Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Menekan Kejiwaan


__ADS_3

Haaa.. haa.. haa..


Nafasnya terengah-engah, dua lift berhasil ia lewati dengan mudah meskipun memakan waktu yang cukup lama.


Di dalam ruangan itu, gadis tersebut terlihat duduk bersandar menahan rasa lelah yang menyakiti sekujur tubuh. Matanya terasa sangat berat, ingin sekali ia beristirahat saat itu juga.


Sayangnya, dia harus terus menghitung waktu setelah memasukan tombak ke dalam ruangan tersebut dan melihat angka yang tertera.


Sepi sekali,


Lift juga bergerak sangat lambat,


Menghitung waktu, membuatnya semakin lelah dan semakin mengantuk.


Mual karena rasa kantuk bahkan sampai menggerogoti keadaan perut Zili.


Kesepian turut menambah sayatan perih di dalam hati karena merindukan sesosok laki-laki yang pernah mengisinya.


“Tuan!” panggilan darinya untuk Pemilik Apartemen tiba-tiba saja terdengar keluar dari mulut.


Rindu sekali bahkan sampai menyakiti, rindu pada Putri Kelincahan dan juga Putri Keagungan, dia juga sangat merindukan sekolah dan suasana kota secara tiba-tiba.


Itu semua terjadi karena sekarang, Zili tidak lagi pernah merasakan kesendirian seperti di masa lalu.


15 menit terasa begitu lama untuk menunggu. Tetapi waktu tersebut terasa begitu cepat, untuk menutup mata. Zili, saat itu tidak memiliki pilihan lain selain menahan rasa yang begitu membosankan dan menyakiti hati yang sedang kesepian.


Matanya tertutup, lalu terbuka dengan cepat.


“Berapa?” tanyanya pada diri sendiri yang telah melupakan hitungan waktu.


Dengan segera ia berdiri lalu menekan tombol pembuka pintu.


Tangggg....


Lift berhenti.


Mata Zili sontak terkejut karena bukan dinding yang ia lihat dan bukan pula tombak yang masuk ke dalam ruangan melainkan sebuah peluru yang melesat tanpa suara tembakan senjata dari sebuah lorong gelap padahal ia sendiri sangat yakin bahwa lift tersebut belum sampai menuju lorong berikutnya.

__ADS_1


Deeeeggg...


Deguppp...


Jantungnya mulai berdetak kencang,


Ia memperhatikan dengan seksama sebuah pesan yang dikirim oleh Mantan Presiden Sekolah Teknologi tentang lorong-lorong yang harus ia lewati dan sangat yakin bahwa lorong tersebut bukanlah lorong yang sesuai dengan lorong pintu lift keenam.


Takkk..


Segera gadis itu menutup pintu lift kembali dengan segudang pertanyaan yang menghampiri,


Pikirnya, Bagaimana mungkin ada lorong terbuka lain padahal biasanya hanya ada satu lorong yang terbuka dan lorong-lorong lainnya telah tertutupi oleh tanah?,


“Tanah?”


Ucap Zili bertanya-tanya pada diri sendiri lalu memandang sebuah peluru yang tadinya meluncur masuk ke dalam ruangan tersebut kemudian berjalan mendekati benda kecil itu dan meraihnya.


“Zili!”


Deguuuppp...


Berbalik cepat,


Siapa yang menyangka bahwa ada orang datang dan masuk ke dalam ruangan tanpa mampu ia sadari kehadirannya kalau bukan Putra Mahkota, tetapi sayang, dia sangat mengenali suara laki-laki yang sangat ia cintai itu dan memastikan bahwa suara tersebut bukanlah suara suaminya.


Deguuuuppp...


“Kau?”


“Aku..”


Tak takk takkk..


Suara langkah kaki ramai memasuki pintu lift yang tertunda menutup tadinya.


Belasan orang berpakaian kain berwarna merah, menutupi seluruh tubuh dan hanya menyisakan mata datang menghampiri dengan membawa pistol di tangan mereka masing-masing. “.. Penyelamatmu.” Jawab seorang laki-laki tua yang telah berdiri di hadapan Zili saat itu.

__ADS_1


Deguppp..


Duuugggg...


Aura laki-laki tua itu berbeda dari kebanyakan orang yang ia temui, tetapi tetap saja aura tersebut sangat ia kenali.


“ Pe.. nyelamatku?” tanya Zili tidak mengerti, gadis yang tadinya sedikit membungkuk, perlahan-lahan menegakan tubuh lalu tanggggg... melepaskan peluru di tangan.


“Kalau kau meyakini hidupmu selama ini hanyalah beruntung ketika lepas dari bahaya yang hampir saja membunuhmu, maka pikirkan ulang keyakinanmu itu!,” laki-laki tua itu tersenyum sedikit lembut sembari terus memandang mata Zili yang sedari tadi menatapnya penuh dengan pertanyaan. “Ketika kau dalam bahaya dan terselamatkan, maka percayalah, pada saat itu, kau tidaklah sedang beruntung karena tanpa kau sadari, ada sesuatu yang telah menyelamatkanmu. Begitulah seharusnya aku bagimu.” Lanjut laki-laki tua itu semakin membingungkan gadis di hadapannya.


“Aku,..”


“Kau pasti kebingungan, bukan?” menyela perkataan yang akan dilontarkan Zili, “ikutlah bersamaku dan kau akan memahami semua ucapanku!,” laki-laki tua mengajak Zili dengan mengulurkan tangan kepada gadis itu.


“Hmm,” Zili menggelengkan kepala, dia menolak untuk mengikuti laki-laki tersebut, “mungkinkah seorang penyelamat membawa banyak orang dan juga senjata hanya untuk menemui orang yang diselamatkannya?” gadis itu mulai memberikan alasan atas penolakannya.


“Haahahahahaha...” Tawa laki-laki tua menggelega, “ternyata kau telah berubah, jauh lebih pandai dibandingkan dengan gadis yang dulunya selalu mendekam di dalam toilet sekolah dan aku yang selalu memastikan keamananmu di sana.” Perkataan laki-laki tersebut sontak mengejutkan Zili dan mengingatkan gadis itu pada masa lalunya hingga matanya mulai berkaca-kaca.


“Kau pasti telah mencari tahu kelemahanku lalu menyatakan diri sebagai Penyelamat padahal kau sama sekali tidak pernah melakukan apapun untukku.” Tebak Zili penuh keyakinan, menolak mengakui bahwa laki-laki tua di hadapannya adalah Penyelamat gadis itu selama ini.


“Hmm, Pantas saja, kau masih bisa bertahan dengan kejahatan teman-temanmu di sekolah dan juga ketidakpedulian ayahmu, ternyata darahmu sama dengan darah Yuanna, Putriku.” Deeeggg.. Duuuuppppp...Jantung Zili semakin kencang terpompa, laki-laki tua tersebut bahkan mengetahui banyak hal tentang dirinya. “Orang yang memiliki darah Universal memang cenderung mampu bertahan jauh di bawah tekanan seperti dirimu, kalau itu aku, mungkin aku sudah lama gila karena depresi namun kau harus tahu, ada satu orang lain yang sebenarnya jauh lebih menderita dibandingkan dengan dirimu..”


“Apa maksudmu, kakek?” tanya Zili menyela cepat.


“Xu’i, ayo ikut denganku dan tinggalkan Xu’i demi kebahagiaannya.” Ajak laki-laki itu, menjawab pertanyaan Zili hingga membuat gadis itu sontak terkejut.


“Maaf, aku terpaksa berwajah tebal dan menolak permintaanmu, hmmm..” Gadis itu tertegun, sejenak menundukan kepala lalu mengingat pesan Putra Mahkota untuk tidak menundukan kepala kemudian dengan tegas ia mengangkat kepalanya kembali. “..anggap saja karena darah Universal yang mengalir di dalam tubuhku ini, aku berubah menjadi orang yang tidak tahu malu dan menginginkan Putra Mahkota untuk hidup bersamaku.” Lanjut Zili dengan senyuman pahit yang terpaksa ia lontarkan, menolak keras ajakan laki-laki tua di hadapannya.


“Benar sekali,” laki-laki tua terlihat menghela nafas berat, “mana mungkin seorang wanita yang telah berhasil mendapatkan Xu’i, melepaskannya begitu saja,bukan?, tapi bagaimana jika sebenarnya seseorang seperti Xu’i lah yang telah menghancurkan hidupmu di masa lalu dan mungkin saja akan menghancurkan hidupmu kembali di masa depan nanti jika ia bosan kepadamu?, mungkinkah kau masih tidak tahu malu, menginginkannya untuk hidup bersamamu?” deeggggg duuupppp..


Jantungnya terpacu lebih kencang hingga keringat dingin terus bercucuran membasahi seragam yang Zili kenakan saat itu.


Tangan gadis itu gemetaran, bahkan ia mulai menundukan kepalanya. “Aku, “ lalu berusaha keras mengangkat kepala kembali, “ ... mana mungkin mempercayai omonganmu, kakek.” Jawab Zili dengan senyuman lembut yang ia paksakan.


“Baiklah, baiklah, bagaimana kalau aku mengingatkanmu pada satu hal yang pasti membuatmu akan memikirkan ulang ajakanku?” laki-laki tua itu terus memancing, sepertinya dia sedang berusaha untuk menghancurkan kejiwaan dan mental Zili saat itu.


“Aku, hm, aku tetap tidak akan percaya kakek.” Jawab Zili penuh keyakinan.

__ADS_1


“Hmm, dengarkan aku baik-baik!, Mungkinkah seorang Pangeran bisa memerintahkan kepala sekolah, guru dan seisi pegawai sekolah untuk menghalangimu belajar, mengikuti kegiatan sekolah dan pergi ke perpustakaan selama ini?, bukankah dengan begitu, salah seorang dari mereka akan melaporkannya kepada pemilik sekolah?,” Deguuuupp, Zili tertegun, tubuhnya mulai bergemetaran kembali dan itu semakin melelahkan jiwa dan keadaan fisiknya, “Hal yang sangat mustahil adalah seorang kepala sekolah bisa patuh kepada seorang Pangeran yang bahkan tidak memiliki kekuasaan atas sekolah dan dia juga bukan merupakan pemilik sekolah apalagi memiliki hak untuk mengatur para pegawai sekolah, dan yang harus kau ketahui, Kepala sekolah hanya setia dengan pemilik sekolah saja, maka sudah dipastikan hal itu merupakan perjanjian mutlak di antara mereka, lalu pertanyaannya.” Laki-laki tua tersenyum sedih, memandang sayu ke arah Zili yang mulai menitihkan air mata. “menurutmu, Siapa pemilik sekolah High Raise negara NC?”


__ADS_2