
Awan putih menggumpal diatas langit, bergerak perlahan-lahan terbawa angin hingga menutupi matahari disiang hari itu.
Angin yang berhembus tak hanya menggerakkan awan, ia juga menggoyangkan pepohonan dan rerumputan, membuat dedaunan kering jatuh berguguran diatas punggung Zili yang sedang memeluk tubuh putra mahkota.
“maaf?” Putra mahkota mulai membuka suara setelah diam begitu lamanya mendengarkan isak tangis Zili yang kini telah menghentikan tangisannya.
“Tidak perlu, aku yakin shisou,...
Zili telah melepaskan pelukannya dan duduk disamping putra mahkota.”kau pasti punya alasan sendiri melakukan hal itu”
Putra mahkota mulai bangkit “benar, aku punya alasan sendiri” dia mulai menyila kakinya ketika memandang zili melipat kaki kedepan lalu memeluknya dengan kedua tangan “maaf, aku tidak bisa memberitahukan alasannya”
“Heeemmmm..
Zili menggeleng kepala sembari menyandarkan dagu dipertengahan kedua lututnya yang merapat “tidak masalah bagiku shisou, hanya saja...
Wajah gadis itu tampak berubah,
“Kenapa?” tanya putra mahkota penasaran melihat perubahan wajah Zili.
Zili menghela nafas berat, ragu-ragu ia berbicara “benarkah kau yang tidur denganku hari itu?” tanya nya memastikan.
Putra mahkota tersenyum lembut, memandang zili dari arah samping “tentu saja itu aku” ia mulai mengelus kepala gadis itu yang sudah tersenyum menahan tangis bahagia bahwa prasangka perselingkuhannya ternyata salah.
“Sakit sekali” zili mulai menitihkan air mata lagi, hal itu sontak mengejutkan putra mahkota yang langsung menghentikan gerakan tangannya dikepala Zili “rasanya sakit sekali ketika mengira bahwa aku telah selingkuh dengan laki-laki lain” lanjut gadis itu mulai menghapus air matanya “membayangkan kau meninggalkanku saja, rasanya sangat sakit”
“tenang saja, Aku tidak akan meninggalkanmu,” putra mahkota menarik tangannya dari kepala Zili lalu pelan-pelan ia menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan gadis itu. “Aku akan selalu setia padamu” lanjut laki-laki itu perlahan-lahan melipat kaki, mengikuti cara Zili, lalu meletakan kedua tangan diatas lutut kemudian meletakkan lagi kepala miring diatas kedua tangan tersebut sembari memandang Zili dari arah sampingnya dengan senyuman manis dipipi.
Lagi, ucapan putra mahkota membuat gadis itu penuh dengan kerisauan “shisou...
Panggil gadis itu mulai menoleh kearah samping,
Haaa...
Dia tampak begitu terkejut ketika memandang mata putra mahkota tepat disampingnya hingga tanpa sadar menjauh karena perasaan gugup dihati, begitu pula dengan putra mahkota yang langsung membuang wajah, saking dekatnya mata mereka tadi beradu.
“Shi.. shisou, aku....
“ time is over”
__ADS_1
Suara penasihat putra mahkota terdengar telah mendekat. Langkah kakinya terus bergerak mendekati putra mahkota yang kini telah berdiri mengulurkan tangan kepada zili, bertujuan untuk membantu gadis itu berdiri.
Paaaakk...
Sebuah pukulan ringan dari gulungan buku mengenai kepala Zili, dokter hewan yang baru saja tiba melakukan hal tersebut karena perilaku Zili yang sembarangan menyerang putra mahkota.
“Sensei...
“Jangan lakukan itu lagi” nasihat laki-laki yang telah Zili anggap sebagai gurunya tersebut.
Putra mahkota tampak tidak menyenangi istrinya menerima pukulan “ehhmm” dia berdehem, menarik perhatian dokter hewan yang langsung memahami maksud laki-laki tersebut.
Paaaaakkk..
“Sensei....
Lagi, dengan sengaja laki-laki tersebut memukul zili, melirik sedikit kearah putra mahkota yang mulai kesal melihatnya. “maafkan aku Shisou” ucap zili menyentakkan hati putra mahkota.
Terasa begitu tidak senang mendengarkan ucapan maaf dari zili yang begitu penurut menerima perintah dari dokter hewan, Putra mahkota mulai melangkah begitu saja meninggalkan semua orang tanpa berucap satu katapun.
Hal itu mengejutkan semua orang yang sebelumnya memahami sifat laki-laki tersebut tetapi tampaknya yang mereka pahami sifatnya itu kini telah berubah.
“Shisou...
Panggil zili berlari kecil mendekati putra mahkota yang masih berjalan “maafkan aku shisou, kau pasti...
“Jangan minta maaf kepadaku”
Tolak putra mahkota menghentikan langkah. Tolakannya bahkan menambah keterkejutan dalam hati Zili karena merasa ucapannya terdengar begitu keras.
“Jadi aku harus bagaimana lagi biar kau tidak marah dan pergi begitu saja” gadis itu mulai menunduk kepala sedih disamping putra mahkota.
Perilakunya sontak mempengaruhi suasana hati putra mahkota yang tadinya buruk menjadi iba “baiklah baiklah aku memaafkanmu” ucap putra mahkota langsung memeluk istrinya “jadi jangan bersedih lagi” lanjut laki-laki tersebut menenangkan gadis itu dengan pelukan eratnya.
**********
Berdiri tegak didepan sebuah ruangan besar yang terdapat beberapa lemari buku dan lemari penyimpanan bubuk bakteri serta cairan virus yang tampak terususun rapi didalam sebuah botol-botol ukuran kecil hingga ukuran besar.
Telah selesai urusannya didesa Ann, Zili kini tengah memberanikan diri menghadap dan menemui ketua Klan Ann yang sedang duduk menandatangani dan memberi stempel tanda khusus keatas sebuah piagam penghargaan dari sekolah peternakan.
__ADS_1
Tidak berselang lama, dia mulai menaikan kepala memandang Zili “kalau bukan karena cucuku So’A, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikanmu piagam ini” ucapnya tampak sangat tidak senang kepada Zili yang sedang mengalihkan pandangan kearah piagam ditangan Ketua Klan. “Ambilah” perintahnya meletakkan sebuah piagam keberhasilan Zili menguasai keahlian Klan ann diatas meja kerjanya disalah satu ruangan sekolah peternakan. “kalau bisa, jangan kembali kesekolah ini lagi” larang laki-laki tua tersebut keras lalu mengambil lembaran kertas lainnya dan mulai menandatangani nya.
sedih,
Zili mengambil barang yang sangat berarti tersebut dari atas meja ketua klan, menguatkan diri bahwa baginya tidak masalah dihina, yang lebih penting saat itu adalah ia mulai bergerak selangkah lebih maju mendekati tingginya kedudukan putra mahkota “terima kasih” ucap Zili setelah mengambil barang tersebut lalu bergerak pergi dari ruangan yang membuat sesak hatinya.
Berjalan keluar dan menutup pintu ruangan, langkah kaki zili tidak ia gerakan ketika ia mulai berbalik.
Itu karena Putri Klan Ann yang sangat kaya berdiri tepat dihadapannya, memandang dengan penuh kebencian yang membuat Zili lagi-lagi harus menahan rasa berat didalam hati, bertemu dengan seseorang yang mungkin saat ini sangat membencinya.
“Kau mengambil kakakku?”
“Kapan aku mengambil kakakmu” jawab Zili cepat membalas tatapan putri klan ann.
“Berani sekali kau memanfaatkannya untuk mendapatkan piagam penghargaan dari klan kami” tuduh Gadis itu untuk kedua kalinya.
Zili menarik nafas berat “tuduhanmu terus menerus tidak memiliki dasar, berhentilah menuduh sebelum kau menyaksikan keben...
“Kau...
Putri klan ann yang sangat geram mendekati zili, ia mengangkat tangan hendak memukul gadis itu.
“aku tidak ingin dipukul kalau aku tidak bersalah” ucap Zili berhasil meraih tangannya sebelum mendarat kepipi, mengeraatkan genggaman tangannya..
“Aaakhhhh..
Hingga membuat gadis itu mengerang kesakitan lalu Zili menghempaskan tangannya.
“Kakek...
Teriak Putri klan ann “hikss hikss.. kakek....
Tangisan gadis itu mengejutkan Zili juga ketua klan ann yang sontak keluar mendengar tangisan Cucunya.
“Kau...
Tampak sangat marah mendengar tangisan putri klan ann yang telah memeluknya “berani sekali kau melukai cucuku” teriak marah ketua klan ann lalu berniat memukul Zili yang telah pasrah menerima pukulan darinya.
“Kau...
__ADS_1
Tangan ketua klan ann dihempas keras hingga membuat laki-laki tua yang memeluk cucunya hampir jatuh tersungkur “berani sekali kau menyentuh putri mahkota” lanjut pangeran istana yang telah datang bersama Co rein, ilmuwan kebangaan negara untuk menjemput Zili pergi kedesa Co bersama.