
Tenang dan sejuk,, Suasana itu lah yang saat ini dirasakan oleh Zili sesaat setelah mobil yang dikendarai Putra mahkota berhenti tepat dihalaman depan sebuah Rumah besar bertingkat dua yang berada ditengah tengah Hutan..
Rumah yang sengaja di Bangun oleh klan Xu berpuluh puluh tahun yang lalu dengan masih berdiri kokoh telah dipenuhi dengan tumbuhan yang merambat melapisi dinding berwarna memudar.. Halaman rumah telah ditumbuhi oleh banyaknya jenis rumput liar tebal,, belum lagi pagar yang melindungi rumah tersebut juga menambah kejenuhan mata manusia yang melihatnya..
Sesekali terdengar ditelinga gadis itu suara teriakan burung elang yang terbang diatas langit mencari mangsa,, tidak juga itu,, suara jangkrik dan nyanyian burung burung semakin menambah suasana menenangkan hati setiap orang yang mendengarnya.
“Aku akan pasang tenda!” Suara Xu’i sontak mengejutkan Zili yang merasa bingung dengan Perkataan guru barunya tersebut.
“Tenda!” tanya nya mengulang perkataan Putra mahkota,, dia berpikir mungkin mereka akan bermalam di desa yang telah mereka lewati tidak jauh dari bangunan rumah dihadapannya .
“Kita bermalam disini,, aku akan pasang tenda untukmu juga jadi sekarang.... “ putra mahkota menjatuhkan tenda yang ia telah ambil dari jok mobil keatas tanah,, ia lalu menghampiri Zili yang masih berdiri di depan pintu mobil menatap kedatangannya dengan penuh tanda tanya .. “bersihkan Seluruh rumput dan kotoran serta apapun itu yang mengotori rumah Ini sampai tidak ada lagi yang tersisa . “ Perintah putra mahkota lagi lagi mengejutkan Hati zili,, gadis remaja yang mengira akan diberi pelatihan fisik khusus tidak percaya akan diberikan tugas membersihkan rumah besar serta halaman dan juga pagar penuh dengan lumut dan rambatan rumput belum lagi jika ada hewan hewan Berbisa yang tidak disangka akan muncul kedatangannya semakin menambah ketidak percayaan yang ia rasakan..
“Tapi yang mulia...”
“Semua perlengkapan ada dibelakang rumah,,,, segera pergilah...” Putra mahkota mendorong Gadis yang masih ingin memberikan pertanyaan kepadanya tersebut secara perlahan dengan melepaskan tangan yang ia telah letak dikedua bahu gadis tersebut sebelumnya.
“Yang muli..”
“Jangan banyak tanya.. kerjakan saja” potong laki laki remaja itu kepada Zili yang berharap diberi kesempatan untuk menanyakan alasan putra mahkota memberi tugas Yang bahkan ia rasa tidak ada hubungannya dengan pelatihan Yang akan dilakukannya,, dengan berpasrah diri karena tidak mampu untuk melawan putra mahkota yang ia takuti,, Zili bergegas menuju samping rumah yang tidak jauh dari posisinya berdiri. Sesekali ia menoleh kan wajah memandang kearah putra mahkota yang sedang mendirikan Tenda tak jauh dari mobil mereka diparkirkan..
“Kalau begini gimana bisa kuat” keluh Zili kepada dirinya sendiri sesaat setelah Ia berhasil mengambil Celurit yang akan ia gunakan Untuk memotong rumput dihalaman rumah..
Beberapa menit kemudian..
“Ulaaaaar” teriak Zili ketakutan berlari menuju Xu’i yang sedang duduk diatas sebuah tikar menyandar di bagian pintu mobil yang tertutup sembari membaca sebuah buku ketika menemukan seekor ular piton kecil yang sedang bersemayam di bagian semak semak halaman rumah yang saat itu telah Di celurit oleh zili..
“Tenanglah” Xu’i yang telah berdiri untuk melihat keadaan di buat kesal dengan kedatangan Zili yang tiba tiba meloncat keatas tubuh laki laki itu,, ia memeluk erat leher Gurunya dengan kedua tangannya dan melingkarkan kedua kakinya ke pinggang laki laki itu berharap gurunya itu tidak melepaskan Tubuh zili untuk sekedar menenangkan hati gadis yang saat itu merasa sangat ketakutan. “Turun dulu” perintah putra mahkota sembari mencoba melepaskan pelukan Zili..tapi tangan dan kaki gadis itu tiba tiba menjadi sangat kuat tidak ingin turun keatas tanah karena sangat takut ular yang ia lihat akan mengejar..
Dengan masih menggedong Zili didepannya.. Putra mahkota bergegas berjalan menghampiri tempat dimana zili berada sebelumnya untuk membuang hewan yang telah membuat murid dia ketakutan sehingga tidak ingin lepas dari pelukannya.
Seekor piton kecil berwarna kuning emas terlihat sedang melilitkan tubuhnya di atas tanah yang sebagian rumputnya telah dibesihkan oleh Zili..
“Yang ini” tanya Xu’i mencoba melepaskan Zili yang telah menyembunyikan wajahnya dibahu laki laki itu.. “ lihat dulu” perintah laki laki remaja itu lagi,, dengan mengumpulkan segenap keberanian.. zili mencoba untuk menolehkan Wajah memandang ke bawah,, tangan yang tadinya gemetaran seketika semakin bertambah melihat Ular tersebut tiba tiba berjalan melata perlahan meninggalkan xu’i yang berdiri dekat dengannya.
“Iya.. itu.” Dengan mudah nya Xu’i mengambil ular yang sedang merayap tersebut ditangannya masih dengan membawa Zili yang tidak ingin lepas dari tubuhnya mendekati pagar didinding yang penuh dengan Lumut dan rerumputan liar merambat.. ular dilempar keluar begitu saja oleh laki laki remaja tersebut tanpa terlihat perasaan takut ataupun geli diwajahnya..
__ADS_1
“Sudah hilang,, sekarang turun” perintah Xu’i dengan suara datar untuk mengurangi rasa takut gadis yang selalu ketakutan ketika berada dekat dengannya.
Sayang sekali,, tampaknya gadis itu masih merasa sangat trauma mengingat keterkejutannya ketika menemukan Hewan itu beberapa menit yang lalu,, dia dengan perlahan mencoba memijakan kaki ke atas tanah namun kakinya tidak mampu untuk melakukan hal tersebut yang terpaksa membuatnya masih berakhir dengan memeluk Guru barunya. “Kau lebih takut aku atau ular?” bentak Xu’i sudah tidak dapat menahan kekesalannya lagi..
Zili sontak tersadar bahwa Saat itu orang yang dipeluknya bahkan jauh lebih menakutkan daripada ular yang baru saja dia lihat,, dengan bergegas dia turun dari tubuh Xu’i dan tanpa mengatakan apapun mengambil kembali celurit yang ia jatuhkan dekat dengan Putra mahkota berdiri kemudian mulai memotong kembali rumput halaman karena merasa takut Xu’i akan mengambil nyawanya menimbang hanya ia dan Xu’i lah yang saat itu berada ditengah tengah hutan yang lebat dipenuhi dengan pepohonan rimbun.
Siang telah berganti sore,, dengan sangat lelah Zili berjalan menuju belakang mobil untuk membuka jok yang telah dipenuhi dengan berbagai barang bawaan mereka,, dan beberapa botol air mineral,, dia lalu mengambil salah satu dari beberapa botol minuman kecil untuk segera diteguk demi menghilangkan rasa haus yang menggerogoti tenggorokannya.
Perut gadis itu mulai berbunyi keroncongan karena belum terisi sedikit pun makanan sejak sarapan pagi disebuah hotel kota kecil tempat mereka menginap semalam. Matanya mencari cari sebuah makanan Apapun itu didalam mobil tapi tidak menemukan satu pun.. dilihatnya Putra mahkota masih dengan santai duduk ditikar Dengan sebuah buku ditangan.. dihadapan Laki laki remaja itu telah berdiri dua tenda yang saling berdekatan tidak jauh dari posisi duduknya..
“Yang mulia shisou,, tidak lapar ya?” tanya Zili memberanikan diri karena sudah tidak dapat lagi menahan rasa lapar.
“Kau sudah lapar?” tanya Putra mahkota balik dengan tidak memandang ke arah Zili yang telah berdiri disebelahnya..
“Iya,, lapar sekali” jawab gadis itu dengan Perasaan sedih karena tidak menemukan sedikitpun makanan..
“Tidak ada makanan,, aku juga sengaja tidak beli.. sekarang kita pergi memancing,, kalau dapat ikan kau bisa makan,, kalau tidak,,, ya tahan saja sampai dapat” Senyum kecut mengembang dibibir Zili,, sesaat tubuhnya merasa sangat lemas dan tidak berdaya mendengar perkataan putra mahkota.. Rasa lapar diperutnya pun semakin meronta ronta karena harus menunggu lebih lama ia terisi yang bahkan itupun masih belum pasti..
Jalanan setapak kecil yang ditimbuni banyaknya dedaunan kering sedikit membuat Zili merasa aneh acap kali memandangnya,, saat itu dia berpikir bahwa kemungkinan ada orang yang juga tinggal ditengah tengah hutan ketika ia tanpa sengaja menemukan bekas tapak sepatu yang terlihat seperti baru..
Zili dengan membawa sebuah pancing Bambu biasa ditangannya telah berjongkok diatas tanah.. ia meletakan pancing tersebut lalu Mencongkel Tanah untuk mencari cacing sesuai dengan perintah Putra mahkota yang saat itu sedang Duduk dengan santainya diatas batang pohon dekat dengan sebuah sungai yang airnya mengalir dengan tenang sembari menyandarkan tubuh membaca sebuah buku yang bahkan Zili sendiri tidak mengerti apa arti judul di cover buku yang bertuliskan bahasa Jerman.
“Yang mulia shisou,, dapat” teriak zili sembari menengadahkan wajah keatas melihat Gurunya yang sedang membaca buku sembari melirik kearahnya
“ya sudah cepat kaitkan” jawab Laki laki itu santai lalu melanjutkan Bacaannya.
“Tapi aku tidak berani memegangnya,, yaa.. dia masuk ketanah lagi” Zili tampak sangat kecewa karena telah bersusah payah menemukan cacing tanah namun dengan mudah hewan itu menghilang..
“Kau mau menahan lapar demi rasa takutmu ya.. aku sih tidak masalah kalau kau tidak mau makan,,” Ucap laki laki itu dengan santainya..
“Apa yang mulia tidak lapar juga ?” tanya Zili dengan kesal melihat ketidak pedulian Laki laki remaja yang saat itu bersama dengannya.
“Tentu saja lapar,, tapi siang tadi aku sudah makan sepotong roti yang aku bawa dari hotel kemarin malam” jawab laki laki itu tanpa merasa bersalah sedikitpun karena tidak membagi roti yang ia makan kepada Zili,,
Zili,, dengan perasaan kesal yang tertahankan terpaksa harus mencongkel kembali Tanah untuk menemukan Seekor cacing menggunakan pisau yang ia telah bawah dari rumah yang saat itu bahkan belum bisa ditempati mengingat sangat kotor keadaannya.
__ADS_1
“Kuat.. ayolah.. aku harus berani’” gumam zili ketika ia telah menemukan Seekor cacing yang tergeletak di atas timbunan tanah bekas congkelan Pisau. Dengan segenap kekuatan yang tersisa karena sudah tidak memiliki energi lebih ,, zili mengambil cacing tersebut perlahan lahan,, sesekali ia menutup mata sembari menghela nafas meyakinkan diri sendiri bahwa hewan tersebut tidak lah berbahaya sama sekali..
Xu’i tersenyum melihat tingkah Zili yang ia rasa sedikit lucu untuk dipandang,, dia bahkan sampai melupakan baris bagian tulisan yang ia baca karena memperhatikan Gadis yang ada dibawahnya gemetaran mengaitkan cacing kedalam pancing.
Lima menit telah berlalu,, tapi zili belum juga mendapatkan ikan,, dia bahkan sangat kesal karena sudah berkali kali ikan jatuh terlepas dari pancing yang ia angkat..
Gadis yang terbiasa tinggal dikota itu sebelumnya tidak pernah memancing bahkan untuk menonton orang memancing sekalipun.. ia tampak sangat menyesal karena tidak pernah menonton tv dirumah hanya untuk sekedar hiburan..
“Aaahh..” desahnya lemah ,, gadis itu terlalu lelah karena seharian mengarit rumput ditambah lagi saat itu ia sedang menahan lapar.. dia berusaha menarik pancing bambu yang ia pegang,, tapi sayang pancingnya telah menyangkut disebuah batang kecil ditengah tengah sungai..
Pasrah,, itulah yang ada dipikirannya,, ia yang dari tadi berdiri saat itu terduduk lemas .. rasa lapar kian menggerogoti perutnya yang telah berbunyi berkali kali..
“Menyerah?” suara Xu’i tidak lagi mengejutkannya,, ia bahkan tidak ingin memperdulikan laki laki yang telah memerintah dia seenaknya tapi tidak memberikan sedikit makananpun untuknya.
Xu’i lompat menuruni pohon yang ia telah panjat,, ia menghampiri gadis malang yang telah berbaring miring lemas dipinggir sungai. “ Cari kayu panjang sana” perintahnya setelah berdiri dekat dengan gadis yang telah pasrah tidak berdaya..
“Shisou..” suara lirih gadis itu ingin menangis ..
“ Cepat” suara keras xu’i sontak membangunkan gadis malang itu ..dengan rasa takut dan lapar yang tiada terkira ,,ia menemukan Sebuah kayu lumayan panjang tergeletak tak jauh dari pohon Tempat Xu’i berdiam sebelumnya..
“Ini” zili memberikan Kayu yang telah ia ambil kepada xu’i..tidak menunggu lama lagi,, Xu’i berhasil melepaskan tali benang yang mengikat pancing dari batang kayu ditengah sungai.. dia menemukan masih tersisa Cacing dengan Keadaan memutih yang bahkan ikan pun tidak ingin melihatnya..
“Bodoh” senyum Xu’i lucu mengingat kebodohan gadis malang yang tidak mengerti cara memancing.. diambil olehnya pisau yang berada dekat kaki Zili,,dengan cepat Zili segera bergeser karena merasa aneh melihat putra mahkota seolah olah tunduk dihadapannya yang sebenarnya hanya mengambil pisau..
Xu’i dengan cepat telah mendapatkan banyak cacing yang ia letak di sebuah daun besar ditutupi dengan tanah agar cacing tersebut tidak melarikan diri..
“pegang” ia memberikan bambu pancing kepada Zili. “lempar agak jauh..” perintahnya sembari berdiri dibelakang zili memeluk kedua tangan gadis yang memegang pancing bambu tersebut lalu mengajarkannya melempar Pancing..
Wajah Zili sontak memerah padam,, tiba tiba jantung gadis itu berdetak tidak karuan,, bukan takut yang ia rasakan.. dia merasakan perasaan aneh tiba tiba masuk kedalam Jantungnya,, perasaan sedikit senang karena Putra mahkota akhirnya peduli terhadap apa yang ia telah rasakan..
“Angkat keatas.. lalu tarik benang cepat” perintah putra mahkota lagi yang segera dilaksanakan oleh Zili saat Pancing ditarik kuat oleh seekor ikan.. dengan bantuan Xu’i yang masih berada dibelakang gadis malang itu,, akhirnya ia telah mendapatkan seekor ikan gabus besar ditangannya.
“Dapat” teriak Zili senang memegang ikan tersebut sembari membalikan tubuh menghadap kearah Xu’i di belakangnya.. Pandangan mereka saling beradu lama karena wajah mereka yang terlalu dekat. Xu’i yang tadinya ikut merasa senang melihat hasil tangkapan Zili pun tersenyum kepada gadis itu,, tak lupa ia mengelus kepala Zili yang berada didepan mata untuk kedua kalinya.
“Kerja bagus” pujinya menambahkan senyum bahagia bagi gadis itu..
__ADS_1
“Hmm.. “ angguk Zili dengan senyuman bahagia menatap Xu’i.