
Panas matahari menguntungkannya.
Sebenarnya, baik cuaca panas ataupun cuaca dingin sekalipun tidak masalah baginya.
Meskipun demikian, Tetapi Cuaca yang panas mampu mengisi baterai puluhan texchi pisau milik putra mahkota yang saat itu sedang berjemur diatas bukit tempat teman-teman putra mahkota berada.
Sepi,
Tampaknya saja sepi.
Taaakk...
Sebuah Kamera cctv berhasil dipecahkan putra mahkota dengan menggunakan lemparan batu.
Bertanya-bertanya,
Bertanya-tanya.
Zili yang berada disamping putra mahkota sungguh sangat penasaran dengan laki-laki disampingnya.
Diingat lagi diingat.
Dia benar-benar telah memastikan bahwa putra mahkota dan pengawal rahasianya memang berbeda orang.
Lembut,
Tangan lembut putra mahkota bahkan mampu mengingatkan gadis itu dengan tangan Gurunya tapi tetap saja, dia tidak mungkin mencurigai laki-laki disampingnya sebagai gurunya, karena bukan hanya Putra mahkota dan pengawalnya saja yang memiliki tangan lembut, tangan pangeran istana juga sangat lembut.
Ahhh,
Kenapa tangan laki-laki bisa selembut itu!.
Meskipun lembut namun kehebatan mereka tidak diragukan lagi, cerdas dan juga Rajin, laki-laki muda dinegara NC memang sangat luar biasa.
“Tuan..” panggil Zili, sungguh, gadis itu memang sangat penasaran.
“Hm..” menoleh kepala kearah Zili setelah laki-laki tersebut melempar kamera Cctv lagi lalu berhasil memecahkannya.
meskipun telah berhasil diretas, bisa jadi dengan keahlian Yang begitu hebat dari ahli teknologi dinegara NC, hasil retasannya berhasil Digagalkan, dan Hasil rekaman CCTV tersebut didapatkan mereka kembali.
Tertegun, memberanikan diri bertanya “mungkinkah texchi pisau itu milikmu..?” tanya Zili begitu penasaran, karena yang ia tahu, texchi pisau hanya dimiliki putra mahkota sejauh ini.
Tersenyum tipis,
Menurut laki-laki tersebut, wanita miliknya bukanlah orang yang mampu dianggap remeh begitu saja “kau kira hanya Xu’i saja yang bisa membuatnya..?” pertanyaan Putra mahkota menyudutkan Zili hingga gadis itu tak lagi bisa menjawabnya. “aku bahkan bisa mengendalikan texchi peluru..”
“Peluru. ..?” Terkejut, sangat terkejut, pikirnya, bagaimana mungkin texchi peluru mampu diciptakan. “ma.. ma.. mana mungkin..” ucap gadis itu tidak mempercayainya.
Tersenyum lucu karena ucapannya tidak mampu membuat gadis itu mempercayainya “B-texchi...” panggilnya. “ lihatlah kebelakangmu..” perintah putra mahkota yang langsung dilaksanakan Zili.
Cepat....
Dari bukit tempat ia berada, puluhan peluru terlihat terbang begitu cepat menghampiri putra mahkota.
Dari jauh, terlihat seperti sekerumunan lebah berwarna emas, tetapi karena pantulan sinar matahari, Benda-benda tersebut terlihat mengkilat, memantulkan cahaya.
Luar biasa.
__ADS_1
Gumam gadis itu dalam hati.
“Bagaimana mungkin texchi peluru bisa diciptakan..?” tanya gadis itu ketika putra mahkota mulai berbalik memandang kedatangan puluhan texchi peluru miliknya.
“Tentu saja menggunakan Baterai jam tangan,” jawab putra mahkota, “baterai yang juga menggunakan Panas matahari untuk mengisinya” lanjut laki-laki tersebut menjelaskannya.
Menoleh kepala, mengagumi putra mahkota “mungkinkah tuan sendiri yang memasukan baterai tersebut kedalam peluru lalu menciptakan texchi-texchi itu ...?” tanya gadis itu begitu tidak meyakininya.
Tersenyum lembut “tentu saja...” jawab putra mahkota bersamaan dengan tubuhnya yang telah dikelilingi puluhan texchi peluru miliknya.
“Tuan yang melakukannya sendiri...?” tanya gadis itu memastikan kembali, meminta keyakinan.
bagaimana tidak..?
Pikirnya.
Pasti membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuat peluru dan juga memasukan baterai kedalamnya.
Walau bagaimanapun, dibutuhkan ketelitian serta kesabaran yang sangat tinggi untuk membuat benda kecil tersebut melayang keudara.
“Waahhh...” mulai memasang mata terkagum-kagum, menengadah memandang putra mahkota “tuan..” membalas tatapan Zili, menundukan kepala “kau hebat sekali..” puji gadis itu sontak membuat putra mahkota malu lalu membuang wajah.
“Be.. be..benarkah..?” tanya putra mahkota mulai berbalik, menyembunyikan wajah malunya dari hadapan wanita miliknya.
“Tentu saja..” jawab Zili “aku sangat mengagumimu” pujian gadis itu semakin membuat putra mahkota malu, bahkan sampai gugup memandangnya kembali.
Mulai melangkah kaki memasuki gerbang “ayo pergi..” ajak laki-laki tersebut berusaha sekuat tenaga mengendalikan rasa gugupnya.
**********
Berjalan begitu santai memasuki gerbang musuh,
Dua orang penjaga Keamanan mendekati putra mahkota.
Terkejut, Raut wajah mereka pucat ketika melihat puluhan peluru terbang melayang mengudara dibelakang putra mahkota.
“Putra mahkota...” tebak mereka,
Siapa lagi kalau bukan putra mahkota yang mampu membuat sesuatu hal yang sangat sulit diciptakan orang lain menjadi nyata.
Tersenyum remeh, terus melangkah kaki mengantungi celana dan diikuti Zili disampingnya.
Kedua laki-laki penjaga keamanan tersebut tiba-tiba terjatuh lemah, tidak menyadari sesuatu.
“Haaa..
Keringatan tubuh membasahi mereka.
Memandang terkejut melihat kedua laki-laki yang terlihat mengerang kesakitan, Zili mulai mencari tahu penyebab kedua laki-laki tersebut terbaring lemah diatas jalanan pavling blok depan gerbang.
“Aahhh ..” melompat memeluk leher putra mahkota, hingga membuat laki-laki tersebut tersenyum geli lalu mengeluarkan tangan dari kantung celananya kemudian menahan tubuh Zili untuk tetap berada ditubuhnya. “ular ular ular...” teriak Zili ketika melihat puluhan ular mulai berjalan mengikuti putra mahkota.
“Kau takut ular..?” tanya putra mahkota yang langsung memperbaiki posisi Zili, meraih kedua ketiak gadis itu hingga membuat gadis tersebut tertegun lalu mengangkatnya keudara, saling memandang sejenak, hingga degup jantung mereka semakin kencang terasa, putra mahkota mulai meraih kedua lipatan belakang lutut kaki zili, dan membaringkan tubuh gadis itu diatas kedua tangannya.
Menggigil menutup mata “kenapa bisa ada banyak ular disini..?” tanya gadis itu mulai melirik kebawah, kearah kaki putra mahkota yang terlihat memakai sepatu Berwarna abu-abu.
“Karena aku memanggil mereka..” jawab santai putra mahkota, terus berjalan membawa Zili bersama, mengikuti petunjuk peta yang ada dijam tangannya.
__ADS_1
Memandang wajah putra mahkota dari bawah “kau bisa memanggil ular..?” tanya Zili begitu terkejut.
“Hm..” jawab putra mahkota mengiyakan “tentu saja karena itu adalah keahlian klan ann..” Lanjut jawab laki-laki tersebut terus berjalan dikelilingi texchi peluru dan membawa Zili ditangannya serta diikuti Puluhan jenis ular.
“Kau memiliki keahlian klan ann..?” tanya Zili semakin mengagumi laki-laki yang membawanya.
“Hmm” jawab putra mahkota mengiyakan, tersenyum geli memandang wajah terkagum-kagum Zili sejenak, lalu memandang kembali kearah depannya.
“Aaakkkhhh....
Menoleh kepala kearah depan, puluhan peluru berhasil menembus lengan tangan beberapa laki-laki yang menghalangi langkah putra mahkota dengan mengacungkan pistol kearah laki-laki tersebut tadinya.
Ular-ular dibawah putra mahkota mulai menyerang siapapun yang menghalangi langkah laki-laki tersebut.
Begitupula dengan peluru-peluru yang siap menembus tubuh musuh kapanpun putra mahkota mau.
“Kau...?”
“Kenapa..?” tanya putra mahkota masih begitu santai membawa zili mengikuti petunjuk peta.
DOooooor...
Berhasil menghindari peluru yang melesat dari jauh dengan begitu santai terus melangkah maju.
“K-texchi..” tidak memakan waktu lama, puluhan texchi pisau putra mahkota telah datang menghampiri laki-laki tersebut dan bercampur menjadi satu dengan puluhan texchi peluru miliknya.
Aaaakkhhhh...
Akkkhhhh...
Teriakan kesakitan terdengar dari atap-atap rumah penduduk perumahan elite tersebut.
Belasan penembak jitu berhasil diLumpuhkan putra mahkota dengan kedua jenis texchi miliknya.
Bukan hanya itu saja,
Musuh yang berada didepannya juga terus berjatuhan lemah menerima patokan ular berbisa, lalu terlilit tubuh ular hingga tak lagi bisa melangkah.
Sungguh,
Menyerang langsung begitu mudah dilakukan putra mahkota diarea terbuka.
Terlebih lagi dicuaca panas yang akan membuat seluruh texchi miliknya berfungsi dengan sangat baik.
Tersenyum remeh,
Memandang sebuah gedung yang telah dijaga ketat puluhan laki-laki tegap pemegang senjata.
“Berapa banyak keahlian yang kau miliki..?” tanya Zili memandang wajah putra mahkota yang terlihat senang memandang kearah musuh-musuhnya.
“Delapan..” jawaban putra mahkota mengejutkan Zili.
“Shisou...” panggil gadis itu, membuat putra mahkota melirik sekilas kearahnya.
“Shisou,...?” Tersenyum senang.. “maksudmu...?”
“Kau, ..” mulai turun dari tubuh putra mahkota setelah memastikan tidak ada ular lagi disana. “Xu Xu’i, iya kan..?”
__ADS_1