
Tubuh yang kurus terasa ringan untuk menopangnya,
Berjalan menyeberangi jalanan aspal, setelah itu mulai melangkah memasuki teras rumah.
Rumah bertingkat dua terletak di depan jalan. Di depan rumah tersebut terdapat sebuah pohon buah jambu dan tampak telah berbuah dengan sangat lebat.
Laki-laki tua mulai mengambil kunci dari dalam kantung celana, lalu memberikan benda tersebut kepada Zili karena ia sangat lemah saat itu, bahkan hanya untuk sekedar mengambil kunci dari dalam kantung sekalipun, ia begitu gemetaran.
Pintu berhasil dibuka.
Sedikit terkejut dan membelalak mata ketika melihat begitu banyak Foto ayah dan keluarganya yang menggantung di dinding ruang tamu, gadis itu hanya terdiam dan menyimpan rasa penasarannya di dalam hati saja.
Dia juga melihat foto bibinya, Zin Zidahlia sedang berdiri di samping laki-laki tua yang saat itu telah duduk diatas Sofa.
“Tolong ambilkan obatku.” Pinta laki-laki tua mulai menghempaskan tubuh, berbaring lemah di atas sofa.
“Dimana kau meletakan obatmu kek...?” Tanya Zili kepada laki-laki tua yang telah menutup mata. Nafasnya terlihat tidak lagi beraturan saat itu, sungguh, hal tersebut membuat Zili merasa sangat kasihan.
“di ruangan...
Belum sempat ia berbicara, dia telah jatuh ke dalam mimpinya. Memutuskan kalimat hingga Zili merasa bingung untuk mencari dan menemukan keberadaan obat laki-laki tua tersebut.
Ahh benar pelayan.
Gumam Zili di dalam hatinya,
Mulai berjalan memasuki ruangan lain yang tak tertutup, Aneh,
Gadis itu sama sekali tidak menemukan pelayan disana.
Mungkinkah laki-laki tua memang tidak memiliki pelayan...?
Pikirnya mulai menerka-nerka.
Sebenarnya saat itu ia tidak sedikitpun memiliki keberanian untuk memasuki ruangan lain, tapi ketika melihat laki-laki tua terlihat begitu menyedihkan, gadis itu terpaksa mencari obat di dalam ruangan-ruangan lainnya.
Menelusuri setiap ruangan, membuka laci-laci disetiap lemari dan juga sampai harus memasuki kamar laki-laki tua yang terdapat sebuah foto di atas meja lampu tidur. “bukankah itu aku...?” Tanya Zili yang mengenali dirinya sendiri ketika ia masih bayi.
Mendekati foto diatas meja, lalu melihat dengan seksama.
Nenek.
Gumam gadis tersebut di dalam hati ketika melihat seorang wanita sedang menggendong seorang bayi di dalam foto tersebut. Dia memang pernah melihat wanita tersebut di dalam Album foto keluarganya.
Tertegun,
Gadis itu menggelengkan kepala sejenak lalu berpikir bahwa dia tidak memiliki banyak waktu sementara laki-laki tua sangat membutuhkan obat.
Mambuka laci d lemari meja namun tidak juga menemukan obatnya.
Mungkinkah ada ruangan khusus penyimpanan obat...?
Pikirnya demikian.
Bergerak lagi menelusuri setiap ruangan,
Satu jam, dua jam, bahkan hingga 3 jam telah berlalu namun ia juga belum menemukan ruangan obat.
Berdiri di pintu terakhir, pintu yang sangat ia kenali karena telah sering menemukannya di masa lalu.
Lalu meletakan jempol tangan di pertengahan pintu karena menurutnya pintu darah tersebut merupakan pintu darah klan Zin.
__ADS_1
Pintu terbuka,
Sebuah tangga menurun terlihat, tangga yang menghubungkan ruangan tempat ia berada dengan sebuah koridor sempit di bawah. Koridor tersebut mengingatkan gadis itu pada saat pertama kali ia memasuki kamar mandi di kapal induk.
Mulai melangkah kaki menuruni anak tangga.
“Kau...” Suara laki-laki tua terdengar mengejutkan gadis itu, hingga ia mengurungkan niat untuk melangkah turun dan berbalik menghadap ke arahnya. “mungkinkah kau Putrinya Lian..?” Tanya laki-laki tua dengan mata memerah, raut wajahnya juga terlihat marah.
“Maafkan aku kakek.”Menunduk kepala merasa sangat bersalah. “Benar aku putrinya.” Jawab gadis itu sontak terkejut ketika laki-laki tua datang menghampirinya dengan cepat penuh emosi.
“Pergi..” Usir laki-laki tua menarik tangan Zili untuk keluar rumahnya. “Semua orang berusaha melindungimu, kenapa kau malah ada disini...?” Bentak laki-laki tua terlihat sekali kemarahannya.
Melepaskan tangan dari genggaman tangan laki-laki tua di depannya. “Melindungi...?”Tanya gadis itu menahan rasa sakit di dalam hatinya. “ Kenapa aku harus selalu di lindungi..?” Tanyanya tetap berdiri hingga membuat laki-laki tua berbalik menghadap kearahnya. “Mungkin itulah sebabnya saat ini aku menjadi orang yang paling Cacat dinegara NC.” Lanjut gadis itu mengeluhkan kehidupannya.
“ Zien, Kau dirumah...?” Suara seseorang terdengar masuk dan memanggil.
Zien.
Gumam Zili mengenali nama tersebut.
“ Masuk!” Perintah laki-laki tua terlihat sangat panik. “Cepat masuk.” Lanjutnya lagi mendorong kedua bahu gadis yang tingginya hampir seimbang dengan dada laki-laki tua dihadapannya.
Berbalik, gadis itu mulai lari memasuki ruangan pintu darah.
**********
Dooooorrr...
Peluru melesat hampir saja mengenai kepala Putri Kelincahan jika saja gadis itu tidak bergeser tepat dibelakang Penasihat Putra Mahkota.
Saling kejar mengejar,
Kedua pejabat negara terpaksa mematikan lampu senter di jam tangan agar kegelapan menutupi tubuh mereka dari penglihatan mata musuh yang bisa dengan mudah menembak mereka di koridor sempit tersebut.
Berlari sekencang-kencangnya hingga musuh tak lagi mampu mengejar.
“Hiks.. hiks..”
Suara tangisan terdengar.
Krrrkrkkk..
Di kegelapan tempat, Langkah mereka terhenti ketika mendengar suara tangisan tersebut. “ Siapa...?”Tanya Putri Kelincahan mencari-cari keberadaan orang disana.
“Hiks hiks..”
Muncul, Lalu menghilang.
Hal tersebut sontak mengejutkan kedua orang yang melihatnya.
Seperti sebuah Kilat di atas langit, begitupula dengan benda yang dilihat oleh mereka berdua.
“Mungkinkah itu hantu.. ?” Tanya Putri Kelincahan merasakan ketegangan luar biasa saat itu.
Berusaha tetap tenang, Penasihat Putra Mahkota mengingat kembali bentuk dari benda yang dia lihat. “Menurutku bukan.” Jawab laki-laki tersebut mulai yakin bahwa ia tidak salah melihat saat itu. “Kau tidak melihat wajahnya..?” Tanya Penasihat Putra Mahkota mulai berlari kembali, mengabaikan sesuatu aneh yang benar-benar mengejutkannya.
“Tidak sempat.” Jawab Putri Kelincahan ikut berlari, “Mungkinkah kau sempat melihat wajahnya..?” Tanya balik gadis yang terus berlari hingga menemukan persimpangan kembali.
“Benar, aku melihatnya.”Jawab laki-laki tersebut memilih melewati koridor di depannya tanpa menanyakan pilihan Putri Kelincahan. “ Aku sangat yakin bahwa yang kulihat tadi adalah Zili.” Lanjut jawab laki-laki tersebut mengejutkan gadis yang terus berlari beriiringan dengannya.
Sepertinya, kecepatan lari para pejabat tinggi memang tidak diragukan lagi, bahkan untuk berlari secara beriringan sekalipun mereka tidak terlihat kesulitan.
__ADS_1
“Zili...!” Gumam gadis tersebut pelan. “Mungkinkah Zili bisa menghilang seperti hantu...?” Dia bahkan mulai kebingungan saat itu.
“Bukankah kau merasa aneh...?” Tanya balik Penasihat Putra Mahkota ketika ia telah memperpelan langkah larinya lalu berjalan perlahan-lahan karena merasa berada di jalan buntu.
Menghentikan langkah kaki, lalu menghidupkan lampu center. “Aneh bagaimana...?” Tanya balik putri keagungan yang telah melihat sebuah pintu lagi di depan matanya.
Meraih dua gagang dipertengahan pintu. “Lupakanlah, Aku bahkan mulai menganggapnya hantu namun masih saja tidak meyakininya.” Lanjut laki-laki tersebut mulai membuka Pintu.
Menghela nafas.
Betapa terkejutnya kedua orang tersebut ketika melihat isi ruangan yang dipenuhi dengan keranjang bayi yang terdapat bayi juga di dalamnya.
“Oekkk..
“Oekk...
Suara-suara tangisan bayi terdengar menggema di ruangan tersebut.
“Sudah datang...?”Tanya seseorang yang berada didalam ruangan tersebut mulai muncul dengan mengenakan jubah putih. “Bayi mana yang akan menerima percobaan hari ini...?” Tanya orang yang mungkin adalah penjaga bayi tersebut kepada mereka berdua.
“Percobaan..?” Tanya Putri Kelincahan kebingungan.
“Siapa Kalian...?” Meraih pistol di pinggangnya lalu mengacungkan benda tersebut ke arah kedua pejabat tinggi negara.
BAaaaakkkk...
Kecepatan gerak Penasihat Putra Mahkota mampu melumpuhkan Penjaga Bayi tersebut, menjatuhkan wanita itu telungkup keatas lantai lalu mengunci kedua tangannya ke belakang setelah berhasil mengambil pistol.
“Anna, tutup pintu!” Perintah laki-laki tersebut yang langsung dilaksanakan Putri Kelincahan. “Katakan semua yang kau ketahui!.” Lanjut Penasihat Putra Mahkota kali ini beralih kepada wanita penjaga bayi yang ditahanannya tersebut.
“Bunuh saja aku.” Ucap Wanita tersebut mengejutkan kedua pejabat negara di sana.
“ Selalu begitu.” Penasihat Putra Mahkota terlihat amat kesal ketika mengingat para musuh yang berhasil di tangkap negara, selalu mengatakan kalimat tersebut. “hanya katakan saja alasan kalian lebih memilih mati dibandingkan membuka mulut!” Perintahnya menyerah untuk mengetahui informasi tentang musuh.
Berdiri setelah melepaskan wanita itu, Mungkin karena pistol wanita tersebut telah berhasil direbut olehnya dan juga karena ia mengetahui bahwa wanita tersebut tidak memiliki keahlian seni bela diri. “Mati ditangan negara lebih ringan bagi kami dibandingkan mati ditangan Yuan.” Ucap wanita tersebut menjawab rasa penasaran penasihat Putra Mahkota sembari mulai menenangkan seorang bayi yang menangis dengan menggendong dan menimangnya.
“Kenapa kalian berpikiran seperti itu...?” Tanya Putri Kelincahan bersamaan dengan belasan anak kecil yang terlihat keluar dengan ragu-ragu dari sebuah ruangan lainnya.
“Sebelum membunuh, dia akan menyiksa kami perlahan-lahan,” Jawab wanita tersebut mulai gemetaran mengingat masa lalu. “mencabik-cabik tubuh kami hingga puas, lalu melemparkan kami ke kolam buaya.” Lanjutnya lagi mulai duduk di atas lantai saking takutnya ketika menyaksikan kejadian mengerikan di masa lalu saat pertama kali bergabung ke dalam kelompok tersebut.
“kalau tahu begitu, Kenapa kalian malah bergabung dengan mereka...?” Bentak Penasihat Putra Mahkota teramat marah.
“Setiap manusia memiliki kelemahan.” Jawab wanita tersebut berusaha keras menahan ketakutannya.”Dan Yuan berhasil menggenggam kelemahan kami.” Lanjut wanita tersebut menjelaskan.
“Bukankah kalian masih memiliki negara ...?”
Kali ini Putri Kelincahan lagi yang bertanya, gadis itu terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan ia yang biasanya.
“Mungkinkah keluarga kerajaan akan menolong rakyat biasa seperti kami..?” Tanya balik wanita tersebut. “ Bahkan polisi negara sekalipun tidak akan mampu mengalahkan Yuan, “ Lanjut wanita tersebut. “Hanya keluarga kerajaanlah yang bisa menolong kami namun,..”Tersenyum miris, memandang bayi yang telah berhenti menangis bersamaan dengan belasan anak kecil yang telah mendatangi dan duduk di sekitarnya. “ Melihat mereka saja sudah sangat susah apalagi meminta pertolongan.” Tambah wanita tersebut terlihat begitu menyedihkan sembari mengelus kepala seorang anak kecil di sampingnya.
“Hiks hiks..”
Krrrkkk..
Muncul kembali tepat di belakang pejabat negara , lalu menghilang dengan cepat.
Menoleh ke belakang, lalu menghadap ke arah wanita tersebut lagi, karena tidak melihat apapun lagi di sana. “ Kau tahu apa itu...?” Tanya Penasihat Putra Mahkota kepada wanita di hadapannya mulai menurunkan pistol yang tadinya ia acungkan.
“Pintu terlarang terbuka ya..?” Gumamnya pelan.
“Mungkinkah ruangan dengan Ukiran tulisan Bahasa Indonesia itu...?” Tanya Putri Kelincahan yang mendengar gumaman pelan wanita tersebut.
__ADS_1
“Aku tidak tahu pasti..” Jawab wanita tersebut memandang sayu mata Putri Kelincahan. “ Yang aku tahu, setelah ruangan itu terbuka, Penghuni kapal akan muncul selama seminggu lamanya dan menyerang orang-orang yang dikenalinya hingga kini orang-orang yang dikenalinya telah mati karena tidak kuasa melawan wanita itu.” Lanjut wanita tersebut semakin jelas ketakutan terlihat di wajahnya yang telah Pucat.