Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Penuh Kecemasan


__ADS_3

Gelombang air laut yang begitu dahsyat membuat kendaraan air, Roll-V berputar cepat tak terkendali,


Mengapung di permukaan air dan berguling-guling hingga tiga orang penumpang di dalamnya merasa mual karena pusing.


Berjam-jam kejadian itu terus terjadi,


Ledakan hebat kapal bahkan mampu menerjang hingga ke pertengahan gunung yang jaraknya lumayan jauh dari posisi benda tersebut berada.


Api yang melalap perlahan-lahan mulai padam dan bongkahan kapal serta bangunan-bangunan dia atas kapal mulai tenggelam sebagian, dan sebagian lainnya mengapung di atas air laut lalu terbawa arus ombak tak tentu arah.


Lemah, letih, lesu dan seluruh tubuh terasa sangat menyakitkan hingga ombak berhasil membawa kapal Roll-V mendarat di daratan, tepi laut di bawah gunung.


Perlahan-lahan pintu kaca kendaraan terbuka, lalu dua orang laki-laki tua dan seorang laki-laki dewasa keluar dari sana, terbaring tak berdaya di atas tanah, bawah gunung yang terasa panas meskipun demikian, menurut mereka rasa panas masih lebih baik dibandingkan dengan tetap berada dikapal Roll-V yang menggelinding.


Sebuah helikopter tiba-tiba mendekat, lalu mengeluarkan tangga tali dari atas.


Segera mereka berdua naik ke atas sana,


Hari itu mereka berpikir bahwa mungkin itu adalah helikopter bantuan sekutu karena pakaian berlambangkan tetesan air yang dikenakan para penumpang helikopter berhasil meyakinkan mereka, tetapi setelah menaiki tangga dan masuk ke dalamnya.


Baaaaakkk...


Pukulan kayu keras mengenai tubuh ketiga orang tersebut yang berdiri hingga ketiga-tiganya tak lagi sadarkan diri.


“Yang Mulia, Mereka berhasil tertangkap.” Laporkan salah seorang dari empat orang penumpang helikopter melalui headset yang ia kenakan.


**********

__ADS_1


Telah selesai menyantap hidangan mewah khas Negeri sakura,


Pooooommmmmm.. Pooooommmmm..


Dan telah terdengar suara kapal berlabuh hingga ke telinga.


Semua tamu Istimewa tampak sedang duduk bersama-sama di ruang makan yang kini mejanya telah bersih dan hanya terisi cangkir-cangkir kaca teh dan juga kopi.


Sangat kebetulan sekali, Jendela kaca di ruang makan makan pribadi tersebut menghadap ke arah pulau Tempat kapal berlabuh hingga Zili mampu melihat Penasihat Putra Mahkota dan Putri kelincahan berdiri di pinggir laut dengan raut wajah penuh kelegaan,


Tetapi, belum sempat ia berdiri, gadis tersebut melihat sosok orang lain yang sangat ia kenali tengah berjalan menghampiri kedua orang yang masih memandangi Kapal di bawah sana.


Tuan,


Gumam gadis tersebut dalam hati, menyebut sosok laki-laki yang kini tengah berbicara dengan Putri Kelincahan.


Gelisah,


Dia mulai mengalihkan pandangan tak tentu arah, rasa khawatir di dalam hati membuatnya bimbang untuk ikut serta turun menemui mereka.


“Claya,” Putra Mahkota mulai membuka suara, dia berbicara kepada Pelindung Putra Mahkota Shin Ji dan juga Pangeran Negeri Sakura yang tampak duduk di hadapannya pada meja makan yang sama, sementara Pangeran istana terlihat baru saja berdiri dan melangkah kaki pergi dari posisinya yang tadinya berada di antara Putra Mahkota dan Putri Keagungan. “Mungkin di Pulau ini makamnya berada.” Ucapan Putra Mahkota sontak mengejutkan semua orang di sana, begitupula dengan Pangeran Istana yang langsung menghentikan langkah.


Padahal awalnya laki-laki tersebut tidak berniat untuk ikut serta turun dan masuk ke dalam pulau, namun sepertinya ia mulai tertarik dengan kalimat yang baru saja dilontarkan saudaranya tersebut.


“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Tanya Pelindung Putra Mahkota Shin Ji begitu penasaran. Hal tersebut terlihat dari dahinya yang mengerut dan matanya yang terus memandangi Putra Mahkota.


Mungkin, laki-laki tersebut pernah membaca kisah novel yang terdapat nama Claya sebagai pemeran di dalamnya.

__ADS_1


“Pintu Lift keluar di bagian selatan kapal, kemungkinan besar Cayden sengaja menghubungkan pintu itu dengan pulau ini agar dapat mengunjungi makam Claya sesering mungkin dan tidak perlu menggunakan Roll-V lagi, maka dari itu, Yuan bisa dengan mudah membawa masuk Penduduk Klanku ke dalam kapal itu.” Jawab Putra Mahkota sembari berdiri dan mulai melangkah diikuti oleh Pemilik kapal dan juga Pelindung Putra Mahkota Shin Ji,


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat Zili tetap duduk di tempat dalam keadaan gusar. Mengetahui keanehan yang terjadi pada wanita miliknya, mata laki-laki itu mulai memandang tajam ke luar jendela dan menemukan seseorang yang diyakininya telah membuat Zili berperilaku aneh siang hari itu. “Ayo.” Ajak Putra Mahkota sembari mengulurkan tangan kepada Zili, namun gadis itu sepertinya tidak mendengarkan ajakan laki-laki tersebut saking cemasnya hati terasa.


Putri Keagungan yang masih duduk, sontak menoleh ke arah Zili yang berada sedikit jauh darinya. “Berdirilah!, Kau sungguh tidak sopan menolak ajakan Xu’i,” Sindir gadis itu, sungguh tidak menyukai sikap Zili yang saat itu terlambat dalam bergerak karena pikirannya mulai kalut dalam kekhawatiran yang kini telah menguasai jiwanya yang masih belum sepenuhnya kuat.


“Hm, dia pasti sedang menyembunyikan sesuatu yang mengerikan.” Tebak Pangeran Istana mengira-ngira karena jelas sekali ia dapat membaca perilaku cemas gadis tersebut. Laki-laki bermulut pedas karena hatinya masih terasa panas tersebut mulai melangkah kaki menuju ke pintu keluar kapal untuk melihat-lihat keadaan di sana, tapi langkahnya terhenti kembali ketika melihat keanehan nyata yang terjadi pada Zili karena gadis itu tidak juga berdiri dari posisinya berada.


Mungkin dia sangat penasaran terhadap sesuatu yang di sembunyikan oleh gadis tersebut.


Pelindung Putra Mahkota mulai menyadari kecanggungan saat itu,”Ehhmm.” Dia berdehem untuk mencairkan suasana tidak nyaman, “Mungkinkah Paman Sandi dan juga Anna terjebak di pulau ini karena menggunakan Pintu itu?”Lalu mulai bertanya, berharap semua orang di sana melupakan ucapan Pangeran Istana.


“Shisou, aku ..” Zili tertegun dan mulai mengungkapkan keinginan hatinya untuk tetap tinggal di dalam kapal.


Pikirnya, Bagaimana mungkin dia bisa berhadapan dengan pemilik Apartemen dan juga Putra Mahkota, mengingat kejadian yang telah ia perbuat di kebun buah Tin desa Ou bersama laki-laki di bawah kapal sana?


Terlebih lagi, Pangeran Istana saat ini mulai mecurigainya.


Sebenarnya ia tidak masalah jika perbuatannya di ketahui Putra Mahkota hanya saja, dia mengingat kembali ucapan Putra Mahkota di masa lalu yang akan membunuh siapapun orang yang berani mendekatinya terlebih lagi, orang tersebut telah berkali-kali mencium bibir gadis itu. Hatinya yang masih kalut setelah menerima penghinaan Pangeran Istana di atas kapal di pagi hari sebelumnya, bertambah kalut kerena harus berhadapan dengan laki-laki yang membuatnya berpikir bahwa kata murahan yang di ucapkan Pangeran Istana untuk dirinya adalah benar adanya. “.. Masih sangat lelah, Bisakah kau membiarkanku Istirahat saja...


“Benar-benar tidak sopan,” Sela Putri Keagungan marah, hingga kemarahannya tersebut mampu membuat Pelindung Putra Mahkota Shin Ji merasa sakit hati karena lagi dan lagi, Tunangannya selalu mengutamakan Putra Mahkota walau hanya sekedar hal sepele saja. “Xu’i adalah Putra Mahkota yang terhormat, Bukankah sikapmu sudah sangat keterlaluan menolak ajaknya?” Gadis itu mulai berdiri dan meraih pergelangan tangan Zili, membawa gadis itu berdiri untuk menerima uluran tangan Putra Mahkota dengan paksa.


“Shi an.” Ucapan Putra Mahkota mengejutkan Zili, hingga wajahnya yang pucat semakin pucat. Tangan laki-laki yang tadinya terulur, kini telah masuk ke dalam kantung celana. “Tidak ada yang salah dengannya, Bukan?” Entah apa maksud Putra Mahkota tetapi yang jelas, sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu.


Menyadari hal tersebut, Pangeran Istana sontak menoleh ke arah samping dan menemukan sosok orang yang pernah ia kenali di masa lalu.


“ Ahh ,, Itu adalah Suamimu ketika kau menyamar sebagai Tanpa Nama, Bukan?”

__ADS_1


“Tanpa Nama?” Sontak Putri Keagungan terkejut mendengar ucapan Pangeran Istana, “Kau Tanpa Nama?” Tanya gadis itu dengan kelopak mata mulai penuh dengan air mata.


Segera ia melepaskan tangan Zili. Hatinya mulai merasa bersalah pada hari itu. “ Kenapa tidak pernah bilang padaku?” Lanjutnya lagi bertanya sembari menundukan kepala, lalu melirik ke arah Zili yang tetap diam, juga menundukan kepala karena perasaan Cemas telah menyelimuti seluruh hatinya hingga kaki gadis itu mulai menggigil ketakutan.


__ADS_2