
Suara hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang ricuh kian kemari. Angin berhembus kencang berlawanan dengan tujuan arah mobil yang tengah dikendarai oleh Shin ji.
Seorang siswa dari tujuh orang siswa yang sebelumnya menganggu zili ditoilet duduk berada disebelah Shin ji. Sementara enam lainnya berada di gerobak mobil pick up bersama dengan putra mahkota yang sedang menyamar dan zili yang duduk tepat disampingnya.
Putra mahkota membaca buku, ia terlihat tidak mempedulikan angin yang kadang menerbangkan lembaran bukunya.
Ia duduk melipat salah satu kakinya menyandar dibagian kepala mobil.
“Naik mobil pick up.. bum bum bum.. kami hendak belanja.. kekota, Shen 1 naiknya bersama sama. ...”
“Bisa diam” lirik putra mahkota kepada 6 siswa yang baru saja mengeluarkan suara untuk bernyanyi bersama. Sontak mereka langsung terdiam.
Hari itu, putra mahkota sengaja mengajak zili untuk berbelanja kekota membeli rambut palsu, dan barang barang lainnya. dia berencana untuk membawa zili masuk keasrama laki laki dengan menyamar sebagai anggota klan sun lainnya.
Mobil berhenti, tepat dipinggir kota kecil wilayah Barat laut. Kota tersebut termasuk kedalam bagian desa Shen 1.
Putra mahkota lompat kebawah, begitu juga siswa lainnya yang langsung berhamburan pergi karena sudah lama terkurung didalam asrama.
Mereka yang mengetahui putra mahkota akan pergi, memohon dengan sangat agar ikut menyertainya. Wajah memelas mereka bahkan sanggup membuat zili ikut serta memohonkan kepada putra mahkota.
Shin ji tampak tidak tertarik untuk bergabung belanja bersama putra mahkota. Ia memilih untuk menetap dan bermain game kesayangannya. Membiarkan putra mahkota bersama zili pergi berdua.
“Ini”
“Buatku?”
“Hm iya buatmu”
Zili mengambil benda yang diberikan putra mahkota kepadanya. Sebuah benda berbentuk setangkai bunga mawar dan sebuah daun didalam plastik pembungkus.
Zili mencium benda tersebut “ kok tidak harum ya tuan?”
“Bodoh, itu permen”
“Permen?”
Dengan ragu ragu zili membuka pembungkus plastik lalu memasukan bagian Benda tersebut kedalam mulutnya.
“Emm iya.. manis sekali, rasanya juga enak”
“Baguslah”
“Tapi tuan, kenapa anda hanya beli satu, bagaimana dengan anda?”
“takk” suara patahan terdengar “ ini” putra mahkota mengambil satu satunya daun yang berada ditangkai permen tersebut.
“Tuan, itu saja”
__ADS_1
“Hm, aku juga tidak terlalu suka makan makanan yang manis manis” putra mahkota memasukan sebagian daun permen tersebut lalu menggigitnya.
ZIli tersenyum senang. Ini pertama kalinya ia mendapatkan hadiah dari seseorang yang baru ia kenal.
“Tuan, berapa harga permen ini?” tanya zili sembari sesekali memasukan permen tersebut kedalam mulut dan mengigitnya.
“20 neceri”
“Haah”
“Kenapa?”
“Mahal sekali, uang sebanyak itu bahkan bisa untuk biaya makanku selama 3 hari”
“Hm.. 20 neceri mahal, bukankah itu terlalu murah,kalau aku yang menjual, pasti akan kujual 50 neceri”
“Gila, tuan, kalau begitu anda akan cepat kaya. Dan juga mana mungkin ada yang mau membeli jika harganya semahal itu”.
Neceri adalah mata uang negara NC. Mata uang paling rendah dari negara tersebut adalah Neci.
Suara keramaian sontak mengundang perhatian zili dan putra mahkota. Mereka yang telah selesai berbelanja dikejutkan dengan semua orang orang berlarian menuju ke jalan raya.
“Shisou, itu pasti shisou” ucap Zili lalu melangkah lari namun tangannya tiba tiba dihentikan putra mahkota.
“Mau kemana?”
“percayalah, itu bukan orang yang kau cari”
“Aku hanya ingin memastikan, sungguh aku sangat merindukan Putra mahkota” ungkapnya mengejutkan putra mahkota. Perlahan lahan remaja laki laki tersebut melepaskan genggam tangannya. Memandang zili yang telah berlari memeluk kantong belanjaan mereka dan menggigit habis permennya.
“Shi...” sontak zili terdiam memandang seseorang yang telah keluar dari dalam mobil. Ia tertegun, tubuhnya tiba tiba menggigil. Dengan cepat ia berjalan masuk kerumunan Orang orang dipinggir jalan.
Namun langkah kakinya tiba tiba terpaksa terhenti karena tangannya tiba tiba ditarik.
“Tu..tuan” tubuh zili gemetaran, keringat bercucuran. Ia bahkan sampai menjatuhkan barang yang ia bawah. dengan ragu ragu ia melihat tangannya telah ditarik oleh Shin’A dan tangan lainnya ditarik oleh putra mahkota.
Semua mata memandang mereka terkaget kaget, bahkan sampai ada yang tanpa sengaja mengambil foto yang langsung di halangi para penjaga pangeran.
“Lepas” Shin’A terlihat sangat marah
“Kau yang harusnya melepas”
“Kau berani menentangku?”
“Memangnya kau siapa?”
Zili tak mampu bergerak, rasa takut melihat Shin’A menggerogoti seluruh jiwanya. Hingga kedua kaki tidak berhenti gemetaran. Pikiran gadis itu kacau. Bahkan tidak mampu mendengar suara orang orang disekitarnya.
__ADS_1
“Kau berani dengan pangeran istana” acungan pistol dari beberapa penjaga pangeran mengarah keputra mahkota.
“Hooo... pangeran istana mau membunuh orang tanpa sebab” putra mahkota menarik tangan zili kuat hingga terlepas dari tangan Shin’A. Zili jatuh kepelukan putra mahkota yang lalu memeluknya dengan sebelah tangan.
Detak jantung zili tidak beraturan, saking takutnya ia kepada Shin’A sampai membuat dirinya menyembunyikan wajah didada bidang putra mahkota.
Shin’A sangat terkejut bahkan tidak percaya, bahwa ada seseorang yang tidak ia kenal mampu mengalahkan kekuatannya dalam menarik putri mahkota.
“Kau,.. siapa?” Shin’A geram dengan sikap Putra mahkota yang telah menyamar.
“Temannya”putra mahkota tersenyum remeh membalas tatapan menusuk Shin’A.
“Hmm, kau tahu, siapapun tidak kuizinkan berteman dengannya atau dia akan menyesali perbuatannya”
“Hoooo coba saja”
“Yang mulia, kita harus segera bergegas” suara seorang remaja laki laki keluar dari pintu depan mobil milik Shin’A.
“Yoo Ruan?”
“ Shin ji, apa yang kau lakukan disini?” tanya Zin zi ruan, penasihat pangeran Istana, Sun Shin’A ketika melihat Shin ji berjalan mengantongi kedua tangan sembari memainkan permen Lolipop dimulutnya.
“Shin ji” gumam Shin’A dalam hati.
“Yoo shin’A” sapa Shin ji. “ tentu saja melindungi putri mahkota, dan Kalian, apa yang kalian lakukan disini?”
“Aaah, pangeran Shin’A hanya ingin menyapa sejenak putri mahkota ketika melihatnya....”
“Menyapa sampai membuatnya ketakutan seperti itu”
“Shin ji, kau terlalu banyak bicara” Shin’A membalikan tubuh, sejenak ia melirik kearah putra mahkota yang tersenyum nakal kearahnya masih dengan memeluk Zili.
Remaja laki laki tersebut lalu melangkahkan kaki menuju mobilnya.
*****
Mobil yang membawa serta mengawal shin’A telah pergi. Semua mata memandang mengerikan kearah zili yang mereka anggap sangat murahan.
Terkadang, salah seorang dari mereka bahkan sempat menyindir dengan kata kata tajam namun langsung terdiam karena mendapati lirikan dari Shin ji.
Air mata membasahi kemeja Abu abu milik putra mahkota, remaja laki laki tersebut tetap berdiri membiarkan Zili menyelesaikan tangisannya.
Pandangan matanya terlihat sangat tajam berapi rapi. Shin ji bahkan sampai tertegun tidak berani menatap remaja laki laki tersebut.
“Sudah tenang?”
“Hiks.. maafkan aku tuan, aku tidak seha...”
__ADS_1
“Sudahlah, jangan dipikirkan, ayo kita pulang” putra mahkota mengambil kantong belanjaan, ia mengenggam tangan zili lalu menariknya untuk pergi bersama. Saat itu, lagi lagi Shin ji merasa diabaikan namun ia tampak sudah biasa.