
Degup jantung semakin kuat terasa. Tubuhpun semakin gemetaran mengikuti alurnya.
Dinginnya malam terlebih lagi dekat dengan air mulai menerpa tubuh. Pepohonan mulai menghasilkan oksigen yang keluar membentuk embun karena pagi mulai tiba.
“Tuaaannn....
Ragu-ragu Zili membuka suara “bisakah anda melepaskan saya?” Pintanya menyadarkan putra mahkota bahwa dia sedang menyamar saat itu “bukanlah hal yang baik bagi saya yang telah bersuami untuk dipeluk orang lain”
“Bukankah kau menyukaiku?” Sayang, tampaknya putra mahkota tidak ingin melepaskan pelukannya.
“Ma.. ma..mana mungkin saya menyukai anda?”
Putra mahkota melepaskan pelukannya, masih dengan senyuman lembut, ragu-ragu ia melihat Zili yang sedang tertunduk malu “ bukankah tadi kau bilang aku adalah orang yang sangat berharga bagimu?”
Zili tersentak.
Rasa malunya semakin menguat.
Ehm...
Dia mulai berdehem pelan, lalu melihat kearah putra mahkota yang langsung membuang wajah ketika melihat mata Zili yang mulai memandangnya.
Lagi, putra mahkota mengelus leher belakangnya sembari menoleh kearah kolam ikan disebelah kirinya “lupakanlah” ucapnya berusaha mencairkan suasana.
Zili mengangguk kepala, “tuan!” panggilnya.
Putra mahkota melirik sedikit lalu mengalihkan lagi pandangan matanya “kenapa anda bisa masuk kedalam kamar saya?” tanya Zili berhasil mencair kegugupan putra mahkota.
Dia mulai menurunkan tangannya yang sedari tadi ia letakan dibelakang leher, perlahan, dengan ragu-ragu ia memandang mata Zili.
Pandangan mata putra mahkota sontak membuat Zili tertunduk, putra mahkota malah mengalihkan pandangannya kembali “kau sengaja tidak mengunci jendela kamarmu bukan?” ia mulai mengalihkan pandangannya kekepala Zili lagi yang kini telah bergerak naik, mendongak menatapnya dengan keterkejutan yang mendalam “kau tidak boleh melakukan hal itu lagi” perintahnya tersenyum lembut, memporak-porandakan jantung Zili yang semakin berdegup kencang tak karuan.
Air mata Zili mulai menetes mengejutkan putra mahkota “aku ...
Ia menghapus air mata yang telah mengalir dipipinya “aku menunggu kedatangan guruku” ucapnya menahan rasa rindu yang teramat dalam kepada laki-laki dihadapannya yang sayangnya ia masih dalam keadaan menyamar. “kalau itu shisou, dia pasti mengetahui bahwa aku sengaja tidak mengunci jendela agar dia bisa masuk kedalam kamarku dengan mudah” lanjutnya mengigit bibir bawah menahan perih “tapi dia tidak pernah datang....
Semakin deras aliran air matanya “aku sungguh...
__ADS_1
Semakin tak terbendung hingga ia harus menutup mata menggunakan pergelangan tangannya “sangat merindukannya” ucapnya sesunggukkan “ini sangat menyakitkan” keluhnya “padahal aku sudah terbiasa ditinggal ayah sendirian dirumah, tetapi ketika Shisou meninggalkanku,.....”dia mengusap mata dengan lengan berkali-kali. “aku sungguh tidak kuat menahan rasa rinduku.” lagi, masih dengan sesunggukkan dihadapan laki-laki yang kini telah mengetahui rasanya merindukan seseorang, Zili mengeluarkan semua perasaan yang ada didalam hatinya.
“Tunggulah” ucap putra mahkota tersenyum pahit, ia sangat memahami perasaan gadis yang ada dihadapannya “aku sangat yakin, saat ini dia juga sangat merindukanmu” lanjutnya lagi.
Zili menurunkan tangannya “hiks.. mana mungkin” ucapnya “shisou...hiks..
Dengan mata berkaca-kaca dan masih mengalir air mata, ia menatap mata putra mahkota yang memerah “shisou hiks.. haaa.... dia tidak pernah menyukaiku sebagai seorang wanita” lanjutnya semakin deras mengeluarkan air mata.
Putra mahkota tersenyum menenangkan sembari membungkukan sedikit tubuhnya yang tinggi dan menghapus air mata Zili dengan sebelah ibu jari tangannya “saat itu kau bilang, kau masih memiliki kesempatan bukan?” Ucapnya menghentikan tangisan Zili “itu artinya dia memberikan kesempatan kepadamu, dan sudah pasti dia menyukaimu” jelasnya semakin menenangkan hati Zili “percayalah, dia pasti sangat menyukaimu maka dari itu memberikan kesempatan padamu”
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca “be.. benarkah?”
Putra mahkota semakin mengembangkan senyumannya “hmm” angguk laki-laki itu lalu memeluk tubuh Zili untuk kedua kalinya dimalam yang sama “percayalah padaku” pinta laki-laki itu, mempererat pelukannya.
Hembusan angin malam menerpa tubuh mereka.
Hembusannya membuat tubuh Zili menggigil dan mampu dirasakan oleh putra mahkota.
Putra mahkota melepaskan pelukannya setelah melihat zili telah berhenti menangis.
“pakailah” ia mengembangkan jaketnya, lalu menutup tubuh Zili yang hanya mengenakan Kaos kasual dan celana kulot abu-abu panjang.
Terlihat Kaos extra limited edition dengan lambang putra mahkota mengejutkan Zili.
Lambang putra mahkota yang berbentuk Mahkota satu bintang diatas memang sudah sangat umum diketahui masyarakat NC.
“Shisou....
Mata Zili mulai berkaca-kaca, menatap Lambang tersebut berada didada putra mahkota.
“Aaahhhh....
Putra mahkota mulai menyadari kesalahan yang sebelumnya sangat jarang terjadi “jangan salah sangka, Xu’i memberikan ini sebagai hadiah untukku” ucapnya meyakinkan Zili.
Zili menundukkan kepala “benarkah?” ucapnya lemah, harapannya yang mengira bahwa laki-laki dihadapannya mungkin adalah laki-laki yang dia cinta telah punah.
“Memangnya kau akan percaya jika aku Xu’i?”
__ADS_1
“Mana mungkin” ucap Zili mulai memandang mata putra mahkota kembali “shisou,..
Dia tersenyum pahit “dia mana mungkin mengungkapkan perasaannya kepadaku” kali ini mengigit bibir bawah “shisou hanya menyukai ratu yuanna, maka dari itu aku harus terus berjuang” air mata yang mulai mengalir, ia hapus dengan cepat. “tuan sangat berbeda dengan guruku” lanjutnya “jika tuan adalah guruku, sungguh, aku akan sangat senang. Dan dalam hidupku, itu adalah hadiah paling berharga yang mungkin aku pernah dapatkan” dia mulai tersenyum lembut.
“Kenapa?...
Tanya putra mahkota cepat “kenapa bisa begitu?”
“Karena kalian berdua sangat berarti dalam hidupku, shisou, selama ini selalu menolongku, begitupula dengan tuan yang selalu membantuku”jawabnya tersenyum menggertakan gigi “tapi tentu saja aku lebih memilih guruku dibandingkan tuan” lanjutnya lagi “bagiku, shisou lebih dari sekedar keberuntungan. Dia adalah sumber kekuatan untuk bertahan hidup ditengah kesulitan yang selalu kualami” jelasnya lagi beradu pandang dengan putra mahkota sangat lama hingga hembusan angin menerbangkan rambutnya yang panjang hingga kadang helaiannya menutupi wajah.
********
Berjalan menelusuri setapak kecil dipertengahan kolam secara bersamaan, sesekali putra mahkota melirik kearah telapak tangan Zili yang terbuka.
Setiap kali bersentuhan, saat itu tangan putra mahkota langsung mendarat kebelakang leher seperti biasa.
Berkali-kali laki-laki itu teringat perkataan Gadis disampingnya. Dia tersenyum tipis, entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin ia sangat bahagia karena perasaan Zili yang begitu tulus mampu memenangkan hatinya.
Lagi putra mahkota menurunkan tangannya.
“Ahhh...
Hampir saja zili terjatuh ketika kakinya tidak sengaja menginjak lubang tanah.
Tangan putra mahkota telah menggenggam lengan atas Zili. Dia mulai melepaskan tangannya setelah zili berdiri dengan sempurna.
“Huh...
Hela nafas Zili terdengar lega.
Putra mahkota dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya kehadapan Zili “sebaiknya genggam saja tanganku” saran putra mahkota namun tampaknya zili ragu-ragu menerimanya. “tenang saja, aku adalah teman Xu’i” lanjutnya “mana berani aku mengkhianatinya” tambahnya meyakinkan Zili yang lalu meraih tangan putra mahkota.
“Tuan...
Ragu-ragu zili bertanya setelah mereka mulai melangkah, berjalan sembari saling menggenggam tangan. “Benarkah shin ji dan shin jo membakar jagung ditempat tuan berjaga?”
Putra mahkota menoleh kepala kearah Zili “percayalah padaku” ucapnya “mereka diperintahkan menjaga Desa ini juga karena ada banyak penyusup yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya” yakinkan laki-laki itu lagi.
__ADS_1