
Di ruangan itu matanya memerah karena marah. Entah sejak kapan hatinya mulai berani mengungkapkan isi hati yang paling dalam melalui Isyarat tubuh.
Tangannya mengepal, dia berbalik lagi, mengurungkan niat untuk kembali ke kamarnya.
Letak sofa dan meja sedikit agak menjauh karena dia berada tepat di depan pintu yang terbuka. “Menikahlah dengan Su’A!” Dia berusaha menenangkan diri. Nada suaranya juga pelan.
Dewa Kemenangan terkejut, dia yang kesal semakin dibuat kesal dengan ucapan Zili tersebut. Laki-laki itu menghela nafas lalu fokus memandang gadis di depannya. “Aku sudah berusaha keras membatalkan pertunangan, dan sekarang kenapa aku harus menikahinya?” Ucap laki-laki tersebut mengontrol emosi yang tadinya sempat meledak karena marah.
“Jika kau lebih bisa berpikir rasional, bukankah akan sangat menguntungkan jika Klan Ann dan Klan Sun saling berhubungan?,”
Dewa Kemenangan tersenyum kecil, dia menunduk sejenak lalu memandang Zili kembali. “jika aku tidak ingin melakukannya, maka sampai kapanpun tidak ingin aku lakukan.” Jawaban laki-laki tersebut membuat Zili menundukan kepala.
“Bukankah begitu juga dengan Putra Mahkota?” Pertanyaan Zili membingungkan laki-laki di hadapannya, meskipun masih dengan nada pelan namun sepertinya pertanyaan gadis tersebut mengandung makna tersendiri.
“Tentu saja, maka dari itu kau harus sadar bahwa Putra Mahkota tidak akan mungkin pernah menginginkanmu.” Tegas laki-laki tersebut mengingatkan gadis itu. Mungkin, dia sangat lelah karena melihat Zili yang telah berusaha keras selama ini, tak kunjung juga mendapatkan perhatian Putra Mahkota malahan laki-laki tersebut sengaja meninggalkannya dan memilih untuk pergi dari Negara mereka.
“Aku tahu, tapi sekalipun aku menyerah, bukankah hati Putra Mahkota juga belum ada yang memiliki?”
“Zili, kau sadar tidak, Putra Mahkota tidak akan pernah hidup normal kembali?, dia akan menjadi Louise selamanya akan menjadi lou....
“ Sa’i, Dengarkan aku dulu,” Sela gadis itu cepat berusaha menjelaskan pemikirannya. “Jauh sebelumnya ada begitu banyak orang yang menyuruhku untuk menyerah karenanya aku juga tidak pernah percaya diri untuk mengejar Putra Mahkota tetapi selama ini, Putra Mahkota selalu mendukungku dan sekalipun tidak pernah menyerukanku untuk menyerah,” Gadis itu mulai memandang dewa kemenangan dengan tatapan penuh percaya diri, tatapan yang mampu mengejutkan laki-laki di hadapannya karena baru kali itu, tatapan gadis tersebut terlihat begitu berbeda. “Sa’i, Bukankah ada begitu banyak wanita yang mengejar Putra Mahkota di masa lalu namun tidak seorangpun dari mereka mendapatkan sedikit saja perhatian darinya?, itu artinya sampai detik ini, hati Putra Mahkota masih belum terbuka juga, bukan?, maka dari itu, aku percaya, sangat percaya jika aku terus berusaha dan bersabar, lalu gagal dan berusaha lagi lalu bersabar lagi, Tuhan pasti membukakan hati Putra Mahkota untukku, jadi sekalipun Putra Mahkota telah berubah menjadi orang lain, aku akan tetap mengejarnya. Dan aku percaya sesungguhnya dia tidak akan pernah berubah.”
“Zili, berhentilah bersikeras.” Pinta lemah Dewa Kemenangan, seolah-olah mengabaikan pendapat Zili.
“Kenapa?, kenapa aku harus menyerah?, bukankah aku adalah istrinya?, aku pikir, “ Menghela nafas lalu berbalik dan mulai melangkah kaki keluar pintu dan berhenti. “ Kaulah yang harusnya menyerah memaksaku untuk berhenti berusaha karena sejujurnya aku tidak akan pernah menyerah, Apalagi saat ini Putra Mahkota dalam bahaya, bagaimana mungkin seorang istri membiarkan suaminya menderita sendirian saja?” Lanjut gadis tersebut mulai berjalan kembali, “pergilah Sa’i!, Kau hanya menyia-nyiakan waktumu saja di sini, dan tenang saja, aku pasti akan memberikan susunan rencana kepada Raja Bayangan karena aku..” Menghentikan langkah sejenak lalu menoleh ke belakang. “ Aku adalah Tanpa Nama.” Ingatkan gadis itu kepada Dewa Kemenangan hingga membuat mata laki-laki tersebut terbelalak dan dia mulai mengingat kembali kenangan masa lalunya di desa Co.
********
Suasana di ruangan itu begitu tegang,
__ADS_1
Kepanikan dan kecemasan menyelimuti seluruh hati para penghuni yang berada di sana.
Pelindung Raja Negara berdiri, dia yang tadinya duduk di atas sofa sepertinya sangat gerah dan berusaha menenangkan diri dengan mengambil buku di dalam lemari sana. Laki-laki dewasa itu tampak lebih kurus dan wajahnya sangat pucat, mungkin karena sudah lumayan lama ia tidak mendengar kabar tentang Putranya, Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang telah lama pergi.
Penasihat Raja terlihat menghela nafas. “Kau masih belum juga mendapatkan pesan khusus darinya, ya?” Tanya Laki-laki dewasa itu kepada Raja Bayangan yang tampak duduk membungkuk dan menggenggam kedua tangan di pertengahan kaki yang terbuka.
Laki-laki dewasa yang ditanya masih terdiam, sepertinya ia begitu terpukul ketika mendengar kabar bahwa adik satu-satunya akan dijadikan bahan percobaan oleh musuh.
“Mungkinkah dia?, Tapi mana mungkin Shin’A dan yang lainnya berbohong, ditambah lagi Zili,..”
“ Mana mungkin dia mengabaikan Zili begitu saja, bukan?, kalian ingat, dia bahkan lebih memilih gadis itu dibandingkan dengan negaranya sendiri?” Pelindung Raja menyela kalimat Ratu Bayangan, dia telah kembali setelah mengambil buku dan duduk kembali ke atas sofa tepat di samping wanita dewasa yang terlihat sedang menenangkan diri dengan menutup wajah sedari tadi tadi dengan satu telapak tangannya.
“Remote hilang dan musuh tidak mendapatkannya, Bukankah ini aneh jika remote tiba-tiba menghilang tanpa adanya pencuri?” Menteri Keuangan mulai menyatakan pemikirannya. Sangat jarang laki-laki yang selalu diam tersebut melontarkan pendapat.
“Jika musuh mendapatkannya, sudah pasti mereka tidak akan melepaskan Shin dan telah datang mengambil alih Istana?” Tebak Penasihat Raja tidak ada keraguan lagi di dalam bola matanya. “Bukankah ini sudah jelas bahwa dialah yang merencanakan ini semua?, Hanya saja..
“ Zili,” Menteri Keuangan tertegun, ia sedikit takut jika Putrinya dalam bahaya namun sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan teman-teman serta Negaranya meskipun terpaksa harus mengorbankan putri semata wayangnya sendiri. “Secara tidak langsung pasti dia memanfaatkan Zili untuk menjalankan rencananya, karena Zili selalu bilang bahwa dia tidak pernah sekalipun memberikan perintah kepada bawahannya untuk bertindak hari itu.” Lanjut Laki-laki dewasa berusaha meyakinkan teman-temannya. “Dan aku percaya pada putriku sendiri.” Lanjutnya, menyesali kembali perbuatannya yang dulu tidak pernah sedikitpun percaya kepada Zili.
Sepertinya Keputusan Raja Bayangan telah bulat. Tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang tampak akan memberikan pendapat, ia mulai berdiri dan berjalan keluar ruangan untuk menghadiri rapat Para Ketua Klan yang mungkin saat ini sedang berlangsung di bawah pimpinan Raja Negara.
********
Dia keluar dari kamarnya,
Seragam Kebanggaan Klan Xu berwarna merah dengan bintang lima di bahu serta delapan Pin Klan yang mengait di selendang kuning miring terjahit menyatu, ia kenakan.
Topi di tangan juga turut ia kenakan sebelum keluar dari rumah miliknya. Rumah yang selalu menyesakan hati karena tidak ada lagi Putra Mahkota di sana.
Rambut panjangnya terkuncir naik satu ikatan ke belakang rapi, pita-pita kecil juga menjepit di poni panjang miringnya.
__ADS_1
Kini, Panggilan Negara akan ia hadiri, mengikuti rapat guna untuk menyusun rencana membawa kembali laki-laki yang ia cintai pulang ke rumah.
“ Shisou, Tunggu aku.” Ucapnya dengan rasa sakit yang menusuk jiwa. Kali ini, dialah yang akan mendatangi dan tidak lagi menunggu seperti dia di masa lalu.
Pintu terbuka,
“ Yang Mulia, Saya telah membawakannya untuk anda.” Seorang Perwira Tentara Militer datang mengejutkan Zili dengan membawa sebuah kotak mewah di tangannya.
Kotak antik yang mungkin terbuat dari Emas Putih itu terukirkan gambar sebuah jam tangan. “Aku yang memerintahkannya kepadamu?” Pertanyaan Zili mengejutkan Laki-laki yang berdiri di depan Pintu dengan menyodorkan benda yang ia bawa. Tubuhnya mulai gemetaran dan Zili mampu menyadarinya.
“Benar Yang Mulia, Bukankah anda yang memberikan perintah khusus lewat MCNC?” Laki-laki tersebut berbalik tanya, dia mulai ragu dengan pesan yang terkirim ke kotak masuk akunnya.
Zili mulai memahami situasi yang saat itu sedang berlangsung, “ Darimana kau tahu bahwa aku yang mengirimkan Pesan itu?” Tanya balik Zili semakin membuat khawatir Prajurit Militer di hadapannya.
Laki-laki itu berusaha tetap tenang, walaubagaimanapun seorang Tentara Militer Negara NC memang diharuskan untuk selalu tetap tenang dalam menghadapi masalah. “Lambang Putri Mahkota.” Jawab laki-laki tersebut bersamaan dengan Zili yang telah meraih Kotak emas putih dari tangannya.
Melirik sejenak ke arah dada seragamnya, Baru kali itu Zili menyadari bahwa jabatan Putri Mahkotanya memang memiliki sebuah Lambang dan itu adalah lambang Setengah Bintang.
“Kembalilah!” Perintah Zili kepada laki-laki di hadapannya.
“ Yang Mulia,..
“ Benar, Akulah yang memerintahkanmu untuk mengambilkan ini dari Ketua Klan Co?” Tebak Zili dengan penuh percaya diri, karena ia sendiri mengetahui bahwa hanya Guru Teknologi Putra Mahkotalah yang mungkin dipercayai laki-laki tersebut untuk menjaga Kotak Jam Tangan Pengendali Texchi buatan Putra Mahkota yang dimiliki Zili selama ini. “ Jadi sekarang, kembalilah!”
“ Ya Yang Mulia.” Laki-laki itu pergi setelah memberikan hormat.
Tidak membuang-buang waktu, Zili yang mengetahui bahwa itu adalah mungkin bagian dari rencana Putra Mahkota yang sedang menyamar, mulai membuka kotak jam tangan tetapi sayang, dia tidak menemukan apapun kecuali hanya sebuah kertas petunjuk penggunaan Jam Tangan Hadiah yang ia dapatkan dari Putra Mahkota di masa lalu.
“Mungkinkah tuan,?” Gadis itu mulai berpikir, “ Antarkan aku ke Desa Co 1, Paman!” Perintah gadis tersebut kepada Supir Pribadi Putra Mahkota yang sedari tadi berdiri di depan pintu mobil, menunggunya.
__ADS_1
“Ya Yang Mulia.”