Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
mulai bergerak


__ADS_3

Tidak seperti perkiraan,


Berpikir bahwa Markas tempat persembunyian musuh mungkin adalah sebuah gedung tinggi ataupun lorong tersembunyi, atau bahkan berada didaerah pertengahan hutan yang mungkin akan sulit ditemukan, dan juga padang pasir dengan lorong bawah Tanah didalamnya.


Nyatanya,


Markas musuh sendiri adalah sebuah perumahan biasa, “CO 56 Vielhy-Residence” yang didalamnya terdapat beberapa warga desa Co dan juga beberapa warga desa lain, yang mungkin berdagang ataupun bekerja sambilan didesa tersebut.


Perumahan tersebut juga cenderung sederhana dengan nuansa Asri yang kadang terdapat beberapa anak-anak kecil berlari dan bermain dijalanan.


gedung perumahannya sendiri tidak saling menyatu, kadang terpisahkan oleh pepohonan tinggi dan kadang juga terpisahkan oleh sebuah bengkel barang-barang elektronik, tidak bertingkat dan tidak terlalu besar, tampak sedikit mewah, itu karena memang di Negara NC sendiri, rata-rata penduduknya berpenghasilan tinggi, jadi mudah saja bagi mereka memiliki rumah mewah dengan membayar beberapa penduduk Klan Lu untuk mendesain pola rumah pribadi mereka sendiri.


Berada Jauh dari Alamat yang tertera di pesan pemberitahuan akun Virtualisasi, Zili yang telah berubah wajah sedang duduk diatas mobil belakang milik ketua Klan Co.


Ia mengangkat tangan, menerima sebuah Botol kecil yang berisi Puluhan Pil bulat berwarna merah ditangannya. “Aku sudah merubah warnanya, mereka tidak akan curiga kalau obat itu adalah obat pengubah suara dan akan menganggap bahwa itu hanyalah obat antigila” ungkap ketua Klan Co setelah botol kecil tersebut diraih oleh Zili.


“Hmm” angguk Zili, memahami penjelasan Laki-laki tua didepannya.


Tampak tidak ingin Gadis didepannya segera pergi “ingat, sering-seringlah minum air mineral, obat tersebut akan melukai pita suarasmu jika tenggorokanmu kering” Ucapnya lagi memberi peringatan untuk kesekian kalinya, meskipun telah mendengar kalimat yang sama berulang kali, tetapi tampaknya Zili tidak bosan mendengarkannya. Ia terlihat sangat senang karena masih ada orang yang sangat mengkhawatirkan keadaannya.


Gadis itu mulai tersenyum lembut “baiklah kakek, aku akan mengingatnya” ucapnya mencoba menenangkan laki-laki yang terlihat sangat merisaukannya.


“Jam tanganmu, kalung, anting dan semua yang kau titipkan padaku,” ketua klan co tampak sedang berusaha meyakinkan gadis itu “aku pasti akan menjaganya baik-baik”


“Aku percaya padamu kakek,” jawab cepat Zili, ia bahkan terus menerus melontarkan senyuman lembut agar laki-laki tua dihadapannya tidak lagi mengkhawatirkan keadaannya. “Aku pergi” ucap Zili, meraih laptop dari kantung kursi belakang mobil, membuka pintu dan mulai keluar dari dalam mobil, tersenyum meninggalkan ketua Klan co yang masih memandangnya penuh dengan kekhawatiran dan juga presiden sekolah teknologi yang tampak sedang duduk dikursi pengemudi mobil.


********

__ADS_1


Rok pendek selutut kaki,


Hak tinggi 7cm, sepatu berwarna hitam yang menutup sebagian ujung kaki tampak membuat Zili telah terbiasa menggunakannya, itu karena ketika dia berada dirumah penelitian didesa Ann, dia sering menggunakan jenis sepatu yang saat ini ia kenakan.


Jam tangan pemberian ketua Klan Co melingkar dipergelangan tangannya.


Kemeja putih terbalut dengan setelan jas berwarna merah, rambut yang terurai dan tidak menggunakan Pita rambut seperti biasa, membuat Zili tampak seperti wanita dewasa pada umumnya.


Wajahnya sedikit berubah, pipinya terlihat sedikit gembil, hidungnya sendiri tampak lebih mengecil karena tarikan erat Lem topeng, alis mata yang tadinya tebal sedikit menipis karena tertutup benda yang merubah wajahnya tersebut, serta kacamata yang mengait ditelinga juga memperlihatkan Sisi kecerdasan lain dari gadis yang kini telah memeluk laptop dengan satu tangan dan berdiri didepan Pos keamanan perumahan.


“Liii da Sieln Ju vielhy” (seseorang mengundang saya untuk mengunjungi rumahnya diperumahan ini). ucap Zili menggunakan bahasa Klan Co kepada dua orang penjaga pos keamanan yang tampak kurus dan bermata cekung.


“Kode...” seperti sangat memahami maksud kedatangan Zili, mereka tampak tidak ingin berbasa-basi.


“Blue-sprayer programer 89678”


Mulai memasuki perumahan.


“recca recca recca, it’s my name...”


Sebuah Robot Perempuan berambut pendek dengan Kaki beroda Dua datang menghampiri Zili. “Gire...” (ikuti dia) perintah salah seorang penjaga pos keamanan yang langsung dilaksanakan Gadis itu.


Terus berjalan mengikuti robot Recca, sesekali Zili menghela nafas berat, berada diarea musuh yang bercampur dengan warga biasa menjadi beban berat tersendiri bagi Gadis yang kadang melihat beberapa kebahagiaan dihalaman rumah.


Seorang wanita dewasa terlihat sedang menyiram bunga bersama putrinya, dan ada juga yang menjemur selimut sembari menggendong putrinya dibelakang punggung dengan menggunakan alat Gendong buatan tangan Klan Lu.


Ibu.

__ADS_1


Panggil gadis yang belum pernah merasakan kebahagian seperti dipandangan matanya. Tampak tidak ingin menyakiti dirinya sendiri dengan perasaan iri yang mulai berkecamuk mengisi hati, gadis itu mulai mengalih pandangan ke beberapa pohon ditepian jalan yang terdapat jurang kecil disana, juga aliran air parit deras yang berwarna hitam karena kotornya limbah pabrik Rumah tangga.


Robot reca telah berhenti disebuah rumah tak berpenghuni, rumah tersebut juga tampak seperti Rumah lama dengan Banyaknya sampah, coretan dinding serta pecahan kaca dihalaman rumah berumput tinggi tersebut.


“Sirheo..” (masuklah) seseorang laki-laki bertubuh kekar tiba-tiba datang menepuk punggung Zili, dia mulai berjalan memberi petunjuk jalan untuk gadis tersebut.


Meneguhkan hati dan menguatkan diri, Zili mulai melangkah masuk kedalam rerumputan tinggi dengan rasa khawatir yang tak terkira, sangat takut jika ada hewan berbisa yang mungkin akan menggigitnya didalam rerumputan tebal tersebut.


Terus melangkah hingga berhasil keluar dari ketebalan rumput dan memasuki Rumah tak terpakai, Zili kembali dikejutkan dengan adanya pintu Bawah tanah dibawah sebuah lemari Rusak yang ternyata bisa dengan mudah digeser.


Menghela nafas berat, menapaki kaki disetiap anak tangga, memasuki ruang gelap yang hanya disinari dengan beberapa lampu neon berwarna kuning.


Terus melangkah dilorong sempit hingga memasuki sebuah tempat yang luas dipenuhi dengan Komputer serta beberapa orang programer yang duduk didepannya.


“Wanita...”seorang laki-laki berambut pirang mendekati Zili yang baru saja melangkah masuk keruangan tersebut. “lumayan cantik..” dia mulai meraih pipi Zili, dengan sekuat tenaga, Zili membiarkan Wajahnya disentuh dan dagunya diraih hingga wajahnya menengadah keatas menatap mata laki-laki tersebut. “Hmm “ laki-laki tersebut tersenyum nakal “boleh juga” lanjutnya lagi menggetarkan Hati zili. “bawa dia ketempat pertemuan” perintah laki-laki tersebut kepada laki-laki bertubuh kekar yang tadinya membawa Zili masuk kedalam Ruang bawah tanah.


Mulai melangkah kembali meninggalkan laki-laki berambut pirang yang sedang memainkan mata kepadanya, Zili mulai memasuki sebuah ruangan kecil, tampak didalam ruangan tersebut tujuh orang sedang berdiri, Lima orang diantara mereka adalah laki-laki dan dua orang lainnya adalah perempuan.


Terus berjalan kemudian masuk kedalam barisan, aroma dan wangi shampo tertentu mengingatkan Zili pada seseorang, gadis itu perlahan-lahan menoleh kesampingnya.


Shin’A.


Gumamnya dalam hati ketika melihat pangeran istana dengan rambut berwarna Pirang dan kacamata bening serta Blank spot (tahi lalat) dipinggir matanya, wajahnya juga tampak berubah, pipinya cekung dan terlihat sangat kurus.


Mungkinkah dia Shin’A..?


Tanya Zili ragu-ragu pada dirinya sendiri karena melihat perubahan wajah pengeran istana.

__ADS_1


__ADS_2