
Kerapuhan jelas terlihat menyelimuti jiwa, dengan pandangan mata yang tampak begitu sayu.
Tubuh gemetaran, hatinya juga tak kalah kesakitan.
Di dalam pandangannya, ia sedang terbaring setelah kaki tak lagi kuat menerima pukulan rotan dari ayahnya.
Dia terlihat merasa kesakitan padahal tidak ada seorang yang melukainya.
“Akh sakit sekali,” erangnya, memegangi betis kaki pada lipatan kaki yang mulai bergerak mendekati bagian perut gadis itu. “Tenanglah Aura, masih ada Shin Ji, ayah tidak akan berani memukul wajahmu lagi.” Ucapnya berusaha keras menenangkan diri sendiri dari rasa takut yang menggetarkan hati.
Ketakutan terus menerus berada di dalam ingatan pahitnya, takut jika sewaktu-waktu wajahnya kembali menerima pukulan keras hingga mulutnya kesulitan untuk makan dan perut yang kelaparan menyiksa tubuh. “Ahhh,, jangan lemparkan aku, ayah!” pinta Putri Keagungan, semakin terlihat kencangnya getaran tubuh karena rasa takut semakin dalam ketika tubuhnya tiba-tiba berdiri dengan sebuah tangan memegang salah satu pergelangan tangannya dan tangan lain tampak memegang punggung belakang gadis itu.
“Tenanglah Aura, jangan takut lagi!, Shin Ji ada di sini.” Ucap seorang laki-laki yang telah membantu Putri Keagungan berdiri dari baringannya.
“Anna..”
Suara seseorang mengejutkannya.
Mata gadis itu bahkan sedikit terbelalak ketika melihat pemandangan di depan mata.
“Ha..”
Mulutnya sedikit terbuka lalu dengan cepat menutup lalu gigi-giginya bergetak karena menahan rasa sakit di dalam hati.
Baru saja, baru saja hatinya dipenuhi kekacauan sekarang bertambah lagi dengan kesakitan karena melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hati.
Di pandangannya, ia melihat laki-laki yang ia sangat sukai sedang memeluk seorang gadis yang sangat ia kenali.
Gadis yang juga merupakan rival dan juga musuh bebuyutannya terlihat melontarkan senyuman keremehan ke arah Putri keagungan dari arah punggung Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang tampak memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
“Jangan pergi!”
“Aku tidak akan pergi kemanapun, Shin ji.” Jawab Putri Kelincahan sembari membalas pelukan erat tubuh Pelindung Putra Mahkota tersebut.
Sikap gadis itu tentu saja semakin membuat rasa kacau di dalam hati Putri Keagungan yang sepertinya kini tidak lagi memiliki semangat.
Pandangan gadis itu teralih, tidak lagi melihat ke arah dua orang yang saling berpelukan tersebut.
__ADS_1
“Ayo kita kembali!” Ajak seseorang yang masih memeluk bahunya dari belakang.
Suasana yang tadinya mencengkamkan kini telah berubah menjadi ramai. Tidak ada lagi lukisan-lukisan, juga lampu remang-remang.
“Bagus,” panggil Putri Keagungan ketika melihat seorang laki-laki yang telah menginjak usia dewasa di sampingnya. Laki-laki bertumbuh tinggi dengan alis tebal dan kulit cerah serta poni rambut menyamping yang sedikit naik ke atas, sungguh ketampanannya tidak dapat di ragukan lagi. “Kau sudah datang?”
“Jangan pergi lagi Anna!, jangan pergi dariku!” Suara tunangan gadis itu semakin menyayat hati.
Gadis yang tadinya melihat menengadah ke arah laki-laki di sampingnya kini tampak menundukan kepala, menahan rasa sayatan yang menggores hatinya.
“Hm, aku sudah datang.” Jawab pengusaha kebanggaan negara yang terlihat sedikit tersentak ketika tangan Putri Keagungan menghempaskan tangan laki-laki tersebut di atas bahu dan juga di pergelangan tangan gadis itu.
“Aku akan pergi sendir...
“Syukurlah kau baik-baik saja.” Seorang gadis yang sangat cantik memeluk Putri Keagungan, siapa lagi kalau bukan Ou Nura, kakak yang telah menghilang selama bertahun-tahun lamanya tersebut.
“Nura hiks.. hiks..” Tangisnya pecah, ia tidak lagi kuat menahan rasa sakit di dalam hati. Ia merasa, sakit masa lalu tidak lagi lebih menyayat dibandingkan dengan melihat tunangannya memeluk wanita lain. “Haa.. hikss hiks...” Ia terus menangis di dalam pelukan gadis di depannya. Semua orang bahkan mengira bahkan Putri Keagungan menangis karena efek dari keahlian Klan Lu yang masih tersisa saat itu.
***********
“Ha.. hiks hiks hiks...” Pintu terbuka, dalam pandangannya.
Padahal gadis itu saat ini masih memejamkan mata, menyembunyikan wajah di dalam kedua lipatan kaki. “Ayah,” panggilnya belum juga melihat ayah yang ia tunggu di bola mata.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Zin Zilian tampak telah berjongkok di depan putrinya yang sedang duduk tersebut.
Beberapa orang tampak berdiri memandangi mereka, salah seorang dari mereka bahkan ikut berjongkok di samping Zili, dia adalah Mantan Presiden Sekolah Teknologi Co Suho Ein.
Dua orang lagi terlihat menghela nafas berat.
“Kau benar-benar ayah yang tidak berperasaan.” Sindir seorang dari dua orang yang tampak berdiri memandangi Zili dan ayahnya.
“Aku tahu.” Menteri Keuangan terlihat menyesal, ia bahkan tidak menyangkal perkataan Penasihat Pangeran Istana, Zin Ziruan.
“Berhentilah Ruan!, di saat-saat seperti ini, sekalipun kau masih bisa-bisanya berkata kasar.” Larang dokter hewan bernada dingin. Jubah putih yang telah ia buka tampak ia letakan di atas tangannya. Kemeja limited edition berwarna merah maron dengan logo original di kerah kiri menambah ketampanan wajah oval dengan poni rambut sedikit panjang menutupi alis mata itu.
“Ah menyebalkan,” desah Penasihat Pangeran Istana kesal, “kenapa semua klan Zin selalu bermasalah?, padahal kau adalah bangsawan kelas tinggi, kau juga bagian dari para pengendali kerajaan, kenapa?, kenapa kau selalu menyembunyikannya sampai putrimu sendiri tersiksa...
__ADS_1
“Apa?”
“Apa?”
“Berhentilah!, kau terlalu banyak bicara.” Nada Menteri keuangan mulai berubah menjadi marah.
Dua orang yang berada di dekatnya bahkan sampai terkejut mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan Laki-laki yang kini mulai menggertakan gigi geram saking kesalnya ia dengan sikap pengecut menteri keuangan menurut anggapannya.
“Ayah.” Tubuhnya bergerak cepat.
Semua orang kini menghela nafas lega ketika melihat Zili telah membuka mata.
Tubuh menteri keuangan terlihat gemetaran bahkan sepertinya getaran di tubuhnya lebih kencang dibandingkan dengan getaran di tubuh Zili.
Dia mulai membalas pelukan putrinya, “Maafkan ayah,” ucapnya penuh dengan rasa sakit di dalam hati, rasa bersalah yang terus-menerus menghantui dirinya hingga laki-laki dewasa tersebut sangat berat untuk menemui putrinya selama ini.
“Ayah hiks hiks, ayah hiks hiks, ayah.. “
Berkali-kali ia memanggil ayahnya, saking takutnya gadis tersebut berada di dalam toilet sekolah dalam ingatannya beberapa saat yang lalu.
“Suara ketikan keyboard laptop telah berhenti bersamaan dengan suara langkah kaki yang menggema dari balik headset berwarna hitam milik Zili.
“Ayo kita pulang!”
“Dia akan melanjutkan misinya.”
Seseorang mulai bersuara, menolak ajakan Menteri Keuangan kepada putrinya.
“Apa?, bagaimana mungkin kau membiarkannya tetap menjalankan misi, Xu’i!” Pelindung raja, Sun Shin Joila tampak tidak terima. Teriakannya bahkan menggema dari balik headset putih yang dikenakan beberapa orang pejabat penting di sana.
Suasana ketegangan semakin terasa, semua orang di dalam ruangan yang kini tak lagi di penuhi lukisan-lukisan yang berputar karena sepertinya beberapa orang telah masuk dan melepaskan benda-benda tersebut dari pengait masing-masing, merasa bingung dengan perintah yang diserukan Putra Mahkota negara mereka.
“Tidak bisa, aku ayahnya, aku akan membawanya pulang dan tidak perlu mematuhi perintahmu.” Tolak Menteri Keuangan dengan perasaan emosi mendengar keputusan menantunya.
“Dia adalah pelayanku,” sontak ucapan Putra Mahkota mengejutkan semua orang di sana, bahkan Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang tadinya ketakutan akan kehilangan Putri kelincahan kini telah melepaskan pelukan tetapi mulai menggenggam tangan gadis tersebut ketika mendengarkan ucapan temannya itu.”Para pejabat tinggi yang bertugas adalah para pelayanku, maka tidak seorangpun dari mereka berhak melanggar perintah saat aku bersuara.” Jelas Putra Mahkota lagi dari balik headset putih di telinga masing-masing orang di sana. “Zili, kau bilang kau akan bertugas, bukan?, aku memberimu pilihan, pergi bersama ayahmu atau tetap menjalankan tugasmu hingga selesai?” Tanya Putra Mahkota dari kedua headset yang dikenakan gadis yang kini telah sadar dari keterpurukannya saat itu.
“Shisou,”
__ADS_1