
Koridor lantai Tiga Apartemen terlihat begitu sepi, hanya beberapa Ruangan saja yang tampak mengisi tempat tersebut.
2, 3.
mungkin hanya ada empat saja itupun jaraknya saling berjauhan.
Karena gedung tersebut adalah gedung tua yang sudah lama sekali berdiri, maka tidak banyak orang yang berniat untuk membeli salah satu apartemen didalamnya ataupun hanya sekedar menyewa saja.
Terlebih lagi, letaknya yang juga jauh dari Pusat Kota Desa SUN, membuat siapapun tidak berminat untuk memiliknya kecuali jika memang keuangan orang yang berniat membeli apartemen tersebut tidak begitu banyak. hanya saja, gedung Tua yang bertingkat enam tersebut lumayan dekat dengan Istana kerajaan, mungkin sekitar 20 atau 30 menit berjalan kaki, Istana kerajaan sudah terlihat didepan mata.
Menghapus air mata, menenangkan rasa piluh karena lagi dan lagi, gadis itu harus kehilangan apa yang dimilikinya, kali ini bahkan tepat didepan mata.
Walaubagaimanapun, Apartemen digedung tua tempat dia berdiri saat ini Merupakan tempat dimana ia menghabiskan sisa waktunya dimasa lalu, tempat tersebut terkadang juga menjadi tempat terindah karena Gadis itu baru menyadari bahwa Ratu negara dan ratu bayangan sering kali muncul disana bersama Bibinya, istri dari penasihat raja, Zin zidahlia.
Rindu tak terbendung,
Dalam hatiny bertanya-tanya, bagaimana kabar kedua wanita yang telah ia anggap seperti ibunya sendiri, gadis itu bahkan tidak mungkin diam-diam datang keistana atau ke kediaman keluarga Xu karena kedua tempat tersebut memiliki penjagaan yang begitu ketat, bahkan hanya sekedar menjadi seorang pelayan sekalipun sangar sulit untuk meraihnya.
Walaubagaimanapun, jabatan seorang pelayan yang memasuki keluarga kerajaan termasuk kedalam bagian dari Pejabat negara.
Tapi, mau bagaimana lagi,
Keahlian tinggi seorang pelayan yang kebanyakan dimiliki penduduk desa Sun membuat Kesempatan bergabung menjadi pejabat negara sangatlah tipis, terlebih lagi jika tidak memiliki kemampuan dibidang pengecapan makanan, sudah pasti, tidak akan ada kesempatan untuk berada disana.
Takk... taaakkk...
Putra mahkota mencari-cari sesuatu dikantungnya tapi tidak menemukannya, membuka pintu tapi tidak juga berhasil, dia mulai berbalik lalu terduduk lemah menyandar dipintu. Padahal laki-laki tersebut bisa masuk dengan mudah hanya cukup menendang pintunya saja, tetapi kelihatannya, dia tidak ingin menghancurkan tempat berharga peninggalan istrinya.
Menunduk sedih, masih duduk seperti biasa, yaitu melipat salah satu kaki lalu menyandarkan salah satu tangan diatas lututnya, sementara kaki yang lain tampak berselonjor dan tangan yang lain begitu lemah terbuka.
Aaahhh menyedihkan.
Pikir Zili yang melihatnya,
Begitu menyedihkan bahkan gadis itu sampai menginginkan bahwa laki-laki dihadapannya tersebut adalah laki-laki yang dia cintai.
__ADS_1
Dia tersenyum getir dan berpikir,
Mana mungkin putra mahkota akan begitu menderita hanya karena kehilangannya, dan lagi, pikirnya juga, mungkin saat ini putra mahkota telah menjalani hidupnya seperti biasa dan akan bersiap-siap memilih putri mahkota baru sebagai penggantinya.
Menangis,
Gadis itu menjatuhkan air mata lagi sembari menundukan kepala.
Betapa Cintanya dia dengan orang yang selama ini selalu berada disisinya dan memberikan banyak kekuatan untuknya.
Tidak masalah,
Gumam gadis itu dalam hati sembari mengusap matanya dengan punggung telapak tangan, membersihkan air mata tepat dihadapan putra mahkota yang juga tampak menitihkan air matanya kembali.
Tidak masalah jika putra mahkota melupakannya, baginya, Cukup mencintai laki-laki tersebut saja sudah membuatnya sangat bahagia.
Bahagia karena tidak semua orang Diizinkan untuk memiliki perasaan kepada laki-laki tersebut.
Menangis saling berhadapan, sama-sama menunduk dan saling tidak menyadari tangisan masing-masing.
saling merindukan satu sama lainnya.
Menghela nafas berat, lalu mulai mengangkat kepala,
Menghapus sisa-sisa air mata kemudian mulai melangkah menghampiri Putra mahkota untuk memberikan kunci Miliknya.
Mulai mendekat, “tuaann” mengeluarkan Kunci lalu membungkukan tubuh sembari mengulurkan tangan, memberikan barang tersebut kepada laki-laki dihadapannya “ ini kunci and....”
Haaa..
Benar-benar diabaikan,
Putra mahkota bahkan telah berdiri lalu berjalan kembali, sebagian pakaiannya juga tampak sudah mengering.
Menabrak bahu Zili hingga tubuh gadis itu terjatuh.
__ADS_1
Astaga laki-laki ini.
Gumam Zili dalam hati, kesal tak terkira tetapi mau bagaimana lagi, dia memang harus bertanggung jawab karena telah menerima gaji diawal kerja, juga bertanggung jawab karena merasa bahwa dia lah penyebab laki-laki yang berjalan memunggunginya tersebut menderita.
“Tuan, ini kunci anda..” teriak Zili dari jauh sembari berdiri ketika putra mahkota mulai melangkah kaki menaiki anak tangga.
Lagi-lagi menghela nafas berat, kali ini sembari memejamkan mata, setelahnya, zili mulai bergerak cepat, melangkah kaki mengikuti putra mahkota.
Naik,
Naik,
Terus menaiki anak tangga dari lantai tiga menuju atap Gedung membuatnya bernafas terengah-engah.
Astaga, laki-laki ini benar-benar sangat menyebalkan.
Gumam Zili mulai kesal,
Matanya membelalak lebar ketika melihat putra mahkota terus melangkah menuju tepi gedung.
Bahkan dengan mudah, laki-laki tersebut melewati pagar pembatas yang tinggi. Pagar yang diisi dengan kawat-kawat berlubang tersebut mampu memperlihatkan suasana kota dari atas.
Berlari kencang, sekencang mungkin setelah memasukan kunci dikantung celana, lalu ketika mendekati pagar, meraih kawat berlubang dan melompat tepat ditepi atap gedung, segera bergerak menuju putra mahkota yang tampak berdiri disisi bagian lainnya.
Dan berdiri tepat disisi kanannya “Zili masih hidup bodoh...” teriak Zili keras tapi tampaknya putra mahkota tidak bergeming, laki-laki tersebut hanya berdiri dengan pandaangan kosong “putri mahkota , ahh bukan maksudku...” gadis itu menggelengkan kepala sejenak “mantan putri mahkota masih hidup tuan” ucapnya pelan.
Mendengar ucapannya, putra mahkota yang tadinya menatap kedepan mulai menoleh kepala kearahnya “kau bilang apa barusan...?” tanyanya begitu menekan dengan tatapan tajam hingga membuat tubuh Zili bergetar. “mantan putri mahkota...?” dia terlihat sangat marah “ berani sekali kau menyebutnya mantan putri mahkota” lanjutnya lagi begitu emosi.
Tertegun sejenak lalu memberanikan diri berbicara, Zili tidak mempedulikan ucapan laki-laki dihadapannya malahan dia mulai berbicara hal lain agar laki-laki dihadapannya segera mengurungkan niat untuk bunuh diri. “Aku saja yang temannya percaya bahwa Zili masih hidup, kenapa kau yang saangat mencintainya tidak percaya bahwa dia masih hidup” tangisan Zili mulai pecah lagi, ia menundukan kepala dihadapan laki-laki yang saat itu terlihat tersentak mendengar ucapan gadis itu. “jangan mengakhiri hidupmu begitu saja,” pinta gadis itu “meskipun Zili masih hidup, dia juga tidak akan pernah mau bersamamu karena hiks...hiks..”menghapus air mata berkali-kali masih dengan menundukan kepala “Zili hanya mencintai putra mahkota” lanjut gadis itu lagi semakin mengejutkan putra mahkota.
Masih memandang penuh tekanan kearah kepala Zili yang menunduk “kau kira aku mau mati konyol begitu saja” ucap laki-laki tersebut menghentikan tangisan Zili, “kau...” tubuh Zili mulai gemetaran hingga kakinya lemah karena suara Putra mahkota mampu menekan batin gadis itu “menyingkirlah dari hadapanku” lanjut laki-laki tersebut tampak begitu geram hingga terdengar nafas membencinya.
Tertegun, kaki gadis itu mulai menggigil,
Mulai berbalik, tangan putra mahkota tidak sengaja menyenggol lengan Zili hingga gadis itu terjatuh diudara saking takutnya ia dengan sentuhan laki-laki tersebut “mati saja kau sana” ucap laki-laki tersebut terdengar hingga ketelinga Zili, lalu ia bergerak melompati pagar pembatas, meninggalkan Zili begitu saja jatuh kebawah.
__ADS_1