
Cahaya matahari tak menembus tanah karena lebatnya dedauanan pohon ditengah hutan. Suara nyanyian burung burung terdengar menenangkan begitupula dengan suara jangkrik yang berdenging menambah ketenangan hati semua orang yang berada disana.
Meskipun demikian, sepertinya, Zili merasa tekanan yang begitu dalam. Tubuhnya sangat sakit, dia mengira mungkin hal itu terjadi akibat dorongan pangeran istana sehari yang lalu.
Terus berjalan meninggalkan desa terisolasi, membawa rasa sakit yang begitu dalam bersamanya. Zili melangkah tegak menahan rasa karena tidak ingin membebani orang-orang disekitarnya.
“Lama sekali....
Sindir putri istana yang terlihat masih marah, meskipun demikian, gadis itu tidak lagi membenci terlihat dari sindirannya dan juga bagaimana ia tetap berbicara meskipun tidak menyukai zili.
Gadis itu berdiri menghadap Zili sembari Mengulurkan tangannya “sini aku bantu” tawarnya membuat tercengang gadis yang tadinya ingin mengucapkan kata maaf. “kenapa kau terlihat sangat kesulitan berjalan, apa mungkin salepnya tidak berfungsi?” tanya nya pada Zili dan juga pada dirinya sendiri setelah zili memberikan tangannya kepada Putri istana yang lalu menopang tubuhnya.
Tak jauh dibelakang Zili, pangeran istana berjalan sembari memandang punggung gadis itu. Pagi itu, ia yang tidak sengaja mendengar secara langsung pengakuan zili untuk putra mahkota merasa Sangat kesal. Entah mengapa, tetapi begitulah perasaan yang ada didalam hati laki-laki remaja bermata sedikit sipit tersebut.
Putra mahkota melewatinya diikuti pangeran Xu sementara raja dan ratu istana berada didepan mereka, berjalan dengan canda dan tawa seperti mereka yang biasa. Pangeran istana tersenyum getir disiang hari yang penuh dengan Pepohonan melihat mereka. Lalu kembali mengalihkan pandangannya kepunggung Zili.
Masih menahan sakit yang tiba-tiba semakin menguat, bukan hanya bagian perutnya, Zili bahkan merasakan panas serta dingin. Keringat gadis itu bercucuran jatuh deras, membasahi kaus kasual simpel yang dikenakan.
Putri istana merasa aneh, ia melihat Zili mengernyitkan dahi berkali-kali “apa kau baik-baik saja?” tanya nya yang sangat penasaran.
Zili menoleh kepala melihat putri istana yang sedikit agak tinggi darinya, ia menatap mata gadis itu lalu tersenyum “tenang saja yang mulia” ucapnya menenangkan hati putri istana.
Putra mahkota sengaja memperlambat jalan nya, begitu pula dengan Dua laki-laki yang hampir sebaya dengannya. Mereka menjaga ratu dan raja mereka dari sisi belakang.
Waktu terus berlalu, berjam-jam berjalan hingga matahari mulai terbenam. Selama itu pula zili menahan sakitnya yang begitu kuat. Dia sangat tidak ingin lemah dihadapan putra mahkota.
Kepalanya mulai pusing, meskipun sudah minum diperjalanan, tetap saja gadis tersebut merasakan haus yang teramat dalam tetapi tidak ingin meminta bagian orang.
Pagar terlarang telah terlihat, Akhirnya perjuangan Zili menahan sakitnya hampir berakhir.
Seoraang wanita cantik, sangat mempesona mendatangi mereka.
__ADS_1
“Ayya” teriak Putri istana lalu melepaskan bantuannya untuk Zili.
Putri istana berlari memeluk bibinya yang sebaya “aku merindukanmu” ucap putri klan Lu kepada putri istana setelah berada dipelukan.
Semua orang berhamburan datang mendekati mereka. Seperti Shin ji, shin jo, sandi dan Aura yang mendatangi putra mahkota.
Ataupun Zi ruan dan Shin sura mendatangi pangeran istana. Begitupula dengan pengawal ratu dan raja yang langsung datang menghadap untuk menunjukan mobil yang akan mereka naiki.
Dan lu ayya yang langsung mendatang pangeran Xu setelah puas memeluk putri istana begitupula dengan pengawal yang biasa menjaga pangeran Tersebut.
Kecuali Zili, semuanya tampak menyambut kedatangan keluarga kerajaan. Zili menghembuskan nafas berat, ia terus berjalan tanpa bantuan keluar pagar terlarang, pagar ketat yang dijaga dua ekor anjing ganas yang kini telah berada didalam kurungan. Pagar yang memisahkan daerah terisolasi dengan daerah penduduk lainnya.
Pandangan mata zili sejenak menatap putra mahkota. Dia tersentak, rasa cemburu mengisi relung hatinya ketika melihat Putra mahkota bisa tersenyum lembut berbicara dengan seorang gadis cantik dan mungil.
Gadis tersebut terlihat tinggi namun kurus. Ia bahkan sangat manis menurut pandangan Zili.
Ya, zili mengenalnya.
Gadis muda tercerdas yang terkenal hingga keluar negeri. Gadis yang sering masuk didalam televisi sebagai pembawa acara khusus bagi keluarga kerajaan tersebut memang sangat dekat dengan putra mahkota.
Siapapun mengetahuinya!
Bahkan banyak dari penggemar putra mahkota yang menginginkan mereka bersama. Setiap putra mahkota berada didalam siaran televisi, zili selalu melihat Gadis itu bersamanya.
Senyuman getir penuh kepahitan mengembang tanpa disadari. Zili terus berjalan menahan rasa pusing yang begitu hebat.
“Selamat datang kembali yang mulia” sambut seseorang didepan mata Zili.
Zili memandang nya deengan mata berbinar-binar.
Ternyata, masih ada satu orang yang menyambut kedatangannya.
__ADS_1
“Uhuk.. uhuk.. uhuk..” zili menutup mulutnya karena rasa gatal dalam tenggorokan tak tertahan. Betapa terkejutnya pelindung putri mahkota yang melihat darah mengalir dari mulut zili.
UHuk... lagi darah itu terus muncul.
“Yang mulia” teriak Sun shin Sa’i, pelindung putri mahkota sembari berlari cepat sebelum Zili jatuh keatas tanah karena rasa pusing yang tak lagi tertahankan.
Belum sempat pelindung putri mahkota menahan, seseorang telah terlebih dahulu meraih tubuh Zili.
Seseorang yang sedari tadi memperhatikan gadis itu. Seseorang yang sangat memahami bahwa dia sedang dalam keadaan sakit sedari tadi namun tetap mengabaikannya karena rasa kesal didalam hatinya.
Pangeran istana, kini telah mengangkat tubuh Zili bersamanya. Ia berdiri dihadapan putra mahkota yang telah menghalangi jalannya.
Raja dan ratu terlihat sangat khawatir, suasana ketegangan tiba-tiba datang.
Ratu negara mencoba menghampiri namun dihalangi raja negara karena akan semakin menambah kekacauan.
“Berikan” pinta putra mahkora kepada pangeran istana yang masih membawa tubuh Zili yang sudah tak sadarkan diri.
Pangeran istana memandang lekat “dia milikku” ucapnya mengejutkan semua orang, bahkan Lu ayya, putri klan Lu hampir sesak nafas mendengar ucapan pangeran istana.
Putra mahkota tersenyum kecut “kau telah membuangnya dan aku mengambilnya, jadi sekarang dia adalah milikku” ucap putra mahkota membuat amarah banyak gadis disana memuncak.
Mata putri keagungan dan Putri Klan Lu memerah. Mereka bahkan sampai menggenggam erat kedua tangan mereka benci. Disisi lain, putri istana tampak ingin menangis, ia menggigit bibir bawah hingga terluka.
Pangeran istana menyingkirkan tangannya bahkan sampai melangkah mundur ketika putra mahkota akan mengambil paksa tubuh Zili. “tadi pagi kau juga sudah membuangnya” ucapnya masih tidak ingin memberikan tubuh zili. Ia lalu berjalan menghindari putra mahkota.
Putra mahkota menghentikan langkah pangeran istana dengan menggenggam siku tangannya “bukankah dia adalah istriku?, sepertinya kau harus dihukum karena sengaja menyentuh tubuh putri mahkota, pasangan dari putra mahkota yang dicintai rakyatnya.” putra mahkota berhasil mengambil tubuh Zili, meraihnya dari tangan pangeran istana yang terdiam membisu mendengar ucapan saudaranya tersebut.
Tidak terima, matanya bahkan sampai memerah “ternyata putra mahkota menyukai barang bekas” sindirnya penuh amarah memandang punggung putra mahkota yang telah berjalan menjauh.
Putra mahkota menatap miris Zili yang sangat kesulitan bernafas. Ntah apa yang dia pikirkan namun tampaknya ia sangat marah kepada dirinya sendiri “tentu saja sekarang aku menyukai, karena barang bekasmu ini sangatlah berharga”
__ADS_1