
Seorang laki-laki tua memasuki ruangan yang dipenuhi jutaan buku dan sebagian dari buku-buku tersebut tampak tergeletak di atas lantai.
Satu persatu buku yang tergeletak ia kutip lalu setelah tangannya penuh, ia memasukan kembali buku-buku tersebut di dalam lemari yang berada di setiap sisi dinding ruangan.
Seorang laki-laki tua lain tampak duduk dengan menggerakan tangan yang memegang pena. Di sampingnya, seorang wanita tua tampak tertidur tenang bersandar di paha kaki laki-laki tua tersebut.
Seorang laki-laki tua yang kini telah selesai meletakan buku-buku di dalam lemari hanya bisa tersenyum pahit memandang wanita tua yang terus menerus bermanja dan tidak ingin terpisah dari laki-laki tua di sebelahnya.
Laki-laki tua dengan sedikit keriput wajah dan juga uban rambut.
Cinta, lagi-lagi membutakannya.
Orang itu bahkan telah sadar apa yang dia lakukan adalah salah, tapi lagi dan lagi karena perasaan cintanya yang begitu dalam, ia rela berpihak kepada musuh dan mengkhianati Cucunya sendiri demi menyelamatkan wanita tua yang ia cintai dari genggaman laki-laki tua yang duduk di sana.
Wajahnya yang lumayan berkeriput dan rambut uban yang memenuhi kepala terlihat di depan kaca lemari. Dia masih tersenyum kecut, pikirnya, Hanya otak sajalah yang saat itu ia gunakan demi melindungi cintanya dari penyiksaan.
“Dia begitu dilindungi Idris.” Laki-laki tua itu mulai membuka suara setelah berdiri sedikit mendekat laki-laki tua yang duduk di sofa tinggi dan panjang di depan meja.
“Kau mengetahuinya?” Laki-laki tua yang duduk itu sepertinya sangat marah.
“Dia benar-benar licik dan aku tidak menyangkanya.” Ungkap laki-laki tua yang berdiri tersebut sembari menutup pintu lemari dan mulai berjongkok sembari menyandar punggung di lemari belakangnya.
“Berpura-pura bodoh di depan orang-orang penting Negara lalu diam-diam memberikan perintah khusus ke orang-orang yang dipercayai dan setelahnya hanya bisa bersembunyi di belakang Idris. Heh, Dia benar-benar meremehkanku, Mana mungkin aku jatuh ke dalam permainan gadis labil sepertinya.”
Laki-laki tua melemparkan beberapa lembar dokumen ke depan temannya yang sedang berjongkok di sampingnya tersebut. “Mengepung Markas Yellow Sprayer di daratan bersamaan dengan memberangkatkan kapal perang menuju kapal Induk, Betapa hebatnya dia mampu mengecohkan perhatianku, aku yakin dia pasti menyadari bahwa aku menginginkannya karena sampai saat ini Shin juga tidak kunjung kembali membawa Remote Control.”
“Maksudmu dia memiliki mata-mata di kapal Induk?” Laki-laki tua yang berjongkok mulai membaca setiap tulisan di atas dokumen yang tertera di sana. “Kenapa tidak mulai saja percobaannya, bukankah Yuanna telah berada di genggaman tanganmu?” Ucapnya mengajukan pendapat karena mungkin dia sudah sangat lelah dengan rencana yang tak kunjung berhasil di lakukan.
“Dia mengatakan terang-terangan bahwa dia memiliki orang kepercayaan, Bukankah dia sengaja melakukannya agar aku percaya bahwa di kapal induk terdapat mata-mata?, dan lagi, Louise hanya ingin melakukan penelitian jika gadis itu yang menjadi bahan percobaannya.” Jelas laki-laki tua di kursi mulai menghentikan gerakan tangannya.
“Kenapa?”
“Entahlah, tapi aku tahu dia memiliki alasan tersendiri.” Melemparkan sebuah buku novel tebal untuk temannya. “Jalan pikiran laki-laki tua bangka itu tidak bisa di tebak.” Lanjut laki-laki tua mulai berdiri karena merasa gerah hingga membangunkan wanita tua di sisinya.
“Yuan, kau mau kemana?” Tanya wanita tua itu tampak tersiksa melihat kepergian laki-laki tua yang telah keluar ruangan tanpa menjawab pertanyaan darinya, Wajah sedih wanita tua itu, sungguh mampu menyayat hati laki-laki tua yang masih tetap berada di ruangan tersebut.
*******
__ADS_1
“Keluarlah wanita brengsek, Aku ingin berbicara denganmu.” Teriakan Putri Istana menggema di koridor Gedung Pusat Pangkalan Militer.
Sebenarnya Zili enggan keluar, namun dia merasa harus menyelesaikan masalahnya dengan Putri Istana sebelum melakukan tugas Negara esok hari.
“Zili.”
Pelindung Putra Mahkota Shin Jo terlihat cemas,
“ Tenanglah.” Gadis itu tersenyum pahit lalu berjalan dengan wajah pucat karena lelah melewati laki-laki itu.
Tubuhnya telah keluar dari pintu, dia melihat wajah marah Putri Istana di sana. “Kenapa kau melarangku bergabung dalam tugas penting ini?” Teriaknya marah sembari melemparkan surat larangan keikutsertaan dalam tugas Negara.
Zili tertegun, lagi-lagi dia menerima tuduhan yang bukan berasal dari dirinya.” Kau hanya akan merepotkan saja.” Ucap gadis itu apa adanya karena tidak dapat memikirkan jawaban lain. Sungguh ucapannya semakin membangkitkan emosi gadis di hadapannya.
“Brengsek..”
“Yu’A.” Gadis yang marah mulai mengangkat tangan tanpa mempedulikan larang Pangeran Xu yang saat itu sedang berlari cepat menghampirinya.
“ha..” Mata Putri Istana membelalak ketika kepalan tangan yang akan mendarat di wajah Zili berhasil ditepis oleh gadis itu.
“ Kalah?, Kau..” Geram, Putri Istana mulai bergerak cepat menendang namun tendangannya berhasil dihindari Zili dengan bergerak mundur dan masuk ke dalam ruangan. “Sejak kapan aku bertarung melawanmu?”
“Dipinggir jalan, Wanita yang pernah kau halangi jalannya di masa lalu bersama Putri Kecantikan, Apakah kau ingat?”
“ Tanpa Nama?” Putri Istana mulai menggertakan gigi geram, mengingat dengan baik bahwa Zili memanglah gadis dengan wajah berbeda di masa lalu. “ Mana mungkin aku melupakan penghinaanmu.”
“Mungkinkah kau ingin aku mengulangi kembali penghinaan itu disini?, Di depan begitu banyak Prajurit Militer Negara?” Ancam Zili memandang lekat mata marah Putri Istana. “ Tutup Pintu!”Gadis itu memberikan perintah kepada penjaga pintu yang tadinya sempat menghindari tempat tersebut. “Aku tidak ingin diganggu karena besok, Tugas besarku akan dimulai.” Lanjut gadis tersebut lalu memandang Mata Pelindung Putra Mahkota Shin Jo yang tidak percaya mendengar percakapan yang tadinya sedang berlangsung.
“Jadi Kau Tanpa Nama ya?”
“ Jadi Kau baru tahu ya?, padahal semua orang telah mengetahuinya.”
Jawab Zili sembari mulai duduk di kursi kerja dan mengerjakan tugas-tugasnya kembali.
“ Saat itu aku sedang bertugas,” Jawab laki-laki itu mulai duduk di sofa ruangan tersebut. “Padahal dulu aku sangat tidak menyukaimu dan selalu memanggilmu WANITA, tapi karena kau adalah Tanpa Nama, maka saat ini, aku semakin menganggumi kehebatanmu.” Puji laki-laki tersebut sembari mulai meraih ponsel yang berbunyi dan menerima panggilan.
*******
__ADS_1
Kapal besar sekalipun terlihat kecil jika berdekatan dengan Kapal sebesar pulau, apalagi kapal-kapal perang di sekitarnya. Kapal-kapal itu tampak seperti sebuah Sampan Nelayan yang berlayar dan mengapung di atas Air.
Dia berdiri menatap jauh ke atas kapal yang begitu besar di lautan luas samudra pasifik seperti memandang atap gedung bertingkat yang menjulang tinggi.
Di atas bangunan atap kapal induk besar yang ia tumpangi, Zili meraih teropong dari tangan Pelindung Putra Mahkota Shin Jo, Menggunakan benda itu untuk melihat tanda-tanda keberadaan musuh dari jauh.
Wuuuzzzzzzz....
Angin laut yang berhembus kencang mampu menerbangkan topi di kepala gadis itu. Dengan segera laki-laki yang tadinya berdiri di samping Zili, bergerak cepat mengejar topi yang terbang itu.
Suara kapal yang begitu menggelega terdengar hingga menusuk telinga.
“Kau melihatnya?” Tanya Pelindung Putra Mahkota Shin Jo sedikit keras, mengingat bahwa angin mampu menghilangkan suaranya dengan cepat.
Tangannya gemetaran, begitupula dengan tubuhnya.
Jauh di balik teropong, gadis itu memandang seorang laki-laki yang tampak berdiri di tepi atap kapal dan terlihat membalas pandangannya.
Air matanya mengalir deras,
Laki-laki itu seolah-olah mengetahui bahwa gadis itu, saat ini sedang memandangnya dari kejauhan.
Angin kencang menggerakan jubah putih laki-laki tersebut.
Tangannya masuk ke dalam kantung celana hitam yang ia kenakan. Rambut hitamnya bergerak acak-acakan meskipun demikian, hal itu tidak sedikitpun mengurangi ketampanan wajahnya.
Perlahan-lahan Perisai Kapal Induk besar yang terbuat dari kaca mulai menutupi tubuh laki-laki itu. Sayatan hati masuk ketika laki-laki tersebut mulai bergerak pergi dari tepian kapal.
Taaaakkk..
Teropong jatuh, ia Menghapus air mata. “Shisou, Tunggu aku.” Ucapnya mulai bergerak menuruni atap kapal induk yang ia tumpangi, “C-Texchi.” Lalu memanggil Kendaraan udaranya sembari meraih sebuah senjata dari tangan seorang Prajurit Militer di sana.
*******
Putra Mahkota berjalan menjauhi tepi kapal diikuti oleh puluhan orang di belakangnya.
Ia mulai tersenyum senang. “ Let’s Play This Game.” Gumamnya pelan sembari terus berjalan menuju ke gedung utama pusat kota di atas kapal bersamaan dengan atap-atap kaca yang mulai menutup.
__ADS_1