
Pelindung Putra Mahkota Shin ji memang sangatlah tampan, berbeda dengan Putra Mahkota, pola bentuk wajahnya oval dengan tahi lalat samar di ujung mata sebelah kanan. Matanya sedikit menyipit, bola matanya berwarna hitam lekat dan hidungnya mancung membinarkan setiap mata yang melihatnya.
Dia sangat mirip dengan Pelindung Putra Mahkota Shin jo, kembaran Laki-laki tersebut dan untuk membedakan mereka, bagi orang yang tidak begitu mengenal, Yaitu dengan cara melihat tahi lalat di Ujung mata dan pola rambut mereka yang berbeda.
Sementara Pelindung Putra Mahkota Shin jo memiliki potongan rambut Cepak dan tidak memanjangkan poni seperti kebanyakan teman-teman Laki-laki tersebut, poni rambut Pelindung Putra Mahkota Shin ji terlihat menyamping terangkat naik sedikit ke atas, terkadang dia juga menjatuhkan poni yang membuat wajahnya terlihat semakin tampan.
Saat ini, Laki-laki tersebut terlihat sangat berbeda. Dengan tata rias Stylist ternama, Lu Arra, pipinya menjadi sangat tirus hingga ia terlihat begitu kurus.
Poni rambut yang menyamping, kini terbelah menjadi dua. Kacamata bening yang terpasang di mata, juga menambah perbedaan sendiri di wajah laki-laki yang saat ini sedang berjalan sembari membawa kamera ditangan dan tersenyum nakal memandang punggung tiga orang karyawan wanita yang saat itu sedang berjalan menuju kantin kantor.
Mulai melangkah cepat,
baaaaakkk..
Sengaja menabrak bahu belakang salah seorang dari mereka lalu menjatuhkan kamera pelan, "Terima kasih telah memanggil Kepala Keuangan untukku, Tidak masalah Kapanpun kau membutuhkanku, asalkan ada ini. Aku akan melakukan apapun itu jenis perintah." Suara Video dari dalam kamera terdengar mengejutkan ketiga karyawan wanita dan salah seorang dari mereka dengan cepat mengambil benda tersebut.
Berpura-pura gugup dan ketakutan, "Maaf." Ucap lugu Pelindung Putra Mahkota lalu dengan segera menarik paksa kamera miliknya yang terlihat sedang memutar Video dan ditonton oleh ketiga karyawan wanita di hadapannya.
Salah seorang dari mereka terlihat marah, "Berikan padaku!." Pintanya membentak lalu menarik paksa kamera kembali dari tangan Pelindung Putra Mahkota.
"Tapi ini milikku." Mengulang mengambil paksa kameranya, Pelindung Putra Mahkota memeluk kameranya hingga membuat laki-laki tersebut terlihat begitu Cupu.
Seorang dari mereka menyentuh bahu Laki-laki tersebut, "Berikan kepada kami!, kami akan membayar harga kameramu." Pinta wanita tersebut dengan suara lembut, berharap Laki-laki di hadapan wanita itu menjual kamera tersebut kepadanya.
"Tidak mau." Tolak keras Pelindung Putra Mahkota berbalik.
"Dari mana kau dapatkan Video itu...?." Tanya seorang Karyawan wanita lainnya, yang berdiri dipertengahan kedua temannya.
Berbalik menghadap ke arah mereka kembali, "Itulah sebabnya aku tidak mau memberikan kameraku." Jelas Pelindung Putra Mahkota mengejutkan mereka.
Salah seorang dari mereka terlihat marah, "Jangan bilang selama ini kau..." Nafasnya terdengar tidak beraturan.
"Memasang kamera diam-diam di Toilet wanita..?", Tambah seorang wanita lain.
Berbalik dan berlari, tapi sayang kerah pakaian belakang Pelindung Putra Mahkota dengan cepat diraih oleh dua orang dari mereka.
__ADS_1
"Aku tidak melakukannya, Aku tidak melakukannya, " Teriak Laki-laki tersebut keras berusaha agar pakaian biasa di bagian belakangnya terlepas dari genggaman kedua wanita disana, "Kalian tidak memiliki bukti" Buuuuukkkkkk, Taarrr, Kamera di tangan Pelindung Putra Mahkota sengaja ia jatuhkan keras hingga pecah dan rusak berkeping-keping saking kuatnya ia mengeluarkan tenaga.
Geram, karena bukti atas perbuatan keji Putri Kelincahan kepada mereka rusak, "Kenapa kau membantingnya..?." Tanya seorang dari mereka mulai berjongkok meraih kepingan kamera yang rusak dengan raut wajah sedih.
Telah terlepas dari genggaman tangan di pakaian belakang," Tentu saja agar kalian tidak memiliki bukti"
"Memori." Ucap seorang dari mereka yang berdiri di sisi paling jauh dari Pelindung Putra Mahkota, mengingatkan.
Tersenyum nakal, "He he sayang sekali, " Lalu mulai melangkah kaki berjalan , "Karena memiliki ruang penyimpanan yang besar maka aku tidak memerlukan memori lagi." Teriak laki-laki tersebut dari jauh.
Sebelum Laki-laki tersebut menghilang dari pandangan. "Percakapan mereka, apa kau punya Video lain...?" Tanya seorang yang tadinya memukul bahu Laki-laki tersebut.
"Tentu saja tidak ada." Jawab Pelindung Putra Mahkota berteriak dari jauh.
*******
Berdiri di depan Cermin koridor toilet, Zili terlihat menunggu sesuatu sembari melihat jam tangannya sesekali. Matanya sayu, Sebenarnya dia sangat merindukan Putra Mahkota karena tidak lagi melakukan obrolan bersama selama tiga hari belakangan ini dan hanya melihat Laki-laki tersebut di dalam layar televisi saja.
Ya,
Sangat sibuk hingga meluangkan sedikit waktu hanya untuk sekedar beristirahat saja mungkin sangat sulit dilakukan Putra Mahkota apalagi meluangkan waktu untuknya, Pikir gadis tersebut.
"Aku lihat wanita itu dibayar olehnya, pasti hanya wanita busuk itu saja yang ingin menjatuhkan kita." Lanjut seorang lainnya menjawab.
Terdengar semakin mendekat, Zili mulai mengeluarkan sebuah Lipstik dari tasnya dan berpura-pura mengoleskan benda tersebut ke bibir mungilnya.
Ketiga karyawan tersebut mulai memasuki pintu toilet, "Kau..?" Ketiga-tiganya membelalak mata ketika melihat Zili menoleh kepala ke arah mereka.
Berpura-pura tidak mengerti," Aku..?." Tanya Zili kepada mereka yang langsung datang menghampirinya.
Mendorong dada bagian atas Zili hingga membuat gadis itu sedikit mundur, "Kau bekerja sama dengannya untuk menjatuhkan kami di depan Kepala keuangan, iya kan..?" Bentak seorang di sisi kanan Zili, memberi pertanyaan untuk memastikan. "Sudah jujur saja." Tambahnya lagi.
Mengernyitkan dahi, berpura-pura tidak mengerti, "Haah, Kalian ini bicara apa..?"Tanya Zili mulai memasukan lipstik yang ia pegang kedalam tasnya.
taaaakkkk...
__ADS_1
Tas gadis itu dijatuhkan, "Jawab saja langsung, tidak perlu menyembunyikannya lagi dari kami" Bentak karyawan wanita yang berada di pertengahan sembari menendang marah tas Zili yang terjatuh.
"Jangan main-main denganku." Ucap Zili mulai mengeraskan suara sembari menggenggam erat lipstik yang masih berada ditangan karena belum sempat ia masukan kedalam tasnya. "Aku hanya perlu uang, karenanya aku membantunya." Lanjut Zili membungkuk, meraih tasnya namun sebuah tangan mulai mendekati dan mencoba mendorongnya.
Mengangkat tangan sebelum meraih tas, "akkhhhh" Erang kesakitan seorang karyawan karena genggaman erat tangan Zili di pergelangan tangannya. "Lepaskan!." Pinta wanita itu terdengar memohon kepada Zili.
Berdiri, "Aku bilang sekali lagi, jangan main-main denganku." Ucap Zili menghempaskan tangan wanita tersebut hingga keseimbangan wanita itu menurun dan hampir saja ia terjatuh jika saja tidak ada teman yang menahan tubuhnya.
Mulai merasa takut kepada Zili yang telah meraih tasnya dan menepuk benda tersebut untuk menghilangkan debu, "Berapa banyak yang kau butuhkan..?." Seorang dari mereka memberanikan diri untuk memberi penawaran.
Tersenyum nakal, ini pertama kali di lakukan gadis itu dengan meniru senyuman laki-laki pemilik apartemen yang biasa ia lihat di masa lalu. "Tergantung." Jawab gadis itu memandang ketiga orang yang terlihat sangat ingin Zili untuk beralih memihak ke mereka. "Tergantung seberapa banyak uang yang bisa kalian berikan kepadaku." Lanjut gadis tersebut memberikan penawaran menarik untuk ketiga karyawan wanita disana.
**********
"aaaakhhhh..." Erang Putri Kelincahan kesakitan, di saksikan begitu banyak karyawan di ruang kerjanya.
Pintu berhasil ditutup, tidak seorangpun yang berniat membuka.
Nafasnya terengah-engah, dan tentu saja itu hanya tipu daya. Terduduk menyandar dinding sudut belakangan ruangan disana, Putri kelincahan menahan rasa sakit karena Pukulan Zili kearah pipinya, "Kau mengkhianatiku...?" Teriak marah gadis itu penuh kepura-puraan, memandang Zili yang menatapnya sinis di depan tiga orang karyawan wanita yang membayarnya.
"Uangmu tidak cukup untuk membayarku," Ucap Zili sembari berjongkok di depan Putri Kelincahan dan mengambil Kacamata gadis itu, "Karenanya tentu saja aku lebih menyukai untuk berpindah pada tuan yang baru." Lanjut ucap Zili menepuk-nepuk pipi Putri Kelincahan yang telah memerah.
"Rasakan" Hina seorang karyawan dibelakang Zili, menatap puas kearah Putri kelincahan yang telah membuatnya malu di depan banyak orang di ruangan tersebut sebelumnya.
"Berapa banyak yang kau butuhkan..?." Tanya keras Putri Kelincahan menawarkan.
Tersenyum remeh, "haa, Apa maksudmu..?." Jawab Zili mulai berdiri dan berpura-pura.
"Aku akan membayarmu 5000 neceri." Ucap Putri kelincahan mengejutkan semua orang disana, "Siksa mereka untukku!."Perintah gadis itu membuat ketiga wanita di belakang Zili marah.
"20.000 neceri, Tampar wajahnya untukku!" Perintah seorang dari mereka.
mulai mengangkat tangan, "50.000 neceri." Putri Kelincahan mulai berdiri memberikan penawaran lagi, hingga tangan Zili yang terangkat, kini ia turunkan kembali.
"200.000 Neceri" Mengejutkan, Tawaran seorang dari mereka hampir menegunkan semua orang disana.
__ADS_1
Bagaimana tidak..?, Uang yang mungkin jauh Lebih tinggi dari gaji perbulan mereka bahkan mampu diterima oleh Zili dengan begitu mudah hanya untuk menyiksa gadis yang saat itu menjadi pusat perhatian semua orang diruangan tersebut. "Buka paksa pakaiannya!." Perintah seorang penawar tersebut.
Geram, "aku akan memberikan 50.000 neceri kepada siapapun yang berhasil menyiksa mereka tanpa terkecuali". Teriak Putri kelincahan marah penuh tipu daya, hal tersebut sontak membuat ruangan tersebut semakin menarik, terlebih lagi bagi kaum laki-laki yang mulai mendekati Zili dan ketiga pemberi uang di belakangnya.