
Suara kokokan ayam hutan liar terdengar memekik ditelinga. Ditambah lagi kicauan burung menambah suasana kericuhan pagi itu.
Suasana sepi, dengan embun pagi yang teramat dingin seperti salju menerjang masuk melalui celah-celah lubang rumah yang telah rusak.
Zili bersandar didinding papan yang terletak dipertengahan rumah. Dinding tersebut menghubungkan ruang tamu dengan dapur rumah tersebut.
Rumah yang berbentuk aneh menurutnya karena tidak adanya kamar mandi didalamnya.
Bahkan kamar untuk tidurpun hanya memiliki satu ruangan saja.
Mata gadis itu merah, lingkaran hitam mengelilingi matanya. Dia mendesah lemah karena tidak dapat tidur dimalam hari.
Bagaimana mungkin ia bisa terlelap jika mendengar suara auman serigala dan tangisan musang yang menggeladak ditelinga dan membuat bulu kudu nya berdiri.
Dia yang ketakutan terpaksa keluar dari kamar, duduk diruang tamu sembari memandang tidur putra mahkota yang begitu tenang tanpa adanya lampu baterai disampingnya.
Lampu satu-satunya yang mereka bawa diserahkan Zili untuk tidur didalam kamar tetapi karena tidak bisa tidur, gadis itu membawanya keruang tamu. Terus menerus duduk bersandar, menatap laki-laki yang dia cinta.
“kamu harus memakainya untuk berjaga-jaga” disela-sela rasa kantuk, putra mahkota yang sudah bangun mengejutkan Zili yang baru menyadari kedatangannya dan melihat remaja laki-laki tersebut memakaikan sebuah jam dipergelangan tangannya.
Kapan!
Lagi-lagi, zili tidak pernah menyadari kedatangan putra mahkota menghampirinya, padahal baru saja, gadis itu masih memandangi remaja laki-laki tersebut terbaring terlentang melipat tangan diatas lantai papan rumah.
Dan lagi, Zili mulai sadar, bahwa jam tangan yang dia kenakan adalah jam tangan milik putra mahkota yang sebelumnya pernah ia lihat.
Betapa senang hatinya memakai peralatan canggih yang mungkin hanya dimiliki segelintir orang saja, apalagi benda itu milik putra mahkota.
Zili yang tadinya menatap jam tangan mulai beralih keputra mahkota yang telah berdiri mengenakan jam tangan yang sama percis dengan yang zili kenakan.
Dia menebak, mungkin saja jam tangan tersebut memang benda buatan tangan asli dari remaja laki-laki dihadapannya.
Putra mahkota berjongkok, setelah memakai jam tangannya. Dia mencari-cari sesuatu dari sana, beberapa saat kemudian, mengeluarkan Sandwich isi Srikaya dalam kemasan plastik.
Ia lalu mengambil kantung elegan, buatan tangan klan Lu yang terbuat dari Serat Daun kelapa. Kantung besar tersebut bahkan memiliki reseleting yang bisa ditutup dengan mudah.
Memasukan beberapa sandwich dan dua buah botol air mineral serta sikat gigi lipat dan odol kecil kedalamnya “Kita akan pergi kesumur terlebih dahulu, setelah itu baru mencari Bahan-bahan”
Zili menganggukan kepala memahaminya. Dia yang tadinya ngantuk, telah bersemangat karena perlakuan putra mahkota yang menurutnya sangat lembut pagi itu.
Embun pagi tampak seperti kabut putih tebal. Meskipun memakai jaket yang lumayan tebal, kedinginan pagi itu terkadang masih sanggup menembus kulit zili. Ditambah lagi, wajah Zili yang hanya memakai masker, dibuat menggigil sesaat ketika pintu rumah dibuka.
Pagi masih tampak seperti malam, meskipun sedikit terang, tetapi tetap saja matahari masih belum tiba.
Pemandangan disekitar terlihat seram dimata, kebanyakan rumah-rumah didesa ambruk ditelan rayap ataupun tertutup rumput liar. Hanya beberapa saja yang tampak masih berdiri.
Selebihnya seperti tumpukan kayu yang sudah lapuk. Apalagi rumah yang terletak dibawah bukit, sama sekali tidak dapat dipercaya bahwa tempat itu dulunya adalah sebuah desa.
“Ingat, jangan lepaskan tanganmu sebelum aku yang melepaskan terlebih dahulu”
Putra mahkota menggenggam tangan Zili, sementara tangan yang lain memegang kantung barang-barang bawaan mereka.
“Baiklah shisou” Putra mahkota tersenyum tipis didalam maskernya. Tampaknya dia memang sedang menanti Zili untuk membuka suara.
Bagaimana tidak!, sepanjang hari, gadis itu lebih memilih diam dan tidak bersuara. Dia juga sangat jarang berbicara apalagi bertanya. Rasanya sangat aneh jika menemukan orang yang tahan untuk tetap diam sepanjang malam tanpa melakukan apapun.
Mulai melangkah, terus berjalan menapaki jalanan kecil yang baru dibuat oleh putra mahkota dengan kakinya.
__ADS_1
Rerumputan liar terkadang menempel dicelana polos panjang yang mereka kenakan.
Tidak lama kemudian, matahari mulai muncul dari balik bukit setelah mereka sampai disumur kecil dibawahnya.
Waaaaahhh cantiknya.
Warna jingga, terpancar didepan mata zili.
Matahari terbit, belum panas menyengat mata. Bahkan semakin dipandang, semakin terlihat bentuk bulatnya yang sangat jauh.
ZIli mengedipkan mata, sontak ia terkejut memandang wajah putra mahkota didalam bola matanya.
Wajahnya terpancar begitu mempesona didepan cahaya matahari.
“Ini”
Putra makota memberikan Sikat gigi yang tidak lagi terlipat, dia melepaskan tangan Zili, menyuruhnya untuk mencuci mulut sebelum sarapan pagi itu.
Zili dengan segera melakukan perintah gurunya. Meskipun degup jantungnya kencang, ia tampak terbiasa menghadapinya.
Sap
Sap
Sap
Sap
Putra mahkota menarik tangan zili yang masih harus menyelesaikan pencucian mulutnya.
“Tuan muda”
Putra mahkota dan zili dikejutkan dengan kedatangan orang dihadapannya. Pakaian mereka tampak sama seperti pakaian kelompok elite, milik raja bayangan.
Tetapi ucapan mereka menandakan mereka bukan berasal dari kelompok yang sama.
“Tuan muda, ikutlah bersama kami menemui tuan besar”
Ajak seorang dari mereka yang masih berdiri tunduk dihadapan putra mahkota.
“Kau bilang aku tuan muda, memang kau tahu siapa aku?”
Takut terjadi sesuatu kepada Zili, putra mahkota dengan cepat membawa gadis itu kedalam pelukan satu tangannya.
“Cucu Xu sami, putra dari Xu idris. Calon raja negara NC”
Sontak putra mahkota terkejut bahkan tidak lagi mampu menyembunyikannya.
Dia mulai menebak-nebak, dari klan mana mereka berasal. Mereka bahkan mampu bertahan didesa terisolasi yang bisa kapan saja Virus Bloody-V muncul dan menyerang.
“siapa?”
“Tuan muda, jika anda ingin mengetahui lebih jelas, lebih baik anda ikut bersama kami”
“jika aku menolak”
“Maka kami akan memaksa”
__ADS_1
“Kalau seperti itu, maka jawab satu pertanyaanku sebelum kalian memaksa?”
“Tidak ada jawaban yang harus kami berikan tuan muda”
“Hmmmmm” putra mahkota tersenyum “silahkan saja paksa aku jika kalian mampu”.
Dooooooor..
Tiiiiiiiing.
Zili memejam kan mata ketakutan, tubuhnya bahkan bergetar dan disadari oleh putra mahkota yang sedang mendekapnya.
Peluru terpental jauh setelah putra mahkota menangkis dengan pisau miliknya.
“Kau kira peluru mampu menembusku”
Ddoooooor.
Dooooor.
Dooooor.
Putra mahkota berlari cepat, bahkan mengejutkan semua orang yang kini mengejarnya. Ia bahkan sanggup menghindari dan menangkis peluru yang menuju kearahnya.
Sementara zili telah berada dibahu putra mahkota. Ia terus memejamkan mata merasakan goncangan diseluruh tubuhnya karena gerakan putra mahkota.
Staaaaak.. tusssss “aaaaaah tanganku, tangankuuu” pisau menembus telapak tangan seseorang yang telah menembak putra mahkota dari atas pohon.
Tali panjang yang mengait kegagang pisau ditarik kembali,hingga pisau yang menusuk tangan kembali kepada tuannya.
Slsisitslsisit.. tuuussss
“Aaaaaaaaaaa..
Pisau putra mahkota lagi-lagi berhasil menusuk lengan tangan atas pemegang pistol diatas pohon lainnya. Beberapa saat kemudian, pisau tersebut kembali lagi kepada tuannya.
Masih terus berlari.
Zili sontat terkejut, melihat seseorang dengan kecepatan dahsyat mampu menyaingi lari putra mahkota. Bahkan melemparkan sebuah jarum dari belakangnya.
Aaaaaaa
Zili menutup mulut, menahan kesakitan ketika ia berhasil menghalangi jarum dengan telapak tangannya yang hampir mengenai punggung putra mahkota.
Karena takut putra mahkota mengetahuinya dan mengkhawatirkannya disituasi yang mengerikan, dia secara diam-diam mencabut jarum tersebut dari tangannya.
Saaaap.
Sebuah tangan hampir saja menggenggam leher belakang putra mahkota, jika saja remaja laki-laki tersebut tidak menyadarinya.
Putra mahkota berhenti berlari setelah terpisah jauh dari kelompok musuh lainnya.
Menghadap satu musuh yang dianggap luar biasa karena mampu menyaingi kecepatan larinya.
“Klan shen dari desa shen 1, dari sana kau berasal bukan.?”
********
__ADS_1
dibooom y
semoga kalian bahagia 😁😁😁