
Perlahan-lahan mobil yang dikendarai Supir putra mahkota menepi dipinggir Jalan.
Membuka pintu kaca mobil,
Suara hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang mulai membisingkan telinga.
Memandang Gadis yang sangat ia sayangi sedang berjalan sendirian ditrotoar jalan, membuat rasa nyeri didalam hati putra mahkota. “Kau bawa barang-barangku... ?” Tanya putra mahkota kepada supirnya, masih memandang Zili yang telah menghentikan langkah kaki, Berdiri melamun terlihat seperti merindukan seseorang.
“Ya yang mulia..” jawab Supir pribadi putra mahkota yang langsung membuka dasbor dan mengeluarkan Topi serta kacamata putra mahkota dan memberikan kedua benda tersebut kepada pemiliknya.
Mulai membuka pintu mobil setelah mengenakan topi dan kacamata, putra mahkota menapakan kaki diatas jalanan aspal lalu melompati pagar pembatas jalan dengan mudah.
Berada dibelakang Zili, laki-laki tersebut terlihat memantau keadaan Wanita miliknya yang mulai melangkahkan kaki,
Mengikuti langkah gadis itu hingga ketaman Kota, memandang penuh keperihan ketika wanita miliknya memandang Lama sebuah kursi Di tempat tersebut.
Dia sangat memahaminya, hanya saja, sepertinya putra mahkota telah berniat untuk tidak lagi mengenakan topeng agar gadis itu kembali menaruh sepenuh hati untuk dirinya yang sesungguhnya.
Terus memandang, putra mahkota melihat wanitanya duduk dikursi sembari menyentuh Tempat yang biasa ia gunakan untuk bermain game.
Tetap berdiri, kali ini mendekati sebuah pohon disana lalu bersandar masih memandangi wajah wanita yang ia sayangi tanpa merasa Bosan sedikitpun.
Tak lama, Setelahnya gadis itu berdiri, terlihat ingin menghampiri beberapa orang dihadapan gadis tersebut hingga membuat putra mahkota menegakkan kembali tubuhnya, bersiap-siap melakukan sesuatu Jika terjadi sesuatu kepada wanita miliknya.
Merasa lega karena gadis itu berbalik tubuh, Lalu melangkah kaki kearah pintu keluar taman, Putra mahkota tetap mengikuti langkah kaki gadis tersebut dari belakang.
Terus berjalan hingga sampai kedepan sebuah gedung, sungguh perasaan nyeri semakin bertambah ketika gadis itu mulai menginginkan apartemennya kembali.
Memasuki Gedung,
Putra mahkota tetap mengikuti langkah gadis itu masuk kedalam gedung.
Memasuki Lift,
Putra mahkota memilih untuk menaiki tangga.
Dan Terus melangkah menaiki anak tangga terakhir.
“Tuan hiks.. hikss..” panggil gadis itu terdengar hingga ketelinga putra mahkota yang telah berdiri memandang punggung wanita miliknya,
Menyaksikan tangisan gadis itu untuk yang kesekian Kali, kali ini terlihat jelas bahwa Gadis tersebut memang lebih mencintai Diri putra mahkota yang sedang menyamar dibandingkan dengan Wajah aslinya.
__ADS_1
Terus menangis didepan pintu apartemen yang tertutup, gadis itu mulai berjongkok “haaa hiks hiks .. kenapa kau tega sekali kepadaku...?” Tanya gadis itu menangis sesunggukan disaksikan putra mahkota dari kejauhan. “kau bilang akan membawaku pergi...?” lanjut gadis itu “kau bilang kau mencintaiku..?” tambahnya lagi masih menangis sesunggukan “Tuan,..” panggil gadis itu lagi “aku sungguh sangat merindukanmu..” ungkapnya penuh dengan kerinduan “harusnya kita menerima hukuman dari Guruku..” mulai menghentikan tangisan “tega sekali kau mengkhianatiku dan juga Guruku” menghapus air mata “aku membencimu..” ungkapnya lagi sembari berdiri “tapi aku akan memaafkan kesalahanmu” tambahnya lagi masih memandang lekat kearah pintu , lalu mencoba membukanya.
Kraaakkk...” terkunci..” ucap gadis itu lagi “Tuan, kau baik-baik saja..?” tanya gadis itu lagi mulai menangis kembali “tuan, aku sudah kembali..” panggilnya mulai berbalik, masih dengan aliran air mata yang membasahi pipi dan disaksikan oleh putra mahkota “tuan...hiks..” panggil gadis itu mulai melangkah kaki kearah Pintu apartemen lainnya.
Tak melihat putra mahkota karena hatinya yang begitu kacau.
Bahkan terus berjalan melewati putra mahkota yang hanya Diam memandang gadis itu didekatnya.
Sungguh, gadis itu memang mengabaikan orang-orang disekitarnya saking rindunya ia pada Pemilik apartemen, bahkan ia pun tidak lagi mengenali putra mahkota yang sedari tadi terus menerus memandangnya.
Menghentikan kaki tepat didepan sebuah pintu yang juga tertutup “anna..” panggil gadis itu mulai merindukan temannya yang tak lagi tinggal ditempat tersebut “anna aku datang..” ucap gadis itu memperpiluh hati putra mahkota yang telah berbalik memandaang punggung wanita miliknya lagi “anna, “ panggil gadis itu lagi “anna, mungkinkah kau masih akan menjadi temanku..?” tanya gadis itu kepada pintu dihadapannya. “anna, aku bukan lagi Tanpa nama.” Lanjut gadis itu “anna aku adalah Zili yang sangat kau benci” ungkap gadis itu “anna, aku mohon jangan benci aku lagi” Lanjut gadis itu mulai mengungkapkan kembali isi hatinya dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.
Berlangsung lama, dengan putra mahkota yang terlihat menahan perih memandang kesakitan yang dialami Wanita miliknya.
Mulai menghentikan tangisan kembali, Zili mulai melangkah kaki menuju Lift yang berada disamping putra mahkota, “hiks hiks..” menangis kembali “tuan, aku akan membeli banyak Mie Cup dan tidak akan pernah memberikan satupun untukmu” ucap gadis itu mulai menekan tombol pembuka pintu Lift “tuan, aku pergi..” Lanjut gadis itu lagi “aku akan bahagia bersama guruku, pasti..” tambahnya lagi “kau akan menyesal karena telah mengkhianati kami” tersenyum kecut lalu melangkah kaki memasuki Lift,
Putra mahkota mulai melangkah tepat didepan pintu Lift, memandang gadis miliknya yang sedang menangis tertunduk mengingat kenangan bersama pemilik apartemen lalu perlahan-lahan pintu Lift tertutup.
Bergerak cepat, menuruni anak tangga,
Putra mahkota berhasil menemukan Zili kembali yang telah keluar dari Pintu Lift dan terus berjalan menuju kearah pintu keluar gedung.
Melangkah kaki lagi setelah berdiam diri lama, gadis itu mulai masuk kedalam Bus diikuti putra mahkota yang bergegas masuk mengikutinya.
Duduk disudut dekat dengan jendela Kaca bus, putra mahkota mulai mengambil posisi disamping gadis itu yang terlihat membuang wajah kearah kaca jendela.
Ia bahkan tidak lagi menyadari kedatangan seseorang yang berada disampingnya.
Bus terus berjalan, Putra mahkota terus memandangi wajah Zili yang juga terus memandang keluar Jendela Kaca.
“Tuan..” panggil gadis itu lagi, mungkin mengingat kenangan kebersamaan mereka kembali.
“Aku disini..” jawab putra mahkota namun terabaikan oleh wanita miliknya.
Berhenti,
Bus terlihat memasuki parkiran stasiun kereta api setelah mengambil tiket masuk, bus tersebut melaju kembali.
Hingga perlahan-lahan menepi, Lalu berhenti kembali.
Mulai berdiri, gadis itu bahkan mengabaikan putra mahkota yang sedang duduk memandangnya.
__ADS_1
Tetap membiarkan gadis itu,
Putra mahkota kembali mengikuti langkahnya,
Bergerak cepat mendekati Tempat penjualan tiket sembari tetap melihat Zili yang tampak berdiri didepan portal mesin Tiket, sebuah palang yang hanya bisa terbuka dengan Tiket Kereta api.
Memandang kedatangan Kereta api,
Gadis itu tersenyum ketika melihat banyak sekali orang yang sedang berdesak-desakan masuk kedalam kendaraan tersebut.
HAaaaa...
Menoleh kesamping.
“Shisou...” panggil Zili ketika melihat putra mahkota berada disampingnya dan menggengam tangannya.
“Ayo kita pergi..” ajak laki-laki tersebut sembari meletakan tiket ke atas mesin pendeteksi tiket lalu menarik tangan Zili ketika portal terbuka.
“Shisou..” panggil gadis itu lagi ketika putra mahkota terlihat kesulitan berada ditengah-tengah kerumunan para calon penumpang kereta api sembari masih menggenggam dan menarik tangan waanita miliknya.
“Huuuh..” menghela nafas lega setelah mendapatkan kursi duduk.
Tersenyum lembut memandang wajah tampan putra mahkota yang sedang memakai kacamata “Shisou, apa yang kau lakukan disi...
Haaa...
Menarik tangan gadis itu lalu membawa gadis tersebut kedalam pangkuannya “kau boleh duduk disini..” ucap putra mahkota kepada seorang wanita hamil yang terlihat berdiri disamping Zili tadinya.
“Shisou..”panggil Zili masih tidak menyangka bahwa putra mahkota mau menumpangi kereta api yang sangat merepotkan.
“Terima kasih “ ucap wanita hamil yang telah duduk dikursi milik Zili sebelumnya kepada putra mahkota yang telah memangku Zili diatas kedua paha kakinya dan memeluk gadis itu dari belakang.
“Tidak perlu “ jawab putra mahkota cepat, tersenyum bahagia karena melihat wanita miliknya kini telah kembali ceria.
“Shisou..” panggil gadis lagi, untuk yang kesekian kalinya.
“Hmm” jawab putra mahkota, menggenggam erat kedua tangan zili dengan kedua tangannya.
Menoleh sedikit kebelakang “aku malu sekali..”
“Begitu juga denganku” jawab cepat laki-laki tersebut di telinga Zili yang berada tepat disamping wajahnya.
__ADS_1