
Tuuuuuuuuuuuuttttttt
Suara Kereta api mulai terdengar dari jauh,
Diantara kepanikan oraang-orang yang tampak sedang memegang buku dan berdiri memandang punggung laki-laki yang tetap melangkah kaki dipinggir rel kereta api,
Diantara ketegangan yang saat itu sedang terjadi hingga membuat mata orang semua terbelalak ngeri.
Zili mulai berlari,
Bergerak cepat menuju putra mahkota yang saat itu sedang melangkah kaki.
Melompati palang portal lalu menahan tubuh putra mahkota untuk terus melangkah dengan menggenggam kedua tangan dibesi palang tepat dibelakang punggung putra mahkota.
Tubuh putra mahkota terus bergerak, tenaga Zili bahkan tak kuat lagi menahan dada laki-laki tersebut karena terus melangkah,
Perlahan-lahan tangan gadis itu terlepas dari besi palang portal.
Memejamkan mata,
Memikirkan cara agar Laki-laki didepannya berhenti berjalan.
Mulai berjongkok.
“Tolonglah tolong.....” memeluk kaki putra mahkota dengan seerat-eratnya, mengejutkan laki-laki tersebut hingga menghentikan langkah kakinya karena terkunci erat dipelukan Zili. “Tolonglah siapa saja bantu aku menghentikan Suamiku yang ingin bunuh diri karena aku selalu menyakitinya” teriak Zili sontak membuat semua orang bergegas menarik lengan, bahu bahkan kemeja basah laki-laki tersebut dari belakang “maafkan aku sayang, maafkan aku...” teriak Zili masih memeluk Kedua kaki putra mahkota dengan menengadah,
Membingungkan laki-laki pengena earphone yang telah menunduk melihatnya bersamaan dengan Kereta api yang telah bergerak melewati mereka.
Menghempaskan semua tangan orang-orang yang menggenggamnya hingga beberapa orang mulai berjatuhan, “kau...” memandang kesal kearah Zili yang membalas pandangannya “apa yang kau lakukan..?”
Zili tersenyum tanpa merasa bersalah.
Dia menghela nafas lega melihat putra mahkota telah membuka suara kepadanya setelah sekian lama berbicara sendiri yang dianggap gadis itu seperti orang gila. “huh,..” hembusannya, lalu melepaskan kaki putra mahkota “syukurlah...
Haaaaaa.....
Geram,
Belum selesai ia berbicara, putra mahkota telah menendang gadis itu terlebih dahulu hingga tubuhnya jatuh terbaring diatas rel kereta api,
Luar biasa.
Ucap Zili mulai berdiri, menahan rasa sakit terluka karena tubuhnya menabrak besi rel kereta api.
__ADS_1
Pantas saja gajiku semahal ini, ternyata memang sangat sulit untuk menjaganya.
Gumam gadis itu lagi, menggenggam salah satu lengan atas dan perlahan-lahan melangkah.
Palang portal telah terbuka, semua orang tampak berhamburan lari menghampiri Zili, bahkan ada beberapa orang laki-laki dewasa yang mencoba bergerak menghampiri putra mahkota karena merasa laki-laki tersebut telah bertindak kelewatan batas terhadap istrinya.
Dengan cepat Zili melangkah mendekati mereka yang akan menghampiri putra mahkota lalu melentangkan kedua tangan.
“Kenapa kau menghalangi kami memberi peringatan kepada suamimu..?” tanya seorang dari mereka tampak sangat kesal memandang punggung putra mahkota dari jauh.
Seorang lain mulai memandang Zili setelah sebelumnya ia memandang kesal kepunggung putra mahkota “ kenapa dinegara ini masih ada suami kejam seperti dia...?” tanya nya teramat geram ketika mengingat perilaku laki-laki tersebut menendang Zili hingga terpental ke rel kereta api.
Zili menghela nafas sejenak, lalu menurunkan kedua tangannya “itu karena aku dulu yang selalu berbuat jahat padanya..” jawab gadis itu berbohong, “akulah satu-satunya orang yang kejam kepadanya” lanjut gadis itu mulai menundukan kepala begitu sedih.
Raut wajah sedih gadis itu sontak mengejutkan semua orang yang melihatnya “benarkah.. ?” tanya seorang wanita yang tampak menutup bukunya.
“Hmm” angguk Zili “dia sangat mencintaiku hingga begitu menderita, sementara aku malah mencintai laki-laki lain” ucap gadis itu lalu mengangkat kepala, terlihat begitu menyedihkan hingga membuat semua orang merasa iba.
Seorang lainnya mulai mendekati Zili “kalau dia mencintaimu, kenapa dia bisa berbuat setega itu dengan menendangmu hingga jatuh...?”tanyanya mengejutkan Zili yang mulai kebingungan mencari jawaban untuknya.
Mulai mengernyitkan dahi “itu karena aku selalu melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga kepadanya ketika kami berada dirumah” jawab Zili tiba-tiba, karena dia baru saja mendapatkan ide untuk meyakinkan mereka.
Orang tersebut tampak tidak mempercayainya “tetap saja tenagamu tidak sekuat tenaga suamimu tadi “ ucap orang tersebut mulai melangkah kaki mengejar putra mahkota yang masih terlihat dipandangan mata.
“Aku tidak percaya...
Paaaaaaakkkkk..
“bagaimana..?” Tanya Zili setelah menampar pipi laki-laki dihadapannya sekuat tenaga hingga membuat mulut laki-laki tersebut berdarah.
Mulai menoleh kepala setelah tadinya beralih karena tamparan Zili “se..se..sepertinya tulang leherku patah..” ucap laki-laki tersebut mengejutkan semua orang disana.
Tanpa merasa bersalah karena telah memukul laki-laki dihadapannya “benarkan, tenagaku sangat kuat” ucap gadis itu meminta keyakinan “sudahlah ya,” ucap Zili mulai membungkuk berterima kasih “terima kasih telah membantuku,” lalu menegakan kembali tubuhnya “sekarang aku ingin merayu suamiku dulu” lanjut gadis itu kemudian berbalik, lalu melangkah kaki, meninggalkan semua orang dengan keterkejutan mereka yang mendalam karena masih merasa belum mempercayai perkataan gadis itu.
********
Berlari cepat hingga berhasil mengejar putra mahkota,
Ia mulai melangkah beriringan kembali dengan laki-laki itu.
Memandang jalanan kota sembari menghirup udara kotornya, Lalu berputar sejenak.
Pikirnya,
__ADS_1
Sudah lama ia tidak kembali ketempat tersebut dan merasakan suasana kota dimana ia biasanya menghabiskan waktu masa lajang sebelum menikah.
Mengingat halte bus tempat ia biasa menunggu untuk pergi kesekolah high raise di Kota sebelah, willayah barat daya desa Sun, melihat bayang-bayangannya yang dulu selalu sendirian ketika pergi kemana saja serta mengingat keseharian hidupnya yang begitu hampa.
Masih bisa tersenyum bersyukur meskipun ia kehilangan dirinya sendiri dan juga putra mahkota serta ayah lalu keluarga kerajaan, karena hatinya tidak lagi sehampa dimasa lalu dan juga didalam hatinya terdapat rasa Cinta serta kenangan-kenangan berharga.
dia berpikir, hidupnya saat itu sungguh lebih baik meskipun kehilangan semua orang.
Terus melangkah kaki bersama putra mahkota yang sedari tampak diam saja, gadis itu mulai memandaang apartemen tempat tinggalnya dulu disebrang jalanan raya.
Aaahhh,
Gumamnya,
Jika ia kembali kesana, mungkin saat itu musuh akan mengetahui keberadaannya.
Pikirnya,
Lebih baik dia tetap menjadi seorang pelayan biasa diapartemen laki-laki yang mencintainya, dan bertanggung jawab setidaknya hingga keadaan laki-laki tersebut menjadi lebih baik.
Terus melangkah, hingga menaiki tangga jembatan penyebrangan,
Mengernyitkan dahi kebingungan, tetapi tetap mengikuti langkah kaki putra mahkota.
Terus berjalan menuruni tangga penyebrangan,hingga langkahnya terhenti didepan gedung tua yang sangat ia kenal.
Apartemenku.
Gumam gadis itu dalam hati,
Lalu mulai melanjutkan langkahnya sembari meneteskan air mata lalu dengan cepat menghapusnya.
Ternyata dia juga tinggal disini.
Lanjutnya lagi bergumam seembari bergerak cepat mengikuti langkah putra mahkota.
Mulai memasuki gedung tua tersebut,
Berjalan menaiki anak tangga karena laki-laki disampingnya tampak tidak berniat untuk menggunakan Lift disana.
Lalu berhenti didepan sebuah pintu yang sangat dikenalnya.
Jadi Apartemenku telah dijual kepadanya.
__ADS_1
Tetesan air mata mengalir begitu deras karena baru mengetahui bahwa tempat tinggalnya selama ini telah dijual oleh ayahnya selama ia pergi.