Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Ingatan terparah


__ADS_3

Rasanya malu.


Ini pertama kali baginya menerima pujian bertubi-tubi. Ingin sekali ia melepaskan headset berwarna putih di telinga saking bingungnya gadis itu dengan lontaran pujian terhadapnya.


Dengan menutup mata, ia menyembunyikan rasa malu, dia tidak mengetahui bagaimana cara menjawab pujian-pujian yang diberikan untuknya. Gadis itu hanya mengira-ngira, mungkinkah jika dia tetap diam, semua orang akan berpikir bahwa dia sombong?.


Gerakan tubuhnya terhenti, hal tersebut karena langkah Penasihat Putra Mahkota tak lagi bergerak.


Mereka kini telah berada di depan pintu darah dengan lampu panjang berwarna merah dan sebuah lubang yang memiliki jarum di pertengahan pintu tersebut.


“Kau bawa darah Ratu Yuanna?” Penasihat Putra Mahkota menanyakannya kepada Pelindung Putra Mahkota yang saat itu terlihat berdiri di sampingnya.


“Aku bis...


“Sembunyikan Zili!” suara Putra Mahkota terdengar menyela, sepertinya ia sedang melarang Zili untuk mengungkap fakta bahwa darah yang mengalir di dalam tubuh gadis itu merupakan golongan darah special di antara golongan darah semua Klan di negara NC, “sembunyikanlah yang harusnya disembunyikan untuk menghindari kemungkinan bahaya yang bisa kapan saja terjadi.” Lanjut Putra Mahkota dengan santainya diiringi dengan suara ketikan yang masih terdengar dari balik headset hitam yang ia kenakan.


“Kau bilang apa?” tanya Penasihat Putra Mahkota sedikit menoleh ketika tadinya ia mendengarkan suara Zili di telinga.


“Aku.., Aku sudah bisa berjalan sendiri sekarang.” Jawab Zili menuruti Perintah Putra Mahkota untuk tidak memberitahukan golongan darahnya yang dapat membuka semua pintu darah setiap Klan di negara NC.


“Ini,” Pelindung Putra Mahkota memberikan sebuah botol plastik berukuran kecil yang berisi darah kepada Penasihat Putra Mahkota yang telah menurunkan Zili dari punggungnya.


Segera Penasihat Putra Mahkota meraih botol kecil yang berukuran lebih kecil daripada lubang di pertengahan pintu lalu memasukan dan menancapkan benda tersebut di dalam lubang yang terdapat jarum di dalamnya.


Benda yang berisi darah itu menancap ke dalam jarum lancip, lalu berputar hingga darahnya tersedot masuk ke dalam pintu tebal itu lalu lampu berwarna merah mulai menyala dan pintu darah terbuka.


Ruangan yang tadinya gelap kini mulai tersinari cahaya lampu dari ruangan di luar pintu. Dengan menghela nafas, berusaha untuk menenangkan diri, langkah keempat pejabat tinggi negara NC mulai bergerak memasuki ruangan di depan mereka yang sepertinya jauh lebih luas dibandingkan dengan koridor tempat mereka berdiri tadinya.


GRkkkssss...Takkk..


Pintu darah tertutup cepat,


Lampu senter di jam tangan Pelindung Putra Mahkota mulai dinyalakan.


Segera laki-laki tersebut mencari-cari kontak listrik ataupun tombol lampu dengan bantuan senternya, lalu setelah menemukan kontak listrik yang dia cari, Lampu ruangan mulai menyala.


Tak..


Takkk..


Takkk...


Ada begitu banyak lampu ternyata.


Degg...

__ADS_1


Deggupp...


Daggg..


Digg...


“Ahhh...”


“Anna..”


“Hiksss... hiksss...”


“Anna..”


“Tenanglah tenang, ada Shin Ji di sini.”


“haaa...”


“Hiks hiks .. Ayah..”


“Kalian semua tenanglah!” teriakan panik Penasihat Putra Mahkota terdengar ketika melihat keanehan yang terjadi kepada ketiga orang pejabat tinggi di sana.


Cahaya menyala lalu redup kemudian menyala kembali.


“Anna..”


“Aku,..” Penasihat Putra Mahkota berdiri mematung memandang sebuah gambar di depan matanya, “Aku tahu aku tidak berguna.” Ucapnya penuh rasa penyesalan dengan tubuhnya yang mulai gemetaran.


“Shin ji, Sandi, Aura..”


“Zil..”


“Hiks Ayah, aku takut sendirian, ayah ayah ayah, tolong aku, aku tidak bisa keluar dari kamar mandi sekolah, ayah sudah malam , ay..” Suara kepanikan semua orang tak lagi terdengar. Hanya suara ketikan Keyboard yang saat itu terdengar semakin cepat namun tak lagi dipedulikan oleh Zili.


“Akhh, sakit sekali, sakit sekali, tenanglah Aura, kau masih punya Shin Ji.” Putri Keagungan terlihat terbaring miring lemah dengan memeluk tubuhnya dan memejamkan, berkali-kali gadis itu tampak berusaha menenangkan dirinya.


“Anna, Anna,” Pelindung Putra Mahkota Shin Ji terlihat duduk bersandar dengan tubuh yang gemetaran dan mata yang terbelalak lebar serta kaki yang dilipat lalu dipeluk erat olehnya.


Sementara Zili, gadis itu terlihat berdiri menundukan kepala lalu mengusap air mata berkali-kali memanggil ayahnya dan terus menerus meminta pertolongan hingga kakinya lelah, lalu ia melipat kaki dan menyembunyikan wajah menangis terseduh-seduh di sana.


*********


Takk ..


Takkk ...

__ADS_1


Takkk..


Tangan lincah Putra Mahkota berhasil memutuskan panggilan yang sedang berlangsung antara semua pejabat tinggi yang bertugas dengan para pejabat tinggi yang saat ini sedang terjebak di dalam kesedihan mereka masing-masing.


“Xu’i,” teriak Pelindung Raja terdengar marah dengan keputusan Putra Mahkota yang memutuskan panggilan tanpa pemberitahuan darinya terlebih dahulu saat itu.


“Regu Zero, Segera perintahkan mereka mempercepat perjalanan!” perintah tenang Putra Mahkota masih memainkan jari-jari tangannya lalu terlihat mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang.


“Bagaimana dengan mereka?, kami akan..”


“Jangan gegabah! Atau kalian juga akan terjebak seperti mereka.” Kepanikan Pelindung Raja terlihat tak dapat terbendung lagi, mengingat Putranya saat ini sedang dalam bahaya.


“Sebenarnya, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya khawatir Pelindung Raja dari balik headset berwarna putih yang dikenakan Putra Mahkota.


“Lukisan.”


“Lukisan?”


“Lukisan yang mampu membangkitkan ingatan terparah yang pernah dialami manusia,” jelas Putra Mahkota sedikit tersenyum pahit ketika mendengar suara tangisan Zili dari balik headset berwarna hitam yang ia kenakan. “Yuan telah berhasil menemukan titik kelemahan setiap pejabat tinggi lalu memperlihatkannya ke dalam lukisan, “


“Tapi kenapa lukisan..?”


“Paman, kau tahu mengapa beberapa lukisan bisa terjual dengan harga yang sangat mahal?” pertanyaan Putra Mahkota sontak membuat Pelindung Raja terdiam memikirkan jawabannya. “Itu karena karya lukisan yang berkualitas tinggi mampu membawa beberapa manusia masuk ke dalam dunianya, begitupula dengan mereka. Saat ini mereka berhasil terbawa masuk ke dalam lukisan yang mampu mengingatkan mereka pada masa lalu mereka yang kelam, itulah makanya mereka tidak berdaya.” Lanjut jelas Putra Mahkota membuat kekhawatiran Pelindung Raja semakin bertambah. “Anna, segera perintahkan kepadanya untuk masuk ke dalam ruangan itu! aku takut Shin ji tidak bisa bertahan.” Tambah Putra Mahkota kali ini memberikan perintah lalu melanjutkan gerakan jari-jari tangannya.


*********


Tubuhnya gemetaran,


Sebuah kamera Ip yang dikenakan Putri Keagungan berhasil memperlihatkan keadaan Zili di ruang pameran lukisan.


“Ayah, aku takut sekali, Ayah..” teriakan keras Zili mampu menyayat hati Menteri Keuangan yang tampak duduk di kursi ruang kerjanya.


Layar monitor yang tadinya berisikan penuh dengan data-data statistik dan laporan keuangan negara kini tampak memperlihatkan tubuh putrinya yang duduk menangis memanggilnya terus menerus.


Drrttttt...


Ponsel laki-laki dewasa itu bergetar,


Segera ia angkat benda tersebut dari atas meja masih dengan memandang kesakitan yang dialami putrinya dari layar komputer di depannya.


“Kalau bukan paman, paman kira siapa lagi yang mampu menyelamatkan putrimu?” suara Putra Mahkota terdengar dari balik ponsel setelah laki-laki dewasa itu mengangkatnya.


“Xu’i,”


“Paman, kau ingin putrimu terus menerus seperti itu sampai musuh datang lalu menangkapnya?”

__ADS_1


“Tolong..., bawa aku ke sana!”


__ADS_2