
Matahari terik diatas langit. Cahaya panas melesat menyinari Rambut hitam Seorang anak perempuan kecil yang terurai indah berkilau.
Angin pelan perlahan menerbangkan beberapa helai poni rambutnya, hembusan angin terkadang menyerbu pasir kuning di tengah lapangan.
Suara kebahagian terdengar meriah ditelinga, pandangan mata merasa iri melihat pancaran wajah kebahagian banyak orang dihadapannya semakin memuncak.
Zili, dialah anak perempuan itu, berdiri dipinggir lapangan, memandang kebahagian orang orang yang saling melempar bola.
Karena tidak memiliki pasangan, guru olahraga terpaksa tidak mengikutsertakannya dalam pelajaran praktek olahraga siang itu.
Dia tidak ingin kembali kekelas karena tempat tersebut terasa sangat sepi. Baginya, hanya mendengarkan kebahagian orang lain cukup menghilangkan rasa sepi dihatinya.
Terlebih lagi peraturan sekolah yang tidak mengizinkan siswa siswi nya untuk membawa ponsel semakin menambah rasa kesepian dihatinya.
Namun zili tampak sangat terbiasa.
"minggir" suara seseorang mengejutkan Zili dari lamunannya. Ia menoleh kearah belakang sebelum bergeser dari posisinya.
Tanpa ia sadari semua orang yang berada dilapangan telah menundukkan kepala, Menghentikan kegiatan mereka dan menyingkir memberikan jalan.
"Siapa? " gumam Zili dalam hati memandang seorang anak laki laki yang sangat tampan memandang mengerikan kearahnya. Jantungnya berdegup kencang merasakan takut.
"Hooi dengar tidak?" tanya anak laki laki lain yang berada disebelah kanan laki laki yang tanpa sengaja ia pandang.
Dengan cepat zili menyingkir. Memandang dua orang anak laki laki kembar mengikuti seorang anak laki laki berpakaian berbeda dengan seragam sekolah dasar high raise berjalan melewatinya menuju keruangan bola basket yang berada tidak jauh dari sana.
********
"Shisou" gumam zili dalam hati memandang keluar jendela kelas sembari tersenyum sedih mengingat gurunya.
Setelah ia terbangun dari tidurnya. Ia mendapati dirinya sendiri berada dikamar luas dan mewah. Ingatan kejadian kemarin malam masih membekas dihatinya.
Setelah terbangun, sangat disayangkan, ia tidak menemukan Gurunya. Bahkan perasaannya masih sangat perih ketika mengetahui bahwa putra mahkota telah kembali keistana dan mulai hari itu shin ji ditugas kan menggantikan putra mahkota untuk menjadi pelindungnya.
"Minggir"
"Haah" zili sontak menoleh wajah kesumber suara. Ia melihat seorang laki laki berseragam Putih sama dengan yang ia kenakan sedang mengusir seseorang murid dari bangku miliknya.
"Haah, seenaknya saja mengusir orang, ini bangku ku"
"Minggir tidak?"
"Tidak mau"
"Kau...."
"Ah iya iya.. sudah sudah, kamu ganti bangku lain saja sana." Suara yang sangat dikenal Zili sontak mengejutkannya.
"Shin ji"
Shin ji tersenyum memandang Zili sekilas. Lalu menarik tangan murid yang sedang duduk dibangku tepat disamping gadis itu untuk segera menyingkir dari posisinya.
"kenapa tidak adil sekali, lagian ini juga baru pertama kali Tuan Shin ji mengajar disekolah Shen. Kenapa malah pilih kasih begitu kepada anak baru, hanya karena dia sesama klan Sun"
"Kau berani menentangku ya?"
Murid laki laki terperanjat melihat wajah marah Shin ji yang tengah memakai seragam Guru Sekolah Shen berwarna Biru dengan sebuah pin didadanya.
"Maaf maaf tuan"
"Tuan?"
"Pak guru maksud saya.. pak guru, iya iya saya pindah"
Dengan langkah cepat, murid laki laki yang tadinya duduk disebelah zili terpaksa harus pindah kesudut bangku paling belakang selaras dengan pintu masuk kelas.
SHin ji tersenyum kesal, setelah memperkenalkan diri dan Murid baru yang pindah kekelas khusus klan shen yang diisi 20 murid. Ia kembali kekursinya untuk memberikan Teori pembelajaran.
Murid murid kelas khusus sekolah high raise memang telah terbiasa mengajar disekolah sekolah klan lain dipelosok desa mengingat pembelajaran praktek sangat dikedepankan oleh pihak sekolah dibandingkan teori.
namun untuk ukuran Shin ji yang termasuk salah seorang Pelindung putra mahkota merupakan hal yang wajar baginya menjadi seorang guru sekolah klan terkenal menimbang keahlian fisik dan kecerdasan otak yang telah terasa sejak kecil tidak bisa diremehkan.
"Mungkinkah dia shin sa'i yang itu?"
"Aaah, masak sih, sepertinya bukan"
"Iya, juga ya, mana mungkin orang sekelas Sun Shin Sa'i, orang yang telah memenangkan pertandingan Antarklan yang lalu bersekolah disini"
"Benar sekali, aku jugaa tidak yakin dia itu shin Sa'i, "
"Terlebih lagi kudengar setelah memenangkan pertandingan, dia sudah menerima tugas dari negara untuk pergi keluar negeri"
" benar, waaah langsung mendapatkan kepercayaan dari...."
"Ehmmm.. masih mau bicara?" Ucap shin ji sembari memandang dua murid perempuan yang sedang membicarakan murid yang baru bergabung menjadi anggota kelas mereka.
"Hehehe tidak pak" jawab salah seorang merasa takut.
Zili memandang sekilas kewajah orang yang sedang duduk dibangku sebelahnya. Namun dengan cepat pandangannya ia alihkan. Ia mengetahui dengan pasti tidak akan mungkin seseorang akan menyapanya.
*******
Waktu pembelajaran telah berakhir. Berganti dengan jam makan siang. Semua orang perlahan lahan meninggalkan kelas untuk menuju kekantin sekolah.
Suara keramaian dan terkadang teriakan murid murid sekolah shen terdengar Ricuh. Zili mengeluarkan kotak bekal makanan dari tasnya.
Dari dulu ia memang telah terbiasa bangun pagi membuat bekal sebelum menuju kesekolah, ditambah lagi, tidak seorangpun dari penghuni asrama yang biasa masuk kedapur dipagi hari. Kebanyakan dari mereka terbiasa makan dikantin sekolah yang lebih nikmat rasanya.
Ditambah lagi, murid kelas khusus bahkan diberikan makanan gratis, lezat dan mewah dari pihak sekolah.
"Braaaaak" suara gebrakan meja mengejutkan Zili. Tangannya mulai gemetaran, rasa takut dijahili dimasa lalu kembali muncul dalam benaknya.
"Hooi" suara seorang wanita terdengar keras disebelah Zili. Dengan ragu ragu gadis itu menoleh kesebelah.
Dipandang olehnya, tiga orang siswi sedang berdiri dihadapan murid pindahan dengan wajah angkuh. Salah seorang dari nya merampas buku yang sedang dibaca murid laki laki tersebut.
Pandangan Zili dialihkan kearah murid yang tengah mendapati kejahilan. Dengan santainya, laki laki itu duduk memainkan permen lolipop dimulutnya sembari memasukan kedua tangan dikantung celana sekolah.
__ADS_1
"Hm" dia tersenyum meremehkan, senyumannya mengingatkan Zili kepada seseorang.
"Jadilah pacarku"
"Haaah" sontak Zili mengeluarkan suara tanpa sengaja, ia segera sadar lalu menutup mulutnya dan mengalihkan pandangan kekotak bekal diatas meja.
"Hmmm"
"Kenapa sih kau ini, tidak dengar ya, aku sedang menembakmu"
"Hmmm, tidak berguna"
"Kau bilang apa barusan?"
"kau.. tidak berguna" laki laki itu berdiri, mulai melangkah kaki namun dihalangi oleh gadis cantik berambut panjang dengan bando kupu kupu diatas rambutnya yang terurai.
"Tidak boleh pergi" dia menghalangi jalan laki laki yang telah membuang gagang permen keatas lantai.
"Minggir"
"jadi pacarku, kalau tidak, aku tidak akan minggir"
"Kubilang minggir" tatapan menakutkan membuat siswi yang menghalangi jalannya tertegun ketakutan.
"Bagaimana jika aku menantangmu?"
"Tidak tertarik, minggir"
"Ka.. kaalau kau bisa mengalahkannya lari," siswi tersebut menunjuk kearah Zili.
"Aku" Sontak zili terkejut hingga mengerutkan dahi.
"Ahh iya, kalau kau bisa mengalahkannya, aku tidak akan memaksamu lagi. Dan kau juga bisa meminta apapun dariku.. ba..bagaimana?"
"Hmmmmmm....baiklah"
"Hooi," zili berdiri menggebrak meja " jangan seenaknya saja menentukan"
"Kau kan sudah diizinkan masuk kekelas kami, berguna sedikit dong, jangan buat malu putra mahkota.."
"Tapi ini...."
"Sudahlah, ikuti saja, kau juga hebat dalam berlari kan. Buktinya bisa mengalahkan Tuan putri kami"
"Hmmm.. shen memang tidak berguna" hina remaja laki laki itu.
"Ah iya iya. Terserahlah. Klan sun memang terlalu besar kepala, lihat saja nanti. Kau akan kalah dan jadi milikku" ucap siswi tersebut lalu melangkah pergi meninggalkan kelas diikuti dua temannya. "Aku tunggu kalian berdua dilapangan lari belakang sekolah. Oke!" tambahnya lagi.
"Hooi, aku tidak mau..."
"Sebagai putri mahkota, kau harus bertanggung jawab" ucap laki laki tersebut lalu meninggalkan Zili yang merasa kesal dengan keputusan sepihak tersebut.
*******
Didalam sebuah ruangan yang penuh dengan buku buku berjajar didalam lemari, dengan meja kerja dan dua buah sofa panjang dan sebuah meja lain ditengah tengah yang tidak jauh dari sana.
Didalam ruangan, Shin ji terbaring telentang diatas sofa sembari memakan Sebuah sandwich berisi telur dimulut dan tangan kiri memegang sebuah buku keatas untuk ia baca.
Pintu ruangan terbuka, Shin ji melirik sekilas kearah pintu yang tidak jauh dari posisinya. Lalu melanjutkan lagi paragraf bacaannya.
"Wasit" seorang laki laki menarik Buku yang dibaca shin ji.
"Xu'i, masalah apalagi yang kau buat?, belum juga sehari kau menyamar"
Laki laki yang tidak lain putra mahkota membaca sekilas cover buku bacaan shin ji. "hm.. lama sekali kau menyelesaikan buku ini" dengan pelan ia meletakan buku tersebut diatas meja.
"sudahlah jawab saja"
Putra mahkota yang telah menyamar menjadi Sun shin sa'i, salah seorang petinggi Klan Sun tersenyum senang lalu bergerak menuju kearah lemari untuk mengambil bukunya.
Tidak lupa ia mengambil sepiring Sandwich diatas meja kerjanya dan membawanya keatas meja dekat dengan tempat Shin ji sedang terbaring menyelesaikan gigitan sandwich terakhir sembari membuka kembali lembaran buku yang telah ia ambil dari atas meja.
"Ternyata sangat sulit jadi orang biasa" putra mahkota menggigit potongan sandwich didalam mulutnya.
"Maksudmu?"
"Wanita memang dari dulu merepotkan, hanya bibi lah yang berbeda dan juga istriku mungkin"
"Haaah," shin ji mendesah lalu bangun dari baringannya, menutup buku lalu memandang kearah Putra mahkota yang sedang mengunyah sembari membaca buku dihadapannya. "Bukan menjadi orang biasa yang merepotkan, tapi wajah keturunan paman idris mu lah yang membuat mu kerepotan"
"Jadi kau menyalahkan Keturunan ayahku ya"
"Haah, sadarlah Xu'i, meskipun menyamar, wajah mu itu tetap membuat masalah"
"Hmm, konyol"
"Jadi, pertandingan apa yang akan kau lakukan?"
"Lari"
"Haahhahaha"
"Kenapa kau tertawa?"
"Bukan, hanya pertandingan lari saja mengapa harus menjadikanku wasit"
"lawanku adalah istriku"
"Hah, yang benar?" sontak Shin ji terkejut.
"Jadi menurutmu aku berbohong"
"Waah berani sekali dia menentangmu"
"Bukan begitu bodoh, "
"Ah aku tahu. Dia pasti dijebak. Ckckck istrimu memang sangat lemah"
__ADS_1
"Sepertinya akan menyenangkan"
"Waaah, lagi lagi kau tidak seperti biasa"
Putra mahkota menyelesaikan gigitan sandwich terakhir. Lalu berjalan kearah pintu keluar setelah meletakan buku bacaannya diatas meja.
******
Sebuah gedung tinggi bertingkat tujuh berwarna hijau tampak indah dipandang mata karena bentuk desain bangunannya yang begitu apik dengan tangga panjang yang berada diluar bangunan tersebut.
Suara kegaduhan dibawah bangunan terdengar jelas hingga ketelinga. Beberapa orang tengah menahan seorang remaja laki laki dengan masih mengenakan seragam SMP high raise berteriak memanggil manggil seseorang.
"Yang mulia, yang mulia, aku mohon biarkan aku bertemu anda" pinta nya.
"pergilah, putra mahkota sedang sibuk"
"Kau mau apa! Jangan ganggu putra mahkota"
"Lepaskan aku, lepaskan kubilang " dengan berusaha kerasa ia mencoba melepaskan diri dari tahanan dua laki laki besar bertubuh kekar.
"Yang muli...."
"Kau mencariku?" seorang remaja laki laki terlihat berdiri disebuah balkon gedung lantai dua. Dia adalah putra mahkota yang telah membuka pintu jendela kaca memandang tajam kearah remaja laki laki yang telah terlepas dari orang orang yang menahannya.
"Yang mulia, saya mohon, izinkan saya untuk berbicara empat mata dengan anda "
"Kau tidak lihat aku sedang sibuk"
"Yang mulia, aku mohon, berikan aku kesempatan sekali saja"
"Hooi" teriak putra mahkota memandang kedua bawahannya.
"Ya yang mulia" jawab mereka serentak menundukan kepala.
"biarkan dia masuk"
"Baik yang mulia" jawab mereka bersamaan lalu melepaskan tahanan mereka.
"Terima kasih yang mulia"
Remaja laki laki tersebut melangkah masuk kedalam ruangan pribadi putra mahkota yang tidak tertutup secara perlahan.
Ia menarik nafas dalam dalam, memandang Meja tempat mahkota berada penuh dengan tumpukan buku resep pengolahan makanan dari klan Sun.
Pikirannya seolah olah tidak percaya, bagaimana mungkin, seseorang yang masih remaja sudah mampu membaca buku resep kelas tinggi milik klan Sun.
Terlebih lagi bukan hanya satu buah buku namun ia melihat ada puluhan buku berada diatas meja tersebut.
"Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu melayanimu"
Remaja laki laki itu memandang putra mahkota yang sedang berdiri menatap keluar jendela membelakanginya sembari memasukan sebelah tangan kekantung dan memegang sebuah buku ditangannya.
"Yang mulia, mohon..."
"Langsung katakan apa mau mu?"
"Yang mulia, jika saya mampu memenangkan pertandingan antar klan tingkat sekolah high raise, dan mengalahkan pangeran Shin'A, bisakah anda membantu saya untuk mempermalukannya dihadapan umum"
Putra mahkota mengernyitkan dahinya, lalu membalikan tubuh merasa terkejut dengan permintaan remaja laki laki seusia dengannya tersebut.
"Kenapa?"
"Saya punya alasan sendiri yang mulia, sebagai pengamat pertandingan, anda pasti sangat mampu untuk melakukannya"
"Hmm" putra mahkota tersenyum nakal lalu membalikan tubuhnya kembali menghadap keluar jendela melanjutkan paragraf bacaannya. "kembali lah, dan tutup pintu"
"Terima kasih yang mulia"
*******
Hiruk pikuk suara berbagai jenis orang dari kalangan klan tertentu Negara NC di sebuah bandara internasional Kota A desa Sun 10 terdengar begitu berisik masuk ketelinga.
Para penumpang pesawat terbang sebagian besar menunggu diruang tunggu bandara ada juga dari mereka yang sedang duduk bersantai disalah satu restoran Sun.
Para Penumpang yang telah turun dari Pesawat terbang berjalan menuju pintu keluar. Seorang laki laki berkulit putih dengan Jaket hitam kulit dan juga kacamata Hitam yang telah ia lepas ikut serta berjalan ditengah tengah keramaian orang.
Laki laki itu menarik kopernya, dia tersenyum memandang seorang remaja laki laki berdiri menunggu kedatangannya dan seorang remaja perempuan melambaikan tangan sembari melangkah lari kearahnya.
"Sa'i"
"Putri yu'a, mengapa anda disini?"
"Tentu saja menyambut kedatanganmu kembali"
"Yoo sa'i, kau keliatan sangat sehat"
"Shin jo," sa'i mengernyitkan dahi. Menatap tubuh shin jo yang sangat kurus " kau,, baik baik saja jo?"
"Ah.. baik kok, sudah lah ayo pergi"
"Dia baru saja keluar dari penjara bawah tanah klan sun" bisik yu'a.
"Yu'a..." shin jo tampak tidak suka rahasianya dibongkar.
"Hehe.. aku kan berkata jujur" seringainya " ayo sa'i kita kembali," ajak yu'a menarik tangan sa'i.
"Tapi..."
"Nanti aku ceritakan deh"
"Hmm baiklah" sa'i mengikuti langkah yu'a meninggalkan Shin jo yang masih berdiri menarik nafas kesal lalu berjalan mengikuti mereka. "ah iya, Shin'A ,apakah dia sudah menikah?"
"Haah, ya belum lah, anak itu tahunya Cuma cari masalah saja akhir akhir ini".
"Baguslah"
"Kau bilang apa?"
__ADS_1
"Ahh tidak, " sa'i tersenyum lembut "Zili, tunggu aku" gumamnya dalam hati dengan penuh kebahagian terpancar melalui wajah.