
Ruangan VIP memang Sangat sepi,
Tempat tersebut merupakan tempat terbaik untuk membicarakan sesuatu secara rahasia.
Meskipun demikian,
Hal itu cukup mengejutkan Zili karena berada ditempat satu-satunya yang paling Khusus untuk beberapa anggota keluarga kerajaan Saja.
Tempat yang didesain begitu apik, dengan suasana elegan yang terdapat beberapa lampu hias Emas begitu mengagumkan mata, serta pemandangan Indah Kota didesa Xu 1 dari balik kaca semakin menambah keindahan mata.
Meskipun demikian hal tersebut membuat kebingungan tersendiri didalam hati gadis itu.
Bagaimana mungkin seorang anak tersembunyi bisa berada ditempat semegah itu, pikirnya.
Diingat lagi, diingat.
Ia bahkan telah memastikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa Laki-laki tersebut memang bukan putra mahkota didepan gedung asrama putri Sekolah teknologi ketika ia masih berada disana.
Menyerah untuk berpikir,
Mungkin saja karena tidak hanya dia yang ada ditempat ini.
Tebaknya seperti itu.
Duduk dibagian tepi, dekat dengan dinding kaca, disamping gadis itu, putra mahkota terlihat begitu Lihai memotong Daging Domba Panggang didepannya. dihadapan gadis itu, tampak penasihat putra mahkota juga melakukan hal yang sama namun sedikit lebih lamban dari gerakan tangan laki-laki disampingnya. disebelah penasihat putra mahkota, pelindung putra mahkota shin ji tampak sedang memasukan potongan Daging sapi panggang kedalam mulutnya dengan santai.
Meletakan Potongan daging Domba kehadapan Zili, lalu meraih Secangkir teh Hijau dan menghirupnya sembari mulai membuka laptop yang baru saja diberikan Penasihatnya.
“Bagaimana hasilnya...?” laki-laki tersebut mulai membuka suara.
Merasa berat untuk memakan daging mahal sendirian, gadis itu mengira bahwa putra mahkota tidak memiliki cukup uang untuk membeli daging lainnya “Tuan..” panggil gadis itu, panggilannya membuat putra mahkota sontak menoleh kesampingnya.
Tersenyum tipis “hmm” belum sempat mendengar jawaban penasihat dan pelindungnya, kelihatannya putra mahkota lebih menginginkan untuk mendengarkan ucapan Zili terlebih dahulu dibandingkan Hasil Yang tadinya akan dijelaskan Penasihatnya.
Menunduk kepala sejenak karena merasa bersalah telah mengganggu penasihat putra mahkota yang akan berbicara “aku tidak mau makan sendiri..” ucap gadis itu mengejutkan putra mahkota “kalau tidak punya banyak uang, harusnya jangan makan ditempat semewah ini” lanjutnya lagi masih menundukan kepala, tertegun karena berani berbicara terang-terangan.
Tersenyum geli,
__ADS_1
Bahkan kedua temannya juga sedang menahan Tawa hingga menunduk kepala menyembunyikannya.
Memandang Zili yang tampak masih menunduk, “bagaimana kalau kita berbagi..?”
“Berbagi...?” tanya Zili kebingungan dan mulai mengenyitkan dahi.
Mulai menoleh, memandang putra mahkota, “saat aku bekerja, kau memberikan potongan dagingmu kepadaku..” Jelas putra mahkota menghilangkan kerutan dahi gadis itu.
Mengangguk kepala memahaminya “oh, begitu ya..?” mulai mengambil potongan daging dengan garpunya.
Menarik kursi gadis itu hingga sampai menyentuh kursi miliknya, “lebih mendekat..” ucap laki-laki tersebut menarik tubuh Zili menyentuh tubuhnya.
“huh..” menghela nafas, berusaha sekuat tenaga mengendalikan Detak jantung yang luar biasa berdegup kencang, tertegun lalu menunduk kepala.
“Kenapa lama sekali...?” tanya putra mahkota yang terlihat tidak lagi sabar menunggu Zili mengangkat Garpu miliknya lalu memberikan potongan daging disana untuk laki-laki tersebut.
Menoleh kepala memandang putra mahkota yang telah memandangnya sedari tadi, menatap mata laki-laki itu sejenak lalu membuangnya, kemudian menyerahkan potongan daging kedalam mulut laki-laki tersebut. “Kerja bagus..” puji putra mahkota mengelus kepala Zili, mengingatkan gadis itu kepada putra mahkota.
“Hasilnya..” perintah putra mahkota lagi.
Tersenyum remeh, mulai memainkan jari-jari tangannya diatas keyboard sembari mengunyah daging domba didalam mulut “biarkan saja dulu..” jawab laki-laki tersebut “aku ingin melihat pergerakan mereka..” lanjut laki-laki tersebut, menoleh kepala ketika Zili memberikan potongan daging lagi kepadanya.
Menggigit daging, menahannya digigi, lalu meraih kedua pipi wanita miliknya.
Haaa...
Putra mahkota Memberikan Daging tersebut kedalam mulut Zili.
Menutup mulut karena malu “kenapa kau melakukannya didepan banyak orang...?” tanya Zili kesal melihat perilaku putra mahkota.
“Kami tidak melihatnya..” ucap Pelindung putra mahkota Shin ji berpura-pura.
“Benar tidak melihatnya..” tambah penasihat putra mahkota melanjutkan makanannya.
“Tidak ada yang melihatnya, kenapa kau begitu takut..?” Lanjut putra mahkota membuat Zili geram.
“Tidak perlu membagi padamu..” ucap gadis itu marah “biar aku makan saja sendiri” lanjutnya lagi begitu emosi hingga memasukan beberapa Daging kedalam mulutnya.
__ADS_1
Tersenyum manis memandang perilaku Zili, senyuman laki-laki tersebut melegakan kedua temannya.
Lama..
Berada diruangan tersebut terlalu lama hingga tanpa sadar Zili telah tertidur dibahu laki-laki tersebut.
Menghentikan jari-jari tangan “pindah..” perintah laki-laki tersebut lalu mengangkat tubuh Zili yang berada diatas kursi Berbusa lembut, menuju keruangan Pribadi kerajaan direstoran tersebut.
Ruangan mewah yang diisi dengan empat buah Sofa lembut dan beberapa lemari kaca yang terisi berbagai jenis buku disana.
Meletakan Zili diatas sofa lalu duduk diatas sofa tersebut sembari mengangkat dan meletakan kepala gadis itu diatas paha kakinya. “Tutup saja..” perintah laki-laki tersebut ketika pelindungnya memberikan Laptop yang ia bawa.
“Apa yang akan kau lakukan..?” tanya penasihatnya yang sedang duduk dihadapan laki-laki tersebut bersamaan dengan pelindung putra mahkota yang tampak memperhatikan layar monitor laptop sembari menggeser layarnya berkali-kali.
Tersenyum remeh “tentu saja menyerangnya langsung”
Menghela nafas berat “kau benar-benar gila..”
“Aku bukan Putra mahkota negara ini lagi,” jawab laki-laki tersebut tersenyum senang “untuk apa mengikuti aturan negara” lanjutnya lagi mulai mengelus kepala wanita yang sangat ia sayangi.
Mulai memandang putra mahkota “kau bahkan belum tahu letak markas mereka..” pelindung putra mahkota Shin ji mulai membuka suara “bagaimana mungkin akan menyerang..?” lanjutnya bertanya.
“Jam tanganku..?” Putra mahkota mulai meraih jam tangan yang tidak pernah ia pakai setelah kehilangan Zili sebelumnya bersamaan dengan headset extra limited edition buatan tangannya sendiri, “tenang saja..” jawab laki-laki tersebut “aku akan mengurusnya sendiri” lanjutnya lagi mulai meraih sebuah kertas dalam kantungnya lalu memasukan nomor yang tertera kedalam jam tangan miliknya dan mulai menghubungi nomor tersebut, sembari mengaitkan headset ketelinga.
Panggilan diterima “siapa..?” suara seseorang terdengar dari balik headset yang dikenakan putra mahkota.
“Zili..” tersenyum nakal “berhasil ditangkap musuh”
“jangan bohong..” ucap suara tersebut tidak mempercayainya.
Semakin mengembangkan senyumannya “baru saja” diam sejenak , “ia mengatakan bahwa jika terjadi sesuatu padanya, aku harus menghubungimu” lanjut putra mahkota menjelaskan ucapannya. “Karena Zili sangat mempercayaiku,” tambahnya lagi “bisakah kau memberitahukan letak penahanan ayahnya kepadaku,..?” pinta putra mahkota kepada laki-laki didalam panggilan. “aku yakin saat ini, zili dalam perjalanan menunju kesana.” Tersenyum puas dengan kebohongannya “aku akan menyelamatkan dia ditengah perjalanan” jelas putra mahkota lagi.
“Benarkah kau bisa melakukannya..?” tanya cepat laki-laki dibalik headset.
“tentu saja” jawab putra mahkota “aku akan membawa teman-temanku untuk menolongnya.” Lanjut laki-laki tersebut masih mengelus rambut Panjang Zili.
Terdengar menghela nafas berat “baiklah,” jawab laki-laki tersebut menyenangkan hati putra mahkota yang langsung meraih helaian rambut panjang Zili ketika ia berhasil membuka ikat rambutnya “berikan Alamat Virtual mu kepadaku, “ pintanya “aku akan mengirimkan peta nya saat ini juga” lanjut laki -laki tersebut bersamaan dengan helaian rambut yang dihirup putra mahkota.
__ADS_1