
“ Shin’A membawa Zili kearah selatan..” teriak Pelindung putra mahkota dari balik headset miliknya. “Dia berniat membawa lari Zili bersamanya..” lanjutnya lagi ketika tidak bisa mengejar pangeran istana yang telah pergi membawa Zili dengan texchi miliknya.
“Apa..!” Ucapan Pelindung putra mahkota mengejutkan Ratu negara yang masih berada diudara.
“15 menit telah berlalu yuanna..” ucap putra mahkota terlihat tak lagi dapat menahan kesabaran.
Melemparkan headset miliknya untuk putra mahkota “aku akan memberitahukan keberadaan Zili untukmu” ucapnya setelah headset diraih putra mahkota “5 menit saja cukup untuk mengembalikan Wanita milikmu jadi..” memandang sedih kearah putra mahkota yang terlihat tidak memiliki belas kasih “Sabarlah sebentar saja” pinta wanita itu melanjutkan kalimatnya.
“Yuanna..” panggil Ratu bayangan ketika Ratu negara mulai menapakan kaki diatas texchi miliknya lalu pergi kearah wilayah selatan, mengejar kepergian Pangeran istana.
*********
Perlahan-lahan mata terbuka,
Kencangnya angin kadang-kadang membuat matanya tertutup kembali.
Lalu membukanya ulang lagi.
Samar-samar ia melihat wajah pangeran istana terlihat memandang kearah depan begitu Serius.
“Shin’A..” panggil Zili yang masih berada diatas kedua tangan pangeran istana.
Tersenyum lembut memandang zili “kau sudah bangun..?”
“Hiks.. hiks..” mulai meneteskan air mata lagi “percayalah Shin’A, aku adalah zili..”
“Aku percaya padamu.” Jawab cepat pangeran istana “Mulai sekarang aku akan selalu mempercayaimu, Zili..” lanjut laki-laki tersebut meyakinkan gadis diatas kedua tangannya.
Menjatuhkan air mata semakin deras “haa hiks hiks.. benarkah..?” tanya gadis itu begitu bahagia.
“Tentu saja” jawab pangeran istana mulai menurunkan Tubuh Zili diatas punggung texchi miliknya untuk membersihkan darah dimulut gadis tersebut dan juga Luka diwajahnya.
Melihat kearah sekelilingnya “kita dimana..?” tanya gadis itu kebingungan ketika tangisannya berhenti, memandang kebawah yang tak terlihat lagi perkotaan, melainkan hanya hamparan rerumputan Luas yang dipenuhi dengan bunga-bunga kapas Liar.
Meraih Wajah Zili setelah mengambil sapu tangan dikantung celana, “tentu saja berkeliling..” jawab pangeran istana sembari membungkukkan tubuh, mulai menyentuh wajah Zili yang telah berada didepan pandangan matanya.
“Akh..” mengerang kesakitan “berkeliling....? Akhh” tanya gadis itu ketika sapu tangan telah membersihkan darahnya yang mengering.
Memeluk Zili cepat hingga mengejutkan gadis itu “bukankah aku telah berjanji padamu akan membawamu berkeliling mengendarai texchiku...?” Ucap pangeran istana mengingatkan “sekarang aku telah menepati janjiku” ucap laki-laki itu mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
“Tapi aku tidak membawa tiket itu bersamaku..” jawab Zili, merasa canggung berada dipelukan pangeran istana.
Melepaskan pelukannya “kau bisa menggunakan tiket itu untuk meminta apapun kepadaku nanti.” Jawab pangeran istana memandang lekat mata gadis itu “bukankah hari ini adalah hari Ulang tahunmu..?” tanya laki-laki itu mengejutkan Zili.
“Bagaimana kau bisa tahu.. ?” ucap Zili sontak bertanya.
Masih tersenyum lembut “mulai sekarang, aku akan menggantikan Xu’i untuk membahagiakanmu” kalimat pangeran istana sungguh membingungkan gadis itu hingga ia mengernyitkan dahi Tanda merasa Aneh dengan ucapan laki-laki dihadapannya.
“Shin’A..” panggil Zili, “ada apa denganm......
“Shin’A..” suara seseorang mengejutkan kedua orang yang berada diatas texchi ular naga, suara yang sangat dikenal oleh kedua orang tersebut, suara yang sama-sama dirindukan oleh kedua orang tersebut dan suara yang sangat disayangi oleh kedua orang yang kini telah menghadapkan tubuh memandang pemilik suara tersebut.
Memandang lekat “ibu..” panggil pangeran istana.
“Kembalikan..” perintah ratu negara yang telah berdiri diatas texchi miliknya diikuti oleh beberapa pejabat tinggi negara diudara yang mulai mengelilingi pangeran istana “kau ingin Xu’i menghancurkan negara ini ya..?” bentak Ratu negara marah Kepada putranya.
“Tidak mau..” tolak pangeran istana semakin menambah kemarahan wanita dewasa dihadapannya,
Merasa kebingungan karena tidak memahami Ucapan kedua orang tersebut, dan mengira bahwa pangeran istana mungkin telah mencuri benda kesayangan milik putra mahkota, Zili hanya diam tidak mampu memberanikan diri untuk berbicara.
“Turun..” bentak Ratu negara memerintah, mata nya terlihat begitu merah, untuk pertama kalinya Zili memandang wajah marah dari Ratu negara yang selama ini ia ketahui sangat ceria. “Turunkan dia, Shin’A..” bentak ulang ratu negara ketika pangeran istana tidak juga bergegas melaksanakan perintah.
Dia,..?
Mungkinkah Dia yang disebut itu aku..?
Tebaknya mulai menyangka-nyangka.
“Maaf...” tolak keras pangeran istana.
“Kau harus mempertanggung-jawabkan semua kesalahanmu Shin’A...” suara Penasihat raja menegunkan pangeran istana hingga terasa gigilan ditubuhnya.
“Kesalahan.. ?” memberanikan diri membuka suara, Zili mulai memandang kearah pangeran istana disampingnya.
Menghela nafas berat “baiklah..” jawab Pangeran istana menyetujui, mulai menurunkan texchi miliknya.
“Kesalahan apa...?” mulai membelalak mata mengingat perkataan Atlet bola basket kebanggaan negara saat mengantarkan ia kembali ke Apartemennya dari desa Lu “jangan-jangan...” nafas gadis itu mulai terasa berat “tidak boleh, ..” ucapan Zili mengejutkan semua orang disana “Aku sudah memaafkan shin’A...” ucap Zili kepada ratu negara “yang muli...” menggelengkan kepala “maksudku Ibu..” panggil gadis itu menyenangkan sedikit hati Ratu negara yang tadinya piluh dan marah “jangan Hukum Shin’A, aku mohon..” pinta gadis itu teramat memohon.
“Tapi dia telah merencanakan pembunuhan kepadamu didesa Xu 50, dan juga...” tersenyum getir menundukan kepala “dia telah mengkhianati negara dengan bergabung menjadi bagian dari anggota Musuh” Lanjut ratu negara.
__ADS_1
“Dia akan menerima hukuman tembak mati.” Penasihat raja mulai membuka suara lagi, mengejutkan zili yang langsung membelalak mata.
“Tidak boleh..” larang Zili “tidak boleh,..” lanjutnya lagi mulai berbalik, menghadap kearah pangeran istana “katakan Shin’A, kau pasti memiliki Alasan tertentu bergabung pada musuh, iyakan..?” Pinta Zili menggenggam lengan Pangeran istana dan menggoyangkannya, meminta laki-laki itu untuk menjawab permintaannnya.
“Aku mengakui kesalahanku..” jawab pangeran istana ketika texchinya telah mendarat diatas rerumputan Kapas Liar yang terinjak kendaraan udara tersebut “aku ...” menghela nafas lega “menerima hukuman mati dari negara” lanjut laki-laki itu semakin mengejutkan Zili, menggetarkan hatinya hingga degup jantungnya tak lagi mampu ia kendalikan.
“Shin’A..” teriak Zili tidak terima. “ibu..” mulai mengalihkan pandangan, tetapi gadis itu terkejut karena ratu negara terlihat tidak mempedulikan putranya sendiri.
“Tangkap dia..” perintah ratu negara kepada para pejabat tinggi negara yang juga telah mendaratkan texchi-texchi mereka dan bergerak menaiki texchi milik pangeran istana untuk membawa laki-laki tersebut ke istana negara NC. “turunlah..” perintah wanita itu lagi kepada Zili.
“Tidak mau...”
“Turun...” bentak ratu negara Untuk pertama kalinya kepada zili.
MEnitihkan air mata, mendengarkan perintah, dan mematuhinya.
“Shin’A..” panggil Zili yang telah menapakan kaki didaratan sembari menghadap kearah pangeran istana yang telah menatap lembut kearah gadis itu dan perlahan-lahan naik keudara diikuti semua orang disana.
“Maafkan aku Zili.” Ucapnya masih tersenyum memandang zili dari atas.
“Hiks hikss.. “ tangisan gadis itu pecah,
Semua orang kini telah meninggalkannya, terbang keudara, begitupula dengan ratu negara yang telah membawa putranya pergi menuju istana.
Wuuuuzzzzz...
Sayup-sayup angin menerbangkan bunga-bunga kapas Liar,
Seseorang tiba-tiba muncul dari udara tepat dihadapan Zili.
Angin berhembus kencang menerbangkan rambut gadis itu.
Menatap mata laki-laki dihadapannya penuh kerinduan.
Hiks hiks hiks.
Tangisannya pecah, sepecah-pecahnya.
“SHISOU...” Panggilnya sangat merindukan putra mahkota yang telah muncul dengan wajah Aslinya.
__ADS_1
Tersenyum lembut memandang Zili yang sedang menangis “aku kira aku akan mati karena kehilanganmu.” Ucap putra mahkota dengan mata merah, menahan air mata jatuh membasahi pipi karena kerinduannya yang mendalam kini telah terobati.
TAMAT.