
Cahaya matahari pagi menerangi sebagian tubuh mereka. Dinginnya embun perlahan-lahan mulai sirna.
Ragu-ragu ia mengangkat kepala, Dia menyadari kembali bahwa jantungnya telah berdetak tak terkira.
Saling memandang, mata yang sangat ia rindukan berada di depan mata. Entah mengapa mata tersebut begitu familiar dan sangat dikenalinya.
“Haa...”
Matanya tiba-tiba menutup, “Kenapa kau menutup mataku?” Tanya gadis itu ketika satu tangan laki-laki di hadapannya memegang kedua mata gadis di depannya.
Tatapannya sangat lembut, tetapi sayang gadis itu tidak dapat melihatnya. “Bukankah kau bilang hanya ingin dicium suamimu saja?, maka anggap saja saat ini yang akan menciummu adalah suami sendiri.” Ucapnya masih memegang kedua mata gadis yang tertutup tersebut.
Perlahan-lahan tubuhnya membungkuk, wajahnya mendekati wajah gadis di hadapannya. “Tidak mau,” Nafas gadis tersebut masuk ke dalam rongga hidung, dan sepertinya di menyukainya. “Aku akan menutup mata, tapi aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai Putra Mahkota karena tidak akan ada yang bisa menyamai Putra Mahkota di dalam hatiku.” Kalimat gadis itu lagi dan lagi mampu membuat laki-laki tersebut hampir tertawa. Raut wajahnya juga terlihat begitu senang.
“Baiklah, aku akan melepaskan tanganku, tapi berjanjilah kau tidak akan membukanya, Jika kau membukanya maka aku tidak akan pernah membawamu pergi.”
“Baiklah, tapi sebutkan dulu alasan kau menutup mataku?” Tanya ulang gadis tersebut tampak enggak menutup mata.
Masih tetap menutup mata gadis itu. “Karena aku tidak ingin kau mengkhianati Xu’i.” Jawab laki-laki tersebut mengejutkan gadis itu hingga kelopak matanya mulai bergerak membuka namun tertahan oleh tangan laki-laki tersebut.
“Bagaimana ini? Mungkinkah saat ini aku sedang mengkhianati Putra Mahkota lagi?”Gadis itu mulai khawatir, perasaannya berkecamuk penuh dengan rasa bersalah.
“Jadi bagaimana? Kau mau tidak?” Tanya laki-laki tersebut memastikan.
Diam, cukup lama. Saat itu gadis tersebut terlihat sedang berpikir keras. Di antara dua pilihan, bertemu tapi mengkhianati atau tetap berada di NC dan mengatur rencana untuk menemuinya nanti. “Aku...”
“Ya sudah, hentikan saja niatmu untuk ikut.” Perlahan-lahan laki-laki tersebut melepaskan tangan dari mata gadis itu. Lalu tiba-tiba ia menutupnya kembali. “Bisa saja saat ini Xu’i dalam bahaya atau mungkin tubuhnya digunakan untuk melakukan percobaan, ahh jika terlambat bergerak, Xu’i mungkin akan berubah menjadi Human Machine.” Laki-laki itu mulai menakut-nakuti.
Gadis tersebut mulai mengingat masa lalunya ketika ia masih bayi. Ia yang mendengar bahwa tubuhnya pernah digunakan untuk bahan percobaan seketika itu mulai ketakutan. “Baiklah, lakukan saja Tuan.” Segera ia menjawab pertanyaan, keyakinan hatinya mulai teguh kembali. Dia, sungguh sangat ingin menyelamatkan Putra Mahkota.
Laki-laki itu tersenyum geli, dia memang sangat nakal jika hal tersebut berhubungan dengan gadis di hadapannya.
Saat itu ia tampak menelan salivanya, sungguh, awalnya dia tidak berniat untuk mencium gadis tersebut tetapi ketika wajah mereka telah saling mendekat, Hasratnya sebagai seorang laki-laki mulai bangkit dan tidak mudah untuk mengendalikannya ditambah lagi gadis tersebut tidak menolak keinginannya.
“Jangan membuka mata atau perjanjian kita batal!, kau paham?” Tegas laki-laki itu lagi,
“Hm.” Angguk gadis tersebut mengiyakan.
Tangannya ia lepas dari mata, meraih sesuatu dari balik pakaiannya, sebuah botol yang berisi minyak zaitun tampak berada digenggaman tangan.
__ADS_1
Menuangkan minyak ke tangan lalu menggosok wajah, seketika topengnya terbuka dan memperlihatkan wajah Putra Mahkota, Xu Xu’i.
“Tuan, kenapa kau lama sekali?”
“Aku juga butuh persiapan untuk menciummu.”
Aroma segar minyak Zaitun masuk ke dalam rongga hidung gadis tersebut. Namun sayang, gadis yang belum belajar tentang tumbuh-tumbuhan dari Klan Ou, tidak mampu menyadarinya.
Detak jantung keduanya terdengar berdegup kencang.
Dag dug dig dug...
Setelah menyimpan botol minyak dan mengusap tangan yang berminyak dengan sapu tangan.
“Emmmm” Putra Mahkota tidak lagi ragu mengaitkan bibirnya di bibir gadis itu. Salah satu tangannya dengan sigap melingkar di pinggang gadis tersebut dan membawa tubuh kurus itu menyentuh tubuhnya. Tangan yang lain tampak memegang leher sampingnya.
“Ha..” Nafas mereka saling beradu. Ciuman hangat sedang berlangsung.
Berkali-kali Putra Mahkota membuka mulut gadis itu. ********** dengan begitu lembut.
Melepaskan ciuman sejenak. “ Balas! atau aku tidak akan membawamu pergi.” Perintah laki-laki itu sepertinya belum merasa puas mencium gadis miliknya.
Dia meraih bibir bawah laki-laki itu dan memainkannya.
“Emmm..” Putra Mahkota tidak tahan lagi, ia melepaskan ciuman lalu beralih ke leher gadis tersebut. Masih tetap tidak puas, ia mulai menggigit sebagian leher. “ Akhh..”Suara erangan gadis itu sontak menyadarkan Putra Mahkota.
Ia melepaskan mulut dari leher gadis tersebut lalu menautkan kembali bibirnya di bibir gadis itu.
“Ha.. ha..” Nafas mereka terengah-engah. berkali-laki terlepas dan terkait kembali.
Putra Mahkota menahan begitu keras Hasrat laki-lakinya dan hanya menuangkannya di bibir gadis tersebut. Cukup lama dan saling beradu.
Sungguh, tidak ada kepuasan yang berhasil dicapai laki-laki tersebut. Pagi itu dia sangat menginginkan tubuh gadis di hadapannya menjadi miliknya, jika saja tidak mengingat waktu yang terbatas, pasti laki-laki tersebut tidak akan menghentikan Ciuman panas di pagi yang cerah.
“Emmm” Masih saling beradu hingga suara gertakan gigi mereka juga terdengar beradu. Putra Mahkota melepas ciumannya lalu mulai memeluk tubuh gadis di hadapannya.
Sangat erat, seperti orang yang telah kehilangan seseorang yang berharga lalu ketika menemukannya, ia tidak ingin orang tersebut menghilang kembali dari pandangannya.
“ Tuan.”Sangat sesak, namun gadis tersebut menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuh laki-laki di hadapannya.
__ADS_1
Ia merasa tubuh laki-laki tersebut gemetaran hebat. Bahkan pakaian yang dikenakannya turut basah.
“Jangan buka matamu!” Larang ulang Putra Mahkota terlihat sedang memejamkan mata, mengendalikan keinginan hati yang begitu dahsyat.
“Hm”Angguk gadis tersebut, tidak membalas pelukan Putra Mahkota. Dia hanya bisa menahan sesak dan tetap memejamkan mata, Merasakan tubuh yang bergetar dan juga mendengar suara detak jantung yang begitu keras.
Tampak menarik nafas dalam berkali-kali, setelahnya, laki-laki tersebut mulai melepas pelukan.
Memegang bahu kedua gadis tersebut lalu mengangkat wajahnya dengan kedua tangan, hingga setelah melihat lekat wajah gadis tersebut, Putra Mahkota tersenyum bahagia.
Cup..
Mengecup bibir gadis tersebut sejenak, lalu mencium salah satu pipinya.
Putra Mahkota mulai memakai kain penutup wajah kembali setelah melepaskan tangan dari wajah gadis tersebut.
“Bohong, Pengkhianat memang harus di khianati.” Bisiknya lalu bergerak cepat menghilang.
Betapa hebat kemarahan Zili hari itu terjadi, dengan segera ia membuka mata karena hatinya yang sangat emosi, tetapi sayang, yang ia lihat hanyalah punggung Putra Mahkota dari jauh.
“Brengsek.” Makinya ingin menangis karena telah tertipu. Ia bahkan sampai menuruti perintah laki-laki tersebut untuk membalas ciumannya.
Bergerak cepat mengejar.
“Krssskk” Ia merasa menginjak sesuatu.
Sebuah buku resep terlihat berada di bawah kakinya.
“Buku resep yang dicuri?” Membungkuk, ia meraih buku sebelum sempat mengejar laki-laki yang kini telah menghilang dari pandangan mata.
Menghela nafas sejenak, Wajahnya teramat begitu kecewa. Dia tahu, pasti laki-laki tersebut berencana untuk membuatnya menerima penghargaan kembali. Meskipun demikian, ia sadar bahwa saat itu, ia memang telah mengkhianati Suaminya.
Dan yang lebih bodoh lagi, ia bahkan masih mempercayai perkataan laki-laki tersebut padahal laki-laki tersebut telah sering membohongi dan mengkhianatinya.
Ciuman bibir masih terasa, tanpa sengaja ia memegang bibirnya lagi.
Rasa itu nyata, cara berciuman laki-laki tersebut bahkan sangat ia kenali. Karena selama sisa hidupnya hanya sering dicium oleh Putra Mahkota, ia jadi beranggapan bahwa semua perilaku ciuman sama.
“Tuan, Aku tidak akan pernah lagi mempercayai perkataanmu sepenuhnya seperti nasihat yang kau berikan untukku, tetapi, aku akan mengikuti rencanamu.” Gumamnya lirih memandang sampul buku di tangan dan melepaskan tangan dari bibir bengkaknya.
__ADS_1