Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
bermain peran


__ADS_3

Semerbak wangi memaksa masuk kedalam rongga hidung, menenangkan Jiwa yang tak sengaja menghirup aromanya.


Berdiri disamping seseorang dengan aroma yang sangat dikenal, Zili sudah mampu menebak bahwa aroma tersebut memang adalah aroma milik pangeran istana. Aroma parfum Extra limited edition yang mungkin hanya dikonsumsi oleh laki-laki tersebut karena memang dia sendirilah pembuat asli parfum yang ia gunakan saat itu.


Berbeda dengan putra mahkota yang paling ahli dalam bidang teknologi serta obat-obatan, Pangeran istana sendiri memiliki keahlian lebih mendalam dibidang ilmu kesenian, meskipun demikian, kemampuannya sendiri masih belum bisa mengalahkan kemampuan putra mahkota karena Model seni karya putra mahkota sendiri merupakan seni modern dengan percampuran beberapa keahlian Klan dalam pembuatannya, sedangkan Keahlian seni pangeran istana sendiri merupakan keahlian seni murni, dimana dia tidak pernah mencampur adukan Keahlian seninya dengan keahlian Klan lain di negara NC.


Krieekkk...


Aroma yang menenangkan sontak menghilang, tak tercium lagi wanginya karena suasana menegangkan mulai memompa jantung hingga membuat nafas tidak beraturan.


Suara pelatuk pistol berbunyi.


Seorang laki-laki bertumbuh kurus, mengenakan blazer hitam panjang menarik benda tersebut hingga bunyinya terdengar sampai ketelinga.


“aaaahhh.....”


Betapa terkejut Zili melihat laki-laki yang berdiri disampingnya berteriak ketakutan serta mulai menutup kedua telingannya dan Terjatuh duduk diatas lantai.


Benarkah dia Shin’A..?


Tanya Zili dalam hatinya merasa ragu karena orang yang dia kira pangeran istana tampak seperti orang yang sangat penakut dan juga pengecut.


“Aku mohon jangan bunuh aku, aku hanya ingin obat antigila untuk menghidupi istri dan anakku” ucap laki-laki tersebut membuat Zili sontak menyadari sesuatu.


“Hiks.. hiks... ibu...”


Gadis itu mulai menangis sesunggukan “aku hanya ingin obat itu untuk ibuku” dia berpura-pura mengikuti perilaku laki-laki disampingnya.


Suara aliran air berbunyi mengalir deras jatuh keatas lantai, Zili yang masih menunduk dan menggenggam kedua tangan didepan dada melirik sedikit kearah sampingnya.


Senyuman getir menghiasi bibir gadis itu ketika melihat aliran air seni membasahi lantai ruangan kecil tersebut.


Paaaakkk..


“Brengsek, dia buang air kecil Bos” seorang laki-Laki bertubuh kekar yang tadinya memberikan petunjuk jalan untuk Zili, memukul kepala laki-laki yang sedang buang air berdiri dicelananya.


“Singkirkan dia” perintah atasannya yang langsung dilaksanakan laki-laki bertubuh kekar dengan menarik kerah kaos belakang laki-laki tersebut, membawanya keluar dari ruangan kecil itu.


Laki-laki pengguna blazer panjang berwarna hitam yang terbuka mulai berjalan menghampiri satu per satu orang-orang yang sedang berdiri didepannya.

__ADS_1


Mengacungkan pistol kedahi kepala mereka, hal itu sontak menegun Zili yang tidak sanggup lagi melihat tingkah mereka hingga kakinya mulai melangkah.


Haaa...


Tapi langkahnya terhenti karena laki-laki yang sedang duduk disampingnya menghentikan langkahnya dengan memegang tangan gadis itu. “aku sangat takut” ucap laki-laki tersebut mendongak wajah memandang Zili.


Menyadari bahwa tindakannya mungkin akan mengacaukan rencana, Zili mulai berjongkok menghadap laki-laki tersebut “aku juga sangat takut” ucap gadis itu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Singkirkan dua orang pengecut ini” perintah laki-laki pengena blezer panjang kepada laki-laki bertubuh kekar yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut setelah menyingkirkan seorang dari Pendatang baru.


Dengan mudahnya laki-laki kekar mengangkat Zili dan laki-laki disampingnya dengan kedua tangan, dan meletakan kedua orang tersebut diatas bahunya.


Terkejut bahkan sampai membelalak mata, Zili yang telah berada dibelakang punggung laki-laki kekar tersebut menatap senyum geli laki-laki yang tadinya berada disamping gadis itu.


Tubuh terhempas jatuh keatas lantai ruangan rumah tak berpenghuni setelah Laki-laki bertumbuh kekar membawa mereka berdua keluar dari ruang bawah tanah.


Sebuah kartu keanggotaan berhasil diterima gadis itu, kartu Keanggotaan Kelompok Gelap BLue Sprayer kini berada ditangannya.


“Blok B No 2” ucap laki-laki kekar yang tadinya melemparkan kartu keanggotaan kepada Zili, Kartunya sendiri bisa dengan mudah dikalungkan keleher karena terdapat tali menyertainya.


Keluar dan berjalan, Terik matahari disiang hari memperpanas cuaca hari itu. Berjalan terus melewati rerumputan tinggi keluar halaman dan mencari alamat yang di berikan, langkah Zili mulai berhenti ketika laki-laki yang tadinya berada disamping gadis itu berjalan melewatinya.


Sungguh sikap yang sangat jauh berbeda dari sikap pengecut yang tadinya berada didalam ruangan bawah tanah, laki-laki tersebut tampak acuh tak acuh berjalan mencari alamat yang mungkin telah ditentukan untuknya juga.


Terus berjalan, sesekali menoleh kekanan dan kekiri melihat alamat rumah yang diberikan.


Hingga langkah kaki berhenti tepat didepan sebuah alamat yang dicari. Rumah sederhana yang tampak amat bersih karena terlihat Sebuah robot pengutip sampah baru saja keluar dari halaman rumah tersebut.


Mulai melangkah memasuki rumah,


Tetapi belum mengerti bagaimana membuka pintunya.


Terus berpikir dan berpikir.


Ia mengambil Kartu keanggotaan miliknya. Meletakan disebuah kotak disamping pintu.


Benar saja.


Sama halnya seperti ruangannya digedung asrama putri, pintu rumah tersebut juga menggunakan IDCard untuk membukanya.

__ADS_1


Pintu otomatis terbuka,


Zili mulai melangkah masuk lalu menyalakan Lampu ruangan.


Dia tersenyum senang,


Semua perlengkapan seorang programer telah berada didepan matanya.


Komputer, laptop, ponsel, bahkan semua perlengkapan rumah tangga tampak lengkap dirumah tersebut.


Tak ada sebuah ruangan lain. Hanya satu ruangan besar yang diisi dengan dua buah komputer diatas meja serta kulkas, dispenser yang telah terisi Air mineral serta Ac, lemari yang diisi puluhan buku, kasur Lipat yang tergulung dan beberapa perlengkapan lainnya.


Hebat sekali,


Pikirnya, mungkin semua orang yang berada dikomplek area perumahan tersebut adalah musuh negara.


Mereka tinggal dan menempati rumah pemberian dari musuh berbahaya.


Sebuah komputer tiba-tiba menyala.


“WELCOME TO BLUE-SPRAYER” sebuah tulisan besar muncul dilayar monitor “PLEASE LOG-IN TO YOUR ACCOUNT” lanjut Kalimat lain setelah kalimat sebelumnya menghilang.


Bergegas mendekati komputer, Zili mulai memainkan Jari-jari tangannya diatas keyboard komputer.


Gadis itu telah menerima banyaknya Pekerjaan yang langsung diberikan setelah ia masuk kedalam Akun Virtualisasi Kelompok blue-sprayer.


Mengerjakan tugas dengan cepat hingga Siang yang begitu panas berubah menjadi Malam yang bertaburan bintang.


Mulai keluar dari rumah, memandangi sekitaran yang tampak sepi, mungkin karena semua orang didalam kompleks tersebut sedang bekerja, “s-texchif” zili memanggil salah satu texchi senjata miliknya.


Bergerak dengan kecepatan tinggi, berada diatas udara hingga tak terdeteksi kehadirannya, tongkat pemberian ketua Klan Co kini telah berada ditangan gadis itu.


Sedikit tersenyum lega, Zili mulai memasuki rumah nya kembali.


Meraih headset bluetooth yang ia sembunyikan dibalik kemeja miliknya lalu melakukan panggilan keseseorang yang ia kenal “ Suho “


“Kau baik-baik saja..?” tanya laki-laki dari balik headset milik Zili.


Zili mulai menarik sebuah tombol disamping tongkat yang mungkin terbuat dari besi tersebut, turun sedikit kebawah “Safe..” ucap Zili melegakan presiden sekolah yang tadinya sedang menunggu panggilan gadis itu.

__ADS_1


“Syukurlah” suara presiden sekolah terdengar sangat lega mengetahui keadaan Zili saat itu.


“Suho, bagaimana cara berkomunikasi dengan robot Grolle..?” tanya Zili tanpa basa-basi karena memang malam itu ia mulai beraksi.


__ADS_2