
“Minggir..” perintah putra mahkota setelah menurunkan Zili dari atas bahunya.
Suasana rapat yang tadinya tenang, tiba-tiba menjadi menengangkan sejak kedatangan putra mahkota masuk dan bergabung didalamnya.
Berdiri disamping putra mahkota, keringat dingin mulai membasahi tubuh Zili, terlebih lagi ketika melihat raja bayangan dan raja Negara duduk berdampingan diujung Meja Yang panjang.
“Berani sekali ka....
Cuucucupp..
Taakkkk...
Sebuah pena melayang hampir saja mengenai Wajah ketua Klan Sun yang tadinya mulai membuka suara karena marah melihat perilaku kasar putra mahkota yang menyerukan Pelindung dan penasihat raja untuk menyingkir dari posisi duduknya.
Pena yang melayang, menabrak Dinding dan jatuh tergeletak dilantai ruangan tersebut.
Tertegun, Ingin membalas perilaku tidak sopan putra mahkota tetapi tangan Ketua Klan Co yang mengikuti Rapat dan duduk disamping laki-laki tua tersebut menahannya agar tidak bertindak ceroboh saat itu.
Memahami isyarat, laki-laki tua yang tadinya berdiri marah kini telah duduk kembali, mungkin ia mulai menyadari bahwa laki-laki dihadapannya adalah Remaja Laki-laki sombong yang sangat dinanti-nantikan kedatangannya.
“Bukankah dia Suami tanpa nama..?” tanya putri kelincahan yang juga bergabung pada rapat pagi hari itu, pertanyaannya ia tujukan kepada Penasihat putra mahkota yang duduk disampingnya.
Menoleh sejenak “dia orang penting” jawab Penasihat putra mahkota lalu mengalihkan pandangan kearah putra mahkota yang masih berdiri, mengusir dua orang pejabat berpangkat Tinggi dari Posisi duduk mereka. “Jadi lebih baik kita diam saja” lanjutnya lagi memberikan nasihat.
Tersenyum kecut, menerima kebencian putra mahkota yang tiba-tiba, Penasihat raja mulai memahami penyebab kemarahan remaja laki-laki tersebut “bukankah masih ada kursi kosong lainnya..?” ucap laki-laki tersebut menolak pindah tempat, yang akan menyebabkan Nama baiknya Tercoreng didepan banyaknya pejabat tinggi yang berkumpul disana.
“Minggir kubilang..” ucap putra mahkota memberi tekanan, Sungguh, dalam hati zili begitu khawatir dengan Ucapan paksa putra mahkota yang dia anggap hanyalah sebagai seorang pengawal Rahasia Suaminya saja.
__ADS_1
“Kau bisa duduk dikursi lain..” raja bayangan mulai membuka suara, tidak ingin temannya dipermalukan oleh putranya, dia bahkan memberikan Isyarat kepada salah seoraang bawahan yang berdiri dibelakangnya untuk mengeluarkan dua buah kursi kosong dari dalam meja.
Mungkin kursi tersebut merupakan Kursi tempat biasa putra mahkota dan pangeran istana Duduk ketika mengikuti Rapat,
Karena Harus mendekam diri dirumah tahanan, menerima hukuman atas tindak kejahatannya, pangeran istana hari itu tidak bisa ikut serta menghadiri rapat.
Walaubagaimanapun, Kesalahan pangeran istana tidak bisa ditoleransi begitu saja, ia yang telah terbebas dari hukuman tembak mati, saat ini tengah menjalani hukuman Masa penjara.
“Hmm” tersenyum remeh masih berdiri diantara penasihat dan pelindung raja “kalau tidak juga ingin pindah..” sepertinya putra mahkota memang sangat keras kepala ingin membuat malu kedua orang tersebut “itu artinya aku tidak perlu berada disini dan menyampaikan pesan dari putra mahkota” ancam laki-laki tersebut mulai melangkah menarik tangan Zili meninggalkan rapat.
Berdiri cepat, kedua teman raja negara terpaksa pindah tempat saat itu juga ketika melihat isyarat yang diberikan Raja negara untuk mereka.
Geramnya luar biasa.
Mungkin hingga sampai keubun-ubun kepala mereka.
Memang putra mahkota tidak ada henti-hentinya mencari masalah sejak saat ia Kehilangan wanita miliknya dan mendapatkan wanita itu kembali.
Perilakunya tidak ada yang dapat menghentikannya.
Hanya saja, seseorang yang dibutuhkan memang berada pada tingkat paling atas dikehidupan dunia, dibandingkan membutuhkan, Dibutuhkan jauh lebih Memiliki Kekuasaan.
“Hem..” sedikit tersenyum senang, melihat punggung laki-laki dewasa yang berani menekan wanitanya kini telah pindah posisi, putra mahkota mulai membawa Zili duduk dikursi pelindung raja, setelahnya, ia mulai duduk dikursi tempat penasihat raja tadinya berada.
“Mulai..” perintah raja negara kepada Moderator pembaca informasi penting yang didapatkan negara.
“Tidak perlu dimulai..” ucap putra mahkota, menghentikan moderator yang tadinya akan membacakan Data,
__ADS_1
Mendengar ucapan laki-laki itu, Zili langsung menolehkan kepala kearahnya, dia memandang Laki-laki tersebut terlihat sedang melipat kedua tangan dan kedua kaki begitu santai.
“Apa maksudmu...?” tanya raja bayangan yang tidak lagi dapat menahan amarah melihat tingkah laku putranya.
Meraih sesuatu dari kantong celananya, sebuah ponsel terlihat berada digenggaman tangan putra mahkota “sudah kuketahui semua, putra mahkota juga telah mencuri semua data informasi yang kalian miliki.. “ Ucap laki-laki tersebut begitu mudahnya, membuat semua orang terkejut dan mulai panik karena takutnya, data yang mereka miliki juga mungkin berhasil Dicuri oleh Musuh. “Tidak perlu khawatir.” Lanjut laki-laki tersebut menenangkan kepanikan. Raja bayangan dan raja negara serta Kedua temannya terlihat sedang berusaha keras mengendalikan kekhawatiran mereka “hanya Majesty programmerlah yang mampu melakukan semua pencurian data dinegara ini” tambah laki-laki tersebut tersenyum semakin senang,
“Kau...?” Tanya Seorang dari mereka, sepertinya ia adalah Jendral Berbintang Lima yang mengabdikan Diri kepada Raja negara, hal itu terlihat Dari Wajahnya yang mulai menua.
“Kubilang, aku adalah utusan putra mahkota “ jawab tegas laki-laki tersebut memandang tajam menggetarkan hati sang penanya.
“Lalu,..” raja negara kini mulai membuka suara “apa pesan dari putra mahkota..?” tanya laki-laki dewasa tersebut, masih berusaha tenang dengan kekacauan Rapat yang dibuat oleh putra mahkota.
Memandang raja negara dengan tatapan Senang dan begitu meremehkan “ RAPAT SELESAI. ” Jawab laki-laki tersebut memancing emosi semua orang disana hingga mereka berdiri ingin sekali menyerang laki-laki tersebut.
Semakin bertambah takut karena melihat amarah peserta rapat, Bibir Zili ikut gemetaran menahan rasa Mual dan hawa dingin yang tiba-tiba datang menyelimutinya.
Masih tetap duduk dengan tenang, Empat orang pengendali Negara berusaha untuk menenangkan para Peserta rapat disana dengan memberikan isyarat kepada mereka untuk duduk kembali keposisi masing-masing.
“Putra mahkota bahkan belum mengemukakan Idenya, “ raja negara mulai menghela nafas lalu melanjutkan kalimatnya “bagaimana mungkin rapat Diselesaikan begitu saja..?” tanya laki-laki dewasa tersebut berusaha meminta keyakinan kepada putra mahkota yang sedang menyamar.
Menyentuh layar ponsel lalu mengeluarkan layar Transparan, semua orang dibuat kagum melihat Hasil pertempuran yang dilakukan zili bersama Dengan Pangeran istana Di Desa Co ketika gadis itu sedang menyamar menggunakan Topeng. “hanya Cukup serahkan saja semuanya kepada putri mahkota...” jawab putra mahkota begitu santai, sepertinya raja negara mulai memahaminya.
“Tanpa nama,” putri Kelincahan mulai berkaca-kaca memandang wajah temannya didalam layar transparan, mungkin dia sangat merindukannya. “apa hubungannya temanku dengan Putri mahkota...?” tanya gadis itu masih belum memahami maksud dari perkataan putra mahkota.
Mengalihkan pandangan sejenak lalu menutup layar transparan “orang sehebat itu adalah Bawahan Istri dari putra mahkota, jadi kalian semua...” mulai memandang serius “mulai sekarang berhentilah meremehkan Putri mahkota negara ini” Tegas putra mahkota lalu berdiri sembari mengambil Ponselnya dan meraih tangan Zili lalu menarik tangan gadis itu keluar dari ruang rapat yang saat itu Telah selesai dilaksanakan.
Tidak ada seorangpun yang menghalangi kepergian mereka, mungkin Empat orang pengendali negara Telah menyetujui apapun rencana yang akan dilakukan oleh putra mahkota mengingat bahwa semua rencana laki-laki tersebut tidak pernah mengalami kegagalan sekalipun.
__ADS_1
Seluruh peserta rapat mulai memandang kearah raja negara “Rapat selesai..” ucap laki-laki dewasa yang menerima pandangan tersebut, menutup Rapat pagi itu dan mulai berdiri diikuti teman-temannya keluar Ruangan Rapat.
Memandang punggung putra mahkota dan Zili yang telah masuk kedalam Lift dan menghilang dalam sekejap mata.