
Melangkahkan kaki begitu lunglai.
Memikirkan laki-laki yang dicintai
Apa yang dia lakukan..? , dimana keberadaannya..?, dan bagaimana kabarnya saat ini...?
Hatinya terus menerus bertanya-tanya,
Shisou
Panggilnya, melangkah menelusuri Lorong gedung lalu berhenti didepan pintu.
Pintu terbuka..
“Kau sudah kembali...?”
Sebelum ia membukanya, laki-laki pemilik Apartemen lebih dahulu membuka pintu tersebut dari dalam.
Dasar keterlaluan.
Gumam gadis itu dalam hati, mulai melewati putra mahkota tanpa menjawab pertanyaannya.
“Hooi...”
Menarik kerah belakang jaket kulit yang dikenakan Zili.
“Kau mau apa lagi...?” bentak Zili keras sembari mencoba melepaskan tangan putra mahkota dari jaket belakang dengan kedua tangan.
“Belikan kopi..” perintah laki-laki tersebut sembari memberikan 2 lembar pecahan uang 5 neceri kewajah Zili setelah ia menariknya hingga sampai kehadapannya.
Mengambil uang dari wajah nya,
Paaaakk.. “tidak mau..” tolak Zili mengembalikkan uang kewajah putra mahkota hingga membuat laki-laki tersebut terkejut.
“Kau menolak perintahku..?” Wajah laki-laki tersebut sontak berubah marah, tetapi tampaknya Zili mulai terbiasa.
Tanpa menjawab pertanyaan, gadis itu tetap berjalan masuk kedalam rumah, lalu menghentikan langkah kaki ketika melihat sebuah komputer tampak berada disudut ruangan, diatas meja belajar gadis itu berada.
__ADS_1
Berbalik arah.
Haaa...
Wajah gadis itu berada tepat didada putra mahkota.
Degup jantungnya terdengar keras.
Mundur kebelakang beberapa langkah, mengendalikan perasaan Aneh yang tiba-tiba muncul kembali.
“Kau tidak dengar ya...?” Tanya putra mahkota lagi membungkuk tubuh, mendekatkan wajahnya ke wajah Zili “mungkinkah kau sudah gila...?” membuang wajah karena merasa sangat malu, tangan putra mahkota mulai meraih dahi gadis itu.
Detak jantungnya semakin tak karuan,
Bahkan tubuhnya gemetaran dan mampu dirasakan putra mahkota yang sontak terkejut mengetahui keadaannya “Shin’A menyakitimu ya..?” laki-laki tersebut tersenyum kecut lalu menegakan kembali tubuhnya.
Menghembuskan nafas lalu membuangnya secara perlahan-lahan, berusaha keras mengendalikan perasaan “kaulah yang menyakiti aku, tuan..” jawab gadis itu mulai membuka suara kembali.
“Aku..?” tanya putra mahkota memandang wajah Zili yang tampak memandang kepenjuru arah tanpa menolehkan kepala karena merasa serba salah. “baiklah, aku minta maaf”
Ucapan putra mahkota Semakin memperparah Detak jantung Zili hingga gadis itu mulai berbalik arah, dan melangkah..
Haaa...
Tidak sengaja memandang mata putra mahkota. “belikan aku kopi..” ucap laki-laki tersebut sembari meletakan kembali dua lembar uang kedahi gadis itu, lalu mulai melangkah pergi.
Geram, “beli saja sendiri sana..” bentak keras Zili dari belakang punggung putra mahkota, sembari meremas lembaran uang dan melemparkannya keatas lantai.
Mulai berbalik menatap Zili, Gadis itu tertegun, langsung membuang pandangannya. “kau tidak mau makan ya...?” ucap putra mahkota terlihat begitu santai “padahal aku sudah memasakanmu Kari Daging sapi..” Ucapan laki-laki tersebut sontak mengejutkan Zili “ya sudahlah biar aku habis...
“Hahaha tentu saja aku akan membelikanmu kopi Tuan” jawab zili cepat “ tunggu sebentar ya” jawab gadis itu segera mengutip kembali uang diatas lantai kemudian pergi dengan cepat turun kelantai bawah menuju ke Market Sun terdekat.
*********
Duduk disamping putra mahkota sembari memakan nasi yang bercampur kari untuk yang ketiga Kalinya, Zili terlihat begitu serius memandang layar komputer hingga tanpa sadar makanannya telah habis dan sedari tadi ia hanya memakan sendok kosong saja.
Masih melanjutkan kegiatan yang tak disadarinya “Jadi komputer ini, uang dari pemberian shin’A, ya...” tebak gadis itu mulai menyadari kebodohannya lalu meletakan piring keatas meja dan meneguk segelas air dihadapannya.
__ADS_1
Terlihat begitu sibuk dengan jari-jari tangan, putra mahkota dengan kacamata bening yang ia kenakan mulai membuka beberapa Dokumen “uang dari Shin’A saja tidak akan cukup untuk membeli Komputer ini..”jawab putra mahkota mulai meneguk sekaleng kopi yang telah dibeli Zili beberapa menit yang lalu.
“Hmm begitu..” ucap Zili mulai kagum kembali karena menurutnya, laki-laki disamping gadis itu cukup hebat, hanya dalam beberapa Hari saja, ia sudah mampu membeli Komputer berkualitas tinggi yang mungkin hanya mampu dibeli oleh beberapa pejabat tinggi dinegara NC saja, itupun mungkin dengan menggunakan Uang Tunjangan serta bonus mereka yang biasanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gaji pokok. Meletakan kopi diatas meja kembali “tuan, apa yang kau lakukan..?” tanya Zili penasaran ketika laki-laki tersebut mulai mengetik sesuatu dilembaran dokumen kosong.
“Freelance..”
“freelance..?” tanya Zili kebingungan mendengar jawaban putra mahkota
“Aku bekerja paruh waktu dari berbagai perusahaan Sebagai penterjemah..” lanjut jawab putra mahkota mulai mengirimkan dokumennya kealamat Email lain dari alamat email yang baru saja ia Buat.
Masih belum memahami perkataan putra mahkota “jadi kau tidak bermain game lagi ya...?”
“Tujuan bermain game hanya untuk menghasilkan uang agar bisa membeli komputer,” jawab lagi putra mahkota, ia mulai membuka dokumen baru, kali ini tampaknya sebuah Dokumen bergambar. “tujuan utamaku sebenarnya hanyalah menjadi Penterjemah Paruh waktu,” lanjut jawabnya lagi “paruh waktu, itu artinya tidak terikat dengan perusahaan manapun sehingga aku bisa mengambil pekerjaan dari perusahaan lain agar cepat menghasilkan banyak uang” mulai mengirim dokumen yang telah selesai ia kerjakan, putra mahkota membuka Pesan di Emailnya, lalu mengerjakan pekerjaan baru.
“Begitu ya..” tampaknya kekaguman Zili semakin bertambah “tapi Tuan, kalau kau memiliki keahlian dalam menterjemahkan bahasa asing, kenapa kemarin kau memilih menjadi pengawal rahasia putra mahkota,..?” Tanya gadis itu keheranan “padahal dengan kemampuanmu yang hebat ini, kau bisa saja bekerja dan mendapatkan uang dengan hasil yang banyak dan menjadi orang kaya..” lanjut gadis itu lagi, kali ini sembari mengangkat kedua kaki naik keatas kursi lalu memeluknya, dan meletakan dagu diatas lutut, memandang cara bekerja putra mahkota yang begitu lincah.
Mulai meneguk kopi lagi “tujuan utamaku bukan menjadi orang kaya..” jawab laki-laki tersebut mulai mengirim dokumen lalu meletakan kembali kaleng minumannya “tujuan utamaku mengumpulkan uang, hanya untuk mencari Zili” jawaban laki-laki tersebut sontak mengejutkan gadis itu, bahkan air mata telah terlihat memenuhi mata yang langsung dihapusnya dengan cepat. Membuka Laci meja, lalu meletakan sesuatu didepan Zili “aku sudah membuat rekening bank, jadi kau tidak perlu lagi bersusah payah turun kebawah mengambil uangku” Ucap laki-laki tersebut mencoba meringankan beban Zili.
Mengambil Buku rekening, gadis itu terkejut ketika melihat nama yang tertera “Shen Shi An..”
“Emmm” jawab putra mahkota “memang kau kira namaku siapa...?” tanya putra mahkota mulai menoleh kepala kearah Zili yang telah menoleh kepala terlebih dahulu kearah laki-laki tersebut saking terkejutnya ia mengetahui bahwa nama laki-laki tersebut selama ini bukanlah nama orang yang diketahuinya sebelum ia menyamar.
Pandangan mereka saling beradu lama.
Aneh,
Putra mahkota merasakan getaran aneh lagi didalam hatinya ketika memandang Zili, begitupula dengan Zili.
Detak jantung kedua orang tersebut terdengar hingga ketelinga mereka masing-masing.
“Bukankah kau tuan sa...
Haaa...
Putra mahkota mengalihkan wajah, mengernyitkan dahi memandang kembali kearah layar komputer dihadapannya setelah ia berhasil mendorong Zili hingga terjatuh dari kursinya.
“Apa yang kau lakukan...?” teriak gadis itu tidak terima sembari berdiri mengusap bokong yang sakit.
__ADS_1
“Wajah jelekmu merusak mataku..” jawab putra mahkota seenaknya sembari berusaha keras mengendalikan detak jantung yang saat itu terdengar tidak karuan.