Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
lorong bawah tanah


__ADS_3

Gelap gulita.


Suara gemericik air terdengar berisik menusuk telinga, ditambah lagi dengan bau tak sedap limbah pabrik dan rumah tangga.


Didalam lorong bawah tanah yang terdapat aliran air berwarna hitam deras serta dinding besi yang berkarat dipinggir parit air kotor dan lantai Semen yang dingin, Zili perlahan-lahan membuka mata.


Mengenakan setelan kemeja dan rok pendek serta sepatu hak membuatnya merasa tidak nyaman untuk bergerak bebas.


Mata yang masih menyipit mulai melebar, memandang cahaya hijau yang sedikit menerangi kegelapan.


Ia mulai bangkit, duduk tepat disamping pangeran istana yang sedang membuka sebuah aplikasi dijam tangan miliknya.


“10 KM Dari komputer utama blue sprayer, my lord” jawab Karakter virtual pangeran istana yang mungkin tadinya telah menjelajahi jaringan area musuh.


“Tunjukan petanya” perintah pangeran istana lagi yang langsung dilaksanakan virtual milik laki-laki tersebut.


Sebuah peta wilayah muncul dilayar kecil jam tangan pangeran istana, laki-laki tersebut mulai memperbesar gambar dan mencari titik merah.


Menekan tombol – direction - lalu tanda panah penunjuk jalan terlihat didalam layar jam tangannya.


“Beri aku petanya..” pinta Zili membuat pangeran istana menoleh ke wajahnya, memandang berdekatan, tatapan mereka bahkan tampak saling beradu.


“Kau sudah bangun..?” tanya laki-laki tersebut mulai bangkit dan berdiri, dia tampak mengabaikan permintaan Zili.


Zili mengikuti gerakan laki-laki tersebut berdiri, “kau tidak dengar aku ya..?” ucap gadis itu pelan, sangat berharap pangeran istana berbagi peta.


Pangeran istana mulai melangkah kaki “kalau kau mau peta maka bekerja sama lah” ucapnya sungguh memaksa.


Mulai mengikuti langkah pangeran istana “aku akan bekerja sama denganmu, maka berikanlah petanya” pinta gadis itu lagi.


Pangeran istana tersenyun nakal “Tentu saja kau hanya perlu mengikutiku”


“waah sungguh licik sekali” ucap gadis itu masih tetap berjalan mengikuti pangeran istana.


Haaaa...


Sraaaakkk...


Uhhh..


Digelapnya ruangan luas yang salah satu dindingnya sendiri tampak sangat jauh dari posisi mereka berada, dengan aliran air hitam deras yang begitu luas disisi mereka, Zili terjatuh karena hak sepatu yang ia kenakan patah.


“Kenapa celanamu mudah sekali terbuka...?”


Tanya gadis yang tak sengaja jatuh dan meraih kedua celana dilutut kaki pangeran istana, menariknya turun kebawah dan terbuka hingga memperlihatkan Celana pendek cargo berwarna hitam yang memiliki banyak kantung disetiap sisinya.


“Kau....”

__ADS_1


Geram karena mungkin merasa malu, hingga terpaksa melepaskan celana yang tadinya telah melorot turun kebawah, pangeran istana mulai membungkuk dan melemparkan Celana Joggernya mengenai wajah Zili yang telah duduk.


“benar-benar menyebalkan sekali kau ini” bentak laki-laki tersebut setelah berhasil memukul wajah Zili dengan celananya.


“Waah luar biasa,”


“Luar biasa kau bilang..” geram hingga menggertakan gigi, pangeran istana berdiri tepat didepan Zili yang telah menyingkirkan Celana Jogger miliknya dari wajah.


“Hehe kukira kau bahkan akan membunuhku” gadis itu tersenyum geli menengadah, menatap Pangeran istana sembari menggaruk Pipinya yang tidak gatal.


“Kalau bukan karena kau telah membantuku,”


Laki-laki tersebut memejamkan mata sejenak menahan emosi “aku pasti akan melemparmu jauh” ucapnya membuka mata memandang tajam mata Zili yang sedang tersenyum menyipit.


“Maafkan aku”


Gadis itu mulai berdiri “akkhhh” dia mengerang kesakitan.


Dengan cepat menghidupkan jam tangannya, menambah penerangan ruangan yang tadinya hanya diterangi oleh jam tangan pangeran istana.


Melihat kelutut kaki.”aaaahh terluka” ucap gadis itu menahan rasa sakit melihat darahnya mengalir deras dari lutut kaki.


“Bodohnya kau ini” pangeran istana yang melihat luka Zili, merobek rok pendek gadis itu dengan mudahnya.


“Hei apa yang kau lakukan..?” terasa semakin pendek, Zili terpaksa menutup sebagian Paha yang terbuka dengan kedua tangannya.


“Kau ingin mati kehabisan darah ya..?” bentak pangeran istana menutup luka berdarah menggunakan robekan Rok yang zili kenakan.


“Pakai ini...”


“Haaa..”


Zili mengernyitkan dahi ketika pangeran istana meraih Celana jogger yang tadi ia lepaskan dan menyuruh gadis itu untuk mengenakannya.


“Pakai ku bilang..” ucapnya memaksa sembari meletakan celana tersebut dibahu Zili dan mulai berbalik.


“Jangan mengintip..”


“Siapa juga yang akan selera denganmu” jawab cepat laki-laki tersebut sedikit keras.


Zili mulai melepaskan sepatu nya yang rusak, perlahan-lahan ia memasukan Kakinya didalam celana.. “Pegang saja bahuku jika kau kesulitan” ucap pangeran istana menawarkan bantuan.


“Terima kasih”


Terkejut, desiran ingatan tiba-tiba muncul didalam benak pangeran istana ketika mendengar ucapan tersebut. Ucapan yang biasa di dengar ketika dia bersama Mantan tunangan yang saat ini masih menguasai kemarahan didalam hatinya.


Tidak ingin mempedulikannya, Karena perasaan benci itu sendiri mulai hilang sedikit demi sedikit didalam hatinya, laki-laki itu mulai menurunkan tubuhnya “naiklah” ucapnya memberi punggung untuk Zili.

__ADS_1


“Tidak usah tidak usah” ucap gadis itu menolak tawaran setelah selesai mengenakan celana jogger milik pangeran istana.


“Kubilang naik...”


“Baiklah jika kau memaksa” merasa sedikit takut karena memang Zili sendiri tidak ingin mencari masalah dengan pangeran istana, gadis itu mulai menjatuhkan diri dipunggung laki-laki tersebut.


Kaki yang mengudara, diatas punggung pangeran istana tubuhnya berada, dengan texchi vertikal yang terus mengikuti mereka serta dua jam tangan yang menyinari ruangan, sesekali Zili menghela nafas berat karena sangat tidak ingin membebani laki-laki tersebut lagi.


“Hooii”


“Hmm” jawab Zili menerima panggilan.


“Jangan tidur” larang pangeran istana masih dengan sangat mudah menggendong Zili dipunggungnya.


“Tenang saja, “ Jawab Zili cepat menenangkannya


“Dari klan mana kau berasal..?” pangeran istana tampak mulai penasaran dengan gadis itu.


Tersenyum kecut, mendengar pertanyaan “dari klan mana saja boleh”


“kau ini bicara apa.” bentak kesal pangeran istana mendengar jawaban gadis itu.


Menghela nafas berat lagi “kau ini terima saja” balas bentak gadis itu “aku yang memiliki Klan kenapa kau harus sibuk bertanya” lanjut gadis itu telah berani melawan kekesalan pangeran istana.


“Benar juga”


Jawab laki-laki tersebut terus melangkahkan kakinya. “pegangan yang benar” ucap laki-laki tersebut lagi ketika Zili melepaskan tangannya dari lingkaran leher milik pangeran istana.


“Baiklah baiklah” gadis itu mulai meletakan kembali tangannya, menghirup aroma menenangkan rambut laki-laki tersebut hingga tanpa sengaja matanya terpejam.


Krrrrruukkk...


“Hehe”


“Tahanlah, bukan hanya kau saja yang kelaparan saat ini” ucap pangeran istana menenangkannya.


Zili mulai membuka mata kembali “ aku tahu” ucap gadis tersebut menahan rasa lapar diperutnya.


Terus berjalan dalam jangka waktu lama, hingga kedua orang tersebut menemukan cahaya matahari.


“Syukurlah” ucap Zili “turunkan aku, sekarang aku sudah baik-baik saja” lanjutnya lagi melepaskan tangan dari lingkaran leher pangeran istana.


“Benarkah..?”


“Hmm”


Angguk Zili “tentu saja” lanjut gadis itu lagi lalu mulai menapaki lantai tanpa alas kaki.

__ADS_1


“Kau bisa menggunakan sepatu...”


“Tidak perlu” tolak Zili cepat ketika pangeran istana menawarkan sepatu miliknya untuk dikenakan Zili “terima kasih” lanjut gadis itu lagi-lagi mengejutkan pangeran istana.


__ADS_2