakat bahkan berusaha keras menyembunyikan kemarahan agar Ou Nura yang saat itu masih kehilangan ingatan tidak menyadari perbuatannya yang telah meracuni Putri Istana di masa lalu. “Hm, Lucu sekali.” Pengusaha berbakat mulai tertunduk sejenak dengan senyuman kecut lalu mengangkat kepala. “Hahahaha,” dan tertawa keras, menggema. “Jadi kau mengira bahwa licik adalah sebuah bakat, begitu?, hm,hm, hahahahaha konyol sekali hahaha.” Pengusaha berbakat mengantungi kedua tangan setelah membuang tombak-tombak yang ia pegang lalu berjalan mendekati Zili, “Jika licik adalah bakat, kenapa dimasa lalu Putri mahkota begitu bodoh, Hm, dia bahkan tidak dapat mempersiapkan rencana untuk menyelamatkan Putra Mahkota di depan Raja kita?” kemudian mengangkat tangan dan meletakannya di bahu Zili setelah berdiri di belakang gadis itu.
“Hm, Hahahahahaa, Hahahahah...” Penasihat Pangeran Istana membungkuk, meletakan kedua tangan pada perut dan tertawa lebar, mengejutkan beberapa orang di sana kecuali Ilmuwan berbakat yang terlihat menghela nafas kesal karena harus menunggu lama. Laki-laki itu terlihat duduk dengan laptop di samping kiri pintu yang tertutup, berseberangan dengan tempat Penasihat Pangeran Istana berdiri, “Maka kebodohan adalah bakat hebatnya, hahaha hahaha, Karena dia bodoh maka dari itu kelincikannya tak terlihat hahahaha, dan aku menyukai itu.” Jawab Penasihat Pangeran Istana masih tertawa namun kali ini mulai menegakan tubuhnya.
“Hm, hahahahaha...” balas tawa Pengusaha kebanggaan negara yang telah melepaskan tangan dari bahu Zili, “kukatakan padamu, aku yang telah membantumu menyelamat Xu’i waktu itu, jadi, berterima kasihlah.” bisiknya pelan mengejutkan Zili yang masih berdiri kebingungan sembari mengingat kejadian ketika Putra Mahkota berada di dalam Kapal Induk musuh selama sebulan lamanya di masa lalu. “Benar, benar, aku setuju. Sepertinya mulai sekarang kita akan bergantung pada bakat bodohnya ini, Ha.. Hahaha.” Lanjutnya tertawa sembari berjalan memasuki pintu lift dengan meraih tangan Ou Nura lalu menariknya untuk memasuki lift bersama.
“Hm,baiklah, sudah ditentukan.” Ilmuwan berbakat mulai membuka suara bersamaan dengan jari-jari tangannya yang telah berhenti memainkan keyboard laptop. “Putri Mahkota yang akan bertugas membuka pintu menuju lorong 37.” Ucapnya membuat keputusan, mengejutkan Zili. Detak jantung gadis itu sontak memompa kencang, kakinya juga mulai gemetaran dengan keputusan tersebut. Ia hanya bisa menghela nafas berat, melangkah kaki mendekati ruangan tanpa mampu menolak keputusan saat itu.
“ Haa.. Mungkinkah orang yang bahkan tidak memiliki rencana untuk menyelamatkan Putra Mahkota mampu mengerjakan tugas berbahaya ini?” Kali ini, suara tersebut berasal dari mulut Putri Kelincahan. Gadis itu memandang remeh, tidak menyukai. “Jangan bertindak gegabah, membiarkan orang yang tidak berpengalaman membuka pintu, sudah dapat dipastikan, kita semua akan mati karenanya.” Lanjut gadis yang telah berdiri bersandar di dinding, samping Ilmuwan berbakat duduk dengan laptopnya.
Menyadari genggaman tangan Ou Nura yang gemetaran, Pengusaha kebanggaan negara mempererat genggaman tangannya. “Bukankah Ketua telah memutuskan?, maka turuti saja dan lihat!, Mungkinkah orang bodoh bisa menyelesaikan masalah?” laki-laki itu kini telah membawa Ou Nura berdiri di samping Putri Kelincahan yang terlihat sedang menahan rasa cemburu di dalam hati.
“Hm, Konyol, Bagaimana mungkin seorang bawahan membiarkan Putri Mahkota kerajaan maju di garis depan. Sungguh sangat tidak setia, sepertinya kesetiaan penduduk di negara ini perlu dipertanyakan kembali.” Balas sindir Penasihat Pangeran Istana yang tetap bersikeras dengan keinginannya untuk membuat Ou Nura melakukan tugas berbahaya, membuka pintu lift di sana.
__ADS_1
“Bukankah saat ini dia hanyalah prajurit biasa?, Putra Mahkota bahkan telah mengatakan dengan mulutnya sendiri.” Begitupula dengan Pengusaha berbakat yang bersikeras agar Zili melakukan tugas berbahaya itu.
“Saat ini mungkin prajurit biasa tetapi tidak dengan kedatangan Putra Mahkota nantinya, Ah benar haha.. hahaha,” Penasihat Pangeran Istana terkekeh, meremehkan, bersamaan dengan Zili yang telah masuk ke dalam dan berdiri di sampingnya diikuti oleh Mantan Presiden Sekolah Teknologi. “Sepertinya dia adalah wanita dambaan Putra Mahkota, mungkinkah berita itu salah?, tetapi jika benar, hm, bukankah sebaiknya kita memikirkan konsekuensi yang akan terjadi jika ia berada dalam masalah?, Yang kutahu, Putra Mahkota, bukanlah orang yang mudah menerima alasan ataupun penjelasan begitu saja.” Lanjut laki-laki tersebut menambahkan keyakinan.
Semua orang terdiam, Pengusaha kebanggaan negara bahkan hanya bisa tersenyum kecut memandang tajam ke arah Penasihat Pangeran Istana yang juga membalas pandangannya dengan tatapan remeh saat itu.
“ Yang Mulia, Saya tahu anda berasal dari Klan Penghitung dan juga sangat yakin bahwa dengan kehebatan anda, anda bisa menikah dengan Putra Mahkota kami, maka dari itu, Saya mohon, bersedialah untuk menerima tugas berat ini untuk kami!”
“Ck, tidak adil. Ketua regu bahkan terlihat sekali sedang bertindak berat sebelah.” Sela Penasihat Pangeran Istana cepat, merasa kesal dengan ucapan Ilmuwan berbakat yang ia rasa sedang memihak kepada keputusan Pengusaha kebanggaan negara.
Seringai kemenangan menghiasi bibir, Pengusaha kebanggaan negara bahkan mulai berdiri dengan santai mengalihkan pandang ke arah Ou Nura. “Tenang saja Nura, Putri Mahkota akan membuka pintu, dia pasti bisa diandalkan.” Ucapnya memberikan pujian yang bermakna sindiran saat itu.
“Aku..”
__ADS_1
“Terima kasih Yang Mulia, anda tidak perlu menjawabnya lagi, kami tahu bahwa anda akan bersedia untuk melakukannya.” Tidak mempedulikan Ucapan Penasihat Pangeran Istana dan jawaban Zili, ilmuwan berbakat segera menutup Laptop dan berdiri sembari mengiisyaratkan kepada Zili dengan mata, agar gadis itu segera berjalan mendekati tombol Lift pintu di dekatnya.