Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Pilihan lain


__ADS_3

menguatkan diri,


entah mengapa, ketika bersama putra mahkota hatinya tidak sekuat ketika ia ditinggalkan ke kenada waktu itu.


aneh sekali,


pikirnya.


mungkinkah ia terlalu manja hingga kini hatinya merasa gugup untuk menjalankan Tugas Negara..?


lanjutnya lagi berpikir.


berjalan melangkahkan kaki keluar gedung pusat pangkalan Militer bersama putra mahkota,


masih ada sisa waktu sehari lagi sebelum ia bertugas menjalankan misi negara.


sangat ingin,


ia sungguh menginginkan untuk mengunjungi rumah kakeknya,


meskipun demikian, dia tidak ingat kapan terakhir kali berkunjung kesana.


setidaknya, Melihat keadaan kakeknya saja sudah cukup baginya untuk menghilangkan rasa rindu didalam hati.


mengikuti langkah putra mahkota,


berjalan menuju mobil pribadinya.


ramai sekali,


halaman Gedung dipenuhi dengan barisan tentara yang begitu rapi memberikan Hormat kepada Putra mahkota.


memang,


meskipun masih remaja, putra mahkota sangat dikagumi baik dari kalangan remaja maupun kalangan Orang Tua.


"yang Mulia, " Salam hormat hacker kebangaan negara, " mungkinkah ada yang bisa kubantu untuk anda..?"tanya laki-laki remaja yang masih menduduki sekolah tingkat menengah pertama tersebut, sepertinya, dia sangat ingin menjadi berguna untuk Calon raja yang sangat ia kagumi.


"kerumah ketua klan Zin.." jawab putra mahkota sontak mengejutkan Zili yang mulai menghentikan kakinya.


kakek.


gumam gadis itu didalam hati, ingin sekali bertemu.


*********


Rumah yang sangat besar,


memang hanya bertingkat dua tetapi begitu Luas.


siapa saja yang mungkin tinggal disana..?


pikir gadis itu.


rumah mewah dengan Kolam ikan didepannya dan jembatan kecil yang menghubungkan Halaman dengan teras Rumah, begitu indah dipandang mata.

__ADS_1


ditambah lagi dengan susunan rapi bunga-bunga anggrek didalam pot yang berada diatas Dua rak tinggi dikedua Sisi bagian depan rumah.


semerbak wanginya kadang masuk hingga kedalam hidung ketika Zili dan putra mahkota mulai memasuki teras Rumah.


para pelayan berhamburan keluar "selamat datang yang Mulia" sambut mereka berbaris rapi disisi kanan dan sisi kiri putra mahkota dan Zili berada.


tersenyum kecut memandang laki-laki tua yang berada diujung barisan belasan pelayan dan seorang laki-laki dewasa yang sangat jarang sekali ia temui.


"Xu'i.." panggil laki-laki dewasa tersebut.


"selamat datang dikediaman Zin, yang Mulia.." ucap laki-laki tua Memberi sambutan,


"kau merindukannya bukan...?" membelalak mata, pikir gadis itu,


bagaimana mungkin putra mahkota mengetahui isi hatinya...?


mata gadis itu sedikit memerah "hmm" angguknya cepat mencengangkan Ketua Klan zin yang terlihat tidak menyenanginya.


mengabaikan Zili begitu saja "maaf yang mulia, mungkinkah anda akan Menginap disini..?" tanya Ketua Klan Zin kepada putra mahkota bersamaan dengan laki-laki dewasa yang mulai menghampiri Zili.


"jadi kau Zili...?"tanya laki-laki dewasa, mengabaikan begitu saja putra mahkota yang berada disamping gadis itu.


tersenyum pahit "benar paman" ucap gadis itu


kepada saudara Ayahnya, Zin Zilan, ia merupakan ayah dari Putri ketelitian, Zin Ziya dan juga Polisi inteligen, Zin Zihen.


menarik tangan Zili yang memang telah digenggam sejak tadi, membawa gadis itu kesisi lain putra mahkota agar berjauhan dengan laki-laki dewasa yng tadinya berada tepat didepan gadis itu "Paman Zilan adalah orang yang sangat sibuk.." ungkap putra mahkota tidak menyenangi laki-laki tersebut,


entah mengapa ia tidak menyenanginya, tetapi pasti, dia memiliki alasan tersendiri untuk melakukannya. "Sebaiknya paman segera pergi mengurusi kesibukan paman." lanjut putra mahkota mulai menarik tangan Zili menjauh "kami akan menginap Disini," mulai melanjutkan ucapan lagi "kakek.." panggil Sopan putra mahkota kepada ketua klan Zin yang terlihat merasa sedih "tunjukan kamar untuk kami" tambahnya meminta yang langsung dianggukan laki-laki tua dihadapannya.


*********


semua keluarga besar Zin berkumpul.


tapi sayang, Ayah Zili, Zin zilian, lagi dan lagi tidak pernah sekalipun datang diperkumpulan keluarga semenjak kepergian Ibunya.


Putri ketelitian terlihat duduk dipertengahan Ibu dan ayahnya, sementara diujung meja, ketua Zin merelakan kursinya untuk putra mahkota, dan Zili bahkan terpaksa harus duduk dibagian tempat yang sama dengan putra mahkota atas perintah Suaminya tersebut.


canggung,


suasananya begitu tidak nyaman.


bahkan Polisi inteligen, Zin Zihen berkali-kali mengeluarkan suara deheman untuk mencairkan suasana,


sepertinya ia juga merasa sangat tidak nyaman dengan situasi saat itu.


"jelaskan alasannya..?" tanya putra mahkota membuka suara, dia yang mengetahui bahwa rencana Mencari keberadaan musuh Sedikit berubah ketika melakukan rapat dipangkalan militer, mulai menanyakan permasalahan tersebut disela-sela makan malam mereka.


"maksud anda yang mulia..?" sembari menghentikan tangan mengiris potongan Daging berkualitas Tinggi, ketua klan Zin mulai bertanya.


"bukankah kau tidak ingin istriku bekerja dibank negara, dan mengajukan Opsi lain untuk bekerja dibank swasta..?" tanya putra mahkota terang-terangan, begitu marah sebenarnya, namun ia berhasil mengendalikannya.


tertegun, benar saja dugaannya, putra mahkota memang selalu membantu Cucunya, bahkan terus-menerus menekan orang-orang yang mengganggu wanitanya tersebut meskipun orang yang mengganggu gadis itu adalah ayah putra mahkota sendiri "saya hanya tidak ingin mempermalukan cucu saya dihadapan banyaknya pegawai profesional Disana, yang mulia." jawab Ketua Klan zin menjelaskan.


"hmm" tersenyum kecut "jadi kau tidak mempercayai Cucumu sendiri ya...?" tanya putra mahkota sembari memasukan Potongan daging kedalam mulutnya.

__ADS_1


Zili yang mendengar obrolan mereka hanya terdiam, mengunyah potongan daging begitu lama dan masih berada didalam mulut, belum tertelan juga,


"Zili tidak pernah sekalipun belajar disekolah perbankan, bagamana mungkin saya akan mempercayainya..?" tanya balik ketua klan Zin kepada putra mahkota.


menghentikan tangan mengiris potongan daging yang tersisa "berikan saja Wanitaku ujian Percobaan, bagaimana...?" tanya kembali putra mahkota.


memandang putra mahkota dengan seksama "debt Collector.." ucap ketua Klan Zin "bagaimana jika Zili bertugas sebagai debt Collector selama seminggu kedepan..?" lanjut laki-laki tua itu memberikan pilihan.


"baiklah" sungguh, persetujuan putra mahkota membuat Zili merasa dalam Tekanan yang Luar biasa.


pikirnya,.


bagaimana mungkin orang seperti dia diberi tugas menagih Hutang,..?


ia bahkan sangat jarang berbicara dengan manusia.


Astaga.


********


berada didalam kamar yang sama, bukan berarti mereka akan tidur disatu ruangan yang juga sama.


hanya saja,


malam itu, putra mahkota mengantarkan Zili masuk kedalam kamarnya.


kamar yang luas, sepertinya di kediaman Zin memiliki begitu banyak kamar,


Aneh sekali,


tetapi pikiran itu telah menghilang dari otak Zili, berganti dengan rasa gugup karena putra mahkota dan dirinya hanya berdua saja disatu ruangan malam itu.


tidak seperti sebelumnya didesa Shen,


mereka juga pernah Berdua didalam kamar yang sama.


kali ini, degup jantung kedua remaja tersebut berdetak kencang,


mungkin karena perasaan saling mencintai yang begitu kuat, menyebabkan mereka saat ini saling berjauhan menjaga jarak, tetapi masih saling menggenggam tangan.


"Kau tidak boleh takut.." perintah putra mahkota, mengingatkan Zili pada tugasnya esok hari.


menagih hutang kerumah-rumah warga, sungguh,


membuatnya ragu berhasil melakukannya.


"shisou.." panggil Zili ingin sekali menuangkan isi hatinya " mungkinkah aku bisa melakukannya...?" tanya gadis itu kepada putra mahkota


tersenyum lembut mulai melangkah mendekati gadis itu yang tadinya saling berhadapan namun berjauhan "tentu saja" jawab lembut putra mahkota "aku.." semakin mengembangkan senyumannya yang membuat degup jantung Zili semakin keras "percaya padamu, Zili" lanjut kalimat putra mahkota menguatkan hati gadis itu.


membalas tatapan putra mahkota, yang tadinya ia hanya menundukan kepala "terima kasih shisou" jawab gadis itu lembut, dan kini saling beradu pandang.


memejamkan mata sejenak "aku ingin menciummu" ucap putra mahkota terang-terangan karena mungkin tidak lagi sanggup menahan keinginannya.


membelalak mata tidak percaya "kau bisa melakukan apapun yang kau mau kepadaku, Shisou" jawab gadis itu sembari mengembangkan senyuman lembut.

__ADS_1


melepaskan tangan Zili lalu mengelus rambut gadis itu "maaf, aku akan menahannya saja." ucap putra mahkota mengecewakan Zili "jika aku terus melakukannya, semakin lama, pasti aku akan menginginkan lebih" tambahnya lagi membingungkan zili yang langsung mengernyitkan dahi "Aku akan menjagamu sampai waktunya tiba nanti" menarik tangan dari kepala Zili, putra mahkota bergegas pergi meninggalkan gadis yang hanya terdiam mendengar ucapan putra mahkota.


__ADS_2