
Kosong,
Tidak ada lagi bahan makanan yang tersisa untuk dimasak,
Menuntup pintu lemari Es,
Huaaaaammmm...
Suara Zili terdengar, tampaknya gadis itu baru saja bangun dari tidurnya diatas sofa.
“Kita pergi kepusat perbelanjaan..” Ajak putra mahkota mulai berjalan cepat ke arah meja kerjanya.
Haa.. baru saja bangun, sudah diperintah lagi.
Keluh Zili dalam hati sembari berdiri memandang putra mahkota yang telah mengambil jaket Hoodie miliknya dan melepaskan kacamata lalu memakai jaket tersebut setelahnya memakai earphone menutupi telinga, benda itu memang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Berjalan mengikuti langkah putra mahkota, lalu berlari sedikit untuk bisa berada disamping laki-laki yang terlihat sedih tersebut.
Menutup pintu dan menguncinya.
Gadis itu mulai berlari lagi, mengejar ketinggalan.
Memasuki lift, melirik sedikit kearah putra mahkota yang terlihat memandang kedepan dengan mata sayu dan mengantongi kedua tangan di jaket hoodie miliknya, membuat Zili merasa sedikit sedih sore itu.
Meskipun begitu, hatinya terasa begitu tenang, masalah yang ia hadapi seperti berlalu begitu saja ketika ia bersama dengan laki-laki disampingnya tersebut.
********
Zili menggerakan kaki, selangkah demi selangkah.
Gadis itu tampak sedang Berjalan diatas pagar pengaman yang berada dipinggir jalan sembari melentangkan kedua tangan dan menyeimbangkan diri.
Senyuman tipis penuh dengan kerinduan, meskipun demikian ia tetap menguatkan diri diatas tekanan yang saat itu tengah ia jalani.
Di bawahnya tampak putra mahkota sedang berjalan memakai earphone yang menutup telinga.
Mendengarkan suara Zili begitu sedih hingga matanya yang sayu semakin bertambah sayu.
Melihat keadaan putra mahkota, zili menghela nafas berat.
“Tendangan maut..
Teriak gadis itu mulai mengangkat kaki menendang putra mahkota.
Putra mahkota berhasil meraih kakinya “apa yang kau lakukan?” tanyanya menghempaskan kaki tersebut, membuat Zili sontak berputar dan melompat.
“Safe”
Ucap gadis itu mendarat dengan sempurna tepat dihadapan putra mahkota “hhmm tentu saja aku sedang menyerangmu” jawab Zili dengan senyuman nakalnya.
“Pelayan mana yang berani menyerang tuannya?”
Putra mahkota terlihat sangat kesal.
Zili memiringkan kepala “tuan mana yang tidak menggaji pelayannya?” Tanya balik gadis itu masih dengan senyuman nakalnya.
Putra mahkota memandang tajam, zili membalas tatapan tajamnya, mulai menegakkan kembali kepalanya. “bukankah aku telah memberimu makan?” Tanya putra mahkota lagi.
__ADS_1
“Bukankah aku telah membersihkan rumahmu hingga mengkilat?” balas tanya Zili, seolah-olah tidak mau kalah.
“Bukankah aku telah memberimu tempat tinggal?” lagi, putra mahkota juga tampak tidak ingin mengalah.
“Bukan kah aku...
Zili mengernyitkan kepala mencari jawaban “bukan kah aku...
Gadis itu tampak kesal tidak dapat menemukan jawaban “astaga, kau ini pelit sekali” sindir gadis itu kesal kepada putra mahkota yang mulai sedikit tersenyum ditengah-tengah kesedihannya.
“Kalau tidak pelit, kapan aku bisa mengumpulkan banyak uang untuk mencari Zili...?” ucap laki-laki tersebut mulai tersenyum, melupakan kesedihan karena sangat merindukan Gadis yang sangat ia cintai.
Tetesan hujan mulai jatuh dari atas langit,
Beruntungnya, mereka berdua tidak lagi jauh dari pusat perbelanjaan Desa Xu1.
Saling memandang,
kedua orang tersebut mulai berlari cepat ketempat tujuan, menghindari Hujan yang mulai menjatuhkan air deras.
Lari..
Lari putra mahkota begitu cepat hingga Zili tertinggal sangat jauh.
Mendekati teras bangunan, ia melihat putra mahkota berdiri menunggunya didepan pintu Pusat perbelanjaan Yang dipenuhi banyak orang.
Bergerak cepat,
Entah mengapa, gadis itu mulai ketakutan ketika tubuh putra mahkota menghilang tertutup keramaian orang.
Jangan pergi..
Akkkhh..
Menabrak beberapa orang,
“Maaf..” ucapnya lalu bergerak lagi, mencari keberadaan putra mahkota yang telah hilang dari pandaangan matanya.
Jangan pergi.
Gumamnya lagi dalam hati mulai menitihkan air mata karena hatinya mulai terasa perih kehilangan laki-laki tersebut.
Akkkhhh...
Hiksss hikss...
Air mata gadis itu jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh karena menabrak bahu laki-laki dewasa.
“Kau baik-baik saja..?” tanya laki-laki yang ia tabrak tersebut khawatir, mengulurkan tangan tetapi Zili menolaknya,
Segera berdiri, Zili mulai melangkah perlahan-lahan.
Kaki gadis itu terasa perih tetapi hatinya lebih terasa perih.
Jangan pergi.
“Kau lama sekali...?” suara putra mahkota mengejutkan Zili, suara tersebut terdengar dari belakang gadis itu. “Kenapa bisa begitu bodoh melewati pintu masuk....?” berbalik,
__ADS_1
“Hiks.. hiks..” tangisan Zili sontak mengejutkan putra mahkota yang melihatnya,
Terasa sakit,
Tampaknya putra mahkota merasakan Sakit yang sangat kuat ketika melihat tangisan Zili.
“Kenapa kau menangis..?” tanya laki-laki tersebut, mulai memperhatikan seluruh tubuh Zili dan melihat lutut celana panjang gadis itu yang sobek dan mengeluarkan darah. “hanya luka seperti ini saja kau menangis..” sindir laki-laki tersebut lalu berjongkok melihat luka Zili.
Tak tertahankan,
Rasa sakitnya yang tertahankan lagi membuat Zili menjatuhkan tubuh memeluk putra mahkota “hiks.. sakit sekali.. hiks.. “ ucap gadis itu mengadu.
Sungguh,
Dia pernah merasakan sakit yang sama ketika melihat kepergian putra mahkota kekanada lalu setelahnya kehidupan gadis tersebut berubah.
Mengangkat tubuh Zili keatas bahu.
Haa...
Sontak tangisan Zili berhenti, “apa yang kau lakukan tuan...?” tanya Zili kebingungan lalu menghapus cepat air matanya.
“Kau bilang sakit bukan...?” tanya laki-laki tersebut mulai melangkah kaki berjalan, “aku akan membawamu keapotik dan meringankan rasa sakitnya,..” lanjut laki-laki itu masih melangkah kaki diantara kerumunan orang-orang dipusat perbelanjaan “jadi, ..” menghela nafas lega karena tidak lagi mendengar suara tangisan Zili “jangan menangis lagi..” pinta laki-laki tersebut semakin memperparah detak jantung Zili yang memang selalu berdegup ketika bersama laki-laki tersebut.
“Sakitnya sudah hilang...” ucap Zili “tidak usah ke Apotik lagi,” lanjut gadis itu “bukankah kau bilang ingin mengumpulkan uang...?” gadis itu berusaha meyakinkan putra mahkota.
“Benarkah..?”
“Hmm..” angguk Zili,
Mempercayai ucapan gadis itu, putra mahkota mulai menurunkan Zili dari bahunya.
merasa akan turun dari tubuh putra mahkota “sakit lagi...” ucap Zili tidak ingin lepas dari putra mahkota.
“haa...”
“Hikss.. semakin sakit rasanya tuan..” Ucap gadis itu bohong membuat putra mahkota kesal.
Menurunkan Zili secara paksa ‘”kau ini ingin menipuku ya..?” maki putra mahkota setelah Zili turun dan berdiri.
Memandang memelas, “sungguh sakit sekali..” ucap gadis itu dengan mata berbinar-binar memandang mata putra mahkota yang langsung terkejut melihat pandangan matanya.
“Aahh..” geram, entah mengapa laki-laki tersebut tidak kuasa melanjutkan kemarahannya. “baiklah, aku akan membawamu keklinik saja, “ dia mulai berbalik dan berjongkok, memberikan punggungnya untuk Zili “naiklah..” perintahnya, “aku akan meninggalkanmu disana lalu berbelanja sendiri” Lanjut putra mahkota mengejutkan Zili,
Sungguh,
Gadis itu memang tidak ingin tertinggal lagi,
Ia tidak ingin sendirian lagi.
Tidak ingin merasakan kehampaan yang luar biasa lagi.
Dia,
Ingin selalu bersama dengan laki-laki yang berada didepannya.
Tersenyum kecut “aaahhh aku baru menyadari, ternyata aku bohong dari tadi.” Ucap Zili sontak membuat putra mahkota sangat kesal hingga menurunkan Earphone kebelakang leher lalu berbalik berdiri.
__ADS_1
Menggertakan gigi “kau...” geram melihat senyuman tak bersalah gadis dihadapannya “berani sekali menipuku..” ucap laki-laki tersebut memeluk bahu Zili lalu mengeratkan pelukan dileher gadis itu hingga Gadis tersebut mengeraang kesakitan.
“Maafkan aku tuan.. maafkan aku..” ucap Zili sembari berjalan mengikuti langkah putra mahkota yang telah membawanya masuk kedalam pusat perbelanjaan.