
Gelap....
Cahaya senter jam tangan sajalah yang terlihat menyinari.
Tempat itu terasa sangat dingin, padahal tidak ada celah angin untuk masuk ke dalamnya sedikitpun.
Cahaya dari beberapa senter menyinari. Dari jauh memang terlihat cahaya lain tetapi itu hanyalah cahaya dari layar laptop yang saat itu sedang digunakan oleh dua orang laki-laki.
Ruangan itu luas, meskipun demikian, dinding ruangan masih dapat terlihat dari pandangan mata melalui cahaya lurus senter di sana.
Dinding itu adalah dinding tanah, terkadang juga bercampur batu-batuan basal yang besar dan juga batuan krikil yang berwarna-warni.
Tetapi anehnya atap tempat tersebut justru terbuat dari percampuran antara pasir dan juga semen. Mungkin atap itu merupakan atap buatan tidak seperti dinding di sana yang memang terbuat secara alami.
“Entahlah, aku hanya membawamu mengikuti mereka sampai ke tempat ini.” Jawab Penasihat Pangeran Istana, Zin Ziruan yang telah menyelesaikan peregangan otot-ototnya lalu berjalan mendekati Ilmuwan kebanggaan negara, Co Rein yang duduk bersama adiknya tak jauh dari mereka berada diikuti oleh Zili.
“Anna,”
Gumam Zili pelan ketika melihat Putri Kelincahan sedang berdiri melipat tangan , tepat di belakang Mantan Presiden sekolah Teknologi, Co Suho Ein yang sedang duduk di samping saudaranya, “Sens.. ah bukan maksudku tuan So’A, kenapa aku tidak melihatnya di sini?” gadis itu mulai melontarkan pertanyaan karena mengira bahwa Dokter Hewan Kebanggaan negara Ann So’A merupakan anggota dari regu zero sebelumnya.
Penasihat Pangeran Istana terus berjalan untuk bergabung dengan orang-orang yang berkumpul setelah sebelumnya sedikit tertinggal karena membawa Zili.
“Dia,” langkahnya terhenti sejenak lalu menoleh ke arah Zili. “Hmm, dia ditugaskan untuk memeriksa hewan-hewan yang sakit.” Jawab laki-laki itu mulai melangkah kaki kembali.
“Lorong?”
“Bukankah itu terlihat seperti gerbong kereta bawah tanah?” Pengusaha kebanggaan negara terlihat mulai berjongkok di samping Ilmuwan negara, ia memandang layar laptop yang berisi sebuah peta wilayah.
Ou Nura yang juga berada di dekatnya, sangat meyakini bahwa kemungkinan besar gambar pada peta merupakan sebuah lorong.
“Lorong ataupun gerbong kereta bawah tanah, sebaiknya kita segera pergi ke sana.” Taakk, layar laptop ditutup lalu dimasukan ke dalam sebuah tas. Ilmuwan berbakat mulai berdiri diikuti oleh adiknya dan juga Pengusaha kebanggaan negara.
**********
Semakin gelap, tidak terlihat satu buah lampu di sana. Beruntungnya, beberapa senter jam tangan mampu menyinari area tersebut.
__ADS_1
Jarum petunjuk pada layar jam tangan Ilmuwan berbakat terlihat bergerak memberitahukan arah tujuan mereka.
Duukkk.. dukkk...
Suara sepatu yang dikenakkan semua orangpun terdengar menggema.
Takkkk... tuuuukkk..
Terkadang, salah satu sepatu menendang batu kerikil tanpa sengaja, sepertinya jalan yang mereka lewati itu memang terbuat dari tanah.
“Huh,”
Helaan nafas lega terdengar.
“Hm,” Sebuah tangan terlihat terangkat lalu menyentuh sebuah pintu besi berwarna silver di depan semua orang di sana. “Pintu Lift?”
“Lift yang bergerak menyamping?” Ilmuwan berbakat tampak menduga-duga. Ia yang sedari tadi mencari tahu keadaan tempat tersebut melalui sistem aktif terdekat mulai penasaran dengan kecanggihan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Takkk....
Sreeeekkkk....
Pintu yang terbagi menjadi dua tersebut, mulai bergerak menyamping secara berlawanan arah.
Mata yang tadinya telah terbiasa melihat kegelapan, saat itu terasa sedikit menyipit karena cahaya lampu terlihat keluar dari dalam ruang setelah pintu tersebut terbuka.
Mata semua orang sedikit terbelalak, sebagian mereka terkejut dengan bentuk ruangan di sana, sebagian lagi terlihat sedang berpikir.
Zili yang berdiri pada bagian paling belakang, mulai bergerak sedikit untuk melihat isi di dalam ruangan berbentuk lift tersebut. “Pintu?” gadis itu melihat ruangan tersebut memiliki pintu lain di sisi dinding lainnya. Di depan pintu terdapat pintu. Dua pintu terlihat saling berhadapan.
TUkkk...
Suara sepatu terdengar sedang menapaki lantai ruangan di sana. Mungkin lantainya terbuat dari besi karena perbedaan suara langkah juga terdengar sangat jelas. Suara lantai besi yang menggema, suara dimana kemungkinan besar ruangan tersebut sedang menggantung dan bawah lantai tidak bersandar dengan apapun.
Sreeekkk...
__ADS_1
Cup,, Cupp, Cuppp,...
“Awassss!”
Segera semua orang bergerak cepat begitu pula dengan Zili. Mereka terlihat menghindari sesuatu. Beruntung sekali orang-orang di sana adalah orang-orang terlatih, kecuali Ou Nura dan Mantan Presiden Sekolah Teknologi yang bergerak cepat atas bantuan Putri kelincahan dan juga Ilmuwan Berbakat, menghindari bahaya yang baru saja terjadi.
Taaakkkk...
“Hampir saja, huh, ada yang terluka?” teriak keras Pengusaha kebanggaan negara yang tanpa sengaja membuka pintu lain yang tadinya masih tertutup. Karena perilakunya tersebut, tiga buah tombak terlihat meluncur cepat masuk ke ruangan dan melewati pintu lain lalu menghilang dalam kegelapan malam.
Beruntungnya ketika membuka pintu, laki-laki tersebut berada di samping pintu yang terbuka itu untuk berjaga-jaga. Jika ia berada di depannya, kemungkinan besar, saat ini tubuhnya akan terluka karena ujung tombak yang sangat lancip itu akan mengenainya.
Pintu yang tadinya terbuka, kini tertutup kembali.
“Dinding, dibalik pintu ini ada dinding tanah.” Pengusaha kebanggaan negara melepaskan tangan dari tombol pintu yang tadinya ia tekan untuk segera menutup pintu berbahaya tersebut.
Mendengar perkataan Pengusaha Kebanggaan negara, Ilmuwan berbakat segera membuka laptopnya lalu memasuki sistem aktif terdekat.
Setelah beberapa saat memainkan jari-jari tangan di keyboard laptop, sebuah peta lokasi yang memperlihatkan keadaan tempat yang mungkin telah berhasil ia retas, muncul pada layar laptop yang ia gunakan.
“Lorong 37, lalu gerbong kereta bawah tanah lagi?” Mantan Presiden Sekolah Teknologi sedikit terkejut ketika melihat gambaran peta lokasi di sana.
Peta lokasi tersebut memperlihatkan sebuah lorong panjang yang diapit oleh dua dinding. Lorong tersebut merupakan tempat jalur Lift bergerak. Di salah satu dinding yang mengapit, terlihat lorong lain yang terhubung dengan pintu lift lainnya dan begitupula selanjutnya.
“Ada 7 pintu lift, untuk menuju ke pintu lift akhir kita harus melewati lorong-lorong dan ini memerlukan perhitungan yang tepat, jika salah membuka pintu maka...”
“Tombak-tombak itu akan melukai kita, bukan?” Pengusaha kebanggaan negara mulai melangkah kembali keluar pintu lift. Ia yang tadinya melanjutkan kalimat Ilmuwan berbakat, kini terlihat berjalan cepat, masuk ke dalam kegelapan.
Semua orang memperhatikan perilaku anehnya. Sebagian lain bahkan bertanya-tanya di dalam hati tentang apa yang sedang dilakukan laki-laki tersebut.
“Lorong 1,” laki-laki yang tadinya pergi memasuki kegelapan kini telah datang kembali dengan membawa tiga buah tombak yang tadinya hampir saja melukai para pejabat tinggi negara. “Dibalik dinding itu terdapat lorong tetapi tidak bisa terbuka karena lorong tersebut digunakan untuk menyimpan jebakan, dan lorong itu adalah lorong 1.” Jelasnya yang telah menunjukan sebuah angka 1 pada bagian ujung tombak berwarna silver dan ketiga ujung tombak tersebut menunjukan angka yang sama.
“Ini, 37,” Ilmuwan kebanggaan negara menunjukan angka 37 yang tertera di atas lorong lain di sisi salah satu dinding yang mengapit lorong jalur lift pada layar laptop miliknya. “ Lalu ini 101, kemudian jika kita bisa memasuki lorong 101, kita akan menemukan lift lain dan membuka pintu lift dengan benar di lorong 207, lorong-lorong ini benar-benar diacak. Kalau tidak bisa menghitung kecepatan dan waktu, mungkin kita semua akan mati di dalam lift.” Jelas Ilmuwan berbakat yang langsung memandang ke arah Penasihat Pangeran Istana, Zin Ziruan.
“Ahh, tenang saja, tenang saja, bukankah kita memiliki dia?” dengan santai Penasihat Pangeran Istana menunjuk seorang gadis.
__ADS_1
Karena perilakunya tersebut, Pengusaha kebanggaan negara sontak terbelalak dan sepertinya ia telah terpancing emosi dengan mudah karena perbuatan Penasihat Pangeran Istana tersebut.
*********