Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majesty 28


__ADS_3

“ LADIES AND GENTLEMEN....” suara komentator terdengar keluar melalui celah celah lubang speaker sebuah televisi besar yang tertempel didinding sebuah ruangan lebar.


Ruangan utama istana kerajaan yang sangat luas dan lebar didesain sangat menawan dipenuhi dengan berbagai barang barang antik buatan tangan.


Didalam ruangan terdapat beberapa pintu ruangan lainnya. Pintu ruang pertama, yaitu pintu yang berada disisi depan menghubungkan ruangan tersebut dengan ruangan pertemuan raja beserta pejabat tinggi kerajaan dengan dipenuhi puluhan kursi yang berdiri berjejer rapi.


Pintu tersebut merupakan pintu yang menghubungkan ruangan utama raja dengan dunia luar.


Pintu ruang kedua, yaitu pintu ruangan menuju kamar Pribadi raja dan Ratu penguasa negara, yang berada di sisi kanan.


Pintu ketiga, yaitu pintu ruangan makan milik raja, Yang berada dibelakang disisi kiri belakang ruangan.


Pintu keempat, yaitu pintu penghubung antara Ruang raja dengan ruangan milik putra mahkota. Berada disisi kanan ruangan tersebut.


Dan pintu terakhir, yaitu pintu rahasia yang hanya diketahui oleh anggota kerajaan. Berada di sudut belakang sebelah kanan ruang tersebut.


Sebuah kursi tempat sang raja biasa duduk berdiri tepat dipertengahan ruangan. Dibelakang kursi raja, terdapat sebuah sebuah meja dengan dua kursi yang berada disisi kiri kursi tersebut.


Meja tersebut adalah meja secara khusus tempat Penasihat raja bekerja serta terkadang digunakan sang raja untuk menandatangani beberapa dokumen penting.


Di sudut belakang kursi berdiri sebuah lemari besar tempat meletakan berbagai hiasan Antik untuk mempercantik ruangan. Dinding dinding ruangan juga dipenuhi dengan banyaknya foto dari anggota keluarga kerajaan.


Diantara pintu belakang kiri dengan pintu sisi kanan, terdapat sebuah lemari buku yang amat besar berisikan ratusan buku yang tersusun rapi lima rak besar didalamnya.


Sementara didepan kursi raja, terdapat empat buah sofa lembut berbahan kapas dengan sebuah meja berkaki pendek yang terbuat dari kayu bercampur kaca yang sangat menawan mempesona mata.


Seorang laki laki dengan mengenakan seragam berlengan panjang Khas negara berwarna biru berbalut selendang merah menyatu diseragam tersebut dengan 6 Pin lambang klan negara serta 2 Pin lambang klan sun dan Xu disebelah seragam atas kiri nya, dan sebuah kantung bergambarkan Matahari bulan dan bintang dengan 5 bintang penanda jabatan tertinggi dikedua bahunya lalu sebuah rantai emas melingkar dilengan atas seragam yang ia kenakan serta sebuah pedang yang bersarung emas berada disisi kanan pinggangnya sedang duduk menyaksikan sebuah pertandingan yang sangat dinanti nantikannya.


Disebelah laki laki tersebut, seorang wanita dengan gaun berwarna biru berlengan panjang semata kaki serta bagian bawah yang mengembang, lalu rambut yang diikat setengah kebelakang tersemat sebuah perhiasan mewah terletak disisi kanan rambutnya.


Perhiasan berbahankan permata dan berlian dengan sebauh kalung berbandulkan bentuk matahari bulan sabit dan bintang menjadi satu menandakan ia adalah seorang ratu sedang memandang seorang Gadis yang tengah berdiri dipinggir sebuah kolam renang didalam sebuah layar kaca televisi.


Disebelah wanita tersebut, duduk seorang wanita lainnya dengan memegang sebuah bungkus makanan ringan dengan pakaian Kaos kasual biasa berlengan panjang dan celana jeans panjang hitam sesekali memasukan beberapa makanan didalam mulutnya memandang layar televisi yang sama.


Disebelah wanita tersebut, duduk seorang laki laki dengan memakai jas hitam dan celana formal sedang duduk menyaksikan televisi yang sama dengan menggenggam kedua tangannya diantara dua kakinya.


Disofa sebelah kiri mereka, duduk seorang laki laki dengan mengenakan seragam formal berwarna biru, berselandang merah menyatu serta 5 bintang di kedua bahunya tanpa pin dan juga lambang negara sedang menyaksikan Televisi yang sama.


Didepan laki laki tersebut, duduk seorang laki laki mengenakan seragam Biru yang sama serta berselendang merah menyatu namun hanya ada 3 bintang dikedua bahunya tanpa pin dan juga lambang negara. Laki laki tersebut juga sedang menatap sebuah layar ditelevisi seperti teman teman lainnya.


“Mari kita saksikan, pertandingan Renang 20 putaran antara Dewi perang Shen shi na, berasal dari Klan shen yang tidak diragukan lagi Kehebatannya melawan Bangsawan biasa.. “


“Stop stop,, jangan bilang bangsawan biasa” bisik teman sekursinya Kepada komentator yang sedang duduk dilantai dua bangunan olahraga menyaksikan serta memberi gambaran tentang situasi dalam pertandingan.


“Jadi bilang apa?”


“wanita Dambaan putra mahkota”


“Ha.. kau yakin?”


“Hmm,, “


“Jangan sampai kita salah bicara”


“Putri mahkota saja deh, lebih baik daripada kita bermasalah dengan putra mahkota”


“Hm.. baiklah” angguk komentator.


Ia mulai mengambil Mic nya kembali serta melihat seorang wasit yang sedang menunggu ucapan laki laki tersebut dari bawah.


“.. Melawan Putri mahkota, Bangsawan biasa yang berasal dari klan Zin..”


“Kenapa dia mengucapkan perkataan itu lagi sih. Dasar bodoh” gumam teman sekursinya dalam hati.


Ia merasa geram dengan kesalahan temannya yang telah dilakukan untuk kedua kalinya.


“Priiiiiit priiiiiit “


“Peluit telah berbunyi,.....”


“Byuuuuuur”


“Kedua peserta telah masuk kedalam kolam renang. Mari kita saksikan bersama kehebatan Dewi perang Yang tidak akan mungk.....”


komentator sontak terkejut tidak dapat melanjutkan perkataannya begitu pula dengan teman sekursinya yang sedang duduk menyaksikan pertandingan yang tidak mungkin terbayangkan dalam kehidupan mereka.


Ingatan mereka kembali kebeberapa jam lalu saat mereka berdua tiba tiba ditugaskan untuk menjadi komentator pertandingan Yang mereka telah menebak dengan pasti siapa pemenangnya.


Mereka yang telah keluar dari ruang kepala sekolah tengah berjalan menuju Bangunan olahraga telah mendengar percakapan orang orang disekitar mereka yang meremehkan putri mahkota.


“Omong kosong, putra mahkota terlalu menilai tinggi wanita dambaannya”


“Benar, aku jadi ingin melihat wajah malu putra mahkota yang selama ini merasa bangga dengan kedudukan tingginya”


“iya, sayang sekali, orang yang menjadi Sorotan masyarakat malah membela wanita biasa”

__ADS_1


“Benar, Wanita itu pandai sekali memainkan trik murahan, aku yakin dia mungkin telah menjebak putra mahkota sehingga ia membela wanita murahan itu”


“Hmm, wanita itu hanya bisa mempermalukan putra mahkota, dia sama sekali tidak pantas bersanding dengan laki laki idaman ku”


“Mungkin saat ini hampir semua masyarakat negara menyaksikan kebodohan putra mahkota”


“Astaga,, kenapa sih Laki laki yang sangat ku teladani membela wanita Jelek bahkan bodoh yang tidak mampu masuk kelas khusus disekolahan ku”


“Benar, sayang sekali, wanita itu membawa dampak buruk bagi putra mahkota, awas saja kalau di kalah, aku akan buat demo besar besaran untuk mengeluarkan dia dari negara ini”


“Putra mahkota terlalu percaya diri, bahkan sampai tidak berpikir ketika membuat pertaruhan”


Masih jelas ucapan orang orang disekitar mereka saat mereka keluar dari ruang kepala sekolah, saat itu mereka juga berpikiran sama, membenarkan dan menyetujui perkataan orang orang disana. namun tampaknya, mereka kini mulai menyesali pemikiran mereka sebelumnya.


Ruangan tertutup dengan sebuah kolam renang besar dilantai bawah Dan tiga buah tribune,yaitu Kursi berbentuk tangga meningkat beberapa bagian telah dipenuhi oleh para penonton yang tidak hanya berasal dari klan shen.


Mereka yang telah mendengar sebuah pertandingan diusul kan secara langsung oleh putra mahkota kemaren pagi telah membuat rasa ketertarikan mereka muncul untuk melihat peserta pilihan dari orang yang mereka kagumi.


Dengan berbondong bondong membeli tiket masuk, mereka yang bahkan telah mampu Menebak dengan sangat yakin siapa pemenang dalam pertandingan tersebut tidak peduli harus mengeluarkan berapapun biaya agar dapat melihat putra mahkota secara langsung.


Terlebih lagi, mereka tidak sabar untuk memandang wajah malu serta sesal putra mahkota karena telah salah memilih pendamping wanita didalam hidupnya.


Putra mahkota dengan kaos kasual mahal duduk mengenggam kedua tangan diantara kaki tidak jauh dari pinggir kolam disisi bagian awal pertandingan dimulai. Di belakanganya shin ji dan sandi telah berdiri mengawasi serta menjaga keamanan laki laki remaja tersebut.


Ia tersenyum senang menyaksikan Pemandangan yang sangat ingin ia lihat selama ini. Ia yang merasa telah membuang waktu sia sia demi melatih gadis yang bahkan sebelum nya ia tidak kenal merasa sedikit bahagia karena hasil usahanya terlihat tidak sia sia.


Seluruh mata memandang takjub, bahkan tidak terdengar suara sedikit pun kecuali suara air yang sesekali berkecipuk dari dalam kolam.


Komentator diam, bahkan salah satu dari mereka telah berdiri mendekati tiang penyanggah bangunan memandang kedua peserta yang sedang melakukan pertandingan dari atas.


Wasit yang memimpin jalannya pertandinganpun tidak mampu lagi mengendalikan pikirannya, ia bahkan sampai menjatuhkan peluitnya.


Disisi kanan kolam, Ketua klan serta beberapa petinggi Klan shen sangat terkejut memandang gaya serta gerakan tubuh elastis dan fleksibel menyusuri air didalam kolam mempesona mata yang memandang.


Kolam renang dengan air berwarna biru terdapat sebuah tali menggaris panjang memisahkan kolam menjadi dua bagian telah di isi oleh dua orang perempuan, peserta renang yang dipilih putra mahkota secara langsung demi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri mereka masing masing didepan khalayak ramai.


Mereka berdua mengenakan pakaian renang berwarna hitam yang sama dan sebuah kacamata renang serta penutup rambut dikepala.


Salah satu dari mereka sedang berusaha keras mengejar ketertinggalan yang telah berhasil dipimpin dengan mudah oleh Perempuan lainnya.


10 putaran bagi putri mahkota telah ia gapai, ia mulai membalikan tubuh untuk menuju keputaran selanjutnya.


Dewi perang mulai merasa takut, ia tanpa sadar tidak dapat lagi mengendalikan konsentrasinya. Ia merasa dalam bahaya, pikirannya kalut dan kacau.


Semua orang memandang kagum perempuan tersebut, bahkan sebagian dari mereka tanpa sadar telah terpikat dengan keanggunan tubuh seksi wanita yang saat ini tengah memimpin pertandingan.


“Huppp...ahhhh”


Pandangan mata mulai teralihkan. Ditatap oleh semua orang, Dewi perang tengah berada dalam bahaya.


Perempuan tersebut mengalami kram di kakinya, ia tidak lagi mampu lagi mengayun kaki dan berakhir menaikan tangan meminta pertolongan.


“Hauppp”


Sontak Wasit sadar dari lamunannya yang memandang keindahan cara berenang putri mahkota yang telah menyelesaikan putaran kedua belas.


Dengan sigap ia masuk kedalam kolam renang tanpa Membunyikan peluit demi menyelamatkan Dewi perang.


Putra mahkota berdiri, ia tersenyum kecut. Tidak menyukai pemandangan yang ia lihat. Pertandingan yang belum selesai membuatnya muak karena harus menyaksikan hal sia sia membuang waktu berharga putra mahkota yang menyukai membaca buku.


Ia dengan sengaja tidak melanjutkan bacaannya demi menyaksikan pertandingan muridnya merasa kesal dengan hasil pertandingan dihadapannya.


Dengan segera ia masuk kedalam kolam renang, menghentikan Putri mahkota yang terus berenang karena belum mendengar peluit tanda pertandingan telah berhenti dan tidak sadar bahwa pertandingan tersebut telah berakhir.


Semua mata yang tadinya memandang kearah Dewi perang yang tengah diberikan pertolongan CPR yaitu pertolongan nafas buatan yang dilakukan Wasit kepada perempuan itu kini telah teralih kapada putra mahkota yang menceburkan diri kedalam kolam renang.


“Hmm,, mengagumkan, sepertinya aku mulai tertarik dengan Wanita itu” suara seorang laki laki yang tengah duduk dikursi penonton sebelah kiri atas kedua terdengar serius ditelinga laki laki lain yang sedang duduk disebelahnya.


“Kau berani bertaruh melawanku?”


“Kenapa tidak?, kau kan sudah memiliki seyin disisimu”


“Rehan, jangan banyak bergaya, kau kira kau sanggup melawanku, aku bahkan sudah mulai serius untuk mendapatkannya”


“Shin’A, jaga seyin saja sana, jangan melangkah lebih maju, kau bahkan belum pernah melihatku serius mengejar wanita”


“Klan Lu sangat setia kepada Keluarga Xu, kau kira kau bisa begitu saja mengkhianati tuan mu”


“Hm, bodoh, mana mungkin Tuanku menganggap serius wanita itu, aku yakin cepat atau lambat dia pasti membuangnya. Aku, Putra terkaya kelima Dinegara ini, mana mungkin gagal mendapatkan wanita yang kusuka”


“Hm, tentu saja gagal, karena aku yang akan memilikinya”


“Hoho,, semua orang juga tahu kau memiliki seyin, sudah jelas wanita itu tidak akan berani dekat dengan mu, karena Seyin, akan melakukan segala cara untuk menjauhkan kalian”


laki laki itu lalu berdiri Masih dengan menatap putra mahkota yang sedang berhadapan dengan Putri mahkota. Putra mahkota dengan sendirinya membuka Kacamata peserta renang dihadapannya sembari mengembangkan senyum lembut mengejutkan semua mata yang memandang.

__ADS_1


“Putra mahkota tersenyum” suara laki laki di kursi penonton sebelah Kiri terdengar mengesalkan teman sebangkunya.


“Hm.. sepertinya sainganmu memang sudah memiliki wanita dambaan hati, lalu kau kapan?” goda seorang wanita yang berada diatas laki laki tersebut.


“Mozi, Putra terkaya kedua dinegara ini sepertinya sangat kesal, saingannya telah berubah”


“Iya, haha.. gimana So’a, kau tertarik tidak dengan Temanku”


“Omong kosong, mana mungkin aku menyukai wanita” orang yang digoda telah membuka suara.


“Wiiih wiiih.. dokter hewan terbaik negara memang sangat sombong” Mozi terlihat kesal


“hmm, tidak menyukai wanita , jadi kau hanya menyukai putra mahkota gitu”


“Gila, kau gay ya?”


“Kalian berdua, tutup mulut.”


“Takut takut,” ejek laki laki disebelahnya.


“Soni bodoh, harusnya kau kasihan Melihat putra pejabat tinggi klan ann yang memiliki phobia terhadap perempuan, sini aku sentuh sini” Mozi mulai bermain main kepada So’A yang sangat tidak menyukai sikapnya.


“Hahaha, kasihan kasihan, dokter muda penyuka binatang. Menikah saja sana binatang” ejek Soni sembari berlari menghindari kemarahan So’a.


Dengan sangat kesal So’a memandang kearah putra mahkota yang telah berdiri menyelimuti handuk kepada muridnya.


Ia mulai memandang tidak biasa, perasaan khawatir menyelimuti hatinya, khawatir jika adik perempuan yang sangat ia sayangi dan satu satunya wanita yang bisa ia sentuh mengetahui sikap Istimewa yang diberikan putra mahkota akan membawa dampak bahaya bagi perempuan yang saat ini tengah diperhatikan oleh musuh bebuyutannya tersebut.


“Rein , kau lihat” disisi depan kursi penonton, seorang wanita mulai berbicara kepada teman sebangkunya.


“Aku lihat, itukah wanita dambaan putra mahkota?”


“Seperti yang kau lihat, putra mahkota terlihat sangat perhatian kepadanya”


“hai Win, bagaimana menurutmu?”


“Ntahlah, aku takut jika Miss NC, Putri kecantikan negara melihatnya, wanita itu,, mungkin tidak akan selamat”


“Hm,, jadi kau ingin melindunginya”


“Belum tentu, aku ingin melihatnya terlebih dahulu, aku dengan sekitar tiga atau empat bulan lagi wanita itu akan berkunjung ke klan Co”


“Hmm, menarik, aku jadi ingin bertemu sebelum dia datang”


“Baiklah, aku akan atur waktu untukmu”


Jauh Di bagian tenggara, seorang laki laki dengan mengenakan jas berwarna merah berpadu dengan Dasi putih bercorak hitam sedang tersenyum menyaksikan sebuah layar televisi yang didalamnya ia lihat seorang laki laki remaja yang sangat ia kagumi.


“Tuan, anda telah kembali?”


“hm melelahkan sekali harus berpergian keluar negeri”


“mau bagaimana lagi, tuan adalah putra dari pembisnis terkenal negara. Orang terkaya keempat, pendiri Perusahaan The New Ou. Tentu saja tugas anda sangatlah banyak”


“Ah,, sudahlah sudah, aku juga sudah menyelesaikan urusanku, bilang kepada ayah, mulai besok aku akan kembali kuliah”


“Baiklah tuanku”


“Hm” laki laki itu tersenyum memandang wanita yang tengah dekat dengan putra mahkota sembari melepaskan Dasi yang mengikat kerah jas kerjanya.


DiWilayah Timur, seorang laki laki tua tengah duduk diatas kursi menyaksikan pertandingan salah satu cucu kesayangannya.


Pandangan matanya tiba tiba kalut dalam kesedihan. Ia merasa sangat sedih bercampur marah melihat keadaan cucunya.


Seorang Laki laki tiba tiba masuk kedalam Ruangan pribadi miliknya.


Laki laki berambut pirang tinggi dengan hidung mancung dan wajah mungil seperti wanita. Poni rambut menutupi dahi dengan bulu mata lentik menghiasi bola mata Berwarna biru tua miliknya.


“Cucumu telah mempermalukan klan shen?, wah wah.. kakek..Klan Zin benar benar membuat masalah kali ini”


“Zin ZiRuan”


“Iya, itu aku, setelah tamat SMA, klan Zin bahkan tidak pernah memenang juara pertandingan antar klan, bahkan terus menduduki posisi terakhir, bagaimana mungkin kini tiba tiba cucumu yang lemah itu mampu mengalahkan dewi perang?”


“Ruan, kau sudah tidak sopan”


“Kakek, kau, berhentilah jadi ketua klan Zin, kuberitahu padamu,, keluargamu hanya menjadi beban bagi keluarga kerajaan, berapa banyak lagi orang yang akan diperintahkan Untuk menjaganya, setelah dijaga, mereka semua malah kehilangan jabatan seperti Mayor jendral Shen shi lan”


Laki laki tua hanya terdiam merasa perkataan Laki laki didepannya benar, ia tidak menyangka, klan Zin yang seharusnya melindungi keluarga kerajaan saat itu malah harus dilindungi oleh mereka.


Hatinya gelisah, malu menyelimuti, harga diri seorang ketua klan seolah olah terinjak karena ketidak mampuan cucu yang ia sayang untuk melindungi diri sendiri yang bahkan harus berakhir terus dilindungi.


Menjadi putri mahkota sangatlah berat karenanya mereka yang dibekali Keberuntungan Menjadi pasangan Putra mahkota harus dianggap mampu meloloskan diri melewati bahaya.


Namun, tampaknya Putri mahkota yang terpilih sangatlah lemah bahkan sangat mempermalukan nama baik klannya karena selalu mendapatkan perlindungan dari keluarga kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2