
Semua pejabat tinggi muda telah keluar dari ruang rapat pada malam itu.
Tersisa seorang saja yang baru saja masuk karena dia bukanlah bagian dari peserta rapat.
Tubuhnya yang berdiri di depan pintu ruang rapat Perusahaan Xu, menghalangi langkah Putra Mahkota.
Tatapan tajam laki-laki di hadapannya terpaksa ia telan dengan keberanian yang terus ia usahakan untuk mengutarakan keinginan hatinya.
Mulai tertegun, membalas tatapan tajam dari Putra Mahkota terhadapnya, “biarkan, biarkan aku ikut bergabung dan membantu Zili, Yang Mulia.”Pinta laki-laki tersebut dengan penuh keberanian yang telah berhasil ia kumpulkan pada malam hari itu.
Putra Mahkota bukanlah sejenis orang yang bisa dengan mudah mengabulkan keinginan, dia adalah orang yang bahkan sebenarnya tidak suka direpotkan oleh siapapun itu kecuali karena keinginannya sendiri untuk direpotkan oleh orang lain.
Wataknya semakin hari semakin berubah, bahkan perubahan itu mampu dirasakan oleh teman-temannya. Sepertinya memang saat ini dia sedang menjadi diri yang sesungguhnya.
“Tidak ada kata pertemanan di antara seorang laki-laki dan seorang wanita.” Tolak keras Putra Mahkota, terlihat sekali laki-laki tersebut enggan wanita miliknya dekat dengan laki-laki lain, terlebih lagi, laki-laki yang dulunya pernah mengisi hari wanita miliknya tersebut ketika ia tidak sedang bersama wanita miliknya itu.
“Aku tidak ingin berteman dengannya, aku hanya ingin membantunya.” Jelas laki-laki tersebut masih meminta bersamaan dengan pintu yang telah di tutup oleh beberapa penjaga keamanan atas perintah dari Penasihat Putra Mahkota yang tampak masih berdiri, menyandar pembatas besi sembari membaca buku menghadap ke arah pintu ruang rapat malam itu. “Tidak banyak orang yang benar-benar menyukai Zili dan tulus berteman dengannya selama ini, aku hanya pernah melihat orang dengan rasa sakit yang sama seperti rasa sakit yang dialami Zili di masa lalunya, dan merasa sangat ingin berada di sisinya hanya sekedar untuk membantunya, Yang Mulia.” Lanjut laki-laki tersebut menuturkan alasannya dengan sangat jelas, berharap sekali Putra Mahkota akan memenuhi permintaannya.
“Kau menyukainya maka dari itu kau ingin melihatnya bahagia,bukan?, pahamilah posisimu sebagai laki-laki biasa.” Ucap Putra Mahkota memberikan nasihat dengan nadanya yang tenang namun penuh dengan makna sindiran.
“Aku hanya kasihan padanya dan tidak sedikitpun memiliki perasaan lebih, jikapun aku memilikinya, anda pikir aku bisa melawan orang sehebat anda, Yang Mulia?” Mata yang tadinya memandang Putra Mahkota saat itu mulai teralih ke bawah, ia sadar bahwa dirinya telah berbicara terlalu banyak dan telah berani menyudutkan Putra Mahkota dengan permintaannya tersebut. “Aku sungguh hanya ingin membantu Zili, seperti dia yang selalu tulus membantu penduduk Co di lorong bawah tanah. Bukankah orang yang benar-benar tulus akan mendapatkan ketulusan hati dari orang lain, Yang Mulia?, tidak ada perasaan lain kecuali hanya perasaan tulusku yang tiba-tiba saja muncul tanpa bisa kukendalikan kehadirannya.” Laki-laki itu berwajah sedih, dia masih menunduk dengan mengepalkan tangan menahan rasa takut di hati.
Putra Mahkota terlihat tersenyum getir, mungkin dia berpikir bahwa laki-laki di hadapannya memiliki sifat yang jauh lebih baik dibandingkan dengannya sebagai seorang pengecut.
“Terserah kau saja.” Jawab santai Putra Mahkota mulai berjalan dengan langkah lebarnya, terus berjalan lalu berhenti sejenak di samping laki-laki yang berani mengajukan permintaan kepadanya itu. “Jangan pernah meminta imbalan atas apa yang telah kau usahakan nantinya.” Tegas Putra Mahkota memberikan peringatan lalu mulai melangkah pintu kembali.
Tuk tuk tuk..
Suara sepatunya yang menggema mampu terdengar hingga keluar ruangan. Karena suara tersebut, para penjaga keamanan dengan bergegas membukakan pintu untuk Putra Mahkota yang masih mengenakan jas putihnya.
Penasihat Putra Mahkota yang sedari tadi menunggu laki-laki tersebut keluar, mulai melangkah mendekati lalu berjalan beriringan, menunggu perintah dari teman sekaligus keponakannya tersebut.
*********
Koridor rumah keluarga Xu di masa lalu memang tidak terlalu sempit, rumah tersebut merupakan rumah yang telah dibangun sejak sebelum masa pemerintahan berubah menjadi kerajaan monarki seperti saat sekarang ini.
Bangunan rumah sudah sering mengalami renovasi dan di bawah kendali orang terhormat, Ou Yatto selaku guru Putra Mahkota pada masa lalu.
Di koridor rumah yang bagian lantainya kini terlihat terpisahkan oleh sebuah lubang berisikan puluhan pisau tajam dengan bagian lantai lainnya, para pejabat tinggi muda terlihat berdiri penuh dengan ketegangan.
“Kau yakin bisa melakukannya?” Pelindung Putra Mahkota Shin Ji mulai bertanya untuk memastikan.
__ADS_1
“Aku akan berusaha melakukannya.”
Tubuh gadis itu sedikit gemetaran, menimbang bahwa layar dinding bukanlah hal yang mudah untuk digunakan.
“Kau kira kita sedang bermain-main?” Bentak Putri Istana marah, terdengar dari balik headset milik gadis tersebut. “Paman, kita tunggu Xu’i saja.” Lanjutnya lagi memberikan permintaan.
“Akan sangat lama Xu’i datang, jadi lakukan saja.” Ucap Pelindung Putra Mahkota Shin Ji begitu mempercayai gadis itu.
“Shin Ji, kau..
“Aku percaya padamu, Zili.” Tambah Putri Keagungan menyela kalimat Putri Istana. Gadis itu terlihat berdiri di antara Penasihat dan Pelindung Putra Mahkota.
“Aura...”
“2 lawan 1, Sandi, mau tidak mau kau harus menerima keputusan kami.” Sepertinya Pelindung Putra Mahkota sedang memaksa Penasihat Putra Mahkota untuk membiarkan Zili menggunakan Layar Dinding hari itu.
“Shin Ji, Wall Display saja hanya bisa dikendalikan oleh Kakek Shu dan Xu’i, kau kira wanita yang belum lama belajar itu bisa melakukannya?” Bentak marah Putri Istana lagi, tidak dapat menerima keputusan temannya tersebut. “Jika terjadi masalah dengan kalian, siapa yang akan tanggung jawab...”
“Sudah menjadi keputusan kami,” jawab cepat Pelindung Putra Mahkota.” Kami akan menerima apapun yang terjadi nanti.” Senyuman tipis terlihat mengembang di bibir laki-laki tersebut, dengan menelan Salivanya ia terlihat begitu tegar memandang ke arah Zili yang sedari tadi hanya tertunduk, melihat ke arah laci dinding di sana.
“Terserah kalian sajalah.” Sepertinya Putri Istana begitu kesal dengan keputusan teman-temannya.
“Aku,...”
“Lakukan Zili, aku percaya padamu.” Putri Keagungan terlihat tegas mendukung Zili hari itu.
“Tapi,..”
“Benar, lakukan sajalah, mereka ingin kau melakukannya, bukan?” Kini dukungan itu datang dari Penasihat Putra Mahkota.
Hampir saja air matanya pecah jika saja tidak mengingat peraturan yang dibuat oleh dirinya sendiri untuk tidak lagi bersikap lemah seperti di masa lalu.
Ia mulai memainkan jari-jari tangannya seperti yang biasa dilakukan Putra Mahkota dan Pemilik Apartemen selama ini.
‘Control+X,” gumamnya dalam hati mulai menekan tombol-tombol dengan gerakan tangan cepat lalu sebuah layar muncul di dinding.
“Itu..” Semua mata terbelalak ketika melihat Zili telah berhasil mengaktifkan layar dinding.
“Di.. dia bisa menggunakannya,?”
“He.. he.. hebat sekali.” Puji Putri Teknologi yang melihat layar dinding dari dalam layar laptop di belakang Pelindung Raja saat itu.
__ADS_1
Grdeekekekekek..
“Ahhh..”
“Aura.”
Tangan Zili mulai gemetaran,
Dia memandang ke arah sekitarnya dan menemukan sebuah jeruji besi terlihat turun dari langit-langit atap, memenjarakan mereka, sementara Putri Keagungan hampir saja terjatuh di lubang lain yang tiba-tiba muncul di bawah kaki Putri Klan Ou itu jika saja Pelindung Putra Mahkota tidak segera meraih tangannya dan mengangkat gadis itu hingga keduanya terduduk jatuh dan saling berpelukan.
“Kau, Apa yang kau lakukan?” Teriak emosi Putri Istana dari balik headset ketika mendengar suara teriakan.
“Zili, benarkah kau bisa melakukannya?” Tanya Penasihat Putra Mahkota mulai ragu dengan gadis itu.
“Aku,” Zili berusaha untuk tidak menangis, saat itu, getaran di tubuh semakin menguat hingga kakinya terasa lemas, “tidak tahu bahasa asli Klan Co.”Ungkap Zili yang melihat sebuah kalimat bertuliskan bahasa aneh di layar dinding di sana.
********
Hallo,
Seorang pembaca datang kepadaku.
Dia bilang mau membeli naskahku.
Hmm 🤔🤔..
Aku kira naskahku bahkan tidak layak dibeli atau dibaca.
Selama ini aku memang kurang percaya diri, melihat like dan komen di novelku juga tidak banyak.
Tapi jujur aku menyukai karya ini lebih dibanding dengan karyaku yang lain.
Aku putuskan untuk istirahat tapi karena ada beberapa pembaca yang bersedia mendatangiku dan menyemangatiku bahkan mau membayar naskahku, aku jadi merasa suasana hatiku lebih baik jadi aku putuskan menulis lagi setelah hatiku lega.
Terima kasih.
Aku tidak tahu kata apalagi yang pantas untuk kalian semua yang telah membangun suasana hatiku.
Memang hal terpenting sebagai seorang penulis adalah suasana hatinya, jadi aku ingin lanjut menulis.
setidaknya saat ini, aku sangat bahagia masih memiliki pembaca seperti kalian semua.
__ADS_1