Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Malu dan Serba Salah


__ADS_3

Krudkdukk...


Gerakan dahsyat tiba-tiba mengguncang,


“Gempa bumi,”


“Gempa bumi,”


Suara teriakan ketakutan banyak orang terdengar semakin menegangkan suasana hari itu.


Di tempat yang berguncang itu, Matahari tampak masih menyinari bumi, meskipun demikian kengerian di siang hari itu begitu menusuk ke hati.


Aaaaakkhhh...


Aaaakkhhh..


Teriakan demi teriakan terjadi,


Lubang-lubang mulai terbentuk membawa tanah dan bangunan masuk ke dalam bumi,


Zili berdiri, memandang suasana mencekam tersebut sembari memeluk tubuhnya yang menggigil penuh dengan rasa takut.


Wajahnya pucat pasi, rambutnya yang terikat tampak berantakan. Guncangan bumi yang semakin kuat, membuat keseimbangan tubuhnya menghilang hingga ia jatuh terduduk lemas dan tak berdaya sembari melihat satu persatu manusia masuk ke dalam lubang mengerikan di sana.


“Zili.” Teriakan Putra Mahkota mulai terdengar,


“ Shisou,” Gadis itu mulai berusaha keras untuk berdiri dan menoleh ke segala penjuru arah, mencari sumber suara berada. “Shisou,” Panggilnya lagi bergerak perlahan-lahan pada guncangan yang begitu dahsyat di sana.


Dimana?


Tempat yang telah hancur berantakan dengan lubang-lubang gelap yang dalam dan bangunan-bangunan roboh serta teriakan ketakutan manusia yang berlarian, sungguh tidak lagi mampu diketahui keberadaannya.


“Zili,” Panggil Putra Mahkota lagi, berteriak lebih keras di antara keramaian teriakan di sana.

__ADS_1


Menyadari keberadaan laki-laki yang ia cintai, gadis itu sontak berbalik dan menemukan Putra Mahkota berdiri di samping pohon cemara yang telah tumbang.


“Shisou,” Segera gadis itu bergerak menghampiri Putra Mahkota yang dilewati banyak manusia berlarian di hadapannya hingga terkadang tubuh laki-laki tersebut menghilang tertutup keramaian lalu muncul kembali dan...


“Shisou, Shisou,..” Jatuh ke dalam lubang yang tiba-tiba muncul di bawah kaki laki-laki tersebut, “Shisoouuuu..” Lalu menghilang.


“Shisou,”


Nafasnya terengah-engah, ia membuka matanya secara tiba-tiba karena telah memimpikan hal buruk yang mampu memacu detak jantungnya terpompa begitu cepat.


Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya padahal ruangan tersebut memiliki suhu kedinginan yang relatif cukup tinggi.


Saat itu, yang ada di dalam pikirannya hanyalah Putra Mahkota. Sungguh dia sangat merindukan laki-laki tersebut hingga air matanya jatuh mengalir tanpa ia sadar.


Segera ia duduk, berniat sekali ingin menemui Putra Mahkota apapun yang terjadi. Mulai menyingkap selimut, “Haa..” Matanya terbelalak ketika selimut tak bisa disingkap karena tubuh seseorang tampak menimpa sebagian dari selimut tersebut. Gadis itu mulai menoleh ke samping, lalu tersenyum bahagia sembari menghapus air mata. “ Shisou,” Panggil gadis itu, memandang lekat ke tubuh Putra Mahkota yang terlihat terbaring miring, menutup mata dan menahan kepala dengan lipatan salah satu tangan di atas bantal empuk pada kasur yang mereka berdua tempati.


Hati yang bahagia jelas sekali terlihat dari raut wajahnya yang sedari tadi mengembangkan senyuman. Segera ia berbaring kembali, kini dengan posisi miring dan menghadapkan tubuh ke arah Putra Mahkota lalu menggenggam tangan lain laki-laki tersebut yang berada di atas kasur kemudian menciumnya. “Shisou,” Panggil lembut gadis itu dengan penuh cinta yang membara di dalam hati, bahkan detak jantungnya sekalipun tidak berhenti berdegup kencang hanya karena melihat wajah laki-laki yang ia cintai.


Tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Putra Mahkota, gadis itu hanya memandangi wajah tampan laki-laki tersebut saja.


Berkali-kali ia mencium tangan laki-laki di hadapannya saking senangnya hati gadis itu, hingga ketika matanya terpejam, tiba-tiba salah satu tangan gadis tersebut tergenggam dan membuatnya sontak terkejut lalu segera membuka mata.


“Hmm,” segera ia berbalik ketika melihat mata Putra Mahkota telah terbuka tetapi sayang, genggaman tangan Putra Mahkota yang begitu kuat membuatnya kesulitan bergerak hingga tubuhnya berakhir mendekati tubuh Putra Mahkota dan mata mereka saling beradu kembali.


Tak bisa berkata,


Pandangan matanya juga sontak beralih kemana saja asalkan tidak menatap mata Putra Mahkota yang akan membuat dirinya menjadi serba salah.


Genggaman kuat Putra Mahkota tiba-tiba terlepas tetapi tangan lainnya mulai mengangkat kepala Zili kemudian tangan yang melepas genggaman tadi, mulai bergerak cepat menuju pinggang gadis itu, kemudian membawa tubuh gadis tersebut semakin mendekat lalu memeluknya dengan lembut. “Aku lapar,” Putra Mahkota mulai membuka suara sembari membawa kepala Zili masuk ke dalam dekapan dadanya, “Tapi aku gerah dan ingin sekali mandi.” Lanjut laki-laki tersebut lagi terdengar menghela nafas.


“Hm, Mandilah Shisou.” Ucap Zili sedikit gugup karena hatinya yang luar biasa serba salah dan tak terkira akibat rasa malu yang menyelimuti.


“Aku ingin mandi, tapi tidak ingin meninggalkanmu sendirian.” Ucapan Putra Mahkota semakin memperparah detak jantung Zili. Sungguh, gadis itu mulai membayangkan hal negatif yang tiba-tiba muncul di dalam benaknya.

__ADS_1


“Tapi aku malu sekali.” Ucap gadis itu sejujur-jujurnya, dia sangat yakin bahwa saat itu Putra Mahkota sedang mengajaknya untuk mandi bersama.


“Malu?” Hari itu Putra Mahkota sangat bingung mengartikan maksud dari perkataan yang di lontarkan wanita miliknya. “Kenapa?” Tanya laki-laki itu sungguh sangat penasaran.


“Tapi aku malu,” Gumam Zili lagi pelan kini menundukan kepala, menyentuh pertengahan dada Putra Mahkota dengan dahinya.


“Kenapa?” Tanya ulang Putra Mahkota, laki-laki itu mulai berpikir bahwa keberadaannya di sanalah yang membuat gadis itu malu hingga ia menghela nafas berat karena merasa dirinya mengganggu.


“Aku belum pernah mandi bersama orang lain sebelumnya, bahkan bersama wanita sekalipun.” Jawab gadis itu, mengutarakan hasil pemikirannya.


“Ah..” Putra Mahkota tersenyum geli hingga ingin sekali ia tertawa pada saat itu. “Maka sekaranglah waktumu untuk mandi bersamaku.” Goda laki-laki tersebut menambah rasa malu di dalam hati Zili yang langsung tertegun dan memejamkan mata, berusaha keras bernafas karena pacuan detak jantung yang semakin kencang.


“Hm..” Angguk gadis itu, tidak tahu lagi cara menjawab ucapan Putra Mahkota karena rasa malu yang sampai mampu menggerogoti hatinya.


“Hahaha,” Tawa Putra Mahkota menggelega, sepertinya ia tidak lagi mampu menahan lucu karena berhasil mempermainkan wanita yang ia cintai hingga pelukan erat semakin bertambah erat. “Pergilah mandi!” Perintahnya setelah menyelesaikan kesenangan hati, “Aku hanya tidak ingin pergi darimu, bukan berarti ingin mengajakmu mandi bersama.” Ucap laki-laki itu melegakan hati Zili yang sedari tadi tegang tak terkira.


“Huh.” Nafasnya mulai terdengar teratur kembali, segera ia duduk setelah Putra Mahkota melepaskan pelukannya lalu mengernyitkan dahi kebingungan karena tubuh Putra Mahkota yang telah terlentang, menghalanginya untuk turun dari atas kasur sementara sisi kasur lainnya bersandar di dinding kapal dan satu pergelangan tangannya tergenggam oleh tangan Putra Mahkota ketika ia berusaha turun dari sisi kasur di bawah kaki mereka. “Shisou, bagaimana aku bisa mandi kalau kau tidak melepaskan tanganku?” Tanya gadis itu memandang wajah Putra Mahkota yang tampak santai menahan kepala dengan satu tangan lainnya.


“Lewati saja aku!”


“Ha..” Gadis itu menggigit bibir bawah, dirinya kembali serba salah karena merasa sangat tidak sopan untuk lewat dari tubuh Putra Mahkota.


“Lewati saja aku!” Perintah ulang Putra Mahkota begitu senang mempermainkan Zili lagi dan lagi.


“Baiklah aku tidur lagi saja.” Ucap Zili mulai berbaring kembali, sebenarnya ia juga masih tidak ingin berpisah dari laki-laki tersebut meski hanya sebentar saja.


“Kau harus mandi,” Tubuh Putra Mahkota mulai bergerak duduk sembari memandang wajah Zili,


Mendengar ucapan laki-laki tersebut, gadis itu mulai duduk lalu menggeser kaki menapaki lantai dan mulai berdiri setelah tangan Putra Mahkota melepaskan pergelangan tangannya.


“Hm, Aku..” Menghela nafas karena rasa rindunya yang masih membara. “ Mandi du..


Belum sempat ia melangkah, tubuh Putra Mahkota mulai memeluk tubuh Zili kembali dari arah belakang.

__ADS_1


“Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan gaun untukmu,” Lalu berbisik ke telinga gadis itu, kemudian melepaskannya dan mulai berjalan menuju pintu keluar kamar.


Gadis itu mulai menutup wajah dengan kedua tangan, “ Malu sekali.” Ucapnya sembari tersenyum bahagia karena perlakuan Putra Mahkota yang lembut begitu menyenangkan hatinya.


__ADS_2