
“Huh..”
Pandangan mata begitu tajam, sepertinya ia sangat marah.
Di atas bukit, laki-laki itu berdiri. Dia memandang gadis yang sedari tadi membolak-balik lembaran kertas pada buku yang ia pegang.
Belasan orang mulai berdatangan ke arahnya, membelakangi sebuah mobil Marcedes-Benz silver yang mungkin digunakan laki-laki itu untuk pergi mengunjungi desa Ou setelah mendengar kabar hilangnya Putri Mahkota.
Langkah lebarnya menuruni bukit. “Aku bahkan sampai harus melacak keberadaanmu, kemana saja kau semalaman?” Bentak keras laki-laki tersebut, mengejutkan gadis yang langsung menutup buku dan memandang ke atas bukit.
“Shin’A.” Sebutnya yang tak lain adalah Zili. Dengan segera ia bergerak menaiki bukit, menghampiri Pangeran Istana yang telah berada hampir di pertengahan bukit dan menghentikan langkah. “Kau sampai datang kemari, Mungkinkah ada sesuatu hal yang telah terjadi?” Tanya gadis itu tanpa merasa bersalah karena telah membuat kekhawatiran yang mendalam bagi laki-laki yang kini telah melangkah kaki kembali, mendekati Zili yang masih berada di bawah bukit dan memandang raut wajah marahnya.
“Kau..” Langkahnya begitu cepat, Zili hanya bisa menghela nafas berat. Sepertinya gadis itu memang sudah sangat terbiasa dengan sifat laki-laki yang kini telah berada di hadapannya. “Kau bertemu Xu’i?” Tanyanya menyadari bahwa ada yang salah dengan bibir dan leher Zili.
Menunduk kepala sejenak, “ Tidak, sungguh aku tidak bertemu guruku.” Jawab gadis tersebut meyakinkan, meskipun demikian ia tetap mengetahui reaksi dan jawaban Pangeran Istana.
“Kau kira kau bisa menipuku.” Begitulah dirinya, sekeras apapun Zili mencoba menjelaskan, tetap saja laki-laki di hadapannya tidak akan mungkin mempercayai jawabannya.
Mengangkat kepala lalu mulai melangkah kembali melewati Pangeran Istana. “Tidak maka tidak, baik kau percaya ataupun tidak percaya, itu bukan urusanku.”Jawab ketus Zili yang saat itu masih marah mengingat perilaku Putra Mahkota yang sedang menyamar terhadapnya.
Benar, seperti biasanya, Pangeran Istana pasti menghentikan langkah dengan menggenggam lengan atas gadis tersebut dan memaksanya untuk kembali ke posisi semula, yaitu berhadapan dengannya. “Berani sekali kau pergi dariku.” Ucapnya dengan nada keras, sayangnya, Zili yang tidak kuasa melawan tenaga kuat laki-laki terpaksa harus mengikuti keinginannya untuk berhadapan kembali dibandingkan dengan jatuh kepelukan laki-laki tersebut.
“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku bukanlah siapa-siapa bagimu, Shin’A?, karena aku bukan siapa-siapa maka begitulah sebaliknya.” Jawaban gadis tersebut mampu membuat gejolak hati Pangeran Istana semakin panas. Ia bahkan sampai terbelalak dan bola matanya berubah menjadi merah.
Zili mulai melangkah naik ke atas bukit kembali, meninggal Pangeran Istana yang masih terdiam dengan kemarahannya. “kau pasti akan menyesali perbuatanmu karena berani melawanku.” Ancam laki-laki tersebut namun sepertinya Zili tidak bereaksi sama sekali. Gadis tersebut tetap berjalan naik meskipun getaran hati mulai terasa takut mendengar ucapan tersebut.
Walaubagaimanapun, Pangeran Istana adalah orang yang berkuasa saat ini, terlebih lagi, gadis tersebut tidak memiliki Putra Mahkota lagi di sampingnya.
*******
Helaan nafas terdengar berhembus di ruang remang-remang yang hanya terdapat cahaya lampu dari kejauhan, seorang laki-laki tampak berbaring di atas paha kaki seorang gadis yang duduk berselonjor, menyandar di sudut ruangan dan menutup mata.
Perlahan-lahan mata laki-laki yang tak lain adalah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji terbuka. Sudah hampir sebulan lamanya ia berada di dalam jeruji besi kapal induk bersama tunangannya.
Luka di kakinya tidak kunjung sembuh, mungkin karena ia kekurangan obat-obatan mujarab milik negara NC.
Baginya, ini juga merupakan penderitaan beratnya, karena di saat ia sakit, ia tidak memiliki orang tua yang dulunya selalu siap siaga untuk merawatnya. Orang yang selalu hidup dalam kemewahan itu, kini telah merasakan sakitnya hidup dalam kesusahan.
Setelah bangun dari tidur panjangnya, ia menyadari bahwa lagi dan lagi ia terbangun di tempat yang sama. Kegagalannya menyelesaikan tugas negara berakhir dengan terpenjara di remangnya tempat dengan suasana sunyi karena sepertinya penjara tersebut memang diperuntukan bagi orang-orang khusus, jadi wajar saja, jika hanya dia dan tunangannya yang berada di tempat tersebut.
__ADS_1
Tempat yang berada tepat di ujung Lorong, dimana hanya ada satu bola lampu yang menyinari jauh di bagian lorong sana.
“Ahhh sakit sekali, sakit sekali.” Keluh laki-laki tersebut dengan sengaja, suaranya berhasil membangunkan tidur tak tenang gadis yang memangkunya.
“Sakit lagi?” Wajah gadis yang tampak pucat bertambah pucat karena perasaannya begitu cemas dan khawatir. Dengan cepat ia bergerak setelah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji duduk sembari melihat luka di kakinya. Meskipun telah mengering namun terkadang Luka lebar yang berkerak itu terasa menyakitkan. Jika saja Pelindung Putra Mahkota Shin Ji bukanlah orang yang kuat, Pasti, dia tidak akan mampu untuk menahan luka yang hampir memenuhi pergelangan kakinya. “Fuhhh..fuhh..” Berkali-kali gadis tersebut meniup dan mengelus bagian sisi luka. Tubuhnya terlihat semakin kurus karena rasa khawatir yang terus menyelimuti selama sebulan lamanya.
Yang dia pikirkan bukan lagi keluar dari penjara, saat itu, dia hanya ingin kaki laki-laki yang bersamanya sembuh karena tidak ingin melihat laki-laki tersebut menderita.
Berbanding terbalik dengan laki-laki tersebut, Entah mengapa, ia malah menikmati hidupnya di dalam jeruji. Ia juga sangat senang dengan luka yang ia derita. Di tambah lagi, ia sangat menyukai tingkah khawatir gadis di hadapannya, meskipun hidupnya susah dan lumayan menderita saat itu.
“Bagaimana ini? Sepertinya aku tidak akan pernah sembuh.” Rengek laki-laki tersebut, berpura-pura sedih dan kesakitan.
Tentu saja, rengekannya membuat gadis itu menjadi serba salah dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan, menimbang tidak ada obat yang ada dan bahkan untuk sekedar makan saja, mereka berdua hanya mendapatkan dua kali dalam sehari, itupun satu piring berdua.
“Fuhh.. sudah lebih baik atau belum?” Tanya gadis tersebut terus menerus meniup luka.
“Belum.” Rengek Pelindung Putra Mahkota Shin Ji lagi dan tentu saja, itu hanyalah pura-pura, karena sebenarnya ia mampu menahan rasa sakit, terlebih lagi, bengkak akibat luka kini telah menghilang meskipun demikian, luka tersebut belum kunjung membaik.
“Tiupan tidak berguna, jadi bagaimana caranya agar sakitmu sedikit berkurang?” Tanya gadis itu begitu panik, masih meniup bahkan kali ini tiupannya lebih lembut.
“Bukankah kau adalah wanita?”
“Ibuku selalu memelukku ketika aku sakit, dan itu menenangkan hatiku, bagaimana kalau kau memelukku saat ini? Meskipun sakit, mungkin saja itu bisa mengurangi kecemasanku?” Jawab laki-laki tersebut Nakal.
“Hmm, jadi begitu ya,?” Ragu-ragu gadis tersebut menjawab, sepertinya saat itu ia sedang berpikir keras.
“Memangnya kau tidak pernah dipeluk ibumu ya, ketika kau sakit?”
“Hm.” Dia tersenyum getir, mulai menegakan tubuh yang tadinya membungkuk meniup luka. “Berbeda denganmu, aku bukanlah orang yang seberuntung itu.” Jawab gadis yang tak lain adalah Putri Keagungan tersebut.
“Jadi benar, kau tidak pernah dipeluk ibumu?” Nada Pelindung Putra Mahkota terlihat mulai serius. Dia memandang lekat wajah Putri Keagungan yang sedang menunduk dan menghela nafas berat.
“Bukan tidak pernah, aku hanya tidak ingat.” Jawab gadis tersebut mulai mengangkat kepala.
“Berikan aku pelukan!” Perintah Pelindung Putra Mahkota, kali ini dengan nada manja.
“Apa?”
“Aku bilang, berikan aku pelukan!” Lanjutnya lagi mengulang perintah.
__ADS_1
“ Shin Ji, kau..” Memandang mata Pelindung Putra Mahkota Shin Ji, “Kau benar ingin memelukku?”Tanya gadis tersebut tidak percaya.
Mendekati wajah tunangannya, hingga mata mereka saling mendekat. “ Kenapa tidak?, Memang ada yang salah dengan tubuhmu, ya?”
“Bu.. bu..kan, hanya..” Begitu gugup gadis tersebut hanya sekedar menjawab pertanyaan, jantungnya mulai terpompa kencang kembali, matanya mulai ia alihkan. Sepertinya dia tidak sanggup membalas tatapan Pelindung Putra Mahkota.” Hanya, bukankah kau tidak pernah menyukaiku?” Tanya gadis tersebut terang-terangan.
“Benar, aku tidak menyukaimu,” jawaban laki-laki tersebut menyakiti hati gadis itu, meskipun demikian gadis itu telah terbiasa. “Tapi aku mulai tertarik padamu.” Lanjut laki-laki tersebut lagi, meraih dagu gadis tersebut lalu membawa wajahnya kembali ke posisi semula.
Mata mereka saling beradu pandang, tubuh gadis tersebut mulai gemetaran. “Shi.. Shin.. ji.”
“Aura, apakah kau pernah berciuman dengan Xu’i?” Tanya laki-laki tersebut dengan nada serius.
“Mana mungkin aku berciuman dengannya.”Jawab gadis itu begitu cepat, hingga membuat laki-laki tersebut tersenyum tipis namun jelas sekali senyuman liar itu terlihat.
“Berarti ini adalah ciuman pertamamu, bukan? Fuhhh”Meniup wajah gadis tersebut hingga membuat mata gadis itu berkedip.
“Maksudmu?”
Dengan cepat laki-laki tersebut bergerak, menyatukan bibirnya dengan bibir gadis di hadapannya. “Emm” Sebentar saja, dia hanya mengecupnya. “Ha..” Gadis tersebut begitu terkejut, tapi sayang laki-laki di hadapannya malah dengan santai berbaring kembali dan menahan kepala dengan kedua tangan sembari memandang atap-atap Ruangan.
“ Ahh tidak ada spesial-spesialnya.”Ungkap Pelindung Putra Mahkota begitu santai. “tetapi, kenapa Xu’i bisa begitu bahagia setelah berciuman dengan wanitanya?” Tanyanya pada dirinya sendiri, meskipun demikian, hal tersebut begitu menyakiti hati Putri Keagungan yang merasa dipermainkan dan tidak berharga bagi laki-laki tersebut.
“Berhentilah!”
“Apa?”Pelindung Putra Mahkota kembali duduk ketika mendengar suara bentakan Putri Keagungan.
“Berhentilah berpura-pura menjadi tunanganku.” Nadanya mulai kembali lembut, gadis tersebut mulai berdiri dan pergi ke sisi lain ruang, menjauhi laki-laki yang tampak terkejut mendengar permintaan gadis tersebut.
“Jadi kau ingin membatalkan pertunangan kita?”
“Benar.” Jawab gadis tersebut menghentikan langkah.
“Hmm, Baiklah.” Laki-laki tersebut memang memiliki harga diri yang sangat tinggi, bahkan sekalipun hatinya tidak menginginkan berpisah, dia begitu keras kepala menyetujui permintaan gadis tersebut.
“Bohong, hahahaha.” Gadis itu mulai berbalik sepertinya dia telah memikirkan sesuatu. “Sudah bertunangan untuk apa lagi dibatalkan.” Lanjutnya lagi, berbalik dan mulai melangkah kaki kembali ke sisi tunangannya.
Marah, matanya memerah karena merasa tertipu. “Aura, “ Laki-laki terlihat geram, giginya juga terdengar menggerutu. “Katakan saja bahwa kau mencintai Xu’i?, Aku benci kebohonganmu, sangat membencinya.”
“Lalu bagaimana caranya untuk membuktikan padamu bahwa aku tidak mencintai Xu’i ,Shin Ji?”
__ADS_1