
Hutan, desa, Laut, Bukit, sekolah.
Aku merindukan semua kenanganku berada disana.
Sangat merindukan hingga saat ini terasa begitu indah hanya dengan mengingatnya saja.
Shisou...
Aku juga sangat merindukanmu, sungguh sangat merindukanmu.
Gadis itu terlihat sedang Berjalan beriringan dengan putra mahkota, membawa sebungkus plastik besar berwarna putih ditangan kanan hingga membuat tubuhnya miring sebelah sembari menapakan kaki diatas Lantai Lift digedung Apartemen lamanya.
Masih dengan santai memainkan permen lolipop dimulut sembari mengantungi kedua tangan dijaket hoodie Bertopi yang baru saja ia beli menggunakan uang Gadis disampingnya dan juga melingkarkan earphone dileher “karena Zili menganggapmu teman, maka aku juga akan menganggapmu sebagai temanku” ucap laki-laki tersebut tanpa mempedulikan Keadaan Zili yang saat itu sedang kelelahan membawa barang-barang belanjaan mereka. tidak ingin menjawab ucapan putra mahkota dan lebih memilih duduk menyandar dinding lift dibelakangnya “tapi tentu saja aku lebih menganggapmu sebagai pelayanku dibandingkan sebagai temanku, jadi...” pintu lift terbuka “sadarlah posisimu, dan jangan merepotkanku meskipun aku ini temanmu” lanjut laki-laki tersebut mulai melangkah kaki keluar Lift meninggalkan Zili yang terlihat sedang kesulitan mengangkat barang belanjaan mereka yang berat dengan kedua tangannya.
Terserah kau sajalah.
Aku tidak peduli.
Bicara saja sana dengan tembok.
Gumam gadis itu dalam hati, mengingat Putra mahkota lagi untuk menguatkan dirinya sendiri yang saat itu sedang kesusahan.
Terus melangkah kaki memasuki ruangan putra mahkota.
“ASTAGA” ucapnya Sontak terkejut melihat isi didalam ruangan yang begitu kotor dan berantakan.
Mulai masuk dan menutup pintu, melihat putra mahkota yang sedang duduk diatas sofa, mengangkat kedua kaki diatas meja sembari membaca sebuah buku ditangannya “kau bilang sebelumnya telah membersihkan ruangan ini, bukan...?” ucapan laki-laki tersebut sontak membuat Zili merasa bersalah karena telah menipunya.
__ADS_1
Membawa barang-barang belanjaan menuju lemari es, “maaf karena telah berbohong” jawab gadis itu sembari meletakan barang-barang belanjaannya kedalam mesin pendingin didepannya.
“Tenang saja,” jawaban putra mahkota sedikit menyenangkan hati Zili karena menganggap bahwa laki-laki tersebut telah memaafkannya “kau tidak perlu minta maaf karena malam ini kau harus membersihkan ruangan ini sampai tuntas”
Menghela nafas berat “aku sangat lelah malam ini” keluh gadis itu, “bisakah kau memberikan waktuku...
“Tentu saja tidak bisa” jawab cepat laki-laki tersebut menyela “bukankah kau mengatakan telah membersihkannya hari ini..?” lanjut laki-laki itu lagi “maka tentu saja hari ini juga kau harus menyelesaikannya..” masih begitu santai dengan kegiatan membaca buku, bahkan mengabaikan begitu saja permintaan gadis yang tampak sangat kesal dengan sikapnya.
Memandang kesekitaran ruangan setelah menyelesaikan pekerjaannya meletakan barang-barang belanjaan kedalam lemari Es, hati gadis itu tersentak karena tidak ada sedikitpun perubahan dari ruangan tersebut, bahkan barang-barang gadis itu juga masih terlihat berada disana, begitu pula dengan Foto dia sewaktu kecil bersama ayahnya, dan juga beberapa Foto teman-teman ayahnya tampak menggantung didinding.
“Kenapa kau tidak menyingkirkan barang-barang pemilik lama apartemen ini...?” tanya Zili mulai melangkah kaki mengambil perlengkapan bersih-bersih.
Putra mahkota menghentikan Barisan bacaannya, meraih gagang permen lolipop lalu melemparkannya tepat dilubang sampah “aku membayar mahal untuk semua kenangan wanita yang kucinta..” jawab laki-laki tersebut “karena ini semua miliknya, maka aku akan menjaga mereka dengan baik mulai saat ini” lanjut laki-laki tersebut menyentakan hati Zili yang langsung berhenti melangkah lalu menoleh kearahnya.
Meraih sebuah keranjang“ sungguh,..” tersenyum getir menoleh kembali kearah Barang-barang yang berserakan“ Sebesar apapun rasa cintamu kepada Zili,” mulai mengutip satu persatu benda yang jatuh “Dia tidak akan pernah berpaling dari putra mahkota..” jawab gadis itu giliran menyentakan hati Putra mahkota.
“Wanita milikmu apanya.. ?” teriak Zili tidak terima “kalian selalu saja menganggap wanita itu sebagai barang, sungguh memuakan” lanjut gadis itu kesal sembari membanting Sebuah buku catatan kecil kedalam keranjang bulat berwarna merah ditangannya, “dan juga tentu saja aku mengenalnya karena aku lah satu-satunya orang yang sangat memahaminya” lanjut gadis itu sembari mengernyitkan dahi kebingungan.
Pikirnya,
Mengapa apartemen yang telah lama tidak ia tempati begitu berantakan dan penuh dengan Debu seperti sebuah gudang,..?
Pikirnya lagi,
Mungkinkah selama ia tidak ada, Ayahnya tidak pernah kembali kerumah dan lebih memilih untuk tinggal ditempat kerjanya...?
Sedih sekali ketika mengingat masa lalunya, mengingat saat-saat ayahnya yang jarang sekali pulang dan terpaksa tinggal sendirian beberapa minggu lamanya karena pekerjaan ayahnya yang begitu padat.
__ADS_1
Gadis itu Mulai memandang putra mahkota kembali,
“sekarang aku tidak sendirian lagi” gumamnya pelan, begitu pelan hingga tak terdengar oleh putra mahkota yang saat itu sedang Berjalan mengambil botol mineral lalu memasukan sebuah Pil kedalam mulutnya kemudian meneguk air dari dalam botol yang ia ambil.
Pil yang Putra mahkota konsumsi terlihat sedikit familiar dimata Zili, tetapi karena tidak ingin bertanya, gadis itu menggabaikannya begitu saja. gadis itu sempat berpikir bahwa pil tersebut memiliki bentuk yang sama dengan pil yang telah ia konsumsi sebelum pergi berbelanja bersama putra mahkota, pil pengubah suara. Hanya saja, berbeda dengan miliknya, pil milik putra mahkota terlihat berwarna Kuning kehijau-hijauan.
“Padahal hanya 2 minggu lebih aku meninggalkannya, tetapi dia telah memiliki teman yang begitu berharga..” ucapan putra mahkota sontak mengejutkan Zili, gadis itu mulai memandang putra mahkota yang terlihat sedang membaringkan tubuh terlentang diatas sofa sembari memakai kembali earphone miliknya dan meletakan satu tangan kebelakang Kepala lalu tangan lainnya menutup mata. Dia mulai mendengarkan kembali suara wanita miliknya dari balik earphone yang ia gunakan.
“Mungkinkah kau juga mengikuti putra mahkota pergi kekanada..?” tanya Zili penasaran.
“Aahh..” putra mahkota menyadari sedikit kesalahannya “tentu saja bodoh,” jawab laki-laki tersebut menaikan tangannya dari mata, lalu menoleh sejenak kearah Zili “pengawal mana yang tidak mengikuti Tuannya” lanjut laki-laki tersebut kemudian menoleh kepala lagi keposisi semula, menutup kembali matanya dengan lengan tangan bawah.
Berdiri dengan senyuman kecut karena merasa terhina dengan ucapan putra mahkota “pergilah kekamar, “ pinta Zili mulai mengambil Sapu “aku akan membersihkan ruangan ini lalu tidur disofa” lanjutnya lagi.
Putra mahkota tersenyum getir bahkan tetesan air mata mulai mengalir “Ada Zili disana,” ucapnya mengejutkan Zili “aku akan menganggap bahwa saat ini Zili sedang tidur dikamarnya dan akan tidur disini saja” lanjut laki-laki tersebut sontak membuat aliran air mata Zili jatuh membasahi pipi.
Menghapus cepat air matanya “kalau kau tidur disofa, jadi aku harus tidur dimana..?”
“Dilantai saja..” jawab cepat putra mahkota masih dengan mendengarkan suara wanita yang dia cinta.
“Keterlaluan,” Ucap Zili tidak terima “tega sekali kau membiarkan teman wanita yang kau cintai tidur kedinginan diatas lantai” lanjut gadis itu terlihat marah.
“Benar juga..” jawab putra mahkota lalu bangkit dan duduk, masih dengan kaki diatas Sofa
Taaaang...
Melempar sebuah kunci ke arah Zili “tidur saja Dikamar paman Lian” lanjutnya lagi mulai berbaring kembali tanpa menghapus air mata yang tampak jelas Dimata Zili.
__ADS_1