
Pandangan mata Putra Mahkota terlihat sedikit teralih ke bawah, ia yang sangat lelah, saat itu tampak menarik nafas berat beberapa kali, lalu memandang kembali mata Zili yang tampak masih sangat berharap Putra Mahkota untuk menuruti permintaannya saat itu.
Rerumputan di sekeliling kaki terlihat bergerak tak tentu arah, terkadang angin laut yang kencang tiba-tiba menghilang lalu datang kembali dengan terjangan yang lebih kuat dari sebelumnya.
“Hm,” Putra Mahkota tersenyum semakin lembut, “Aku,” lalu tertegun, “.. adalah tuanmu.” Ucapnya terlihat tenang namun menyembunyikan rasa takut yang mendalam, bahkan ia yang jarang sekali ragu dalam menyampaikan sesuatu, saat itu terlihat sangat gugup.
“Yang Mulia, berhentilah!, sekarang kau bahkan sampai mengaku sebagai tuanku setelah tadi mengatakan mencintaiku. Mungkinkah karena saat ini aku sedikit lebih berharga untukmu mendapatkan ratu Yuanna dan menjebak Shin’A lagi?” ucap Zili begitu kecewa dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Putra Mahkota.
“Hm, benar.” Putra Mahkota yang sedari tadi ragu bahkan semakin ragu untuk mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya, saat itu, sepertinya ia sangat takut jika Zili akan membenci dirinya untuk selamanya. “Jadi sekarang dia lebih berarti dibandingkan denganku di dalam hatimu, ya?” Putra Mahkota memilih untuk tetap diam. Dia bahkan mulai mengalihkan tubuh, menghadap ke arah laut dan memandang panorama alami di sana, demi menghindari kegugupannya terhadap Zili.
“Aku bahkan melihatnya sendiri, hanya tuanku lah yang benar-benar tulus menyelamatkan dan menemaniku selama ini, bagaimana mungkin aku bisa membandingkan orang setulus dirinya dengan orang yang hanya ingin memanfaatkanku, sepertimu, Yang Mulia?” Zili menundukan kepala, menghapus air mata dengan punggung telapak tangan berkali-kali saking rindunya ia dengan Pemilik Apartemen yang selama ini mengisi kesepian jiwa. “Hiks hiks, aku merindukannya hiks hiks.” Ungkap gadis itu lalu berbalik karena tak kuasa lagi menangis di hadapan Putra Mahkota.
“Hm baiklah,” Putra Mahkota tersenyum getir, tipis, hampir tak terlihat lalu menghadap ke arah Zili kembali dan berjalan mendekati. “Aku akan memikirkan ulang permintaanmu setelah kita menyelesaikan tugas ini.” Ucapnya yang telah mendekat lalu meraih telapak tangan gadis itu dan menggenggamnya erat kemudian membawa gadis tersebut melangkah bersama.
“Aku,” namun langkahnya terhenti ketika Zili tidak kunjung mengikutinya, “... tidak ingin lagi melaksanakan tugas ini.” Tolak Zili masih menundukan kepala, perlahan-lahan salah satu tangannya berusaha melepaskan genggaman tangan Putra Mahkota di tangannya yang lain. “Bukankah kau, musuh negara?, kenapa..” sangat sulit, usaha Zili untuk melepaskannya bahkan sia-sia, tangannya juga semakin tergenggam erat dan sedikit menyakitkan. “.. Kau harus bersusah payah melaksanakan tugas ini,” dia mengangkat kepala dengan sedikit memukul pelan tangan Putra Mahkota beberapa kali dengan kepala tangannya, mengisyaratkan kepada laki-laki itu untuk segera melepaskan genggaman tangannya tersebut, “ ..., Yang Mulia?” tanya Zili yang telah memandang mata Putra Mahkota. Tangisannya yang telah berhenti membuat matanya lebih mudah menatap mata indah laki-laki di hadapannya.
“Hem,” Putra Mahkota tersenyum lucu melihat tingkah Zili, hal itu sontak membuat pandangan mata gadis tersebut teralih. “Aku sudah mengundurkan diri, sekarang bukan lagi musuh negara ini.” Jawab Putra Mahkota sembari menarik tangan Zili yang sontak membuat gadis itu terkejut lalu melangkah kaki dengan tubuh yang tidak sengaja menabrak tubuh samping Putra Mahkota.
Segera gadis itu menghindar, segera pulalah Putra Mahkota membawanya berjalan bersama.
“Yang Mulia, ..” Ragu-ragu Zili melontarkan tuduhan, “ be.. berhentilah menipuku lagi!” ucapnya dengan menekan rasa takut di dalam hati.
__ADS_1
“Huh, menghabiskan waktu,” sedikit terkejut, “.., bukan?” saat itu Zili mengira bahwa semua yang diucapkannya mengganggu Putra Mahkota.
“Ah, hm.” Angguk Zili mengiyakan.
“Jika aku menipumu, maka aku hanyalah orang bodoh yang menghabiskan waktu sementara pekerjaanku begitu banyak dan rakyatku sedang dalam masalah, jadi berpikirlah Zili!” Ucap laki-laki yang sedang membawa Zili untuk berjalan bersama di atas tebing untuk mencari jalan menurun. “... aku benar-benar tidak sedang menipumu.” Lanjut laki-laki yang telah melewati sebuah pohon besar dengan bunga-bunganya yang jatuh berguguran.
Haaa...
“Hmm..”
Lalu langkahnya terhenti bersamaan dengan mata Zili yang tampak terbelalak sedikit melebar.
“Ah sakit sekali, sial.” Keluh Shen Shi Yun yang terlihat sedang berjalan mendekati Putra Mahkota dan Zili lalu duduk di samping laki-laki itu sembari membersihkan darah di wajahnya.
Suara seseorang yang sangat dikenal terdengar, pemilik suara tersebut adalah orang yang telah berhasil memukul mundur Shen Shi Yun dan melukainya.
Dua orang lain terlihat datang mendekati, seorang darinya tampak memapah laki-laki tua yang telah terluka.
Putra Mahkota tersenyum remeh, lalu menarik tubuh Zili ke depan, tepat di antara dirinya dan juga Pangeran Istana yang telah menghalangi langkah serta Pangeran Xu dan kakeknya yang telah berdiri di samping Pangeran Istana negara NC.
“Kau kenal aku, bukan?, Zili!” ucapan Putra Mahkota semakin mengejutkan Zili yang telah dihampiri oleh Pangeran Istana. “Ayahmu, ibumu, dan bahkan nenekmu yang baru saja kuselamatkan dari genggaman Yuan, kau kira mereka bisa selamat dari genggamanku?” lanjutnya mengancam hingga membuat detak jantung Zili bergetar dan belum memahami maksud yang dikatakan laki-laki di belakangnya.
__ADS_1
“Ikutlah denganku!” sampai Pangeran Istana datang lalu meraih tangannya.
“Hm, Aku pasti, akan melenyapkan satu persatu orang-orang didekatmu.” Ancaman Putra Mahkota semakin menggetarkan hati gadis tersebut hingga kakinya menggigil dan perasaan hatinya berkecamuk.
“Jangan pedulikan!, tidak mungkin dia sanggup melakukannya.” Ucap Pangeran Istana yang telah menggenggam tangan Zili dan membawanya pergi.
“Hm,” senyuman yang terlontar di bibi Putra Mahkota semakin lebar.
“Aku,” dengan cepat Zili meraih tangan Pangeran Istana dan melepaskannya, dia mengenal Putra Mahkota yang bahkan pernah menjebak dan memukuli temannya sendiri, Pelindung Putra Mahkota Shin Jo hanya untuk menyembunyikan rahasianya. Dia juga mengenal betapa mengerikannya laki-laki tersebut melenyapkan musuh-musuh negara selama ini tepat di depan matanya, “ ... mana mungkin meninggalkan suamiku begitu saja.” Ucap gadis itu, menolak ajak Pangeran Istana yang ia sendiri bahkan tidak mengerti maksud ajakan dari laki-laki tersebut lalu berbalik arah, menghadap ke arah Putra Mahkota dan mulai melangkah mendekati. “Haaa...,” tetapi sayang, tangan Pangeran Istana lebih sigap terlebih dahulu dan berhasil meraih pergelangan tangannya, membalikan tubuh gadis itu, dan tidak membiarkannya untuk pergi mendekati Putra Mahkota.
“Ikutlah bersamaku, atau mungkinkah kau ingin aku merebut kedudukan Xu’i,?” kali ini giliran Pangeran Istana yang memberikan ancaman.
“Hm, Konyol, baiklah, aku akan memberikannya,” Putra Mahkota segera melangkah lalu meraih tangan Zili yang belum tergenggam “.. Kedudukanku itu padamu setelah mengganti kewarganegaraan NC.” Lanjut Putra Mahkota menarik tangan gadis itu hingga tangan gadis tersebut yang lain terlepas dari genggaman tangan Pangeran Istana.
“Berikan!, kau masih belum mengerti takdirmu?” bentak marah laki-laki tua kepada Putra Mahkota yang terus melangkah kaki membawa Zili dan diikuti oleh Shen Shi Yun.
“Akan kubuktikan padamu bahwa tidak semua yang disebut cinta itu berbahaya.” Ucap Putra Mahkota dari jauh, tidak mempedulikan seruan kemarahan dari kakeknya.
“Jadi kau telah menentukan pilihan?” Kali ini ucapan Pangeran Istana berhasil menghentikan langkah kaki Putra Mahkota.
“Hm, hm,, hahahaha. “ Tawa Putra Mahkota menggelega, memecahkan keheningan tempat di sana. “Hahaha pilihan?,Hm, Shin’A, pahamilah posisimu!, yang harusnya menentukan pilihan adalah kau dengan nama baikmu yang telah hancur itu.” Lanjut Putra Mahkota sembari berbalik memandang Pangeran Istana Sejenak, lalu melontarkan senyuman kepuasan kemudian berbalik kembali dan melangkah kaki menjauhi tempat tersebut bersama Zili dan Shen Shi Yun.
__ADS_1
***********