
Kwaakkk kwaaaakkk...
Kwaaakkk kwaakkk..
Suara burung gagak membuat kegaduhan di kesunyian siang itu.
Wuuuuzzzzzz....
Hembusan angin kencang membuat gulungan ombak di permukaan air laut berwarna biru.
S.O.S
3 huruf yang tertulis di tepi pantai pasir putih terhapus ombak dan mulai menghilang perlahan-lahan.
Padahal huruf tersebut merupakan Kode Tanda Bahaya dan permintaan bantuan.
Di pertengahan hamparan laut yang sangat luas, tampak sebuah pulau kecil yang masih terjaga kealamiannya. Di pulau tersebut, Penasihat Putra Mahkota terlihat duduk di pinggir pantai sembari menunggu pertolongan datang.
Tidak ada jaringan sedikitpun di sana, tidak ada apapun selain hutan dan lautan. Mungkin, Pulau tempatnya terdampar itu juga sangat jauh dari pulau-pulau lainnya, bahkan dari kejauhan sekalipun yang terlihat hanyalah hamparan air biru lautan.
Kraaakkk..
Suara langkah kaki yang menginjak patahan kayu kering terdengar.
“Menyebalkan.” Keluh seorang gadis yang baru saja datang. Rambutnya mengurai panjang, berwarna hitam legam namun sedikit ikal pada bagian bawahnya.
“Ada apa lagi?” Penasihat Putra Mahkota, Ann Sandi yang saat itu sedang duduk bersila, memandang langit dan berharap sebuah Helikopter muncul di sana, mulai bertanya.
Seragam yang telah ia gunakan bulan lalu, terlihat mulai kusam karena hanya pakaian tersebutlah yang bisa ia kenakan selama ini, begitu pula dengan gadis yang kini telah duduk di sampingnya.
“Hancur.”
“Huh.” Laki-laki itu berdiri, Berulang kali ia telah memperbaiki rumah di atas pohon yang ia telah buat untuk gadis yang tak lain adalah Putri Kelincahan dan berulang kali jugalah gadis itu menghancurkan rumah tersebut hanya karena kedatangan seekor tokek ataupun seekor tupai di sana.
“Ular.”
__ADS_1
“Benarkah?” Laki-laki itu menoleh ke arah gadis yang juga kini tengah berjalan beriringan dengannya.
“Benar, aku melihat ular berwarna hijau masuk ke dalam rumahku.” Dia berusaha keras meyakinkan Penasihat Putra Mahkota yang begitu sabar meskipun selalu menyaksikan sifat keras kepala dan juga sifat gadis yang mudah terpancing emosi tersebut.
“hmm begitu.”
Masih terus berjalan, laki-laki tersebut mulai memandang ke arah depan kembali, ke arah jalanan setapak kecil yang berhasil ia buat untuk menuju ke rumah pohon mereka di dalam pulau yang di penuhi dengan pepohonan lebat dan juga merambat.
Meskipun tidak terlalu tinggi, tetapi pohon-pohon di Pulau tersebut beraneka ragam, bahkan buah-buahan hutan juga sering mereka temui.
Hanya saja, di Pulai kecil tersebut tidak terdapat binatang buas mengerikan seperti harimau, srigala dan sejenisnya.
Hanya ular sajalah mungkin yang paling berbahaya di sana, terkadang juga monyet-monyet liar sering mengganggu salah satu rumah mereka.
**********
Senyuman tipis menghiasi bibirnya, setelah membuka pakaiannya dan mengenakan jubah Putih lalu memakai kacamata, dia memberikan pakaian tersebut kepada seseorang yang tampak berdiri, menunggu kedatangannya kembali.
Mereka berdua berjalan memasuki lorong rahasia. Lorong yang mungkin hanya dia dan beberapa orang kepercayaannya saja yang mengetahuinya.
“Kau bahkan menyaksikan sendiri dia telah berkhianat, tetapi tetap menyukainya, Aku benar-benar tidak memahami jalan pikiranmu, Xu’i.” Seorang lainnya muncul, dia adalah Shen Shi Yun yang tampak berdiri di atas tangga sebuah pintu.
“Bukankah dia berkhianat dengan diriku sendiri?”, Jadi aku tidak perlu mempermasalahkannya.” Putra Mahkota menaiki anak tangga terakhir lalu pintu kembali di tutup oleh Shen Shi Yun.
Memandang Pengawal Rahasia Putra Mahkota, Laki-laki yang di pandang hanya bisa tersenyum kebingungan karena dia sendiri tidak mungkin membenarkan ucapan Shen Shi Yun. Baginya, Walaubagaimanapun keputusan Junjungannya, dia hanya akan selalu memberi dukungan.
“Bukankah dia adalah wanita Plin-plan yang tidak memiliki pendirian?, bisa-bisanya orang sepertimu menyukainya, Konyol, dibanding dia, Nura bahkan jauh lebih sempurna, dia tidak pernah sekalipun berpindah hati dan tetap mencintaimu bahkan Sekarang..” Menghela nafas berat, merasakan sakit di dalam hati mengingat keadaan wanita yang ia cintai. “Meskipun Ingatannya dihapuskan, ia tetap menganggumi, dia selalu mengatakan bahwa hatinya sangat sakit hanya sekedar melihatmu di televisi.” Laki-laki itu terlihat begitu berharap Putra Mahkota memahami perkataannya.
Menghentikan langkah kaki sebelum memasuki pintu lorong lainnya. “Aku juga begitu.” Ucap Putra Mahkota terlihat menghela nafas berat.
“Apa?” Shen Shi Yun juga menghentikan langkah, begitupula dengan Pengawal Putra Mahkota yang tampak memijat dahinya karena sangat tidak menyenangi sikap Shen Shi Yun namun ia berusaha untuk tetap tenang.
Melanjutkan langkah kaki, “Terkadang aku ingin dia marah, terkadang aku ingin dia bersikap lembut, terkadang aku juga ingin melihat dia menangis, dan terkadang aku sangat ingin melihatnya bermanja-manja kepadaku.” Lanjut Putra Mahkota tersenyum lembut mengingat wajah terakhir kali bertemu dari wanita miliknya. “Aku sangat menyukainya maka dari itu aku sangat ingin melihat semua sisi tentangnya. Aku juga sangat tidak berpendirian, Bukan?” Meraih gagang pintu lebih cepat dibandingkan dengan Pengawal rahasianya yang tampak memegang pakaian ganti Putra Mahkota lalu memandang sebuah koridor yang diisi begitu banyak pintu ruangan. “Dan lagi, bukankah kau bilang hati Nura sangat sakit ketika melihatku?” Tanya Putra Mahkota masih terus berjalan, kali ini menuju ke arah sebuah pintu Lift bawah tanah di ujung koridor.
“Lalu?”Tanya Shen Shi Yun penasaran.
__ADS_1
“Kemungkinan besar, Hati Zili juga menyadari bahwa Si An yang dia kenali itu adalah aku tapi akalnya tidak mampu menyadarinya, walaubagaimanapun, kebanyakan wanita terbiasa menggunakan hati dibandingkan akal mereka.” Lanjut Putra Mahkota berhasil menghentikan langkah kaki Shen Shi Yun yang hanya bisa diam memikirkan perkataan laki-laki tersebut.
*******
Langkahnya terhenti tepat di atas bukit, dia memandang mata merah yang mungkin sedang marah kepadanya.
“Maaf.” Ucap Zili kepada Pelindung wanitanya yang berwajah Pucat.
Di saksikan belasan Tentara Militer desa Ou yang semalaman mencari-cari keberadaannya, Putri Latih Tiada Tanding datang menghampiri Zili dengan penuh amarah.
“Dulu kau yang membuatku gagal masuk ke Kelompok Tinggi Pengaman Negara, Mungkinkah sekarang kau juga ingin aku kehilangan Kepercayaan Raja Bayangan dan Pangeran Istana?”, Bertindaklah sebagai seorang Pemimpin Zili, kau bukanlah murid biasa yang bisa berlaku seenaknya.” Maki wanita muda itu begitu emosi karena kehilangan keberadaan Zili semalaman.
Tertegun, Zili hanya bisa menahan kegugupan di hatinya. Kepalanya mulai berpikir, di atas bukit tak jauh dari sekolah Peternakan, gadis itu mulai mengerti maksud dari semua perkataan dan perbuatan Putra Mahkota yang sedang menyamar selama ini.
“Lagi.”
“Apa?” Tanya Putri Latih Tiada Tanding begitu terkejut mendengar jawaban Zili, ia bahkan sempat mengira bahwa Zili akan menangis atau hanya diam dan memikirkan kesalahannya, begitupula dengan Pangeran Istana yang baru saja naik ke atas bukit dan berdiri tepat di belakang gadis tersebut.
“Lanjutkan lagi Shi ra!”Perintah Zili memandang sayu mata pelindung wanitanya.
“Jadi kau tidak ingin mengakui kesalahanmu?” Begitu jelas kegeraman di hati Wanita Muda itu terlihat. Hingga gigi-giginya terdengar menggurutu.
Mengalihkan pandangan sejenak, menguatkan diri. “Bukankah dulu adalah kesalahanmu sendiri?”
“Apa?” Semakin dibuat terkejut, Zili malah menyalahkan Wanita Muda itu saat ini.
“Bukankah kau telah berjanji melindungiku bahkan nyawamu sebagai taruhannya?, tetapi kenapa kau malah meninggalkanku begitu saja di kemah pelatihan saat itu?, tidakkah kau tahu, semua orang di sana membenciku, mereka bahkan terbebani dengan kedatanganku, kau bahkan melihat sendiri bahwa menyambut kedatanganku sekalipun mereka tidak mau tapi kau..”
“Zili, saat itu pekerjaanku sangat mendesak, karena itu...
“Bukankah kau sudah berjanji melindungiku? Apapun itu, harusnya kau tetap melindungiku.” Sela Zili mulai berani mengeluarkan isi hatinya. Gadis itu terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya, bahkan perbedaannya mampu membuat Pangeran Istana tersenyum liar. Entah apa yang ada di dalam pikiran laki-laki tersebut, tetapi sepertinya Pangeran Istana begitu menyenangi perdebatan pagi hari itu.
“Sombong sekali kau ini.”
“Aku yang sombong atau kau yang tak tahu diri.” Jawaban Zili semakin menambah amarah di dalam hati wanita muda di hadapannya. “Hanya karena aku bukanlah Putri Klan Negara, bukan berarti aku tidak berhak menjadi Putri Mahkota.” Lanjut Zili menahan rasa takut di dalam hati, Pagi itu, yang ia pikirkan hanyalah cara agar dapat membantu rencana Putra Mahkota yang sedang menyamar, maka dari itu, ia tidak ingin terhambat hanya karena pergerakannya dibatasi. “Sadarlah Shi ra, saat ini posisiku jauh lebih tinggi darimu. “ Lanjut Zili mulai berjalan menuju ke sebuah mobil jeep yang berada tidak jauh sana. “Berhentilah menjadi Pelindungku jika kau keberatan mematuhi perintahku.” Tegas Zili setelah berada di samping wanita yang tampak menahan amarah. Gadis itu mulai memperlihatkan buku di tangannya. “Kalau aku tidak pergi malam ini, Buku resep ini tentu saja sudah jatuh ke tangan musuh.” Memberikan buku resep racun ke tangan Putri Latih Tiada Tanding. “Aku pergi sendirian karena tidak seorangpun dari kalian yang dapat ku percaya, Bisa jadi salah seorang dari kalian merupakan mata-mata musuh dan bisa jadi kau adalah seorang dari mereka.” Lanjut Zili memperkirakan hingga mengejutkan semua orang di sana.
__ADS_1
Sungguh, Putri Mahkota Negara NC memang telah berubah, Pikir mereka. Hingga semua orang di sana mulai menundukan kepala ketika Zili berjalan melewati mereka.