
Hatinya gusar,
Ia sungguh sangat ingin segera pergi dari tempat yang membuatnya tidak nyaman tersebut.
Bau obat yang menyengat tidak mengganggu indera penciumannya lagi, mungkin karena Putra Mahkota telah menyuntikan Antipsikotik untuknya, sejenis obat yang berfungsi untuk mengurangi gangguan halusinasi.
Berkali-kali ia mengeratkan genggaman tangannya di tangan Laki-laki di hadapannya, berkali-kali pula Putra Mahkota menenangkan hatinya dengan sikap lembut yang laki-laki itu lakukan.
“Tunggu saja, Aku pastikan tawamu akan menjadi tangisan darah hingga kau tidak akan pernah mampu lagi untuk berbicara.” Ancam laki-laki tua begitu marah, terlihat dari matanya yang memerah dan urat-urat di wajah.
Putra Mahkota menghela nafas, menahan tawa dengan senyuman senang karena berhasil mempermainkan laki-laki tua di balik layar robot di sana, “Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku,” Ucapnya penuh kesombongan dan kepercayaan diri yang begitu tinggi. “Meskipun usiamu jauh melebihiku bukan berarti pengalamanmu lebih banyak dibandingkan dengan pengalamanku.” Lanjut laki-laki itu mulai serius, kali ini senyuman yang menghiasi bibirnya pun telah menghilang secara tiba-tiba. “Antara kau dan aku, Kau kira siapa yang lebih banyak menderita?” Mata senang Putra Mahkota berubah menjadi sedih, Mungkin karena ia sedang mengingat rasa sakit yang selama ini ia alami.
“Konyol, omonganmu terlalu besar untuk dipercaya.” Sepertinya laki-laki tua tidak terima dengan ucapan Putra Mahkota. “Semakin tua manusia tentu saja semakin besar pengalamannya.” Lanjut laki-laki tua tersebut begitu tegas.
“Kaulah sesungguhnya orang yang konyol,” balas Putra Mahkota mulai menggenggam tangan Zili, mungkin karena ingatannya membuat hati laki-laki itu mulai kesakitan. “Pikiranmu terlalu pendek maka dari itu kau selalu kalah dariku.” Hina Putra Mahkota, entah mengapa ucapannya mampu membuat Zili memahami satu hal hingga gadis itu mulai memeluk laki-laki itu tiba-tiba.
Terasa menyakitkan,
Pikir gadis itu,
Dia merasakan apa yang dirasakan laki-laki di hadapannya karena dia juga pernah berada di posisi yang sama.
“Sombong.”
“Tentu saja aku bisa menyombongkan diri karena aku berhak untuk sombong atas semua kemenangan yang ku peroleh.” Jawab Putra Mahkota sedikit terkejut menerima pelukan erat dari wanita miliknya, namun ia hanya membiarkan gadis itu melakukan apapun yang ia inginkan. “Kukatakan padamu, Semakin banyak penderitaan yang dialami manusia maka semakin banyak pula pengalaman yang dia miliki dan semakin tinggi kesempatan untuk meraih kebahagiaan sejati. Maka dari itu aku tidak pernah takut untuk menderita karena setelah kesulitan, pasti akan muncul kemudahan. Manusia yang menderita, mereka akan berhati-hati dalam bertindak, Hati mereka yang tidak ingin menderita lagi seperti di masa lalu akan memancing otak berpikir keras dan menemukan berbagai solusi untuk menghadapi segala jenis kesulitan. Manusia hebat dibangun atas dasar penderitaan yang juga hebat, jadi wajar saja, beberapa orang yang sering menderita sangat jarang haus akan keserakahan dunia, tidak seperti kau yang selalu merasa hidup dunia ini hampa. Maka aku sangat bahagia pernah melalui banyak penderitaan, sangat bahagia hingga hari dimana aku akan menyiksamu langsung dengan tanganku sendiri, begitupula dengan anggota Red Sprayermu. Maka tunggulah.” Putra Mahkota memperlihatkan sebuah remote berbentuk sebuah Ponsel dari balik jas putih yang ia kenakan, segera ia merenggangkan pelukan Zili lalu membuka jas tersebut dan membuangnya.
Mata laki-laki tua membelalakan melihat benda yang di perlihatkan Putra Mahkota, “Kau, Sudah gilakah kau menyia-nyiakan Fosil di kapal itu?”
“Kapal ini sangat berguna, tetapi jika jatuh ke tangan manusia serakah, barang yang berguna sekalipun akan menjadi senjata mematikan untuk menghancurkan dunia. Di banding dengan kemusnahan seluruh umat manusia, lebih baik benda sehebat ini dihancurkan saja.” Putra Mahkota tersenyum senang, matanya penuh dengan kemenangan, “Tunggu aku, Aku pasti akan menemukan dan menghancurkanmu.” Lanjut laki-laki tersebut lalu bergerak cepat mendekati robot di depannya dan menendang benda tersebut hingga menabrak salah satu lemari di ruangan sana, dan hancur berantakan.
__ADS_1
Segera ia meraih tangan Zili, “Shisou.”
Sebuah pintu di bawah lantai tiba-tiba terbuka setelah Putra Mahkota memainkan tangannya di remote berbentuk Ponsel tersebut kemudian mengajak Zili untuk melompati pintu lantai tersebut.
“Kau masih memiliki tenaga, bukan?” Tanya Putra Mahkota ketika kaki mereka telah menapaki lantai di sebuah lorong gelap karena pintu atap telah tertutup.
“Hm, Tentu saja Shisou.” Angguk gadis itu mulai melangkah lari mengikuti Putra Mahkota yang telah menggenggam tangannya dan pergi menjauhi ruangan tersebut menuju ke arah selatan.
*********
Bakkk bukkk..
Guru Putra Mahkota dan Mantan Ketua Klan Co masih saling menyerang,
“Pecahkan saja kepala kalian!” Teriakan dari balik headset mereka berdua, mereka abaikan. “ Bodoh, Sadarlah kalian jika masih ingin hidup.” Teriakan terakhir mengejutkan mereka berdua hingga kepala mereka yang pusing bertambah pusing. Mereka menghentikan gerakan untuk saling menyerang kembali dan berusaha keras memijat kepala yang sakit agar sakit yang mereka rasa segera menghilang.
Di sudut ruangan, tampak Musuh Negara Co sien Ya sedang duduk terkapar dengan tubuh di penuhi luka, perlahan-lahan mata laki-laki itu terbuka lalu setelahnya mulai membesar karena menyaksikan ada begitu banyak bawahannya yang terbaring lemah tak berdaya.
“Sadarlah bodoh!, cepat pergi dari sana, Xu’i akan segera meledakan kapal itu.” Teriakan dari balik headset mengejutkan Co Sien Ya yang mendengarkannya.
“Yuan,”
“ Kau sudah sadar?, Begitu bodohnya kalian hingga tidak menyadari tipuan Xu’i, Segera bawa mereka berdua keluar dari sana!” Perintah suara laki-laki tua lalu menutup panggilan.
Tidak lagi menyia-nyiakan waktu, Co sien Ya segera memukul kedua wajah laki-laki tua untuk menyadarkan mereka dari halusinasi buatan Putra Mahkota.
Baaakkk..
Buuuk..
__ADS_1
“Sien, Kenapa kau memukulku?”
“Sadarlah!, Kita harus segera pergi.” Ucap laki-laki dewasa tersebut menjawab pertanyaan kakeknya.
“Xu’i,”
“Dia pergi membawa Remote bom di kapal ini.”
“Kapal ini akan diledakan?” Guru Putra Mahkota yang telah sadar sontak terkejut dan berpikir bahwa akan sangat disayangkan jika kapal yang begitu berguna di sana harus dihancurkan.
********
Hah..
Haaah..
Nafasnya terengah-engah, rasa lapar kembali menggerogoti perutnya.
Wajahnya pucat, ia tidak lagi memiliki tenaga.
Matanya mulai sayu.
Aaah..
Dia terjatuh tepat dipelukan Putra Mahkota yang telah menangkap lalu mengangkat tubuh lemahnya dari depan.
“Tahanlah, sebentar lagi segalanya akan segera berakhir.” Ucap laki-laki itu mulai berjalan dengan langkah lebar mendekati sebuah pintu lift setelah melalui perjalanan yang lumayan memakan banyak waktu melewati Lorong singkat menuju wilayah selatan.
Pintu lift terbuka,
__ADS_1
Ia melangkahkan kaki masuk ke sana lalu menurunkan tubuh Zili yang lemah dan memeluknya. “Maafkan aku Shisou,” ucap gadis itu, berdiri dan bersandar di tubuh laki-laki yang ia cintai.
Mengelus kepala gadis itu lalu membawanya duduk bersama di dalam lift yang terus bergerak naik. “Tidurlah!” Perintah Putra Mahkota bersamaan dengan mata Zili yang mulai tertutup.