Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Lebih memilih hati


__ADS_3

Pintu terbuka,


Seminggu telah berlalu sejak malam penyambutan kepulangan Putra Mahkota. Selama itu pulalah Zili dan suaminya tidak saling berbicara.


Jabatan Kepemimpinan Kesatuan Tentara Militer telah kembali kepada Putra Mahkota. Yang gadis itu lakukan hanyalah kembali ke sekolah sebelum di jadwalkan untuk pergi ke Sekolah Pertanian dan mengunjungi neneknya di rumah sakit.


Sangat jarang ia datang ke Istana. Kejadian pengkhianatan yang dilakukan seorang paling terhormat di Negara NC semakin memperketat penjagaan Istana bahkan keluarga kerajaan sekalipun tidak diperkenankan masuk tanpa izin dari para Pengendali Negara.


Derap langkah lebar memasuki ruang keluarga,


Suara sepatu kulit berwarna hitam terdengar menggema di ruangan kedap suara.


Sudah sangat jarang ia melihat wajah wanita miliknya di karenakan kesibukannya yang begitu padat sebagai Putra Mahkota, bahkan ia kerap kali tidak pulang selama dua hari lamanya.


Ketika saling berhadapan sekalipun, ia tetap diam karena rasa bersalahnya. Bahkan di meja makan juga, ia tidak pernah membuka suara.


Setiap kali ia pulang ke rumahnya, setiap kali pula ia melihat wanita miliknya tertidur di atas sofa ruang keluarga, menunggunya pulang ke rumah mereka dan setiap kali jugalah ia mengangkat tubuh gadis itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar gadis tersebut.


Namun berbeda dengan kali ini, Meskipun laki-laki itu pulang larut malam, gadis itu tampak tetap membuka mata, dan duduk di atas sofa dengan televisi yang masih menyala, menunggunya pulang kembali.


Dia mulai datang mendekati Putra Mahkota yang telah menghentikan langkah. Memandang wajah tampan yang mulai menutup bukunya dan memberikan buku tersebut kepada pelayan di sana, lalu mengisyaratkan pelayan untuk segera pergi dari ruangan tersebut.


Rasanya begitu canggung,


Mereka berdua saling menyalahkan diri sendiri hingga tak seorangpun yang mau membuka suara terlebih dahulu.


🌼🌼


Telah berdiri di depan Putra Mahkota,


Matanya mulai beralih ke bawah, pandangan Putra Mahkota juga terlihat telah teralih.


Masih tetap diam hingga laki-laki tersebut memberikan sebuah surat kepada Zili.


Sontak gadis itu mulai gemetaran dan mengira bahwa itu adalah surat perceraian, tapi dia pasrah, dia menerimanya dengan berbesar hati.


Perlahan-lahan ia membuka isi surat yang dilipat masuk ke dalam amplop putih berstempelkan Lambang Negara di bagian pertengahannya, Lambang matahari, bulan dan bintang.


Setelah membaca isi surat dengan seksama, matanya sontak terbelalak tidak menyangka. Dirinya merasakan takut yang mendalam, meskipun demikian, Surat itu merupakan perintah dari Raja Negara untuknya.


“Pengawal Pribadi Putra Mahkota ke Mongolia?” Gumam gadis tersebut pelan sembari terus membaca isi surat lanjutannya.


Putra Mahkota segera pergi, ia masih belum sanggup untuk berbicara kepada Zili karena rasa bersalahnya yang semakin tinggi. Melihat perilaku Putra Mahkota, Zili hanya diam memandang punggung laki-laki tersebut yang kini telah menghilang masuk ke dalam ruangan lain.


Padahal hari itu ia berencana meminta maaf dengan sungguh-sungguh meskipun kematian Pemilik Apartemen masih terus terngiang di dalam benak dan pikirannya.


Tidak..


Gadis itu mulai memperkuat hatinya lalu melangkah mencari Putra Mahkota kembali.

__ADS_1


Hari itu, ia harus berbicara pada laki-laki yang ia cintai sebelum melakukan tugas sebagai Pengawal Pribadi Putra Mahkota untuk pergi ke Negara Mongolia, mencari keberadaan Red Sprayer


Terus melangkah lalu berdiri tepat di depan pintu kamar laki-laki tersebut.


Tok tok.


Dia mulai mengetuk pintu.


Tok tok.


Tak terdengar sedikitpun langkah mendekati dari dalam kamar Putra Mahkota. Hanya terkadang terdengar langkah beberapa pelayan yang tampak berjalan menuju dapur dan berada lumayan jauh dari posisinya.


Rumah yang besar itu memang tak bertingkat maka dari itu, terkadang seorang pelayan yang bekerja dapat dengan mudah di temukan di sana.


Tokk..


Tokk


“Shisou.”Panggil Zili sedikit keras, “Maaf mengganggu, tapi aku butuh berbicara padamu.” Ucap gadis itu, kali ini dengan nada sedikit pelan. “Shisou.” Panggilnya lagi lalu menghela nafas berat karena tidak mendengar jawaban.


Dia mengira-ngira dan berpikir bahwa kemungkinan besar Putra Mahkota sangat membencinya.


Gadis itu lalu berbalik dan berniat untuk kembali ke kamarnya saja, Menunda keinginan hati lalu akan berbicara ketika ia memiliki kesempatan lagi.


Buuuukkkk..


Cipraaakkk


Air mineral yang berada di dalam botol genggaman tangan orang di hadapannya keluar dan jatuh sedikit ke atas lantai.


“Shisou,” Panggil Zili menyebut Putra Mahkota.


Malam itu, rasa bersalahnya semakin bertambah karena tabrakan yang tak sengaja ia lakukan.


Keinginan hati untuk berbicara telah sirna sudah karena kecerobohannya terhadap Putra Mahkota yang mungkin saat itu telah kembali dari dapur untuk mengambil air mineral.


“Maaf..”


Zili mulai menundukan kepala lalu melangkah meninggalkan tempat tersebut secepatnya.


Kecewa sekali,


Dia tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan hati.


Bukanlah mudah baginya memahami diri sendiri.


Terkadang, keinginan hati yang telah ia turuti berakhir semakin membuatnya menjadi tak tahu diri.


Terus melangkah mendekati kamarnya,

__ADS_1


Menahan luka dan kekecewaan yang menyelimuti jiwa.


Dia menggenggam kertas di tangan dengan rasa lelah.


Lelah karena segala sesuatu yang ia sembunyikan kini berakhir menyiksanya.


“Katakan!” Suara seseorang terdengar menggema di belakang gadis itu.


Sontak ia terkejut karena ternyata Putra Mahkota telah mengikutinya hingga ke depan pintu kamar.


Gadis itu mulai berbalik dan mengangkat kepala.


Dia tidak ingin menangis dan menguatkan diri untuk tidak menangis.


“Shisou, Bukankah kau ini sangat aneh?” Ucap Zili berlawanan dengan pikirannya. Dia bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lontarkan dari dalam lubuk hatinya yang tiba-tiba muncul begitu saja.


“Apa?”


Mendengar pertanyaan Zili, benar saja Putra Mahkota langsung terkejut karena ia sendiri selalu menahan diri untuk tidak berbicara yang akan membuat dirinya semakin merasa bersalah.


“Ahh,” Gadis itu yang berniat untuk meminta maaf, mau tidak mau mengikuti apa yang ada dalam hatinya.


Biarlah tak tahu diri, pikirnya.


Sungguh, malam itu dia tidak mempedulikan posisi tinggi laki-laki di hadapannya dan lebih berkeinginan untuk mengucapkan segala yang ingin ia ungkapkan. “Kau aneh Shisou, Kau aneh, sedikitpun kau tidak pernah mencintaiku. Aku tidak tahu kau pernah mencintaiku, yang kutahu kau hanyalah baik padaku karena aku adalah muridmu dan aku adalah Istri yang harus menjaga nama baikmu sebagai Putra Mahkota,” Ungkap Zili perlahan-lahan mengeluarkan isi hatinya. “Kau sangat hebat dan dicintai banyak orang, bahkan aku juga sudah sering kali menyatakan perasaanku kepadamu sejujur-jujurnya dan sedikitpun kau tidak pernah membalasnya. Aku lelah, aku tahu diri, aku sadar diri Shisou, Aku lelah terus mengejar cinta orang sehebat dirimu, aku juga ingin dicintai jadi,..” Menggertakan gigi-giginya karena merasa kecewa pada dirinya sendiri yang berani berbicara tidak sopan dengan Putra Mahkota, “Kenapa kau membunuh orang pertama yang pernah mencintaiku?hikss.. hikss..” Gadis itu mulai menjatuhkan air mata masih dengan menatap mata Putra Mahkota. “Di saat aku merasa tidak ada seorangpun yang mencintaiku, hanya dialah satu-satunya orang yang berani mencintaiku dan selalu menolong hidupku, lalu kenapa kau membunuhnya?, Shisou kau tidak pernah mencintaiku, kau tidak pernah tahu rasa sakitnya kehilangan orang yang berharga bagimu, jadi kau tidak pernah tahu rasanya jadi aku. Meskipun dia mencintaiku, aku tetap mencintaimu Shisou, aku berusaha keras mengabaikannya meskipun aku tahu, aku juga memiliki perasaan untuknya...”


“Diam.” Putra Mahkota membuka suara sedikit pelan, ia sungguh tidak ingin mendengarkan lanjutan kalimat dari Zili.


Laki-laki itu mulai berbalik lalu melangkah pergi setelah Zili terdiam dan hanya menangisi perasaan perih di hati.


“Hiks hiks..”


Zili hanya bisa menangis tertunduk dengan berkali-kali mengusap air matanya yang terus mengalir.


Segera gadis itu berbalik lalu melangkah kaki mendekati pintu kamarnya.


Hiks... hikss..


“Aku pernah merasakannya, “ Suara Putra Mahkota terdengar lagi di belakang gadis yang sontak berbalik kembali dengan kepala terangkat naik karena kedua tangan Putra Mahkota yang melakukannya. “Tapi saat itu, aku tidak memiliki siapapun untuk mengobati rasa sakitku.” Lanjut laki-laki tersebut sembari menghapus air mata Zili dengan Sapu tangan yang baru saja ia ambil dari dalam kantung jas yang ia berikan kepada Pelayan tadinya. “Meskipun sekarang kau sakit tapi kau masih memilikiku. Kau katakan bahwa kau mencintaiku, bukan? Maka kukatakan padamu, kau tidak perlu takut mencintaiku karena aku tidak akan pernah berpaling pada wanita manapun. Aku akan selalu berada disisimu jadi aku mohon ikhlaskan kematiannya untukku.” Pinta Putra Mahkota mengejutkan Zili yang masih belum mampu mencerna dengan benar ucapan laki-laki yang telah menyimpan sapu tangan di kantung celana dan membuka pintu kamar Zili.”Sekarang tidurlah!, Lupakan dia!” Lanjutnya memberi perintah dan menarik tangan gadis yang telah berhenti menangis tersebut untuk segera masuk ke dalam kamarnya.


Jam tangan telah menunjukan angka 3, tidak banyak waktu lagi untuk Putra Mahkota beristirahat.


Pintu segera ia tutup, setelah Zili naik ke atas kasurnya, laki-laki tersebut segera naik ke tempat yang sama, lalu menutup mata karena esok pekerjaan beratnya harus segera di selesaikan dan dia hanya tinggal menunggu hari dimana dia akan bertugas bersama Istrinya untuk mengakhiri kekacauan di Negaranya.


“Shisou.”


“Diamlah dan tutup matamu!” Ucap Putra Mahkota begitu tenang, laki-laki tersebut kini telah terbaring terlentang sembari menggenggam salah satu tangan Zili dengan satu tangannya.


Hati yang kacau, perlahan-lahan mulai tenang kembali,

__ADS_1


Dengan satu tangan yang tersisa, gadis itu menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Putra Mahkota dengan benda tersebut tanpa mengganggu tidur lelap laki-laki yang ia cintai.


“Shisou.” Panggil Zili lagi namun kali ini tidak terdengar jawaban, “cepat sekali dia tidurnya.”Gumam gadis itu pelan sembari tersenyum senang memandang wajah tampan Putra Mahkota dari arah samping sementara tangan lainnya masih berada di dalam genggaman satu tangan laki-laki yang sangat ia cintai tersebut.


__ADS_2