
Ruangan Luas rapi dan bersih terlihat sangat mewah dengan dipenuhi dengan hiasan Cantik buatan tangan klan Lu didalam lemari kaca besar.
Berkali kali suara semprotan pengharum ruangan berbunyi menyebarkan aroma wangi lembut sweat pea diseluruh penjuru ruangan.
Sebuah meja diatasnya penuh dengan peralatan kerja. Komputer, notebook, buku, tablet, ponsel pena dan lainnya. Bahkan secangkir teh hijau ikut menyertai tinggal diatas meja tersebut.
Kasur yang mewah, dengan sebuah kelambu biru anggun serta sprei berwarna sama dan bantal yang terlihat sangat empuk dipandang mata. Warna polos tak bergambar malah semakin membuat seluruh bagian kasur terlihat indah.
Putra mahkota duduk diatas kursi depan meja kerja. Sesekali ia memijat bagian pertengahan antara kedua alis matanya. Tangan kanan memegang pena, sesekali ia ganti dengan pena tablet.
Selesai memijat, ia memandang kembali beberapa dokumen dan tablet diatas meja. Tidak jarang juga kadang ia memainkan mouse komputer didekatnya.
Putra mahkota tampak sangat sibuk, bahkan secangkir teh masih terlihat utuh tak tersentuh. Sesekali ia memejamkan mata menarik nafas dalam dalam. Beberapa saat kemudian merebahkan diri dikursi empuknya.
Dia memandang keatap atap langit kamar. Tiba tiba ia teringat sesuatu. Dia tersenyum, lalu membuka laci meja. Diambil olehnya sebuah headset bluetooth jarak jauh.
Sontak ia terkejut. Mendengar suara seseorang dari balik headset.
"Shisou lama sekali,, shisou.." suara wanita terdengar melalui headsetnya. "sudah 10 menit menunggu, apa mungkin mereka menipu ku?"
Dengan gerakan cepat, ia segera berdiri dari kursinya kemudian berjalan mendekati jendela kamar yang terkunci.
Dibuka, angin malam seketika berhembus kencang masuk kedalam. Putra mahkota semakin terkejut, yang ia lihat bukan lagi zili dibawah namun lampu merah panjang yang berada dibelakang kepala Zili.
Zili tersenyum senang memandang Gurunya. Ia melihat putra mahkota dengan wajah pucat berada dilantai dua bangunan asrama putra.
"Shis....." sontak Zili terkejut setengah mati saat putra mahkota melompat kebawah gedung.
Tidak menunggu lama, kaki yang telah mendarat diatas lantai teras gedung melangkah begitu cepat menghampiri Zili.
"taaaak... tummm klontang" suara peluru terdeengar.
"Taaaaaakkk" peluru kedua meluncur kembali.
Putra mahkota jatuh berguling diatas lantai lapangan gedung asrama putra. Di pelukannya, zili menutup mata ketakutan, lagi dan terus terjadi. Rasa takut tidak pernah berhenti menghantuinya.
Putra mahkota melepaskan Zili yang masih terbaring telentang diatas lantai. Rasa mual kembali muncul. Sesak serta rasa dingin tiba tiba semakin terasa kuat. Namun keringat mendadak bercucuran terus keluar diiringi dengan detak jantung kencang tak beraturan.
"Hiks.. haaaa...haaaa... haaaa..." zili tak kuasa menahan rasa takutnya. Takut akan kematian menggerogoti kejiwaannya. Ia tidak sanggup lagi duduk sejenak karena kakinya yang gemetaran. Air matanya terus mengalir tidak tertahankan.
Apalagi untuk memperhatikan putra mahkota yang telah berlari kencang melompati pagar berkawat gedung asrama putra sekolah Shen.
Remaja laki laki itu terus berlari. Tidak lupa ia mengambil ponsel di kantung depan celana polos nya. Ia menekan tombol angka 1 sambil terus berlari kencang menuju gedung asrama putri.
Kontak nama muncul terpanggil. Tidak menunggu lama, panggilan diterima " Xu'i?"
"Jaga" Setelah mengucapkan kata tersebut. Ia membuang ponselnya. Terus berlari kencang melompati pagar gedung asrama putri.
*******
Shin ji menghempaskan tubuhnya diatas kasur salah satu kamar gedung asrama putra. Setelah menyetir tanpa henti selama 9 jam penuh. Perutnya tiba tiba terasa sangat lapar.
Ia mengambil ponsel diatas meja, menghubungi salah satu Pelayan bagian dapur asrama untuk membawakannya makanan.
Belum sempat ia menghubungi pelayan Asrama, ponselnya tiba tiba berbunyi. Sontak ia terkejut, tidak biasa penelpon menghubungi dia dimalam hari.
Dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut "Xu'i?"
"Jaga" sontak Shin ji terkejut. Ia yang masih memakai piyama terpaksa berlari keluar dengan cepat. Meninggalkan Sandal Santainya serta ponsel yang tidak sengaja terjatuh keatas lantai kamar.
Suara keributan para siswa asrama semakin menambah kekhawatiran Shin ji. Ia berlari menuju luar gedung, dengan nafas terengah engah, ia menemukan kerumunan siswa dilapangan.
Terus berlari menuju kerumunan, benar seperti dugaannya, pasti terjadi sesuatu dengan putri mahkota sehingga membuat putra mahkota menghubunginya malam itu.
Ia menghela nafas, memandang menyedihkan zili yang sedang duduk menekuk kedua kaki kebelakang sembari menggenggam dada erat dengan kedua telapak tangannya.
Tidak ada seorang pun yang membantunya, semua siswa yang melihat hanya terus melihat. Tidak satupun dari mereka yang berani membantunya.
"Aku menemukan peluru" ucap salah seorang murid ketika Shin ji mulai berjalan mendekati zili yang sedang terpaku membisu dengan wajah pucat pasi karena ketakutan setengah mati.
"Astaga itu putra mahkota"
"Mana?"
"Itu, bukan kah itu kemeja putih limited edition yang hanya dikenakan putra mahkota tadi"
"ngapain putra mahkota manjat gedung asrama putri?"
"Iya, apa benar itu putra mahkota"
__ADS_1
"Bodoh, tidak salah lagi, dilihat cepatnya ia memanjat gedung. Sudah pasti itu putra mahkota"
"Gila, putra mahkota memang hebat. hanya menggunakan jam tali, ia mampu memanjat gedung tingkat lima secepat itu"
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Penasaran sekali"
Shin ji menelan ludah, mengabaikan semua ucapan mereka. Ia segera mengangkat tubuh Menggigil zili. Zili tidak bereaksi, seperti laporan yang ia ketahui dari Co rein, putri mahkota mungkin saat itu tengah menderita penyakit mental.
Dia memejam kan mata sejenak, lalu tersenyum kecut. "aaaah, aku bodoh sekali" gumamnya dalam hati sembari berjalan membawa Zili menuju kepintu masuk gedung asrama putra.
******
"Gotcha, ketemu" putra mahkota berjalan cepat saat seseorang dari atap gedung telah masuk kedalam seembari mengunci pintu.
"Buuuukkk" suara pintu terjatuh Setelah meneriam tendangan keras dari remaja laki laki yang tidak diragukan lagi kekuatannya karena telah terlatih sejak kecil.
Seseorang bertumbuh tinggi, melebihi putra mahkota berlari ketakutan menjatuhkan Senjata penembak jitunya.
Suara teriakan, murid murid perempuan terdengar mericuhkan dan meramaikan suasana malam hari itu.
Putra mahkota tersenyum Senang, ia meremehkan. Langkah kakinya semakin ia percepat. Ia kemudian berlari kencang menelusuri koridor asrama putri saat melihat Orang yang telah menjatuhkan senjata penembak jitu menuruni anak tangga.
"Buuuukk" Orang tersebut terjatuh menggelinding menuruni anak tangga dengan tubuhnya setelah putra mahkota berhasil menendang punggungnya.
"Yaaaaaa... ng..."
"Buuukk" tendangan kaki putra mahkota ia terima diperut. Dia terpental menabrak dinding. Suara teriakan sebagian pengisi asrama terdengar ketakutan.
Putra mahkota merungkuk, tangannya menggenggam rambut orang tersebut. Lalu melihat dengan jelas wajah pelaku percobaan pembunuhan putri mahkota.
"Haaah, menyebalkan" gumamnya dalam hati. "Yulan,,, hmmmm pantas saja bisa masuk gedung asrama ini dengan mudah" ucapnya dengan sunggingan meremehkan di bibir.
"Ampuni... ak...."
"Ohh,,, sayang sekali, aku tidak punya rasa belas kasih" putra mahkota menekan tombol samping jam tangannya, sebuah Laci kecil terbuka. Jam tangan alternatif yang ia buat dengan tangannya sendiri memunculkan sebuah pil tablet berwarna abu abu.
"Hooy" teriak putra mahkota kesalah seorang murid perempuan yang menyaksikan Pemandangan mengerikan dihadapan mereka.
Ia dengan tubuh gemetaran, sontak memandang wajah menakutkan putra mahkota.
"Iii..iiyaaaa. yaaang...."
Dengan langkah cepat ia berjalan kearah dapur untuk mencari air mineral.
Putra mahkota memperlihatkan pil abu abu kepada Yulan. Sontak yulan terkejut setengah mati..
"Jaaangan.. aku mohoooon.. jangan yang mulia.. aku...."
Putra mahkota menekan kedua pipi yulan, membuka mulutnya menengadahkan wajah laki laki dewasa itu, lalu memasukan pil tablet berwarna abu abu kedalam mulutnya kemudian menambahkan air yang ia telah terima sesuai perintahnya.
Air berjatuhan membasahi pakaian hitam yang yulan kenakan.
"Rasakan"
"Ampuni aku yang mulia" yulan gemetaran setengah mati ketika putra mahkota mengambil pistol kecil berwarna emas yang ia sembunyikan didalam kemeja dipinggang tubuhnya.
"Yang mulia,,,,, " teriak para siswi ketakutan sembari memejamkan mata menutup telinga mereka, menyaksikan kematian Dewa perang ditangan putra mahkota.
"Dooooor" tembakan pistol terdengar keras saat putra mahkota berhasil menembakan pistol kesayangannya tepat dijantung Yulan.
Laki laki itu jatuh terkapar diatas lantai, semua mata memandang penuh ketakutan. Meskipun para Penduduk Shen telah terbiasa dengan kematian. Namun tetap saja, masih terasa mengerikan bila harus melihat kematian langsung didepan mata.
Darah yulan keluar, namun tiba tiba berhenti. " tenang saja, dia masih hidup, aku hanya memberi tahu bagaimana rasanya tertembak mati" ucap putra mahkota lalu berjalan pergi menuruni anak tangga menuju keluar pintu asrama. Meninggalkan Tubuh Yulan yang masih terkapar diatas Lantai.
Dengan cepat,semua orang bergegas menolong yulan, sontak tidak satupun dari mereka yang tidak terkejut ketika mengetahui Dewa perang masih bernafas layaknya orang tertidur biasa.
"Obat terlarang klan Xu" ucap salah seorang dari mereka.
"Benar, baru kali ini aku melihatnya"
"Mengerikan, hikss.. hiksss haaa" tangis salah seorang dari mereka.
*******
"Buuukkk" Shin ji terpental jatuh terduduk diatas lantai, setelah salah seorang dokter keluar dari ruangan putra mahkota.
Obat penenang telah disuntikan ketubuh Zili yang sedari tadi menggigil ketakutan. Gadis itu akhirnya tertidur diatas kasur putra mahkota setelah obat tersebut masuk kedalam tubuhnya.
__ADS_1
Putra mahkota menatap tajam kearah Shin ji setelah berhasil memukul salah satu pipinya.
"Kau tahu salahmu?"
"Aku tahu, maafkan aku" ucap Shin ji merasa bersalah karena tidak menjaga putri mahkota dengan baik. Ia yang sengaja ditugas putra mahkota menjaga Zili, karena mengetahui nyawa gadis itu dalam bahaya, merasa menyesal karena kurang berhati hati sehingga menyebabkan masalah muncul kembali.
SHin ji pasrah menerima pukulan, bahkan jika harus terluka seperti Shin jo saat didesa Xu 48, baginya pun tidak masalah.
"Keluarlah"
"Baiklah" ia berdiri, dengan cepat keluar kamar. Tanpa basa basi Shin ji menutup pintu lalu berjaga didepan pintu kamar putra mahkota.
*******
Tubuh Yulan dibawa keistana kerjaaan, dihadapkan kepada ratu yuanna yang saat itu sedang duduk disinggah sana.
Wajah wanita itu tampak teramat marah. Hari itu, raja Negara sedang berada diacara pertemuan dengan perdana mentri jepang dikota A.
Putra mahkota masuk kedalam memberi kesaksian. Setelah menyelesaikan segala sesuatunya. Keputusanpun di keluarkan.
Ketua klan shen, serta kedua cucunya menangis terisak isak begitupula dengan istri Shen shi yulan yang mengetahui hukuman berat Suaminya.
IA terpaksa harus di bawa kepenjara bawah tanah klan Xu, penjara bawah tanah paling mengeringakn dikota NC, bukan hanya jarang terbuka karena hanya bisa dibuka oleh para darah klan Xu yang sudah hampir punah.
Penjara klan Xu juga merupakan penjara yang paling banyak memakan korban. Penjara penuh dengan tulang belulang. Bahkan dipenjara tersebut, banyak kematian para petinggi orang orang terdahulu yang mati tersiksa. Termasuk Co Tien Ya, seorang jenius dari klan Co yang sangat setia kepada Tuannya, Xu yuan. Kakek Dari ratu Xu yuanna dan raja bayangan Xu idris.
"Aku yang akan mengurusnya" ucap yuanna dengan senangnya. Putra mahkota tiba tiba merasa khawatir. Ia mencoba menghalangi namun tidak sempat lagi karena yuanna telah membawa pergi yulan.
Putra mahkota berencana kembali ke desa shen 2, dia berjalan penuh dengan kekhawatiran menuju parkiran pribadi mobil kerajaan .
"kenapa kau disini? Dimana yuanna?" Shin, raja negara berdiri terengah engah tidak melihat keberadaan istrinya.
"Aaah, bibi mengurus hukuman yulan di..."
"Brengsek,, bukkk" kepalan tangan raja negara mendarat dipipi putra mahkota. Putra mahkota tidak mampu menahan kecepatan tangan raja negara.
"Paman?" putra mahkota kebingungan setengah mati.
Ia lalu mengikuti langkah lari Raja negara menuju ke penjara bawah tanah yang berada tepat dibawah istana kerajaan.
******
"Cepat buka, brengsek" maki shin geram ketika telah berada didepan Pintu tebal penjara bawah tanah klan Xu.
Dengan penuh tanda tanya, Putra mahkota yang masih kebingungan dengan kemarahan raja negara yang tidak biasa melepas botol kecil dipertengahan pintu. Ia meletakan ibu jarinya dilubang tersebut.
Rasa sakit seperti suntikan Jarum berkali kali menusuk ibu jari putra mahkota, namun dia mampu menahannya.
"swwwiiiiingggg" pintu setebal dinding terbuka.
"Hahahahaha menyenangkan sekali"
Tubuh putra mahkota gemetaran. Raja negara tampak sangat panik.
"Shin" raja bayangan berlari kencang. Ia terlihat sangat khawatir.
"Bibi"
"Kau lihat kebodohanmu?"
"Ayah," degup jantung putra mahkota tiba tiba kencang. Ia merasa bulu kudunya mendadak berdiri memandang pemandangan penuh dengan kengerian.
Yulan yang tadinya tertidur sejak masa keputusan hukuman diberlakukan, kini telah terbangun. Suaranya tidak terdengar lagi. Berkali kali ia melambaikan tangan meminta tolong tanpa mengeluarkan suara. Matanya penuh dengan ketakutan. Tubuh yulan telah tercabik cabik dengan pisau yang dipegang yuanna.
Beberapa saat kemudian luka diTubuhnya menutup kembali, namun dengan kegirangan, yuanna kembali memasukan obat abu abu kedalam mulutnya, kemudian mencabik cabik kembali tubuhnya dengan pisau yang ia pegang. Hingga wajah dan pakaian wanita itu penuh dengan darah.
"Yuanna" ucap shin..
"shin.. hikksss... kau lihat aku" yuanna mulai ketakutan "shin.. aku..."
"Tentu saja aku tidak lihat apa apa,. Kau sedang apa, ayo kemari.. kita makan bakso"
"Aku sudah gila kan shin .. aaah... hiksss...haaaa..haaa..hikkkss" yuanna menangis terisak isak sembari memegang kepalanya dengan kedua tangan yanbg salah satunya masih memegang pisau, ia tampak sangat menyedihkan karena mengingat masa lalu mengerikan.
"Siapa bilang kau gila. Aku akan menghukumnya jika berani mengatakan kau gila"
"Benarkan shin aku tidak gila"
"Hmm tentu saja.. ayo sini" Yuanna membuang pisaunya lalu berlari menuju kearah shin. Shin memeluk erat orang yang dicintai. Merasa sangat perih menusuk hati, menggertakan gigi, sangat membenci orang orang yang telah membuat istrinya seperti itu.
__ADS_1
Pakaiannya kotor penuh dengan darah. Ia mengangkat tubuh yuanna. Lalu berjalan keluar pintu penjara melewati Putra mahkota yang merasa teramat bersalah.
"Sudah lihat,?.." raja bayangan membuka suara kembali. "kau... tidak ada apa apanya dibandingkan Shin dalam mencintai yuanna" tambah nya lagi lalu meninggalkan Putra mahkota yang masih terdiam terpaku mengingat kejadian yang baru saja terjadi.