Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
tatapan lembut


__ADS_3

Angin berhembus dijalanan aspal yang datar, sesekali kelopak bunga Pohon cercidium yang berwarna kuning tersebut berguguran terbawa angin.


Disepanjang jalan yang kadang terisi pengendara Sekuter dan sepeda, putra mahkota terus mengayu pedal sepeda. Ia tersenyum tipis, mungkin merasa lega karena telah mengeluarkan istrinya dari keramaian penduduk desa.


Kelopak bunga yang berguguran, mengenai kedua pasangan suami-istri yang sudah beberapa bulan menikah. Gedung-gedung yang menawah menambah keindahan tempat tersebut.


Sepeda mulai memasuki wilayah Kandang, putra mahkota meraih tangan zili, “peganglah erat, kita akan memasuki jalanan sempit” ucapnya meminta zili untuk berpegang pada pinggangnya karena mereka akan memasuki jalanan setapak Kecil.


Dengan ragu, karena merasa sangat tidak sopan, Zili mulai menggenggam kaos kasual berwarna coklat yang sangat lembut tersebut setelah sebelumnya putra mahkota membawa tangan gadis itu untuk melingkari pinggangnya.


Berbelok kekiri, menuruni jalanan, memasuki kandang ayam. Suara ayam ternak dan ayam buras entah mengapa menenangkan perasaan mereka berdua.


Tak jauh dari sana, juga terdapat sangkar burung-burung yang bergelantungan Diatas sebuah bangunan papan merah terbuat dari kayu jati.


Terus mengayu sepeda, memasuki kandang Rusa dan kijang. Tak jauh dari sana juga terlihat kandang kelinci yang bertingkat-tingkat.


Masih dengan senyumannya, putra mahkota mengayu sepeda begitu santainya padahal jalanan setapak tidak terlalu lebar dan ditumbuhi rerumputan liar disampingnya.


Jauh dipandang mata, terdapat bukit hijau yang terisi kandang sapi serta kuda. Duduk menyamping menghadap kekiri, membuat Zili mampu memandang dengan seksama pemandang indah yang belum pernah, sekalipun belum pernah ia alami semasa hidupnya.


Yaitu, berada ditempat yang begitu tenang dengan suasana hewan ternak menggunakan sepeda.


Hal itu bagaikan sebuah Mimpi.


Lagi-lagi, ia merasa itu semua seperti mimpi baginya. Mimpi yang sudah sangat lama ia inginkan.


Menaiki tanjakan, putra mahkota sedikitpun tidak kesulitan. Terlihat dari atas, kolam-kolam ikan sangat luas dan lebar. Dipenuhi dengan loncatan ikan yang saling bergantian menangkap mangsa.


Masih menggenggam kaos depan putra mahkota dengan salah satu tangannya, kini tangan yang lainnya terpaksa harus menggenggam besi penyanggah tempat duduknya karena sepeda mereka mulai bergerak menuruni jalanan.


Pandaangan mata berbinar-binar.


Sampan-sampan terlihat jauh dipandang mata. Dua bukit tinggi berada ditengah lautan. Tak jauh dari sana juga terdapat sebuah pulau kecil yang terisi rumah-rumah penduduk.


Terus bergerak, terlihat tambak-tambak ikan besar, sesekali terlihat ikan mola-mola besar yang sedang berenang naik keatas permukaan air laut.


Terus bergerak, melewati pantai yang dipenuhi dengan pasir putih. Terlihat juga beberapa orang sedang mengumpulkan kerang-kerang dan hewan laut lainnya.


Sesekali dari mereka terlihat memegang gurita yang besar ditangan.


Bahkan ada juga dari mereka yang sedang menikmati angin laut sembari memancing disebuah pondok kecil.


YA, pondok tersebut sangat mirip dengan pondok yang pernah ia inapi semalaman ketika berada didesa ann 37.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum senang, namum entah mengapa ia merasa hal tersebut sangat tidak pantas untuk didapatkannya.


Kesedihan mulai terlihat dibola matanya ketika mengingat putra mahkota yang menghilang dan belum juga ditemukan.


Angin berhembus kencang, menguraikan rambut gadis itu yang tadinya terikat. Tampaknya angin berhasil melepaskan ikat rambutnya.


Helaian rambut berterbangan, sesekali gadis tersebut terpaksa menyingkirkan rambutnya dari wajah ke belakang telinga.


“Hooiiiii....


Suara pelindung putra mahkota Shin jo terdengar mendekat. Terlihat dari depan, tiga orang laki-laki telah berhasil mengejar mereka.


“Kenapa kau mengambil jalan berputar?” tanya Nya kepada putra mahkota yang masih memandang kedepan.


“Be... berputar?”


Sontak zili terkejut mendengar pertanyaan pelindung putra mahkota tersebut.


“Kau ini bicara apa? Memang inilah jalur menuju kerumah paman sandi” jawab pelindung putra mahkota shin ji yang telah berhasil mengejar mereka.


“Benarkah? Bukankah..


“Shin jo bodoh”maki penasihat putra mahkota yang telah berhasil menyertai “memang ini jalurnya, sudahlah, kau diam saja” lanjutnya lagi.


Putra mahkota mulai melirik teman-temannya “apa yang kalian lakukan disini?” Ia tampak kesal diganggu.


“Tentu saja berjalan-jalan” jawab Pelindung putra mahkota shin ji, lalu mempercepat gerakannya mengayu pedal.


Penasihat putra mahkota, memukul punggung atas putra mahkota, mengejutkan Zili yang berada tepat dibelakang laki-laki tersebut “kami duluan” ucapnya lalu bergerak laju kedepan.


“Hooi wanita,” suara Pelindung putra mahkota shin jo mengejutkan Zili, yang langsung menoleh kepala kesisi kanan putra mahkota “aku tunggu dirumah ya” lanjutnya lagi tersenyum begitu lembut kepada Zili. Membuat keterkejutan tersendiri bagi gadis itu yang sangat jarang mendapatkan perlakuan lembut sebelumnya apalagi senyuman tersebut berasal dari seseorang yang ia kira sangat membencinya.


Zili menganggukan kepalanya sembari membalas senyuman pelindung putra mahkota yang telah berlalu pergi mendahului mereka.


“Tu... tua....


“Hm”


Belum sempat ia memanggil, tampaknya putra mahkota telah menyadari panggilan gadis tersebut lebih dahulu.


“Kenapa anda bisa sangat dekat dengan teman....


“Karena aku juga teman Putra mahkota”

__ADS_1


Belum melanjutkan pertanyaan, tampaknya memang putra mahkota sangat ahli dalam membaca pikiran Gadis tersebut.


“Tuan...


“Benar, aku adalah temannya”


“Tuan...


“Aku tidak mengetahui dimana putra mahkota berada”


“Kema....


“Kerumah kakek putra mahkota”


Semua pertanyaan yang belum diajukan, telah dijawab putra mahkota dengan cepatnya.


“Kakek?”


Zili terlihat sangat penasaran, yang ia ketahui, kedua orang tua raja bayangan Xu idris berada dinegara indonesia, dan kedua orang tua ratu bayangan ou nana, berada diwilayah tenggara.


Putra mahkota tersenyum, ia menghentikan kayuan sepeda dan berhenti tepat diatas bukit yang paling tinggi.


Dari atas terlihat rumah-rumah penduduk, tambak-tambak, kandang, lautan, warna kuning bunga pohon cecidium.


Sungguh sangat indah bahkan saking indahnya tanpa disadari gadis itu, tetesan hujan mulai turun membasahi tubuh mereka berdua.


“Hu.. hujan?”


uCapnya sungguh terkejut.


Tetesan hujan yang sangat deras terlihat sedang bergerak menuju mereka. Putra mahkota menurunkan penyanggah sepeda. Membuat zili terpaksa turun darinya.


Putra mahkota turun dari sepeda, ia duduk diatas besi yang berada dibawah tempat duduknya.


Menggenggam handle sepeda dengan salah satu tangannya, dan tangan lain memegang Kursi tempat dia sebelumnya duduk.


Menahan sepeda dan merasakan tetesan air hujan mengguyur tubuhnya hingga poni rambut menutupi dahi.


Pandaangan mata Zili sontak berbinar-binar, dia sungguh mampu merasakan degup jantungnya yang semakin kuat. Berdiri disamping laki-laki tersebut, ia menundukan kepala.


Menyentuh dadanya yang bermasalah dengan kedua tangan yang ia genggam dan Merasa lumayan tertekan dengan keadaannya yang dianggap sungguh mengerikan karena memiliki degup jantung keras kepada laki-laki lain selain putra mahkota.


“dimasa lalu, kakek raja bayangan Xu idris pernah mengadopsi anak yang berasal dari Klan ann, dan anak tersebut merupakan ayah penasihat putra mahkota.” Jelas putra mahkota tersenyum sangat lembut menolehkan kepala kearah Zili yang masih tertunduk berada disampingnya.

__ADS_1


Zili mulai mengangkat kepalanya memandang mata putra mahkota, mata yang sangat familiar menurutnya, dan bahkan mata yang sangat ia rindukan.


Sungguh, gadis itu terlihat tidak ingin melepaskan tatapannya. Dia bahkan tidak sedikitpun mampu bergerak karena memandang tatapan lembut tersebut.


__ADS_2