Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Rahasia yang diminta tetap dirahasiakan


__ADS_3

Seorang laki-laki tua terlihat duduk tenang di dalam sebuah ruangan tertutup yang terlihat sedikit sempit serta panas dan memiliki dinding kaca di bagian depannya. Dinding kaca tersebut berfungsi mempermudahkan pengunjung laki-laki tua itu untuk melihatnya dari kejauhan tanpa harus membuka pintu besi baja kokoh yang menguncinya.


Laki-laki tua tersebut kini tengah berhadapan dengan Raja Bayangan di depan kaca tebal yang menghalangi jarak di antara mereka berdua.


Seorang menatap penuh dengan kekecewaan dan seorang lagi tampak menatap dengan begitu tenang, sama sekali tidak sedikitpun terlihat rasa bersalah di matanya.


“Aku pastikan bahwa Yuan tidak akan pernah bisa menemuimu sampai akhir hayatmu.” Ancam Raja Bayangan dengan nada keras, penuh dengan amarah yang mendalam. “Baru kali ini aku mengetahui, seorang guru begitu tega mengkhianati muridnya sendiri, hingga untuk melihatmu sekalipun, Xu’i tidak menginginkannya.” Lanjut laki-laki dewasa yang terlihat sedang duduk di kursi kaki empat.


“Xu’i hanyalah boneka. Kalau bukan Yuan yang memimpin negara, mereka pasti akan muncul kembali.”


“Sebegitukah takutnya dirimu pada kelompok pencari peta?” Raja Bayangan mengepalkan tangan marah, sangat marah karena Putra Semata wayangnya dianggap sebagai boneka.


“Terserahlah, yang pasti aku sudah menasihatimu untuk tidak salah mengambil keputusan.” Laki-laki tua mulai berdiri dan berjalan menjauh dinding kaca menuju ke tempat tidurnya yang terbuat dari jerami.


“Kupastikan yang salah mengambil keputusan adalah dirimu, kakek.”


Raja Bayangan hanya bisa memandang laki-laki tua yang telah tertidur terlentang, menutup mata.


********


Mobil yang membawanya kembali pulang setelah selesai mengunjungi neneknya di rumah sakit berhenti tepat di depan rumah.


Gadis yang masih duduk di bagian belakang mobil menghela nafas berat sembari memandang ke arah pintu rumah. Di bola matanya, ia melihat seorang wanita sedang memeluk seorang laki-laki yang telah lama singgah di dalam hatinya.


Para pelayan perlahan-lahan pergi dari tempat tersebut.


“Xu’i hiks.. hiks..” Suara tangisan wanita itu bahkan terdengar hingga ke telinga Zili.


Siapa?


Gumam gadis itu dalam hati, masih belum berniat untuk keluar dari mobil meskipun kini pintunya telah terbuka atas bantuan seorang pelayan yang tampak masih berdiri menyambut kedatangannya.


“Berhentilah menangis!, huh.” Helaan nafas berat Putra Mahkota terdengar, sepertinya laki-laki itu merasa sangat tidak nyaman menerima pelukan dari wanita lain. “Bukankah kau sudah dewasa?, harusnya kau bisa menerima kenyataan bahwa orang tuamu bersalah. Jangan-jangan, kau juga mata-mata musuh.” Putra Mahkota melepaskan pelukan erat di tubuhnya dengan meraih kedua bahu wanita tersebut.

__ADS_1


Laki-laki yang berdiri di depan pintu itu mulai mengalihkan pandangan kepada Zili yang hanya duduk terdiam memandanginya.


“Xu’i, Aku sungguh tidak tahu apapun yang terjadi, percayalah padaku, Aku datang hanya karena sangat merindukanmu.” Ucap wanita yang telah menghapus air mata di pipinya.


“Terserah kau saja.” Putra Mahkota mulai melangkah kaki menemui Zili yang sontak menundukan kepala karena merasa kesal di dalam hati. “Kenapa kau tidak turun?” Tanya laki-laki yang telah membungkuk, memasukan sedikit kepala ke dalam mobil.


“Halah, Mungkinkah dia Istrimu?” Suara wanita itu terdengar mendekati.


“Benar,” Jawab Putra Mahkota yang telah mengulurkan tangan untuk Zili. “Bagaimana keadaan nenekmu?” Tanya laki-laki tersebut kepada Zili yang telah meraih tangannya.


“Sudah lebih baik, Shisou.”


“Apa? Dia memanggilmu apa?”


Wanita yang telah berdiri di belakang Putra Mahkota tersenyum kecut, dia bahkan mulai menoleh sedikit untuk memandang wajah Zili. “ Ahhh, aku tidak mengenalnya?, tidak juga pernah melihatnya di TV Internasional, Xu’i, Kau menikah dengan wanita dari kalangan mana?” Wanita itu mulai mengerutkan dahi tanda penasaran.


“Ayu, diamlah!, Kau berisik sekali.” Perintah Putra Mahkota sedikit kesal.


“Bibi, aku cari-cari kemana saja ternyata kau malah di sini.” Suara yang sangat dikenali Zili terdengar, gadis yang telah berdiri dengan memegang tangan Putra Mahkota mulai mengalihkan pandangan ke arah seseorang yang berada di dalam sebuah mobil berwarna hitam dan duduk di bagian belakangnya.


“Shin’A, berikan aku waktu dulu, aku masih ingin bersama Xu’i.” Pinta wanita itu mulai mengalihkan pandangan ke arah Pangeran Istana yang memandangnya.


“Sebagai direktur baru, tidak seharusnya kau datang terlambat.” Pangeran Istana mulai keluar dari dalam mobil, ia melangkah mendekat dan bergabung bersama.


Suasana tegang tiba-tiba menyelimuti tempat tersebut.


Putra Mahkota terlihat memandang tajam ke arahnya, begitupula dengan Pangeran Istana.


“Aku tahu kalian tidak pernah akur, tapi tidak pernah tahu kalau kalian sedang bermusuhan. Xu’i, Shin’A, berhentilah saling memandang seperti itu!” Pinta wanita yang kini telah berada di tengah Putra Mahkota dan juga Pangeran Istana.


“Dia sangat pandai berbohong, bibi.” Sindir Pangeran Istana mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.


Senyuman remeh mulai menghiasi bibir Putra Mahkota, “Dia sangat pandai mengurusi masalah orang, Ayu.” Balas sindir Putra Mahkota masih memandang mata tajam Pangeran Istana.

__ADS_1


“Sudahlah, ayo kita kembali saja ke kantor.” Ajak wanita yang tidak tahan lagi dengan suasana menakutkan di sana dengan menarik siku Pangeran Istana.


“Sejujurnya aku tidak ingin ikut campur, hanya saja, ..” Pangeran Istana tidak juga bergerak dari posisinya, wanita di sampingnya tidak sanggup menarik tubuhnya sedikitpun. Maka dari itu, dengan terpaksa ia tetap berdiri di pertengahan kedua orang yang tubuhnya lebih tinggi dibandingkan dengan tubuhnya.”Sebenarnya, Bukankah kau yang lebih kejam daripada aku terhadapnya?,” Ucapan Pangeran Istana mengejutkan dua orang perempuan di sana. Bahkan Zili mulai tertegun karenanya. Ia sedikit penasaran dengan maksud yang di lontarkan Pangeran Istana tersebut.


Putra Mahkota semakin dibuat marah, namun laki-laki itu tetap berdiri tenang dan berusaha menahan diri, sepertinya. Hal itu terlihat jelas sekali dengan matanya yang mulai memerah. “Hm, Lalu, apa urusannya denganmu?” Putra Mahkota melepaskan genggaman tangannya dari tangan Zili lalu memasukan kedua tangan di dalam kantung celana dan mengepalkannya.


“Hm,tentu saja tidak ada, Hanya saja aku merasa sangat kasihan dengan wanita yang telah kau tipu itu.” Jawab Pangeran Istana mulai berbalik, memandang ke arah mobilnya. “Berhentilah jadi orang bodoh Zili!,” masih belum melangkah kaki, kali ini kalimat Pangeran Istana tertuju kepada gadis yang hanya memandangi punggungnya. “Hati yang luka karena kepalsuan terasa lebih menyakitkan dibanding dengan luka yang diterima secara langsung.”


Lanjut laki-laki tersebut mulai melangkah kaki diikuti wanita yang mulai menghela nafas lega karena suasana mencekamkan segera berakhir.


“Kalau begitu, kepalsuan biarlah tetap menjadi kepalsuan.” Ucap Zili mengejutkan semua orang di sana, Pangeran Istana bahkan sampai menghentikan langkah kakinya dan Mata memerah Putra Mahkota yang marah berubah menjadi merah karena kesedihan.


Kepalan tangan di dalam kantung celana mulai merenggang dan tangannya terlihat gemetaran.


“Konyol, tapi lanjutkan saja!, Aku ingin tahu seberapa kuat kau menerima kenyataan yang pasti akan membuatmu membenci laki-laki di sampingmu itu.” Pangeran Istana mulai berjalan kembali,


“Aku tidak akan pernah membencimu, Shisou.” Semakin mempercepat langkahnya ketika mendengar ucapan Zili untuk Putra Mahkota yang menurutnya begitu memuakan.


“Meskipun aku sangat jahat kepadamu?” Tanya Putra Mahkota mulai menoleh ke arah Zili yang terlihat menengadah kepala, memandang wajahnya.


“Bukankah itu semua sebanding?”


“Kenapa begitu?” Tanya balik Putra Mahkota berusaha tetap tenang dan masih mengantungi tangan, mengurungkan niat untuk menggenggam tangan Zili karena khawatir gadis tersebut akan menyadari getaran di tubuhnya.


“Karena kau telah banyak berbuat baik padaku jadi wajar saja kalau terkadang kau bisa berbuat jahat padaku, Bukankah kau bilang tidak ada manusia yang sempurna?, Aku pikir, berbuat jahat demi kebaikan seseorang adalah hal yang wajar.” Jelas gadis itu dengan tubuhnya yang mulai mendekati tubuh Putra Mahkota karena tangan laki-laki tersebut telah mendarat di Punggung atas gadis itu dan memeluknya.


“Tapi aku yakin, kau tidak akan pernah mau memaafkanku.” Ungkap laki-laki tersebut semakin mempererat pelukannya.


Menyadari bahwa ada yang aneh dengan tubuh putra Mahkota, Zili mulai mengira-ngira sesuatu hal yang mungkin jika ia mengetahuinya, ia tidak akan lagi bersama laki-laki yang ia cintai.”Kalau begitu, tetap rahasiakan!”


“Apa?”


“Tetap rahasiakan Shisou!, meskipun sangat ingin tahu tapi jika menurutmu hal itu bisa menghancurkan hubungan kita maka lebih baik tetap rahasiakan!” Pinta gadis itu dengan tubuhnya yang mulai gemetaran.

__ADS_1


“Maaf karena aku lebih memilih untuk mengabulkan permintaanmu.”


“Hm.” Angguk gadis itu di dalam pelukan Putra Mahkota.


__ADS_2